Seribu Hawa Kematian



TDS (TIGA DALAM SATU)
• WIRO SABLENG - SERIBU HAWA KEMATIAN
• ARIO BLEDEG - PETIR DI MAHAMERU
• KUNGFU SABLENG - PENDEKAR PISPOT NAGA

BASTIAN TITO
PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212
WIRO SABLENG
SERIBU HAWA KEMATIAN

WIRO SABLENG
SERIBU HAWA KEMATIAN 1
KALUNG KEPALA SRIGALA

DINGINNYA udara menjelang pagi bukan olah-olah. Pendekar 212 katupkan rahang rapat-rapat, bergerak dalam kegelapan menuju timur. Di atas bahunya Sinto Gendeng duduk tak bergerak. Dua tangan dirangkapkan di depan dada, sepasang mata terpejam dan dari mulutnya keluar suara mendengkur.
“Aku harus lari, mendukungnya dalam udara dingin. Dia enak-enakan ngorok!” Wiro mengomel sendiri dalam hati.
Di satu tempat pemuda ini hentikan larinya.
Memandang ke timur, langit masih gelap pertanda sang surya belum muncul. Tiba-tiba Wiro menangkap suara sambaran-sambaran angin di sekitarnya. Dia tidak melihat apa-apa tapi yakin sekali ada beberapa orang berkelebat dalam kegelapan.
“Eyang, aku mendengar sesuatu...” Wiro berucap
dengan suara perlahan sambil tepuk paha si nenek. Paha yang ditepuk tidak merasa apa-apa karena berada dalam keadaan lumpuh mati rasa akibat serangan Kelelawar Pemancung Roh tempo hari.
“Eyang...” Karena tidak mendapat sahutan Wiro memanggil kembali. “Lekas bangun! Ada orang...”
“Anak setan! Jangan mengejutkan tidurku! Apa mau
kukencingi tengkukmu?!”
“Ah, kukira kau masih tidur Nek. Ada beberapa orang di sekitar kita...”
“Kalau masih namanya orang, lalu apa kau takut?!”
tanya si nenek. Dua matanya masih dipejamkan sedang sepasang tangan masih bersidekap di depan dadanya yang kurus tipis.
“Mereka mungkin punya maksud jahat Nek. Agaknya
mereka telah mengikuti kita sejak lama. Mereka mencari
saat yang tepat untuk melakukan sesuatu...”
“Kau cuma mendengar dan merasakan gerakan
mereka. Aku malah sudah lihat tampang mereka!” kata
Sinto Gendeng pula. Lalu masih dengan mata terpejam dia
meneruskan. “Mereka berempat. Mengenakan jubah
hitam. Kepala dan wajah masing-masing ditutupi kerudung
hitam...”
“Berarti mereka adalah sisa-sisa anggota komplotan
Lima Laknat Malam Kliwon!”
“Bukan,” jawab si nenek. “Yang empat ini tidak
mengenakan topeng barong. Ada gambar kepala srigala di
dada pakaian masing-masing. Anak setan, aku mau
meneruskan tidurku. Hati-hatilah. Mereka mungkin mau
menggerogoti lehermu atau mengorek jantungmu!”
“Nek! Bagaimana kau bisa tidur enak sementara aku
terancam bahaya!” Pendekar 212 jadi jengkel.
“Kau yang mereka incar. Bukan aku! Hik... hik... hik!” Si
nenek tertawa cekikikan. Begitu tawanya lenyap berganti
terdengar suara dengkurnya.
Wiro Sableng mendongkol setengah mati. Dia percepat
larinya. Dalam gelap empat bayangan berkelebat
mengikuti. Kesal diikuti terus menerus tanpa dia punya
kesempatan melihat jelas siapa adanya orang-orang itu, di
satu tempat agak terbuka Wiro hentikan larinya dan
membentak.
“Empat penguntit! Siapa kalian! Lekas unjukkan diri!
Jangan berani berlaku keji!”
Tak ada jawaban. Tak ada yang bergerak. Di sebelah
kiri, sekelompok ranting bergoyang oleh hembusan angin.
Wiro memandang berkeliling.
“Sialan! Kalian ternyata manusia-manusia pengecut!
Tidak berani unjukkan diri!” Pendekar 212 memaki. Dia
memandang berkeliling sekali lagi. Tetap saja tidak melihat
apa-apa. Dia putuskan untuk lanjutkan perjalanan kembali.
Baru menggerakkan kaki tiba-tiba empat benda panjang
berkelebat dan tahu-tahu empat tangan berbentuk cakar
mengerikan siap mencengkeram lehernya dari jarak satu
jengkal!
Tenggorokan Pendekar 212 turun naik. Keringat dingin
memercik di keningnya. Matanya mendelik tak berkedip
memperhatikan empat tangan berbentuk cakar, mencuat
keluar dari balik lengan jubah hitam. Ada empat orang yang
mengurungnya saat itu. Dan seperti yang dikatakan Sinto
Gendeng, orang-orang ini menutupi kepala dan mukanya
dengan kerudung hitam. Pada dada pakaian mereka ada
gambar kepala srigala berwarna putih perak bermata
merah mencorong.
“Siapa kalian! Apa mau kalian?!” Wiro ajukan
pertanyaan. Tangannya kiri kanan sudah dialirkan tenaga
dalam dan mencekal betis Sinto Gendeng yang ada di atas
dukungannya.
“Kami tidak mencari perkara. Asalkan mau
menyerahkan kalung perak kepala srigala!” Salah seorang
dari empat pengurung membuka suara.
Murid Sinto Gendeng langsung menyeringai. “Eh, kau
perempuan kiranya. Masih gadis atau sudah nenek-nenek
seperti yang aku dukung ini?!”
“Jangan bergurau! Waktu kami tidak lama! Kalau
memang mau cari selamat serahkan saja kalung kepala
srigala terbuat dari perak itu!”
“Benda yang kau cari tidak ada padaku!” jawab Wiro.
Dia berdusta. Karena seperti yang diceritakan dalam serial
sebelumnya (Laknat Malam Kliwon) setelah diserbu oleh
lima anggota Laknat Malam Kliwon Wiro memang
menemukan sebuah kalung srigala terbuat dari perak putih
yang talinya telah putus. Kalung itu saat itu disimpannya di
balik pakaiannya.
“Seorang pendekar tidak layak berdusta!” Orang berkerudung di sebelah kiri membentak.
“Nah, kau juga perempuan. Apa kalian berempat ini
perempuan semua?!” tanya Wiro.
“Seorang pendekar tidak layak berdusta!” Orang yang tadi berkata ulangi ucapannya.
“Aku bukan pendekar! Aku seekor keledai tunggangan nenek-nenek butut ini! Kalian lihat sendiri!” kata Wiro pula lalu tertawa gelak-gelak.
“Kalau kau memang ingin mati sebagai keledai betapa tololnya!” Orang berkerudung di samping kanan berucap.
Dia memberi isyarat pada tiga kawannya.
Yang pertama sekali bicara angkat tangannya. “Kami tahu kalung perak kepala srigala itu ada padamu. Kami melihat sendiri kau memasukkannya ke balik pakaian. Mengapa mengambil benda yang bukan milikmu?!”
“Benda yang kau cari tidak ada padaku. Lagipula bagaimana aku tahu kalung itu memang milik kalian?
Melihat cara kalian berpakaian, besar kemungkinan kalian adalah bangsa penjahat malam. Kalau bukan rampok, pasti maling!”
“Percuma saja bicara baik-baik! Kawan-kawan! Habisi pemuda ini!” Orang di samping kiri hilang kesabarannya.
Tangannya yang berbentuk cakar dan hanya satu jengkal di depan leher Pendekar 212 berkelebat ke depan.
Breeeetttt!
Pendekar 212 keluarkan seruan kaget. Kalau tidak lekas dia mengelak bukan leher bajunya yang robek tetapi tenggorokannya yang jebol!
Empat suitan keras menggelegar di malam dingin.
Empat tangan berbentuk cakar kemudian berkelebat.
Wiro sentakkan dua tangannya yang memegang betis Sinto Gendeng. Dua kaki si nenek yang berada dalam keadaan lumpuh dan mati rasa mencuat ke depan.
Wuuuuutttt! Wutttt!
Bukkk! Bukkk!
Dua penyerang berkerudung berseru marah sambil menahan sakit karena dua kaki si nenek yang digerakkan Wiro sebagai senjata penangkis menghantam pergelangan mereka dengan keras. Sinto Gendeng sendiri karena lumpuh dan mati rasa tidak merasa apa-apa dan tetap saja duduk pejamkan mata di atas pundak muridnya!
Empat tangan kembali berkelebat. Empat cakar menderu ganas.
Breeeettt!
Pendekar 212 keluarkan keringat dingin. Dada pakaiannya robek besar. Penuh geram Wiro lepaskan pukulan tangan kosong dengan tangan kiri lalu dengan jurus Kincir Padi Berputar dia hantamkan tendangan ke arah lawan paling dekat. Namun kaget murid Sinto Gendeng bukan kepalang ketika tahu-tahu betis dan pahanya yang dipakai menendang telah berada dalam cengkeraman dua tangan berbentuk cakar! Sedikit saja dia bergerak dan kalau dua lawan mau, maka daging betis dan pahanya akan amblas ke tulang. Selain itu, yang membuat nyawanya seolah terbang, dua tangan bercakar juga telah menempel di batang lehernya!
“Nyawamu tidak tertolong! Apa masih belum mau menyerahkan kalung perak kepala srigala itu?!” Orang berkerudung di depan Wiro membentak. Sepasang matanya berkilat-kilat.
“Tenang... Sabar...” kata Wiro dengan suara bergetar dan tengkuk dingin. “Kau bunuh diriku tak ada gunanya.
Kalung itu benar-benar tidak ada padaku!”
“Dusta besar! Bohong!”
“Silakan kalian menggeledah! Kalau memang benda yang kalian cari ada padaku langsung saja bunuh! Tapi awas! Kalau kepala srigala itu tidak kalian temukan, jangan iseng mencari kepalaku yang lain! Ha... ha... ha!”
Empat wajah di balik kerudung hitam jadi bersemu merah mendengar kata-kata Pendekar 212 Wiro Sableng itu. Tidak satupun dari empat orang itu bertindak hendak menggeledah.
“Ayo! Kenapa kalian semua jadi pada diam?!” tanya Wiro.
“Siapa sudi menggeledah tubuhmu!” teriak orang berkerudung yang semuanya adalah perempuan dan tentu saja merasa jengah menggerayangi sosok Pendekar 212.
“Panggil Ki Tawang Alu!” Salah satu dari empat orang berkerudung berkata. Lalu salah seorang dari mereka keluarkan suitan keras.
Dari dalam gelap melesat seorang kakek berdestar hitam bermuka putih. Tubuhnya tinggi tapi bungkuk.
Pandangan matanya tajam angker.
“Ki Tawang Alu! Harap kau geledah pemuda ini! Kalung kepala srigala ada padanya!”
Kakek bernama Ki Tawang Alu pelototkan matanya pada Wiro. Sesaat dia melirik pada sosok Sinto Gendeng yang ada di atas pundak Wiro. Kakek muka putih ini punya banyak pengalaman dan pandai menilai orang. Sesaat dia tampak tegak meragu. Melihat hal ini orang berkerudung di samping kanan membentak.
“Lekas periksa pemuda itu! Si nenek jangan diganggu!”
Dibentak begitu rupa kakek muka putih segera ulurkan dua tangannya. Caranya menggeledah Wiro aneh dan cepat sekali. Dalam waktu singkat dia orang mampu menyentuh setiap sudut sosok Pendekar 212. Empat orang berkerudung kecewa besar ketika si kakek kemudian berkata sambil mundur.
“Kalung itu tidak ada padanya...!”
“Mana bisa jadi!”
“Tidak mungkin!”
“Aku melihat sendiri benda itu disembunyikannya di balik pakaiannya...!”
Ki Tawang Alu menggeleng. “Aku sudah mencari. Tak mungkin kelewatan. Lebih baik kita segera pergi dari sini.
Sementara benda itu belum ditemukan kita harus mencari benda lain yang dapat menyembuhkan pimpinan kita dari sakitnya...”
Empat orang berkerudung memandang tidak percaya pada Wiro. Yang dipandang menyeringai sambil garuk-garuk kepala. Ketika kakek muka putih berkelebat pergi, empat orang berkerudung hitam mau tak mau akhirnya tinggalkan pula tempat itu.
Tak lama setelah orang-orang itu lenyap dalam kegelapan menjelang pagi, di atas pundak Wiro, Sinto Gendeng tertawa cekikikan.
“Anak setan! Di mana kau sembunyikan kalung perak kepala srigala itu?!”
Wiro melengak kaget. Lalu tertawa dan buka mulutnya.
Dari dalam mulut Wiro julurkan keluar kalung perak berbentuk kepala srigala bermata merah.
“Kalung itu besar sekali nilainya bagi empat orang berkerudung. Tapi aku tidak percaya pada kakek muka putih itu! Dari tampangnya kentara kulihat dia bangsa manusia yang mempergunakan kesempatan dalam kesempitan. Anak setan! Ayo kita lanjutkan perjalanan.
Bukit kapur tempat kediaman tua bangka edan itu masih jauh dari sini! Belum lagi Teluk Akhirat!”
***
WIRO SABLENG
SERIBU HAWA KEMATIAN 2
KAKEK SEGALA TAHU
BUKIT kapur itu seperti tidak berubah dari tahun ke tahun.
Ke mana mata memandang hanya kapur putih yang kelihatan. Hawa panas seperti mau memanggang tubuh. Di salah satu puncak bukit di sebelah timur kelihatan berdiri sebuah teratak tanpa dinding. Atapnya yang terbuat dari rumbia kering penuh bolong di sana-sini, tak kuasa menahan sinar matahari. Anehnya di dalam teratak atau gubuk itu tampak seorang kakek duduk di atas gundukan batu kapur. Pakaiannya compang-camping penuh tambalan dan bau apak. Teriknya sinar matahari dan panasnya hawa yang keluar dari tanah bukit kapur itu seolah tidak terasa olehnya.
Kakek ini memegang sebatang tongkat di tangan kirinya. Di ujung tongkat sebelah atas ada sebuah caping lebar terbuat dari bambu yang diputar-putar demikian rupa hingga menebar angin sejuk. Sepasang mata si kakek jelalatan kian kemari. Ternyata sepasang mata itu putih rata. Buta!
Di atas pangkuan si kakek ada sebuah kaleng rombeng penyok-penyok tak karuan rupa. Dengan tangan kanannya kakek ini ambil kaleng itu lalu menggoyangnya. Suara berkerontangan menggema di seantero bukit. Si kakek tertawa mengekeh seolah bunyi kerontang kaleng rombeng itu lucu menyenangkan. Dia angkat lagi tangannya lebih tinggi. Ketika dia hendak menggoyang mendadak tangan itu terasa sangat berat, tak bisa digerakkan. Wajah orang tua ini jadi berubah. Dua matanya yang putih bergerak berputar. Dicobanya kembali menggoyang kaleng. Tetap saja tidak bisa. Kakek mata putih itu menarik nafas dalam dan geleng-gelengkan kepala.
“Ada tamu dari mana yang berlaku jahil mengganggu kesenanganku!” kakek itu berhenti memutar caping di tangan kiri. Caping bambu itu diletakkannya di atas kepala sementara tangan kanannya yang memegang kaleng masih terpentang ke atas tak bergerak. Kakek ini duduk tak bergerak seperti merenung. Lalu dia mendongak sambil menghirup siliran angin yang lewat di bawah teratak. Di antara bau hawa kapur yang mengambang di udara dia membaui sesuatu. Kakek ini menyeringai. Sesaat kemudian gelak kekehnya pecah menggeletarkan puncak bukit kapur. Bersamaan dengan itu dirasakannya satu kekuatan yang sejak tadi membuat dia tak bisa menggerakkan tangan kanan kini lenyap. Kakek ini turunkan tangannya yang memegang kaleng rombeng lalu berkata.
“Dari baunya aku sudah bisa mengira siapa tamu geblek yang datang! Kalau dugaanku sampai meleset biar berhenti aku jadi tua bangka! Ha... ha... ha...!” Lalu si kakek goyangkan tangannya. Suara kerontangan kaleng rombeng yang diisi batu-batu mengumandang di puncak bukit kapur itu. Begitu gema suara kaleng lenyap terdengar seruan.
“Kakek Segala Tahu! Apa kau sudah bosan hidup hingga berucap mau berhenti jadi tua bangka?!”
Kakek mata putih terkesiap. “Astaga! Ternyata bukan dia! Celaka! Dugaanku meleset! Tapi...” Kakek ini kembali menghirup udara dalam-dalam. “Tapi bau pesing itu!
Penciumanku tak mungkin ditipu! Atau mungkin dia datang dengan orang lain. Tapi mengapa aku hanya mendengar langkah-langkah kaki satu orang saja? Aku rasa-rasa kenal suara orang yang barusan bicara!”
Kakek di bawah teratak menatap ke arah utara. “Aneh, bagaimana mungkin ada makhluk yang namanya manusia setinggi itu!” Si kakek membatin.
“Sinto Gendeng tua bangka konyol! Permainan apa yang tengah kau lakukan?!” Kakek mata putih berteriak.
Dari balik bukit kapur di sebelah utara terdengar tawa cekikikan. Sesaat kemudian muncullah si nenek sakti dari Gunung Gede itu, didukung di atas pundak oleh muridnya yaitu Pendekar 212 Wiro Sableng.
Walau dua matanya buta namun kakek di dalam teratak memiliki kemampuan luar biasa untuk melihat lewat penciuman, perasaan dan pendengarannya.
“Sinto! Kau benar-benar gendeng! Apa-apaan ini! Siapa yang kau jadikan tunggangan untuk datang ke bukit kapur ini! Edan betul!”
“Yang jadi tunggangan aku Kek! Keledai bernama Wiro Sableng!”
“Huaaaa... ha... ha...! Guru dan murid sama sintingnya!
Untung aku lagi ada di sini! Kalau tidak, jauh-jauh kalian hanya datang percuma mencari angin!”
Tamu yang naik ke puncak bukit kapur mengunjungi kakek buta bercaping lebar itu bukan lain adalah Sinto Gendeng dan Wiro. Seperti dituturkan dalam serial terdahulu (Laknat Malam Kliwon) Sinto Gendeng telah kemasukan hawa beracun yang mematikan akibat serangan Kelelawar Pemancung Roh Dari Teluk Akhirat. Nyawanya masih tertolong karena seorang kakek kekasihnya di masa muda bernama Suro Ageng memberinya obat. Walau demikian Sinto Gendeng mengalami kelumpuhan dari pinggang ke bawah. Itu sebabnya ke mana dia pergi Wiro mau tak mau terpaksa mendukungnya.
“Sahabatku kakek peramal bau apek! Apa kau selama ini baik-baik saja?!” Sinto Gendeng bertanya.
Wiro merunduk lalu turunkan si nenek dan mendudukkannya di atas gundukan batu kapur di hadapan Kakek Segala Tahu.
Si kakek pandangi Sinto Gendeng dengan mata putihnya. “Kau datang didukung muridmu. Berarti kau tidak bisa berjalan sendiri. Kau diturunkan dan didudukkan.
Berarti kau tidak bisa turun dan duduk sendiri! Nenek bau pesing, apa yang terjadi denganmu?”
“Dua kakiku lumpuh!” berkata Sinto Gendeng.
Rahangnya menggembung.
“Lumpuh? Kau kesambat setan di mana?!” Kakek Segala Tahu lalu tertawa mengekeh membuat Sinto Gendeng jengkel dan komat-kamit mengomel. “Tunggu!”
Kakek Segala Tahu mendongak lalu goyangkan kaleng rombengnya. Sesaat kemudian meledaklah tawa Kakek Segala Tahu di bukit kapur itu.
“Tua bangka geblek! Apa yang lucu!” membentak Sinto Gendeng.
“Aku tahu Sinto! Aku tahu apa yang terjadi maka kau sampai lumpuh begini rupa! Ini akibat terlalu mengobar cinta di masa muda. Hingga kau kehabisan sungsum dan jadi lumpuh! Ha... ha... ha...!”
“Tua bangka sinting!” maki Sinto Gendeng. “Enak saja kau bicara! Wiro! Ceritakan pada kakek gila ini apa yang telah menimpa diriku! Bukannya menolong malah menuduh yang bukan-bukan!”
Wiro garuk-garuk kepala. Sesuai dengan perintah sang guru dia lalu tuturkan malapetaka yang menimpa Sinto Gendeng. Kakek Segala Tahu goyang kaleng rombengnya dan tarik nafas panjang berulang kali.
“Kami berniat menuju Teluk Akhirat Kek,” kata Wiro memberi tahu. “Siluman berjuluk Kelelawar Pemacung Roh itu harus dibasmi...”
Kakek Segala Tahu sekali lagi menghela nafas panjang.
“Seribu Hawa Kematian. Sangat berbahaya. Tidak mudah menyingkirkan makhluk kelelawar itu selama dia menguasai hawa beracun itu. Hawa mematikan itu merambat dari atas ke bawah, sulit dihindari. Satu-satunya cara, kalian harus menghindari tempat terbuka...”
“Bagaimana mungkin Kek!” kata Wiro pula.
Kakek Segala Tahu mendongak ke langit. Matanya yang putih berputar-putar. Lalu orang tua ini bertanya. “Sinto, apa benar kau sudah memiliki ilmu kesaktian yang disebut Sepasang Sinar Inti Roh?”
Si nenek tidak segera menjawab. Sebaliknya Wiro langsung saja memberi tahu. “Eyang memang sudah memilikinya Kek. Justru ilmu itulah yang ingin kudapatkan darinya. Tapi guru menyuruh aku menunggu sampai empat puluh sembilan tahun!”
Kakek Segala Tahu goyang kaleng rombengnya.
“Kemungkinan hanya dengan ilmu kesaktian itu kau bisa menghancurkan Kelelawar Pemancung Roh...”
“Nah Nek, apa kataku!” Wiro menyeletuk. “Kalau saja kau telah mengajarkan padaku ilmu kesaktian bernama Sepasang Sinar Inti Roh itu, kau tak akan susah-susah turun tangan mencari Kelelawar Pemancung Roh! Aku sendiri bisa membereskannya!”
“Diam kau anak setan! Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan! Jangan harap dalam keadaan seperti ini hatiku jadi leleh dan mengajarkan ilmu itu padamu.
Apapun yang terjadi kau tetap harus menunggu empat puluh sembilan tahun lagi!”
“Nasibku jelek!” kata Wiro sambil garuk-garuk kepala.
“Tempat terbuka... Kalian harus menghindari tempat dan udara terbuka. Kalian harus dapatkan kelemahan Seribu Hawa Kematian itu...”
“Kakek Segala Tahu, justru kami datang kemari untuk minta petunjukmu...” kata Wiro mulai jengkel melihat tingkah si kakek.
“Ini memang urusan sulit! Jika dikaji dengan hati jengkel dan marah, urusan tidak bisa dipecahkan!” jawab Kakek Segala Tahu lalu kerontangkan kaleng bututnya.
Saat itu langit di sebelah selatan tampak gelap. Awan hitam membuat udara menjadi mendung. Petir menyambar beberapa kali dan guntur menggelegar menggetarkan bukit kapur putih. Kakek Segala Tahu melompat dari duduknya dan goyangkan tangannya berulang kali.
“Itu! Itu kelemahannya!” Si kakek berteriak.
Sinto Gendeng perhatikan wajah Kakek Segala Tahu lalu kedipkan matanya pada Wiro. “Apa yang dikatakan tua bangka sinting ini...” bisik Sinto Gendeng pada muridnya.
“Kek, kalau kau memang sudah mengetahui kelemahan makhluk kelelawar itu mengapa tidak segera memberi tahu pada kami?” ujar Wiro pula.
“Dengar... Setiap hawa yang merambat, misalnya kabut, tidak bisa bergerak kalau ada hujan. Begitu juga Seribu Hawa Kematian. Berarti kau hanya punya kesempatan membunuhnya pada saat hujan turun!”
“Ini urusan gila! Bagaimana mungkin menunggu hujan lalu menyerang. Sebelum hujan turun aku sudah disekapnya dengan hawa maut itu!” Sinto Gendeng berkata setengah mengomel. Lalu dia berpaling pada muridnya.
“Anak setan! Jangan cuma bisa menggaruk kepala saja! Kau juga harus mencari akal!”
“Tentu Nek, aku ingin sekali menolongmu. Tapi otakku lagi butek!” jawab Wiro. “Kalau sulit menghadapi makhluk kelelawar itu mengapa tidak memusatkan perhatian pada hal lain saja. Misal bagaimana caranya menyembuhkan kelumpuhan yang kau derita.”
“Mengenai kelumpuhanku ini, apakah sahabat kita Si Raja Obat sanggup menyembuhkannya?”
“Nasibmu malang Sinto. Tidak ada satu orang pun yang
bisa menyembuhkan. Juga tidak ada satu obat pun.
Kecuali... Ah itu pun rasa-rasanya mustahil...” Kakek
Segala Tahu memandang ke arah Wiro. Dia pegang tangan
kanan pemuda ini dan usap-usap telapaknya.
“Anak muda, aku yakin kau pernah mendapatkan satu
petunjuk tentang obat mujarab satu-satunya yang bisa
menyembuhkan gurumu. Harap kau ceritakan padaku...”
“Benar-benar tua bangka sakti! Bagaimana dia bisa
tahu hal itu!” membatin Wiro.
“Pendekar Sableng! Kau tuli atau budek! Mengapa
tidak menjawab ucapanku!” Kakek Segala Tahu
membentak. Bola matanya yang putih memandang
berputar ke langit.
“Anu, begini Kek... Sebelum menemui ajalnya, kakek
bernama Suro Ageng itu mengatakan. Satu-satunya obat
yang bisa menyembuhkan kelumpuhan Eyang adalah
sekuntum bunga matahari yang tumbuh menghadap
matahari terbit dan mekar pada saat matahari mengalami
gerhana.”
“Weehhhhh!” Sinto Gendeng monyongkan mulutnya
yang perot. “Aku sudah dengar cerita itu! Bagiku itu cuma
satu urusan gila! Mencari bunga matahari mungkin
gampang. Yang tumbuh menghadap matahari terbit masih
mungkin. Tapi yang mekar pada saat gerhana matahari
dan aku harus memakannya saat itu juga! Benar-benar
gila! Tidak masuk akal! Mungkin gerhana matahari baru
akan terjadi seratus tahun lagi. Saat itu aku sudah jadi
bubuk di dalam tanah! Jadi urusan bunga celaka itu buat
apa aku pikirkan! Hik... hik... hik!”
“Sinto,” kata Kakek Segala Tahu setelah
menggoyangkan kalengnya dua kali. “Yang berkata adalah
Suro Ageng. Orang yang bisa dipercaya. Ucapannya
mungkin begitu yang terdengar namun bisa saja semua itu
merupakan satu tamsil yang harus diselidik dan dikaji lebih
dalam. Walau bicara, dia dalam keadaan sekarat. Lalu apa
kau tidak ingat kalau di puncak Pegunungan Dieng pernah
ada satu kawasan yang melulu ditumbuhi bunga
matahari?”
“Astaga! Kalau kau tidak mengatakan aku pasti tidak
ingat hal itu!” kata Sinto Gendeng pula. Sesaat wajahnya
yang pucat tampak bercahaya. Dua bola matanya
memancarkan sinar penuh harapan.
“Sekarang tinggal memecahkan arti kata gerhana
matahari. Apa betul yang dimaksud gerhana matahari
sungguhan?”
“Mungkin memang perlu diselidiki.” kata Sinto Gendeng
sambil manggut-manggut hingga lima tusuk konde perak
yang menancap di kulit kepalanya bergoyang-goyang dan
berkilauan terkena cahaya matahari. Si nenek kemudian
berpaling pada muridnya. “Wiro, kau harus bawa aku ke
puncak Pegunungan Dieng!”
“Akan kulakukan Eyang. Ke mana pun asal Eyang bisa
sembuh!” jawab Wiro namun dalam hati mengeluh,
“Pegunungan Dieng jauhnya minta ampun dari sini! Dan
aku musti mendukung nenek bau pesing ini! Remuk aku!”
Kakek Segala Tahu memandang tersenyum pada
Pendekar 212. Lalu dekatkan mulutnya ke telinga Wiro dan
berbisik. “Aku tahu omelan yang barusan kau ucapkan
dalam hati...”
“Kek! Jangan kau mengoceh yang bisa membuat nenek
itu mengomel kalang kabut!” kata Wiro balas berbisik.
“Hai! Apa yang kalian bicarakan berbisik-bisik ini?!”
Sinto Gendeng menegur dengan suara keras. “Aku tahu
Pegunungan Dieng jauh dari sini! Sedang Teluk Akhirat
lebih dekat di sebelah selatan. Anak Setan, aku tahu apa
yang ada di hatimu. Walau keinginanku untuk sembuh
sangat besar tapi aku lebih suka menghabisi Kelelawar
Pemancung Roh itu lebih dulu! Kita pergi ke Teluk Akhirat
lebih dulu! Kau dengar itu anak setan?!”
“Aku dengar nenek set...” Wiro tertawa cekikikan dan
cepat tutup mulutnya, “Maafkan aku Nek. Karena kau
terus-terusan memanggil aku anak setan, aku sampai latah
ikut-ikutan memanggilmu nenek set... Ha... ha... ha!”
Sepasang mata Sinto Gendeng membeliak besar
seperti mau melompat dari rongganya.
Kakek Segala Tahu tertawa mengekeh. Lalu setelah
goyangkan kaleng rombengnya dia berkata, “Aku
merasakan ada satu benda asing di balik pakaian muridmu
Sinto. Anak muda, benda apakah itu? Coba keluarkan, mau
kulihat!”
Wiro garuk-garuk kepala. Dalam hati dia tidak habis
pikir bagaimana orang tua yang matanya buta ini mampu
mengetahui kalau dia memang membekal sebuah benda
asing! Orang yang sanggup melihat saja tidak mampu
menembus pandang dan mengetahui apa yang
disimpannya di balik baju.
Dari balik pakaiannya Wiro keluarkan kalung kepala
srigala yang terbuat dari perak. Benda itu diletakannya di
telapak kiri Kakek Segala Tahu lalu jari-jari si kakek
ditekuknya hingga membentuk genggaman.
“Aku merasa ada hawa aneh menjalar masuk ke dalam
tanganku! Wiro, benda apa ini. Dari mana kau dapatkan?!”
bertanya Kakek Segala Tahu.
Wiro terkejut mendengar ucapan si kakek, “Waktu
pertama kali benda itu kupegang, memang ada terasa
semacam hawa aneh mengalir masuk ke dalam tubuhku.
Kek, itu sebuah kalung berbentuk kepala srigala. Terbuat
dari perak putih. Memiliki sepasang mata merah.” Lalu
Wiro menceritakan dari mana dia mendapatkan benda itu.
“Nasibmu bisa jelek kalau terus-terusan kau memegang
benda ini!” kata Kakek Segala Tahu seraya mendongak ke
langit, “Tapi juga bisa tambah buruk kalau kau sampai
salah memberikan pada orang lain. Aku mencium bau
penyakit, juga ada bau darah dan hawa panas pertanda
banyak malapetaka mengelilingi kalung ini...”
“Kalau begitu buang saja. Habis perkara! Kenapa harus
susah memikirkan!” kata Sinto Gendeng.
Kakek Segala Tahu gelengkan kepala, “Wiro, simpan
benda ini baik-baik. Sampai satu ketika kau
menyerahkannya pada orang yang berhak. Namun selama
kalung kepala srigala itu ada padamu, kau bakal
menghadapi cobaan berat...”
“Mudah-mudahan aku tabah menghadapi cobaan itu
Kek,” menyahuti Wiro.
Kakek Segala Tahu tersenyum, “Bagaimana kau bisa
tabah anak muda! Kalau ada beberapa gadis cantik dalam
keadaan bugil rela menyerahkan kehormatannya asal
kalung kepala srigala ini kau berikan pada mereka!”
Berubahlah paras Pendekar 212. Dia melirik pada
gurunya. Sinto Gendeng tertawa cekikikan, “Anak setan!
Mungkin kau terpaksa harus menunggu seratus tahun
untuk mendapatkan ilmu Sepasang Sinar Inti Roh itu! Aku
khawatir kau tidak sanggup menghadapi cobaan sekali ini.
Hik... hik... hik...”
Pendekar 212 hanya bisa garuk-garuk kepala
mendengar ucapan dan kekehan sang guru.
***
WIRO SABLENG
SERIBU HAWA KEMATIAN 3
EMPAT GADIS BUGIL
SEBENTAR lagi malam akan turun. Sebaiknya kau
menyusuri kawasan di kaki bukit sana. Biasanya di situ ada
mata air. Tenggorokanku seperti terpanggang. Aku haus
sekali!”
Karena keletihan, mula-mula Wiro bermaksud diam
saja, tidak mau menyahuti ucapan sang guru yang
didukungnya di atas pundak itu. Wiro lelah sekali dan
pakaiannya basah oleh keringat. Namun dasar pemuda
konyol, iseng saja dari mulutnya meluncur ucapan, “Eyang,
sebenarnya kau lebih baik tidak terlalu banyak minum.
Banyak minum cuma akan membuatmu kencing terusterusan!”
“Anak setan!” Tangan kiri Sinto Gendeng menyambar
dan memutar telinga kiri Wiro hingga sang pendekar
meringis kesakitan. “Kau benar-benar murid tidak berbudi.
Dalam keadaanku seperti ini seharusnya kau
mengeluarkan kata-kata yang menghibur! Bukan mengejek
mempermainkanku!”
“Maafkan aku Eyang. Aku tidak bermaksud begitu. Aku
sangat letih. Apa kita boleh berhenti barang sebentar?”
Tangan kiri si nenek kembali menyambar telinga
muridnya. Tapi sekali ini tidak terus memuntir. “Kita baru
berhenti kalau sudah sampai di kaki bukit sana!”
“Eyang...”
“Jangan banyak cingcong! Mana ilmu lari Kaki Angin
yang kuajarkan padamu. Selama perjalanan kulihat kau
tidak mengeluarkan ilmu itu. Kau sengaja memperlambat
perjalanan! Anak setan! Apa maksudmu?!”
“Eyang, aku tak punya maksud memperlambat
perjalanan. Ilmu lari yang selama ini kupergunakan rasanya
sudah cukup cepat. Kalau kupergunakan ilmu lari Kaki
Angin aku khawatir Eyang merasa kurang sedap di atas
pundakku. Lagipula kalau berlari terlalu kencang lalu
hilang keseimbangan, salah-salah Eyang bisa jatuh. Kalau
sampai begitu nanti aku lagi yang kena omelan...”
“Kau pandai mencari dalih! Tapi aku mau kau lari
mempergunakan ilmu lari Kaki Angin itu!” kata Sinto
Gendeng.
“Kalau begitu kata Eyang, aku menurut saja,” kata Wiro.
Dalam hati dia berucap, “Nenek cerewet! Awas kau! Akan
kukerjai kau agar tahu rasa!”
Wiro salurkan sebagian tenaga dalamnya sampai ke
kaki. Didahului satu suitan keras maka tubuhnya melesat
laksana anak panah lepas dari busur.
Ilmu lari Kaki Angin yang dikeluarkannya untuk berlari
membuat tubuhnya dan tubuh sang guru yang didukung
laksana kelebatan bayang-bayang di saat matahari hendak
tenggelam itu. Wiro sengaja lari secepat yang bisa
dilakukannya tetapi secara ugal-ugalan. Dia bukan hanya
berlari biasa tetapi sesekali melompat atau berjingkrak
atau menikung tak karuan hingga tubuh si nenek yang
didukungnya terlontar-lontar malang melintang di atas
pundaknya. Kadang-kadang dia memperlambat larinya
dengan mendadak membuat Sinto Gendeng tersentak ke
depan dan kalau tidak lekas menjambak rambut gondrong
muridnya niscaya akan terlempar jatuh!
Lebih gilanya lagi Wiro sesekali sengaja lari di bawah
pohon-pohon bercabang rendah. Kalau Sinto Gendeng
tidak cepat rundukkan kepala atau miringkan tubuh ke
belakang atau ke samping niscaya kepala atau dadanya
akan menghantam cabang pohon. Suatu kali, begitu
cepatnya Wiro lari, ketika berkelebat di bawah sebuah
cabang pohon besar Sinto Gendeng tidak keburu
rundukkan kepala atau miringkan tubuhnya. Si nenek
berteriak keras. Tangan kanannya yang kurus dan hanya
tinggal kulit membalut tulang dihantamkan ke depan.
Braaaakkk!
Cabang pohon sebesar paha manusia itu patah hancur
berantakan.
“Anak setan! Kau mau membunuh aku?!” Si nenek
menghardik marah. Dua tangannya langsung menjambak
rambut Wiro.
“Nek! Aku hanya mengikuti apa perintahmu! Kau bilang
agar aku mempergunakan ilmu lari Kaki Angin. Aku
mengikut! Sekarang kau marah-marah, menuduh aku mau
membunuhmu! Tadi pun sudah kubilang, berlari sambil
mendukungmu dengan ilmu lari itu bisa berbahaya!”
“Mulutmu bicara begitu! Tapi aku tahu kau mau
mengerjai diriku!” kata Sinto Gendeng lalu menjitak kepala
muridnya dua kali hingga Wiro terpekik kesakitan. “Sudah!
Mulai sekarang kau tidak usah pergunakan ilmu lari Kaki
Angin!”
Wiro menyengir. Dalam hati dia berkata, “Nah sekarang
akhirnya kau menyerah juga! Rasakan...”
Ucapan Wiro tertahan. Dia merasakan tengkuknya
dikucuri cairan hangat.
“Nek! Kau kencing ya?!” teriak Wiro sambil pencongkan
mulut dan hidungnya.
“Anak setan! Pengalamanmu baru sejengkal! Jangan
kira cuma kau yang bisa mengerjai orang! Aku juga bisa!
Hik... hik... hik!” Sinto Gendeng menjawab lalu tertawa
cekikikan. Kalau saja yang ada di atas pundaknya itu
bukan gurunya, saat itu juga mau rasanya Wiro
membantingkan orang itu ke tanah!
***
BERSAMAAN dengan tenggelamnya sang surya dan
malam datang membawa kegelapan, guru dan murid itu
sampai di tepi rimba belantara yang membentang
sepanjang kaki bukit. Belum jauh memasuki hutan, Wiro
melihat sebuah telaga kecil di antara pohon-pohon besar.
Dia segera menuju ke sana. Begitu sampai dia akan segera
menurunkan si nenek lalu mandi membersihkan diri.
Tubuhnya bukan saja lengket oleh keringat, tapi juga bau
oleh pesing kencingnya sang guru. Namun ketika sampai di
tepi telaga sang guru tiba-tiba berucap.
“Turunkan aku dalam telaga itu. Aku mau mandi
menyejukkan diri...”
“Wah, aku keduluan...” ucap Wiro dalam hati.
“Sesudah kau turunkan aku ke dalam air, lekas kau
menjauh dari telaga ini! Aku tidak suka mandi diintip
orang!”
“Nek!” kata Wiro jadi kesal, “Perawan saja yang mandi
belum tentu aku intip. Apalagi kau yang sudah tua renta
begini! Apa untungnya?!”
Sinto Gendeng tertawa panjang. “Mengintip anak gadis
mandi sudah biasa! Tapi mengintip nenek-nenek bugil
jarang terjadi! Itu sebabnya banyak lelaki kepingin tahu
bagaimana asyiknya mengintip nenek-nenek! Hik... hik...
hik!”
“Kalau aku amit-amit Nek!” jawab Wiro.
Mereka sampai di tepi telaga. Wiro langsung
menurunkan gurunya ke dalam air. Sebelum pergi Wiro
berkata, “Eyang, kau boleh mandi sampai pagi. Biar aku
bisa istirahat yang lama...”
“Jangan berani mempermainkan aku! Kalau kupanggil
kau harus segera datang!”
Wiro garuk kepala lalu tinggalkan telaga. Di bawah satu
pohon besar dia duduk bersandar dan lunjurkan kaki.
Sekujur tubuhnya terasa capai. Dia menguap beberapa
kali. Sesaat ketika dia hendak memejamkan mata dari atas
pohon besar tiba-tiba dia melihat empat bayangan hitam
berkelebat, melayang turun laksana empat burung
raksasa. Wiro cepat bangkit berdiri. Memandang berkeliling
dia jadi terkejut lalu menyeringai.
“Kalian rupanya! Nah, nah! Kali ini kalian mau berbuat
apa lagi?! Mau membetot putus leherku atau menjebol
jantungku dengan cakar srigala kalian?!”
Empat orang berjubah hitam dengan kepala ditutupi
kerudung tegak di depan Pendekar 212. Di dada jubah
masing-masing terpampang gambar kepala srigala
berwarna putih perak dengan mata merah menyorot.
Seperti diketahui mereka adalah empat perempuan aneh
yang kemarin malam sebelumnya telah mencegat
Pendekar 212.
Satu dari empat orang berkerudung maju dua langkah
lalu berkata, “Kami tetap menaruh curiga! Kalung kepala
srigala itu ada padamu! Kau sembunyikan di satu tempat
di balik pakaianmu!”
Orang ke dua acungkan tangannya yang saat itu telah
berubah seperti kaki srigala lengkap dengan cakarnya. Lalu
dia menyambung ucapan temanya, “Kemarim malam kami
masih menaruh hormat padamu! Tapi malam ini, jika
kalung itu tidak kau serahkan, kami akan membeset
tubuhnya mulai dari kepala sampai ke kaki!”
“Kalian tidak buta! Malam kemarin kalian saksikan
sendiri kakek muka putih kawan kalian itu menggeledah
sekujur tubuhku! Dia tidak menemukan kalung itu! Mana
kakek muka mayat itu? Siapa namanya?!”
“Dia tidak ada di sini!” jawab orang berkerudung di
ujung kiri.
“Kita tidak memerlukan Ki Tawang Alu!”
“Kakek itu teman kalian sendiri! Kalian seolah tidak
mempercayai dirinya!”
“Soal hubungan kami dengan kakek itu bukan
urusanmu! Lekas serahkan Kalung Kepala Srigala!”
“Bagaimana aku harus menerangkan!” kata Wiro
sambil garuk-garuk kepala. Dia memandang berkeliling.
“Hemm... Aku tahu. Kalian rupanya ingin menggerayangi
sendiri menggeledah tubuhku! Silahkan saja!” Wiro lalu
kembangkan dada pakaiannya.
Empat pasang mata berkilat memandangi dada sang
pendekar yang penuh otot. Orang berkerudung di sebelah
kanan yang sejak tadi diam saja maju mendekati Wiro.
“Terus terang kami tidak bermaksud jahat terhadapmu.
Kami berada dalam keadaan sangat terdesak. Kalung itu
dicuri orang sepuluh hari lalu. Kami tidak tahu siapa
pencurinya. Mungkin Lima Laknat Malam Kliwon, mungkin
juga Kelelawar Pemancung Roh dari Teluk Akhirat. Kami
tidak perlu nyawa ataupun darahmu. Kami sangat
memerlukan kalung itu. Apapun yang kau minta sebagai
penukarnya akan kami penuhi!”
“Apakah kalung itu memang milik kalian?” Wiro
bertanya.
“Bukan milik kami, tapi milik pemimpin kami. Sekarang
dia sedang terbaring sakit. Hanya kalung itu...”
“Rembulan! Hal itu tidak perlu dikatakan padanya!”
tiba-tiba orang berkerudung di sebelah kiri memotong
ucapan temannya.
“Namamu Rembulan...?” ujar Wiro seraya menatap
sepasang mata bagus berkilat yang tersembul dari dua
lobang kecil di bagian depan kerudung hitam. Wiro garukgaruk
kepala. “Kalau saja aku bisa melihat wajahmu, pasti
kau secantik bulan purnama empat belas hari...”
Orang yang dijumpai keluarkan suara halus dari
mulutnya. Dalam hati dia membatin. “Apa yang orang
bilang benar adanya. Pemuda ini memang ceriwis. Tapi
ah... Mengapa aku merasa tertarik padanya?” Di balik
kerudung hitam wajah Rembulan bersemu merah.
Orang yang tadi membentak melangkah ke hadapan
Wiro. “Namaku Mentari Pagi...”
“Kau Mentari Pagi. Pantas hangat tapi galak!” kata Wiro
sambil tersenyum
Perempuan yang mengaku bernama Mentari Pagi
lanjutkan ucapannya, “Kalung itu bagi kami sama nilainya
dengan jiwa kami. Kami benar-benar membutuhkan. Kami
tidak tahu mengapa kau punya niat jahat menyembunyikan
kalung itu dan tidak mau menyerahkannya pada kami!”
“Mentari Pagi, dengar... Kalung itu tidak ada padaku.
Kau dan kawan-kawanmu menyaksikan sendiri sewaktu Ki
Tawang Alu menggeledah diriku. Selain itu bagaimana aku
tahu pasti kalung itu memang milik kalian?”
Mentari Pagi menunjuk ke gambar kepala srigala perak
di dada jubah hitamnya. “Kau saksikan sendiri. Gambar
kepala srigala itu sama dengan kalung yang ada padamu!”
“Aku juga bisa membuat jubah lengkap dengan gambar
kepala srigala seperti itu. Bukan cuma satu. Sepuluh
sekaligus! Lalu apa itu berarti kalung kepala srigala perak
itu milikku!”
Mentari Pagi menahan amarahnya mendengar katakata
Wiro itu. Dalam hati dia membatin, “Kalau kubunuh
pemuda ini lalu ternyata kalung itu memang tidak ada
padanya, berarti percuma saja. Lagipula jika diserbu tidak
mungkin dia cuma diam saja. Ilmu larinya saja sulit dikejar.
Tapi aku yakin kalung itu ada padanya!” Mentari Pagi
memandang pada ketiga kawannya, memberi tanda
dengan goyangan kepala. Tiga perempuan berkerudung
satu persatu anggukkan kepala.
Mentari Pagi kemudian alihkan pandangannya pada
Pendekar 212. “Kami tahu siapa kau sebenarnya. Kami
menyirap kabar bahwa kau adalah seorang pemuda hidung
belang...”
“Sialan! Kenal aku saja tidak! Bagaimana bisa
menuduh aku hidung belang?!” kata Wiro dengan suara
keras sambil usap-usap hidungnya. “Eh! Kalian dengar
baik-baik! Jika aku yang hidung belang berarti aku yang
akan mengejar kalian! Sebaliknya bukankah kalian
berempat yang sejak kemarin malam mengejar diriku?
Nah, ayo bilang! Siapa yang hidung belang? Aku atau kalian
berempat!”
Empat orang berkerudung jadi kalang kabut dan
keluarkan suara-suara marah. “Kau enak saja bicara
ngacok!” bentak Mentari Pagi.
Wiro tertawa gelak-gelak.
Mentari Pagi kembali membuka mulut, “Kau mau
mengaku atau tidak, bagi kami tidak jadi masalah. Tapi jika
kau mau menyerahkan kalung kepala srigala itu kami
bersedia menyerahkan diri kami padamu...”
“Menyerahkan diri bagaimana?!” tanya Wiro setengah
melongo.
“Jangan berpura-pura!” jawab Mentari Pagi. “Kau boleh
memiliki diri kami malam ini...”
“Kalian... Empat-empatnya?!”
Mentari Pagi mengangguk. Tiga orang berkerudung
lainnya ikut mengangguk. Lalu Mentari Pagi melangkah ke
balik semak belukar setinggi dada.
“Eh! Kau mau ke mana?!” tanya Pendekar 212.
Mentari Pagi tidak menjawab. Dia terus melangkah. Di
balik semak-semak dia tanggalkan jubah hitamnya.
Sepasang mata Pendekar 212 mendelik besar. Walau
tempat itu diselimuti kegelapan, tapi karena semak belukar
yang jadi penghalang tidak seberapa lebat lagi pula
demikian dekatnya, Wiro dapat melihat cukup jelas sosok
tubuh Mentari Pagi yang kini tidak terlindung apa-apa itu.
Selagi murid Sinto Gendeng terperangah, tiga orang
berkerudung lainnya telah melangkah pula ke balik semak
belukar yang sama. Seperti Mentari Pagi satu persatu
mereka menanggalkan pakaian masing-masing. Dua mata
Wiro kini benar-benar seperti mau melompat dari
rongganya. Sekujur tubuhnya bergeletak dan darah yang
mengalir dalam pembuluh di sekujur badannya menjadi
panas. Jantungnya berdegup keras.
“Kalian... tubuh kalian memang bagus. Tapi... aku tidak
tahu wajah kalian, jangan-jangan kalian empat nenek yang
punya kesaktian menipu pandangan mataku...” Ucapan itu
keluar perlahan dari mulut Wiro. Namun sempat sampai ke
telinga empat orang berkerudung. Mentari Pagi, diikuti oleh
tiga kawannya tiba-tiba gerakkan tangan masing-masing,
menarik lepas kerudung hitam yang selama ini menutupi
kepala mereka. Begitu kerudung lepas dan Wiro melihat
wajah ke empat orang itu, Pendekar 212 langsung tersurut
dua langkah sambil garuk-garuk kepala!
***
WIRO SABLENG
SERIBU HAWA KEMATIAN 4
SINTO GENDENG LENYAP
“YA TUHAN! Hampir tak bisa kupercaya. Mereka ternyata
empat gadis berwajah cantik!” Wiro tegak terkesiap sambil
garuk-garuk kepala. Yang bernama Rembulan ternyata
paling cantik dari empat gadis itu. Mentari Pagi tak kalah
cantik, namun ada bayangan sifat angkuh serta kehendak
memaksakan wibawa. “Ini rupanya cobaan yang dikatakan
Kakek Segala Tahu! Celaka! Apa aku bisa tabah
menghadapi cobaan ini? Gila! Mengapa urusan bisa jadi
kapiran seperti ini?!”
“Berikan kalung kepala srigala. Setelah itu kau boleh
datang ke balik semak belukar ini!” Mentari Pagi berkata.
“Aku... Tidak... tidak!” kata Wiro sambil goyangkan
kepala.
“Hemmm... Kau takut kami tipu. Kau takut kami tidak
akan memenuhi janji, kalau begitu datanglah ke sini. Kau
boleh menyerahkan kalung itu setelah berbuat apa saja
pada kami...”
Wiro kembali menggeleng. Dia malah melangkah
mundur lalu palingkan kepala ke jurusan lain.
“Lekas pakai kembali pakaian kalian! Kalau aku bisa
menolong akan kulakukan! Aku bukan manusia yang
menolong dengan mengharapkan pamrih. Apalagi
melakukan seperti apa yang kalian katakan...!”
Mentari Pagi saling pandang dengan tiga kawannya.
“Pemuda itu bukan seperti yang kita sangka!”
Rembulan tiba-tiba berkata, “Mentari, lihat! Dia
mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya. Astaga! Itu
kalung kepala srigala perak yang kita cari!”
Mentari Pagi dan dua gadis lainnya segera berpaling ke
arah Wiro yang saat itu memang sudah mengeluarkan
kalung perak kepala srigala dari balik pakaiannya. Saat itu
dia masih berdiri dengan kepala mengarah ke jurusan lain,
tak berani memandang ke arah semak belukar.
“Lekas kenakan jubah dan kerudung!” Mentari Pagi
berkata. Agaknya dia memang menjadi pimpinan dari
rombongan empat gadis cantik aneh itu. Ke empatnya
segera mengenakan jubah dan kerudung masing-masing.
Lalu melangkah ke hadapan Wiro.
Sesaat Pendekar 212 pandangi sosok-sosok hitam di
hadapannya itu. Dengan agak gemetar tangannya yang
memegang kalung kepala srigala diacungkan ke arah
Mentari Pagi.
“Ambillah! Mudah-mudahan aku tidak salah
memberikan barang ini pada kalian!”
“Demi Gusti Allah, kami bersumpah kalung ini adalah
milik pimpinan kami dan segera akan kami sampaikan
kepadanya!” kata Mentari Pagi pula.
“Ah! Kalau kau bersumpah atas nama Gusti Allah,
hatiku lega sekarang...” kata Wiro pula lalu tersenyum.
“Terima kasih! Kau mau menyerahkan barang yang
sangat berharga ini!” Mentari Pagi cepat-cepat
memasukkan kalung itu ke dalam sebuah kantong kain
yang disembunyikan di balik pinggang pakaiannya.
“Kami akan pergi! Sebelum pergi mungkin ada sesuatu
yang hendak kau minta dari kami?”
“Tidak... Aku tidak minta apa-apa...” jawab Wiro.
“Sungguh kau tidak meminta apa-apa dari kami sebagai
imbalan?” tanya Mentari Pagi.
“Tidak, aku tidak minta apa-apa. Kalian boleh pergi...”
Mentari Pagi berpaling pada tiga kawannya lalu kembali
memandang pada Pendekar 212. “Jika kau tidak meminta
apa-apa, mungkin kau punya pertanyaan yang bisa kami
jawab?”
“Pertanyaan...?” Wiro garuk-garuk kepala. “Kalau
pertanyaan memang banyak!”
“Kalau begitu sebutkanlah! Kami akan menjawab satu
persatu.” kata Mentari Pagi pula.
“Kalian ini siapa sebenarnya. Mengapa mengenakan
pakaian dan kerudung serba hitam seperti ini? Lalu
gambar kepala srigala itu? Aku juga melihat tangan kalian
bisa berubah menjadi seperti kaki srigala lengkap dengan
cakarnya. Kata kalian kalung perak itu adalah milik
pimpinan kalian yang sedang sakit. Siapa dia dan sedang
menderita sakit apa?”
“Rembulan, harap kau jawab semua pertanyaannya!”
Mentari Pagi menyuruh gadis bernama Rembulan untuk
menjawab.
Tidak mengira akan diperintah seperti itu, Rembulan
sesaat jadi kikuk. Matanya menatap wajah Pendekar 212
sesaat. Ada getaran di dadanya yang membuat suaranya
jadi gemetar.
“Kami adalah orang-orang dari kelompok yang disebut
Bumi Hitam. Kami bermukim di lereng bukit timur Gunung
Merapi. Pimpinan kami seorang gadis bernama Pelangi
Indah. Saat ini beliau terserang satu penyakit aneh yang
konon hanya bisa disembuhkan dengan Kalung Perak
Kepala Srigala. Selain itu kalung tersebut adalah pusaka
Kelompok Bumi Hitam yang merupakan pertanda bahwa
pemegangnya adalah yang dipercayakan sebagai
pimpinan. Rimba persilatan penuh dengan berbagai
bahaya tidak terduga. Kami mengenakan jubah dan
kerudung serba hitam untuk melindungi diri dari hal-hal
yang tidak diinginkan karena kami semua adalah
perempuan yang rata-rata berusia muda...”
“Dan cantik-cantik!” sambung Wiro lalu tertawa lebar.
“Apakah kau masih ada pertanyaan lain?” ujar gadis
bernama Mentari Pagi.
Wiro diam sesaat. Berpikir. Dia ingat pada musibah
yang menimpa gurunya. Hal itu diceritakannya secara
ringkas pada empat orang gadis lalu bertanya, “Apa kalian
pernah mendengar asap beracun yang disebut Seribu
Hawa Kematian itu? Lalu apakah kalian tahu kelemahan
serta cara menghadapinya? Menurut seorang sahabat
dalam menghadapi Seribu Hawa Kematian harus
menghindari tempat terbuka dan pada saat hujan turun.
Kalau di antara kalian ada yang tahu, apa betul keterangan
sahabatku itu?”
Mentari Pagi tundukkan kepala seperti merenung.
Sesaat kemudian dia berkata berikan jawaban. “Apa yang
dikatakan sahabatmu itu memang betul. Tetapi ada satu
cara yang lebih mudah menghadapi ilmu jahat mematikan
itu. Hawa atau asap berasal dari panas. Panas berasal dari
api. Api bisa dipadamkan dengan air atau hujan. Tapi tidak
selamanya. Api yang telah berubah menjadi asap atau
hawa hanya bisa dibendung dan ditundukkan dengan api
juga.”
Wiro terdiam dan kerenyitkan kening. “Terima kasih
Mentari Pagi. Keteranganmu sangat berguna bagiku. Kalau
pimpinan kalian sedang sakit dan kalian sudah dapatkan
kalung kepala srigala itu sebagai obatnya, sebaiknya kalian
lekas-lekas menemuinya.”
“Mentari Pagi, ada satu hal yang perlu kuberi tahu pada
orang ini. Jika kau mengizinkan...”
Mentari Pagi menatap ke arah Rembulan yang barusan
bicara lalu anggukan kepala. Rembulan lalu berucap.
“Kelelawar Pemancung Roh tinggal di Teluk Akhirat. Dia
tidak pernah jauh dari air. Konon dia bisa dilukai tapi tak
bisa dibunuh karena nyawanya tidak berada dalam
jazadnya, tapi ditumpangkan pada satu makhluk hidup
yang tidak diketahui apa dan di mana beradanya...”
“Aneh, ada manusia yang nyawanya tidak berada dalam
dirinya sendiri. Tapi dititipkan pada makhluk lain.” Wiro
geleng-geleng kepala.
“Sebelum kami pergi ada satu hal yang ingin kami
tanyakan. Apakah benar kau adanya orang yang dalam
rimba persilatan dijuluki Pendekar Kapak Maut Naga Geni
212 dan bernama Wiro Sableng?”
Wiro garuk-garuk kepala mendengar pertanyaan
Mentari Pagi itu. Lalu dia tersenyum. “Apa artinya satu
nama, apa pula artinya sebuah julukan? Aku ya manusia
biasa, begini saja adanya seperti yang kalian lihat. Aku
ingat sesuatu. Kalian sudah tahu bagaimana guruku Eyang
Sinto Gendeng mengalami kelumpuhan akibat Seribu
Hawa Kematian. Apa kalian mungkin tahu obat atau cara
penyembuhannya?”
“Kami tidak bisa memberikan jawaban,” kata Mentari
Pagi. “Namun jika ada kesempatan silakan berkunjung ke
tempat kami di lereng timur Gunung Merapi. Mungkin
pimpinan kami bisa menolong...”
“Terima kasih, aku suka sekali berkunjung ke tempat
kalian...” kata Wiro pula.
“Satu lagi pertanyaan dariku,” Rembulan kini yang
berkata, “Apa benar kau calon menantunya Dewa Tuak?
Yang katanya berjodoh dengan murid kakek itu yang
bernama Anggini?”
Wajah Pendekar 212 seperti mengkeret. Lalu dia
tertawa gelak-gelak. “Itu tidak benar! Bagaimana kau bisa
berkata begitu. Rembulan, dari mana kabar itu kau
dapatkan?”
“Sebelum pimpinan kami jatuh sakit, Dewa Tuak pernah
diundang datang ke lereng timur Gunung Merapi. Dalam
satu percakapan aku mendengar kakek itu menanyakan
dirimu pada pimpinan kami, Pelangi Indah. Menurut si
kakek sudah lama sekali dia tidak bertemu denganmu dan
tidak mengetahui hal ihwalmu. Dia khawatir karena
katanya dirimu sudah dijodohkan dengan muridnya yang
bernama Anggini itu...”
Wiro garuk kepalanya habis-habisan. “Maksud kakek itu
baik. Tapi...”
“Tapi apa?” tanya Mentari Pagi. “Anggini tidak suka
padamu, atau kau yang tidak tertarik padanya?”
“Soal jodoh bukan di tangan manusia, tapi Yang di Atas
sana...” kata Wiro sambil menunjuk ke atas. “Siapa tahu
Gusti Allah menentukan lain! Siapa tahu aku berjodoh
dengan salah satu dari kalian!”
Empat gadis cantik berkerudung keluarkan pekik kecil.
Wiro tertawa gelak-gelak. Mentari Pagi berpaling pada
kawan-kawannya lalu berkata, “Kami pergi sekarang!
Sekali lagi terima kasih kau telah mau mengembalikan
Kalung Kepala Srigala...” Keempat gadis itu lalu menjura.
Wiro balas menghormat seraya berkata, “Aku juga
berterima kasih. Kalian semua telah memberikan
kenangan indah malam ini. Kenangan yang tidak akan
kulupakan seumur hidup!”
Empat wajah di bawah kerudung hitam menjadi merah
karena malu. Tapi Wiro cepat meneruskan ucapannya,
“Jika kelak aku bertemu dengan pimpinan kalian, akan
kuceritakan bagaimana hebatnya kesetiaan kalian
padanya hingga mau berkorban demi kesembuhannya...”
“Kami harap...” kata Mentari Pagi dengan suara agak
gemetar, “Hal itu jangan kau ceritakan pada Pelangi Indah.
Kami...”
“Kalau begitu, kalian tidak usah takut. Aku berjanji tidak
akan menceritakan apapun pada pimpinan kalian,” kata
Wiro pula sambil tersenyum.
“Terima kasih...” kata Mentari Pagi seraya menjura
sekali lagi yang diikuti oleh Rembulan dan dua temannya.
Tapi setelah menjura ke empatnya masih saja tidak
meninggalkan tempat itu.
“Ada apa...?” tanya Wiro agak heran.
“Rasanya... Ucapan terima kasih kami seolah tidak ada
artinya kalau tidak disertai satu tindakan yang tulus...”
“Aku tidak mengerti maksudmu dan kawan-kawan,
Mentari Pagi. Apakah...”
Belum sempat Pendekar 212 menyelesaikan
ucapannya empat gadis itu lepaskan kerudungnya. Lalu
cepat sekali keempatnya berkelebat, dua dari kiri, dua dari
kanan.
Cup! Cup!
Cup! Cup!
“Hai!”
Murid Sinto Gendeng berseru dan terperangah. Dia
melompat mundur sambil usap-usap pipinya kiri kanan
yang barusan dicium oleh empat gadis itu. Pipi sang
pendekar kelihatan berselomotan warna merah bekas
gincu Mentari Pagi dan kawan-kawannya. Saat itu Wiro
hanya bisa bertegak diam. Di kejauhan, dalam gelapnya
malam terdengar tawa cekikikan empat gadis itu.
***
DALAM gelapnya malam Mentari Pagi dan tiga gadis
lainnya berlari cepat ke arah timur. Di satu tempat Mentari
Pagi mendekati Rembulan dan berkata, “Sahabatku
Rembulan, aku belum pernah melihat gadis bernama
Anggini itu. Tapi aku punya firasat kau mendapat saingan
keras...”
“He, apa maksudmu Mentari Pagi?” tanya Rembulan.
Mentari Pagi tersenyum. “Dari caramu menghadapi
pemuda itu, dari getaran nada suaramu serta dari
pandangan cahaya dua matamu, aku menaruh duga kau
suka padanya...”
Rembulan sampai hentikan larinya mendengar katakata
Mentari Pagi. “Kau menggodaku! Kalau dua teman
yang lain sempat mendengar, kabar yang bukan-bukan
pasti akan segera menebar...”
Mentari Pagi tertawa panjang lalu tinggalkan Rembulan
yang untuk beberapa saat lamanya masih tegak tertegun.
“Anggini...” katanya dalam hati. “Aku juga belum pernah
melihatmu. Secantik apakah dirimu?”
***
TAK SELANG berapa lama setelah empat gadis dari
kelompok Bumi Hitam itu berlalu, Wiro masih tegak di
tempat itu. “Dewa Tuak... Bagaimana orang tua itu
seenaknya menebar kabar tentang perjodohanku dengan
muridnya?” Wiro garuk-garuk kepala. “Ah! Mengapa hal itu
harus kupikirkan! Aku harus menemui Eyang Sinto
Gendeng walau dia masih mandi dan belum memanggilku.
Dia pasti gembira kalau kukatakan bahwa kelemahan ilmu
Seribu Hawa Kematian sudah kuketahui.”
Wiro bergegas menuju telaga di mana Eyang Sinto
Gendeng sebelumnya ditinggalkannya mandi sendirian.
Sampai di tepi telaga yang gelap Wiro memandang
berkeliling. Tak ada siapa-siapa dalam telaga atau di
sekitarnya. Eyang Sinto Gendeng tidak kelihatan.
“Ke mana perginya orang tua itu?” pikir Wiro. “Kalau
masih mandi mengapa tak ada dalam telaga. Pakaiannya
tidak kelihatan di sekitar sini. Kalau sudah selesai mandi
mengapa tidak memanggil aku, memberi tahu?
Perasaanku tidak enak. Jangan-jangan nenek itu...”
Pandangan Wiro membentur sebuah benda yang
menancap di atas batu di tepi telaga. Dia segera mencabut
benda itu. Ketika diperhatikan berdebarlah dada Pendekar
212.
“Tusuk konde Eyang Sinto Gendeng...” katanya dengan
suara bergetar. Wiro memandang berkeliling. Hanya
kegelapan yang kelihatan.
“Eyang! Eyang Sinto! Kau di mana?!” Wiro berteriak
memanggil. Jawaban yang terdengar hanya gaung
suaranya di udara malam yang gelap dan dingin. “Nek!
Awas kau! Kalau kau bercanda mempermainkan aku tidak
akan kudukung lagi kau!”
Wiro terdiam sesaat. “Tidak mungkin nenek itu
bergurau. Kakinya lumpuh, mana bisa dia keluar dari
dalam telaga! Setahuku sekitar kawasan ini tidak ada
binatang buas. Jadi tak mungkin dia digondol macan! Lalu
kalau yang melarikannya adalah manusia, apa untungnya
menculik nenek tua bangka dan bau pesing begitu?”
Wiro timang-timang tusuk konde perak dan berpikir lagi,
“Tusuk konde ini adalah salah satu senjata andalan Eyang
Sinto Gendeng. Jika sampai menancap di batu mungkin
sekali telah dipergunakan untuk menyerang seseorang!
Berarti sebelumnya telah terjadi pertempuran hebat di
tempat ini!”
Tiba-tiba ada satu sambaran angin menerpa di sebelah
belakang. Wiro cepat berpaling sambil hantamkan tangan
kirinya.
Bukkkk!
Pendekar 212 terjajar dua langkah. Lengannya terasa
perih panas. Di depan sana seorang kakek muka putih
berdestar hitam mencelat sampai satu tombak. Walau dia
mengalami cidera pada lengan kanannya akibat bentrokan
tadi namun dia masih bisa keluarkan ucapan.
“Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 ternyata
memang bukan nama kosong belaka!”
Wiro gembungkan rahang dan pelototkan matanya. Dia
segera mengenali kakek muka putih itu.
“Ki Tawang Alu!” teriak Wiro geram.
TAMAT
Episode Berikutnya: SRIGALA PERAK
BASTIAN TITO
P E N D E K A R K E R I S T U J U H
ARIO BLEDEG
PETIR DI MAHAMERU
(BAGIAN 2)
PDF E-Book: kiageng80
ARIO BLEDEG
PETIR DI MAHAMERU 7
PERTEMPURAN DI SENJA HARI
KI SURO Gusti Bendoro memang sudah memaklumi kalau
nenek jahat berjuluk Si Lidah Bangkai itu akan
menyerangnya. Karena telah berlaku waspada maka begitu
diserang dengan satu gerakan cepat dia miringkan badan
dan kepala ke kiri.
Lidah merah panjang bercabang dua si nenek melesat
ganas hanya seperempat jengkal di samping leher orang
tua berjubah putih itu. Lalu craasss! Ujung lidah menancap
dalam di batang pohon tempat di mana sebelumnya Ki
Suro duduk bersandar. Ketika lidah ditarik, kelihatan satu
lobang besar mengepulkan asap di batang pohon!
Sepertiga bagian dari batang pohon itu berubah menjadi
hitam gosong seperti terbakar. Si Lidah Bangkai dongakkan
kepala tertawa lantang. Lidahnya yang panjang basah
keluar bergulung-gulung. Lalu dia hentikan tawanya dan
semburkan ludah berwarna merah ke tanah.
Sepasang matanya menatap garang tak berkesip pada
kakek di hadapannya.
Saat itu Ki Suro Gusti Bendoro telah bangkit berdiri.
Tangan kirinya memegang Kitab “Hikayat Keraton Kuno”
sedang di tangan kanannya tergenggam sebatang tongkat
bambu berwarna kuning. Sebelumnya Ki Suro memang
telah pernah mendengar bagaimana hebat dan ganasnya
nenek yang ada di hadapannya itu. Namun dia tidak
menduga kalau lidah si nenek benar-benar dahsyat
mengerikan seperti itu. Kalau saja dia tidak cepat
mengelak, apa jadinya dengan dirinya. Batang pohon yang
begitu kokoh bisa dibuat berlubang dan hangus laksana
dipanggang api! Apalagi tubuh manusia! Walau hatinya
tercekat namun Ki Suro tetap perlihatkan air muka penuh
ketenangan. Malah dengan suara lembut dia menegur,
“Lidah Bangkai, menginginkan barang milik orang lain
secara tidak sah merupakan satu perbuatan tidak terpuji.
Apalagi disertai maksud hendak mencelakai dan
membunuh! Kuharap sampeyan segera sadar apa yang
barusan sampeyan lakukan. Tidak ada kehidupan yang
paling nikmat di dunia ini selain berdampingan dalam
kebaikan dan persahabatan antara sesama kita umat
Tuhan Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.”
Ditegur seperti itu Si Lidah Bangkai tertawa mengekeh.
Suara tawanya seperti kuda meringkik. Sisik hitam
kebiruan yang melapisi mukanya kelihatan bergerak-gerak
hidup seperti tumbuhan laut.
“Ki Suro! Khotbahmu pada sore menjelang senja ini
sungguh enak didengar!” kata Si Lidah Bangkai lalu
tertawa gelak-gelak dan kembali meludah ke tanah.
“Aku tidak berkhotbah. Aku hanya memberitahu bahwa
begitulah adanya kenyataan hidup. Terserah masingmasing
kita. Apakah mau hidup sengsara dalam kesesatan
atau dalam berkah di jalan lurus yang telah disediakan
Illahi. Saat ini aku bermohon kepada Yang Maha Kuasa
agar sampeyan dilimpahkan berkah ditunjukkan jalan yang
benar dan keluar dari kesesatan.”
Si Lidah Bangkai mendengus.
“Apa yang tadi kau katakan itu adalah jalan pikiran dan
jalan hidupmu! Setiap manusia punya cara berpikir dan
jalan hidup sendiri-sendiri! Aku tidak pernah merasa hidup
dalam sengsara dan kesesatan! Kau merasa hebat sendiri
hingga pandai mengada-ada! Kau bilang perbuatanku tidak
terpuji! Tapi aku sendiri mengatakan perbuatanku itu justru
sangat terpuji dan hebat luar biasa! Aku ingin
menyelamatkan sebuah pusaka keraton yang tidak layak
berada di tanganmu!”
“Pusaka keraton? Apa maksud sampeyan?” tanya Ki
Suro Gusti Bendoro dengan perasaan heran mendengar
kata-kata Si Lidah Bangkai.
“Kitab di tangan kirimu itu!” kata Si Lidah Bangkai
sambil menuding dengan telunjuk tangan kirinya, “Itu yang
kumaksudkan dengan pusaka keraton! Serahkan kitab itu
padaku sekarang juga! Atau kau akan kubuat seperti
pohon itu. Mati dalam keadaan tubuh hangus gosong!”
Ki Suro Gusti Bendoro perhatikan sesaat kitab rapuh
daun lontar di tangan kirinya lalu gelengkan kepala. “Aku
tidak pernah tahu kalau ini adalah pusaka keraton.
Mungkin sampeyan mengada-ada. Bahkan membuka dan
membaca isinya pun aku belum berkesempatan. Apapun
kitab ini adanya tidak mungkin kuberikan pada sampeyan.
Kitab ini diberikan seseorang padaku. Merupakan barang
titipan. Berarti harus kujaga baik-baik.”
“Sayang sekali! Kalau begitu aku memang harus
mengambil kitab itu bersama nyawamu!” kata Si Lidah
Bangkai pula. Begitu selesai berucap nenek jahat ini
menerjang ke depan. Mulutnya dibuka lebar-lebar. Cairan
merah menyembur disusul dengan melesatnya lidah
panjang bercabang. Laksana seekor ular, lidah bercabang
itu mematuk. Yang jadi sasaran kali ini adalah dada Ki Suro
Gusti Bendoro, tepat di bagian jantungnya.
“Lidah Bangkai, otak sampeyan rupanya telah beku.
Telinga sampeyan mungkin telah tertutup debu dan hati
sampeyan agaknya telah menjadi batu, hingga tak mau
mendengar apa yang aku ucapkan. Aku sedih sekali.
Mudah-mudahan Tuhan masih mau memberi petunjuk
pada sampeyan...” Sambil berucap Ki Suro Gusti Bendoro
dengan cepat gerakkan tangan kanannya. Tongkat bambu
kuning yang dipegangnya melesat di depan dadanya,
menghalangi gerakan lidah lawan yang hendak menusuk.
Desss... desss!
Tongkat dan lidah basah merah saling beradu dua kali
berturut-turut. Ki Suro merasakan tangan kanannya
bergetar disertai menjalarnya hawa mencucuk. Sebaliknya
Si Lidah Bangkai kelihatan mengernyit seperti menahan
sakit. Kemudian terjadilah satu hal yang luar biasa. Lidah si
nenek membuat satu gerakan berputar sebat. Membelit
tongkat bambu di tangan Ki Suro. Begitu Si Lidah Bangkai
menyentakkan lidahnya maka tongkat itu tertarik keras.
Bagaimanapun Ki Suro berusaha mempertahankan tetap
saja tongkat itu masuk ke dalam mulut si nenek terus
amblas ke dalam perut!
Si Lidah Bangkai keluarkan tawa seperti ringkikan kuda.
Sambil tertawa dia usap-usap perutnya seolah seorang
yang kenyang habis menyantap makanan enak. Mulutnya
yang terbuka lebar memperlihatkan deretan gigi-gigi besar
berwarna merah. Air liurnya yang juga berwarna merah
berlelehan ke dagunya.
“Ki Suro, kini biar aku yang memohon pada Tuhanmu
supaya matamu bisa terbuka, agar otakmu dibuat encer,
hatimu dibuat leleh dan kau mau menyerahkan kitab itu
padaku! Atau kau lebih suka bersatu dengan tongkatmu
dalam perut besarku!”
Ki Suro tersenyum mendengar kata-kata si nenek.
Dengan tenang dia menjawab, “Memohon pada Tuhan
adalah satu kewajaran. Tapi adalah keliru jika memohon
untuk hal yang tidak baik dan bukan bersifat kebajikan.
Aku kagum dengan kehebatan ilmu kesaktian sampeyan
hingga bisa menelan tongkat bambu milikku. Hanya
sayang, ilmu tinggi itu sampeyan pergunakan tidak pada
tempatnya. Sampeyan keliru, bukan di dalam perut
sampeyan tongkat itu seharusnya mendekam. Segala
sesuatu sudah diatur bentuk dan tempatnya oleh Yang
Maha Kuasa. Jadi harap sampeyan suka mengembalikan
tongkatku!”
Ki Suro tutup ucapannya dengan mengulurkan tangan
kanan. Empat jari ditekuk ke belakang. Jari telunjuk
diarahkan ke pusar Si Lidah Bangkai. Ketika jari itu
digerak-gerakkan ke belakang terjadilah satu hal yang
membuat si nenek berseru kaget.
Breeettt!
Pakaian Si Lidah Bangkai robek di bagian pusar. Dari
robekan itu perlahan-lahan menyembul keluar tongkat
bambu kuning milik Ki Suro Gusti Bendoro yang tadi
ditelannya!
Sementara Si Lidah Bangkai tercekat kaget, Ki Suro
gerakkan lima jari tangan kanannya ke belakang seperti
orang memanggil. Settt! Tongkat kuning melesat dan
kembali berada dalam genggaman tangan kanan orang tua
itu. Dengan mata mendelik si nenek perhatikan dan
pegang pusarnya. Kalau tongkat bambu itu bisa keluar dari
perutnya lewat pusar, jangan-jangan pusarnya telah
bolong! Dia merasa lega ketika dapatkan pusarnya tidak
cidera. Tapi tengkuknya telah terlanjur dingin karena kecut.
Walau demikian si nenek masih mampu untuk tidak
memperlihatkan rasa takutnya di hadapan lawan.
Sementara itu, sambil melintangkan tongkat bambu di
atas dada Ki Suro berkata, “Cukup sudah kita berlaku
seperti anak-anak. Sebentar lagi senja akan berakhir. Saat
bagiku untuk menunaikan sholat Magrib. Harap sampeyan
suka pergi dengan tenang dan hati bersih. Bagiku apa yang
telah terjadi telah kulupakan.” Ki Suro membungkuk
memberi hormat pada si nenek.
Tetapi sambutan Si Lidah Bangkai justru berkebalikan.
Setelah keluarkan suara mendengus dan meludah ke
tanah dia berkata, “Ki Suro, jangan bertingkah sombong,
menyuruh aku pergi! Aku tidak angkat kaki dari tempat ini
tanpa kitab itu!”
Si Lidah Bangkai lalu buka mulutnya lebar-lebar. Ludah
merah menyembur disusul dengan gulungan lidahnya yang
menjulur sampai sepanjang dua tombak. Dengan tangan
kanannya si nenek cekal erat-erat pangkal lidah lalu sekali
dibetot lidah itu tanggal dari mulutnya! Begitu lidah diputar
ludah merah bermuncratan membasahi wajah dan jubah
putih Ki Suro. Si Lidah Bangkai kembali memutar lidahnya.
Taarrr! Taaarrr!
Lidah panjang seolah berubah menjadi cambuk.
Berkiblat di keremangan senja, membuntal cahaya merah,
menghantam ke arah Ki Suro Gusti Bendoro!
“Tuhan Maha Besar, beri hambaMu kesabaran
menghadapi manusia sesat lupa diri ini,” kata Ki Suro. Lalu
dia cepat menghindar.
Bummmm!
Kraaak!
Satu letusan keras disusul suara patahnya batang
pohon yang kemudian menggemuruh roboh akibat
hantaman lidah yang telah berubah seperti cambuk.
“Luar biasa... Luar biasa!” kata Ki Suro dalam hati,
“Sayang ilmu yang begitu tinggi dipergunakan di jalan
sesat!”
Cambuk lidah kembali menghantam. Karena Si Lidah
Bangkai mengerahkan seluruh tenaga dalam yang
dimilikinya maka cambuk lidah menyambar disertai gelegar
suara seperti petir berkiblat. Cahaya merah bergulunggulung
mengurung Ki Suro. Untuk menyelamatkan diri Ki
Suro harus bergerak cepat, berkelebat kian kemari dengan
mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah
mencapai tingkat kesempurnaan. Selama lima jurus kakek
ini digempur habis-habisan. Walau tidak sekalipun cambuk
lidah di tangan lawan mengenai diri atau pakaiannya,
namun cipratan cairan merah yang membasahi lidah itu
tidak dapat dihindarinya. Muka dan jubah Ki Suro penuh
noda-noda merah seperti diperciki darah.
“Lidah Bangkai, sadarlah! Hentikan seranganmu!
Pergilah dari sini!” Ki Suro memberi ingat. Dia masih
berharap agar si nenek sadar dari perbuatannya.
“Bagaimanapun jahatnya seseorang, satu kali masakan
tidak bisa dibuat sadar...” begitu kiai berhati tulus ini
berpikir.
***
ARIO BLEDEG
PETIR DI MAHAMERU 8
KALA SRENGGI
NENEK berjuluk Si Lidah Bangkai yang inginkan kitab
“Hikayat Keraton Kuno” mana mau perdulikan teriakan Ki
Suro Gusti Bendoro. Malah dia lancarkan serangan lebih
gencar. Tubuhnya yang mengenakan pakaian serba hitam
lenyap di kegelapan senja. Yang terlihat hanya cahaya
merah redup membuntal keluar dari cambuk lidah, laksana
curahan hujan mengurung si kakek. Karena mengambil
sikap bertahan dan tak sekalipun mau balas menyerang,
lama-lama Ki Suro jadi terdesak dan jurus demi jurus
keadaannya semakin berbahaya.
“Aku tidak takut mati. Tapi kalau harus menemui ajal di
tangan perempuan sesat ini bisa-bisa aku tidak akan
tenteram di liang kubur. Tuhan, ampuni diriku jika aku
berbuat salah mempergunakan ilmu kepandaian untuk
menghadapinya.” Setelah berucap di dalam hati seperti itu
Ki Suro masih belum mau turun tangan. Dia memberi
kesempatan sampai dua jurus di muka dan berteriak
mengingatkan lawannya agar menghentikan serangan lalu
pergi dari situ.
Tapi si nenek seperti orang kemasukan setan malah
memperhebat serangan cambuk lidahnya. Ki Suro
tenggelam lenyap dalam buntalan cahaya merah. Di
pertengahan jurus ke dua belas terdengar suara breettt!
Ujung cambuk lidah berhasil merobek bahu kanan
jubah putih Ki Suro Gusti Bendoro. Orang tua ini melompat
keluar dari gulungan serangan lawan. Untung senjata
lawan tidak sampai melukai kulitnya.
“Lidah Bangkai, aku tidak yakin kau benar-benar
hendak berbuat jahat terhadap diriku. Kuharap kau mau
menyudahi urusan dan pergi dari sini!” Ki Suro memberi
ingat untuk kesekian kalinya.
“Ki Suro, Lidah Bangkai tidak pernah menyelesaikan
urusan tanpa membawa hasil. Aku sudah terlanjur
menentukan minta kitab dan juga nyawamu!” menjawab Si
Lidah Bangkai lalu didahului tawa bergelak dia kiblatkan
kembali cambuk lidahnya.
Taaarrr! Taarrr! Taaarrr!
Cambuk merah mendera udara senja yang semakin
gelap. Ujungnya mendadak berubah menjadi tiga. Satu
menghantam ke arah kepala Ki Suro. Satu lagi menyambar
ke perut dan ujung yang ke tiga melesat ke arah tangan kiri
yang memegang kitab daun lontar.
Kehebatan serangan yang dilancarkan Si Lidah Bangkai
memang luar biasa. Ki Suro tidak tahu mana dari tiga ujung
lidah itu yang merupakan serangan sebenarnya. Karenanya
untuk membentengi diri dia putar tongkat bambu
kuningnya dalam gerakan setengah lingkaran.
Wuutttt!
Sinar kuning bertabur dalam kegelapan senja. Dua
cahaya merah ujung cambuk lidah langsung lenyap amblas
karena memang bukan ujung cambuk sebenarnya. Tapi
ujung cambuk yang ke tiga, laksana kilat tahu-tahu telah
menyambar pergelangan tangan kiri Ki Suro, langsung
melilit naik ke arah kitab daun lontar yang dipegangnya!
Ki Suro terkejut besar. Dia lebih baik memilih
tangannya cidera daripada kitab sampai kena dirampas
orang. Begitu ujung cambuk lidah melesat ke arah kitab
daun lontar, si kakek segera lemparkan kitab itu ke udara.
Bersamaan dengan itu dia putar pergelangan tangan
kirinya lalu disentakkan. Si Lidah Bangkai merasa seperti
ada satu kekuatan raksasa menarik tangannya hingga dua
kakinya terangkat dari tanah. Selagi tubuh lawan melayang
di udara, Ki Suro angkat kaki kanannya. Dia tidak
menendang melainkan hanya menunggu datangnya tubuh
lawan. Tapi apa yang terjadi seolah-olah kakek ini
melancarkan tendangan sekuat tenaga.
Begitu telapak kakinya menempel di dada Si Lidah
Bangkai, tubuh nenek ini langsung mencelat mental
sampai dua tombak. Pegangannya pada cambuk lidah
terlepas. Selagi nenek itu jatuh jungkir balik di tanah, Ki
Suro pergunakan kesempatan untuk menyambut dan
menahan jatuhnya kitab daun lontar yang melayang ke
tanah dengan ujung tongkat bambu kuningnya. Dengan
tongkat dia memutar kitab itu demikian rupa hingga
melayang masuk ke dalam tangan kirinya!
“Kiai jahanam! Aku mengadu jiwa denganmu!” teriak Si
Lidah Bangkai. Dengan cepat dia melompat bangkit tapi
agak terbungkuk karena rasa sesak dan sakit di dadanya
akibat ‘tempelan’ kaki Ki Suro tadi.
“Lidah Bangkai, aku sudah memperingatkan sampeyan
berulang kali. Tapi sampeyan hanya mendengar suara hati
sendiri. Sampeyan menjual, aku terpaksa membeli.
Sampeyan yang meminta, aku terpaksa memberi.
Sekarang nyatanya sampeyan masih menunjukkan sikap
keras hati keras kepala...”
“Jangan banyak bicara! Lihat serangan! Ajalmu sudah di
depan mata!” teriak Si Lidah Bangkai. Laksana terbang
tubuhnya melesat di udara. Dua tangannya didorongkan ke
depan. Dari telapak tangannya kiri kanan menyembur
keluar dua larik sinar hitam. Dua sinar hitam ini melesat
ganas dalam keadaan saling bergerak bersilangan satu
sama lain seperti mata gunting.
“Gunting Iblis!” seru Ki Suro yang mengenali ilmu
kesaktian yang dipergunakan si nenek untuk menyerang.
Kakek ini tabahkan diri menghadapi serangan ganas. Dia
pernah mendengar, selama malang melintang di kawasan
timur, ilmu kesaktian Gunting Iblis itu menjadi momok
nomor satu bagi musuh Si Lidah Bangkai. Banyak lawan
yang tidak mampu menyelamatkan diri dari serangan ini.
Kalaupun sanggup tubuhnya akan mengalami cacat
mengerikan seumur hidup!
Si Lidah Bangkai sendiri sudah memastikan bahwa Ki
Suro Gusti Bendoro tidak akan mampu menghadapi ilmu
Gunting Iblis-nya. Tetapi betapa terkejutnya si nenek ketika
tiba-tiba di depan sana sosok kakek berjubah putih itu
lenyap seolah ditelan bumi. Dua larik sinar hitam pukulan
saktinya menghantam tempat kosong lalu merambas
serumpunan semak belukar dan sebuah batu besar.
Semak belukar dan batu besar hancur bertaburan!
“Kiai jahanam! Kau mau kabur ke mana! Pengecut!”
teriak Si Lidah Bangkai.
“Aku di sini Lidah Bangkai. Sampeyan kurang
memasang mata!” tiba-tiba terdengar suara Ki Suro di
belakang. Si nenek cepat membalik sambil kembali hendak
menghantam dengan pukulan Gunting Iblis. Tapi sebelum
dua tangannya sempat bergerak ke depan tiba-tiba dia
melihat satu benda panjang berwarna merah berkelebat ke
arahnya. Begitu cepatnya gerakan benda ini hingga Si
Lidah Bangkai tidak mampu berkelit. Tahu-tahu dua
tangannya sudah tergulung. Di lain kejap sekujur tubuhnya
mulai dari pinggang sampai ke bahu telah terikat!
“Celaka! Apa yang terjadi dengan diriku! Apa yang
menjerat tubuhku hingga aku tidak mampu menggerakkan
dua tangan! Tidak mampu melepaskan diri!” Dalam gelap
si nenek buka matanya lebar-lebar. Mukanya yang penuh
sisik hitam kebiruan menjadi tegang kaku ketika menyadari
bahwa benda yang mengikat tubuhnya saat itu bukan lain
adalah cambuk lidah miliknya sendiri!
Saat itu Ki Suro Gusti Bendoro melangkah mendekati si
nenek.
“Kau mau membunuhku silakan! Jangan mengira aku
mau menjatuhkan diri berlutut dan bersujud di
hadapanmu, minta ampun minta dikasihani!” Ucapan si
nenek masih keras lantang.
Ki Suro tersenyum dan gelengkan kepalanya. “Aku
memperlakukan sampeyan seperti ini karena tidak mau
kehilangan waktu sholat Magrib-ku. Aku bukan raja kepada
siapa kau harus berlutut. Lalu ingat satu hal ini baik-baik.
Manusia tidak layak menyembah bersujud pada sesama
manusia. Hanya Tuhanlah satu-satunya yang layak dan
harus disembah! Semoga Tuhan memberi petunjuk
padamu Lidah Bangkai. Usiamu sudah sangat lanjut.
Bertobatlah selagi pintu tobat terbuka.”
Si Lidah Bangkai meludah ke tanah. “Tak perlu kau
mengajari diriku Kiai! Hari ini kau merasa menang dan
memperhinakan diriku! Tunggu saatnya. Aku akan kembali
melakukan pembalasan! Aku akan kembali mengambil
kitab dan nyawamu!”
Ki Suro menarik nafas panjang. “Lidah Bangkai, tak ada
yang kalah tak ada yang menang di antara kita. Terserah
padamu. Aku hanya memberitahu. Kita sesama insan wajib
memberi ingat...”
Si Lidah Bangkai tidak perdulikan ucapan Ki Suro.
Nenek ini balikkan diri lalu dalam keadaan tubuh bagian
atas masih terikat dia tinggalkan tempat itu. Sesaat setelah
Si Lidah Bangkai lenyap dalam kegelapan, Ki Suro yang
cukup tahu kawasan di pinggiran desa itu segera menuju
ke sebuah mata air kecil. Selesai membersihkan diri dan
pakaiannya dia mengambil wudhu lalu di satu tempat yang
bersih Kiai ini melakukan sembahyang Magrib. Belum lagi
selesai dia menunaikan sholatnya, tiba-tiba dua bayangan
berkelebat dari samping kiri.
***
WALAU dua tangannya berada dalam keadaan terikat
dan kegelapan menyungkup di sepanjang jalan yang
dilaluinya, namun Si Lidah Bangkai masih sanggup berlari
cepat. Di satu tempat dia hentikan larinya ketika tiba-tiba
ada satu bayangan berkelebat di hadapannya. Si nenek
cepat menyelinap di balik sebatang pohon besar.
Menunggu beberapa lama bayangan tadi tidak kelihatan
lagi. Tapi Si Lidah Bangkai yakin siapapun adanya orang
itu, dia pasti mendekam di satu tempat tengah
memperhatikannya. Ditunggu-tunggu orang tadi tak juga
muncul memperlihatkan diri, akhirnya si nenek lanjutkan
perjalanan. Tapi baru berjalan kurang dari sepuluh tombak
tiba-tiba kembali dia melihat bayangan itu berkelebat lagi
di hadapannya.
“Makhluk kurang ajar!” si nenek berteriak, “Jangan
berani mundar-mandir di hadapanku! Sekali lagi kau
berkelebat, kuputus nyawamu!” Lalu nenek ini buka
mulutnya, siap untuk menyemburkan hawa jahat.
Baru saja si nenek membentak begitu, dari kepekatan
malam di depan sana terdengar orang berseru, “Lidah
Bangkai! Aku mengenali suaramu! Memang benar kau
rupanya! Tadinya aku merasa ragu!”
Semak belukar lebat di depan kiri Si Lidah Bangkai
tersibak lebar. Muncul satu sosok tua kurus tinggi, berbaju
kuning lengan panjang, bercelana hitam setinggi lutut. Di
punggungnya ada satu bumbung bambu. Orang tua ini
melangkah terbungkuk-bungkuk mendekati si nenek. Si
Lidah Bangkai buka matanya lebar-lebar. Pada jarak empat
langkah baru dia mengenali siapa adanya orang itu. Maka
diapun berseru, “Tumenggung Pakubumi! Kau rupanya!
Kukira hantu dari mana yang kesasar mau jahil
mempermainkanku!” Si nenek lalu tertawa mengikik.
“Ssssttt! Jangan bicara keras-keras! Jangan menyebut
nama asliku! Dalam rimba belantara ini bisa ada belasan
mata yang melihat dan belasan telinga yang mendengar!”
Orang tua bungkuk berbaju kuning berkata sambil
silangkan telunjuk tangan kirinya di atas bibir.
“Sudah! Jangan banyak bicara dulu! Lekas kau
lepaskan ikatan yang melilit tubuhku!” kata si nenek.
Orang yang disebut sebagai Tumenggung Pakubumi itu
melangkah lebih dekat. “Astaga!” kejutnya, “Benda yang
mengikatmu ini bukankah cambuk lidah milikmu sendiri?
Senjata makan tuan! Pantas saja kau tidak mampu
membukanya sendiri! Apa yang terjadi?”
“Kau tolong saja melepaskan, sambil membaca
manteranya. Kau pasti masih ingat mantera itu! Sementara
kau menolong aku akan ceritakan apa yang kualami! Aku
berhasil menemui Kiai Suro Gusti Bendoro!”
“Kau! Jadi kau dapatkan kitab pusaka keraton yang jadi
bahan pembicaraan dan dicari orang sejak puluhan tahun
itu?”
Si Lidah Bangkai gelengkan kepala. “Mulailah
melepaskan ikatanku! Aku akan mulai menceritakan
kejadiannya padamu. Tumenggung, aku lupa siapa nama
samaran yang kau pergunakan sampai saat ini?”
“Kala Srenggi,” jawab orang tua baju kuning.
Si nenek menyeringai. “Kala Srenggi! Nama edan! Hik...
hik! Pantas kulihat kau masih membawa bumbung bambu
berisi binatang-binatang celaka itu!”
Tumenggung Pakubumi alias Kala Srenggi mulai
membaca mantera. Dua tangannya perlahan-lahan
membuka lipatan cambuk lidah yang menggulung separuh
tubuh si nenek di sebelah atas. Sementara ditolong Si
Lidah Bangkai menuturkan pertemuan dan
pertempurannya dengan Ki Suro Gusti Bendoro.
“Kitab yang dicari-cari para tokoh silat dan pejabat
kerajaan bahkan diinginkan oleh Sultan ternyata memang
ada di tangan Kiai itu. Aku sudah siap mengadu nyawa
untuk merebutnya. Ternyata Ki Suro memiliki kesaktian
tinggi luar biasa. Ketika aku menelan tongkat bambunya
dia mampu menariknya keluar dari perutku lewat pusar
tanpa aku mengalami cidera! Sewaktu aku hendak
menghantamnya kembali dengan pukulan Gunting Iblis, dia
malah pergunakan cambuk lidahku untuk meringkus
diriku! Kiai jahanam! Aku bersumpah untuk menguliti
tubuhnya, mencincang daging dan tulang belulangnya!”
“Cambuk lidah yang mengikatmu sudah kulepaskan!
Mau kau apakan benda ini?”
Mendengar ucapan Kala Srenggi dan melihat cambuk
lidah yang mengikat tubuhnya sebelah atas memang sudah
terlepas, dengan cepat si nenek mengambil cambuk lidah
itu lalu memasukkannya ke dalam mulut dan menyedot.
Wettt... weetttt!
Cambuk lidah sepanjang lebih dari dua tombak itu
lenyap di dalam mulut si Lidah Bangkai.
“Ilmu gila!” kata Kala Srenggi sambil gelengkan kepala,
“Sekarang apa yang akan kau lakukan?”
“Menurutmu bagaimana?” si nenek balik bertanya.
“Sebenarnya aku masih ada satu urusan penting di
Demak. Tapi mendengar penuturanmu tentang kitab
Hikayat Keraton Kuno itu aku jadi tertarik. Kurasa Kiai itu
masih ada di tempat kau sebelumnya meninggalkannya.
Kalaupun dia sudah pergi pasti belum terlalu jauh! Kita
datangi dia kembali!”
“Aku setuju. Tapi ingat, Kala Srenggi. Aku bicara
berpahit-pahit lebih dulu. Terus-terang aku tidak begitu
percaya padamu. Kita ke sana dan kau hanya sebagai
sahabat yang menolongku menghadapi Kiai itu. Soal kitab
kuno itu adalah bagianku! Jangan ada pikiran kotor di
benakmu untuk ingin memilikinya!”
Kala Srenggi tertawa mengekeh. Dia luruskan
tubuhnya. Ternyata dia bisa berdiri tegak tidak bungkuk.
Rupanya membungkuk-bungkukkan diri adalah salah satu
dari beberapa penyamaran yang tengah dilakukannya.
Siapakah adanya Kala Srenggi ini? Seperti yang
disebutkan si nenek, nama sebenarnya adalah Pakubumi.
Di masa penghujung pemerintahan Pangeran Prawoto,
putera mendiang Raden Patah penguasa di Demak, dia
ikut bergabung dengan Si Lidah Bangkai, berserikat
dengan Arya Penangsang dalam menghabisi Pangeran
Prawoto dan keluarganya. Pakubumi yang saat itu sudah
menduduki jabatan sebagai seorang Tumenggung mau
berserikat dengan Arya Penangsang karena mengharapkan
jabatan yang jauh lebih tinggi. Namun kekacauan yang
kemudian terus menerus melanda Demak mengacaukan
pula semua rencana Pakubumi.
Di tengah-tengah kekalutan yang terjadi muncul
seorang tokoh bernama Joko Tingkir yang merupakan salah
seorang menantu mendiang Pangeran Prawoto dan di
masa kekacauan melanda Demak menduduki jabatan
sebagai Adipati di Pajang. Joko Tingkir yang kemudian lebih
dikenal dengan nama Adiwijoyo menghimpun kekuatan
untuk membalas kematian ayah mertuanya. Karena
didukung oleh banyak pihak maka Adiwijoyo berhasil
membangun satu kekuatan besar. Bersama orangorangnya
dia mencari dan membasmi mereka yang terlibat
dalam pembunuhan Pangeran Prawoto. Salah seorang di
antaranya adalah Tumenggung Pakubumi. Karena merasa
dirinya diancam bahaya, Tumenggung Pakubumi kemudian
menyembunyikan diri di satu tempat. Ketika dia muncul
kembali dia menyamar sebagai seorang tua bungkuk
dengan nama Kala Srenggi.
***
ARIO BLEDEG
PETIR DI MAHAMERU 9
BENTENG TIGA RATUS ULAR
WALAU sudah mengetahui kehadiran dua orang itu di
dalam gelap, namun Ki Suro Gusti Bendoro tetap khusuk
dalam menunaikan sholat Magrib-nya.
Di tempat gelap Si Lidah Bangkai berbisik pada Kala
Srenggi, “Kesempatan bagus! Selagi dia sembahyang
begitu rupa akan kuhantam dengan pukulan Gunting Iblis!
Masakan tubuhnya tidak akan terkatung-katung!”
“Tunggu dulu sahabatku Lidah Bangkai. Harap kau mau
bersabar sedikit dan memberi kesempatan padaku...”
“Apa maksudmu?!” tanya Si Lidah Bangkai.
“Binatang peliharaanku! Sudah lama dia tidak diberi
makan!” menjawab Kala Srenggi.
“Kau! Bukankah kau sudah berjanji tidak akan...”
“Lidah Bangkai, aku hanya berjanji tidak akan
berselingkuh mengambil kitab kuno itu. Tidak ada
perjanjian siapa yang harus menghabisi Ki Suro. Bukankah
kau telah mempercayakan diriku sebagai orang yang akan
membantu menghadapi Kiai itu. Kau tenang-tenang saja.
Biar aku yang mengurusi jiwanya.”
“Kalau begitu lakukan cepat!” kata Si Lidah Bangkai
akhirnya menyetujui.
Kala Srenggi tertawa lebar. Dia ambil bumbung bambu
besar yang sejak tadi tergantung di punggungnya. Sambil
mencangkung bumbung bambu itu diciumnya dua kali lalu
selembar kain tebal yang menutupi ujung atas bumbung
bambu dibukanya.
“Anak-anakku, makanan sudah menunggu kalian.
Walau mungkin dagingnya agak alot karena sudah tua, tapi
masih lebih baik daripada tidak ada makanan sama
sekali!” Kala Srenggi menyeringai. Ujung bumbung bambu
yang terbuka diturunkannya ke tanah. Begitu bambu
menyentuh tanah maka pukulan kalajengking hitam dan
besar laksana kucuran air berhamburan keluar. Binatangbinatang
ini merayap cepat di tanah. Seperti sudah tahu
apa yang diinginkan Kala Srenggi, puluhan kalajengking itu
langsung mendatangi Ki Suro Gusti Bendoro.
Sang Kiai sendiri saat itu masih khusuk melakukan
sembahyang. Duduk tahajud terakhir di tanah beralaskan
daun-daun besar tak jauh dari sebuah mata air. Dia
mendengar kedatangan kedua orang itu. Sayup-sayup dia
juga mendengar pembicaraan mereka. Lalu jelas sekali
telinganya menangkap suara puluhan kalajengking yang
merayap di tanah mendatanginya dengan cepat. Lebih dari
itu dia tahu juga bahwa kalajengking-kalajengking yang
dilepas Kala Srenggi itu merupakan binatang beracun.
Sekali kena sengat atau dijepit, jangankan manusia,
seekor kerbau pun akan menemui ajalnya hanya dalam
beberapa ketika! Tetapi sang Kiai seolah tidak perduli.
Seolah dia memang sudah pasrah kalau harus menemui
ajal dalam keadaan menghadap Tuhan.
Hanya beberapa langkah lagi puluhan kala itu akan
mencapai sosok Ki Suro, tiba-tiba tanah di sekitar tempat
itu bergetar hebat. Lalu menyusul terdengar suara
mendesis riuh sekali.
“Apa yang terjadi?!” tanya Si Lidah Bangkai sambil
pentang mata lebar-lebar dan memandang berkeliling.
“Tanah bergetar. Aku mendengar suara desisan aneh,”
menyahuti Kala Srenggi. Lalu Tumenggung dari Demak ini
keluarkan seruan tertahan, “Lihat!” katanya seraya
menunjuk ke depan.
Saat itu entah dari mana datangnya tahu-tahu muncul
ratusan ular berbagai ukuran dan berbagai warna.
Binatang-binatang ini meluncur di tanah mengeluarkan
suara menderu lalu mengelilingi sosok Ki Suro Gusti
Bendoro. Kalau tadi mereka melata maka kini ratusan ular
itu tegak berdiri diujung ekor masing-masing. Mereka
bukan saja membentengi rapat sosok Ki Suro tapi dari
mulut yang terbuka serta suara mendesis yang mereka
keluarkan, jelas ratusan ular itu siap untuk menyerang
puluhan kalajengking yang hendak mendatangi sang Kiai.
“Ular... Banyak sekali!” kata Si Lidah Bangkai dengan
tengkuk merinding.
“Kurasa ada sekitar tiga ratusan...” berucap Kala
Srenggi dengan suara perlahan tercekat. “Kiai satu ini
memang sejak lama diketahui bersahabat dengan bangsa
ular!” kata Kala Srenggi dengan rahang menggembung.
“Lihat, puluhan kalajengkingmu seperti dipantek ke
tanah. Tidak berani maju lebih jauh mendekati orang tua
itu! Binatang-binatang itu agaknya tak bisa menembus
benteng tiga ratus ekor ular!”
“Aku harus memberi semangat pada mereka!” kata
Kala Srenggi dengan rahang menggembung. Lalu telapak
tangannya ditempelkan ke tanah. Saat itu juga menjalar
getaran-getaran halus. Begitu getaran menyentuh puluhan
kalajengking, ekor binatang-binatang ini langsung
berjingkrak naik. Lalu laksana terbang puluhan
kalajengking melesat, coba menembus barisan ular yang
berdiri rapat membentengi Ki Suro.
Saat itu Ki Suro baru saja selesai mengucapkan salam
pertanda dia telah mengakhiri sholat Magrib-nya. Tapi lagilagi
orang tua ini seperti tidak acuh. Begitu selesai
sembahyang dia tidak langsung bangkit berdiri melainkan
terus duduk bersila dan mulai berzikir.
Puluhan ular di barisan terdepan yang mengelilingi Ki
Suro, begitu melihat puluhan kalajengking datang
menyerang segera keluarkan desisan keras lalu melesat ke
depan, menyongsong datangnya serangan. Baik Kala
Srenggi maupun Si Lidah Bangkai tidak pernah
menyaksikan perkelahian antara binatang dengan
binatang. Apalagi antara ular dengan kalajengking.
Keduanya sampai leletkan lidah melihat apa yang terjadi.
“Celaka! Kalajengkingku musnah semua!” ujar Kala
Srenggi dengan muka memucat. Bumbung bambu yang
sejak tadi dipegangnya terlepas jatuh ke tanah.
“Ular-ular itu, tidak seekorpun yang cidera!” menjawab
Si Lidah Bangkai, “Biar kuhantam mereka dengan pukulan
Gunting Iblis!”
“Aku akan membarengi dengan pukulan Jarum Tanpa
Bayangan,” kata Kala Srenggi pula. Lalu ketika si nenek
angkat dua tangannya, Kala Srenggi segera pula
mengangkat tangan kanannya. Ilmu Jarum Tanpa
Bayangan adalah ilmu kesaktian yang bisa mengeluarkan
lima siuran angin dari lima ujung jari. Angin tanpa cahaya
atau sinar ini di dalamnya justru terkandung puluhan jarum
beracun yang tidak bisa terlihat oleh pandangan mata
biasa. Akibatnya banyak musuh yang tidak bisa
menghindar dari serangan tersebut dan menemui ajal
dengan tubuh penuh ditancapi jarum beracun.
Kali ini Ki Suro Gusti Bendoro benar-benar menghadapi
maut yang mungkin tidak dapat lagi dihindarinya. Namun,
sementara orang tua itu tetap melakukan zikir, tiba-tiba
sekitar dua ratus ekor ular goyangkan kepala dan
keluarkan suara mendesis. Seratus meluncur cepat di
tanah, seratus lagi melayang setinggi pinggang. Semua
melesat ke arah Kala Srenggi dan Si Lidah Bangkai!
Sementara itu sisa seratus ular masih tetap tegak di atas
ekor masing-masing, mengelilingi melindungi Ki Suro.
Kala Srenggi dan Si Lidah Bangkai sama-sama
keluarkan seruan terkejut. Mereka berusaha melompat
selamatkan diri tapi puluhan ular sudah membelit
melingkari dan menggelayuti tubuh mereka.
Saat itulah Ki Suro Gusti Bendoro menyudahi zikirnya,
bergerak dari duduknya dan bangkit berdiri.
“Sahabat-sahabatku, jangan celakai dua orang itu.
Semua kembali ke sini!”
Mendengar ucapan sang Kiai dua ratus ular yang ada di
sekujur tubuh Kala Srenggi dan Si Lidah Bangkai dengan
patuh segera meluncur turun ke tanah lalu kembali
berkumpul dengan seratus kawan-kawannya yang tegak
mengelilingi Ki Suro. “Kalian berdua telah diselamatkan
oleh Tuhan! Bersyukurlah padaNya. Tinggalkan tempat ini.
Tinggalkan hidup dalam kesesatan!”
Masih dalam keadaan ngeri atas apa yang barusan
mereka alami, tanpa mampu berkata apa-apa lagi Kala
Srenggi dan Si Lidah Bangkai segera tinggalkan tempat itu.
Ki Suro memandang berkeliling pada ratusan ular yang ada
di sekitarnya.
“Sahabat-sahabatku, aku sangat berterima kasih atas
pertolongan kalian. Karena hari sudah malam bukankah
lebih baik bagi kalian kembali ke tempat masing-masing?”
Tiga ratus ular mendesis panjang. Satu persatu mereka
turunkan tubuh, melata di tanah.
“Sekali lagi aku berterima kasih pada kalian,” kata Ki
Suro lalu membungkuk memberi penghormatan. Dia baru
meluruskan tubuhnya kembali setelah semua binatang itu
lenyap dari tempat tersebut.
Ki Suro menghela nafas lega. Dia merasa gembira
karena ratusan ular itu tidak sampai menciderai Kala
Srenggi dan Si Lidah Bangkai. Sambil memandang ke arah
lenyapnya ke dua orang itu si kakek usap-usap dagunya
yang ditumbuhi janggut putih. Dia coba mengingat-ingat,
“Orangtua berbaju kuning yang datang bersama Si Lidah
Bangkai tadi, aku seperti mengenali suaranya. Tetapi
mengapa sosok dan wajahnya berlainan? Aku menduga
jangan-jangan dia adalah... Ah! Di usia tua renta begini
mungkin saja dugaanku bisa keliru. Biar aku lupakan saja
dirinya. Aku harus menyempatkan memeriksa dan
membaca kitab yang diberikan pengemis di pedataran
Tengger itu.” Lalu orang tua ini naik ke satu bukit kecil.
Dekat reruntuhan sebuah arca, Ki Suro duduk.
Dikeluarkannya kitab daun lontar dari kempitan tangan
kirinya dan membalik halaman pertama.
***
ARIO BLEDEG
PETIR DI MAHAMERU 10
SUNAN AMPEL
DI BAWAH penerangan bulan setengah lingkaran dan
taburan bintang-bintang, Ki Suro Gusti Bendoro duduk di
puncak bukit. Halaman pertama kitab daun lontar telah
dibukanya. Agak sulit juga baginya untuk membaca karena
selain ada beberapa bagian yang rusak, tulisan di daun
lontar itu banyak yang tidak jelas lagi.
Sesungguhnya sebelum manusia dilahirkan ke dunia,
nasib perjalanan dirinya telah ditentukan oleh Sang Maha
Pencipta, Gusti Allah Seru Sekalian Alam. Tiada beda
antara insan satu... lainnya. Kecuali takwa dan kebajikan
yang dibuatnya. Semua manusia dijadikan dari sumber
dan bentuk yang sama. Karena itu mereka adalah
bersaudara satu dengan lainnya. Tetapi di atas dunia
mengapa mereka berbeda dalam pikiran, hati dan
perbuatan. Mengapa tali persaudaraan mereka ubah
menjadi api permusuhan. Mengapa insan lebih... bisikan
setan daripada mendengarkan bisikan malaikat. Mereka
saling berbunuhan dalam memperebutkan harta, tahta
dan wanita. Padahal ajal manusia bukan di tangan
manusia lainnya. Ajal manusia adalah kuasa Sang
Pencipta. Sebelum ajal berpantang mati. Sekalipun insan
berusaha mencari jalan kematiannya sendiri.
Sampai di sini Ki Suro hentikan bacaannya. Dia
memandang ke arah kejauhan yang diselimuti kegelapan
malam. Diam-diam dia menyadari betapa usianya sudah
sangat lanjut. Namun Tuhan masih memanjangkan
umurnya. Entah sampai kapan. Dia lalu teringat pada
mimpi yang pernah dialaminya sampai tiga kali. Ki Suro
melanjutkan bacaannya kembali.
Sifat dengki, iri, fitnah dan ingin berkuasa terlahir
bersama lahirnya manusia. Janganlah heran kalau
kemudian kutuk dan bala diturunkan Allah. Bukan hanya
untuk menghu... ummat, tetapi agar mereka juga ingat,
segera meninggalkan kesesatan dan kembali ke jalan yang
lurus dan benar, jalan yang diredhoiNya.
Sayangnya manusia bersikap pura-pura. Terkadang
malah bersikap pongah dan menantang. Ketika mereka
berpijak di atas harta dan duduk di atas tahta kekuasaan
mereka mengira diri merekalah yang menguasai apa yang
ada di langit dan apa yang ada di bumi. Mereka ingkar
pada hati nurani sendiri. Terlebih dari itu mereka ingkar
pada Tuhan yang menciptakan mereka.
Konon malapetaka akan... menimpa negeri indah dan
subur yang disebut Jawadwipa. Air mata lebih deras dari
curahan hujan. Darah akan tumpah menganak sungai. Di
dalam kekacauan yang berpusat dari keraton itu di mana
tidak lagi diketahui mana kawan, mana lawan, mana anak
mana saudara, maka ada seorang anak manusia yang
akan diselamatkan oleh tangan Tuhan ke satu puncak
tertinggi. Kepadanyalah segala harapan akan
ditumpahkan. Kepadanyalah keraton akan banyak
menggantungkan nasib.
Di puncak tertinggi ini pulalah konon sudah ditakdirkan
oleh Yang Kuasa seorang insan panutan akan menemui
hari terakhirnya. Sementara rohnya kembali ke alam
barzah, Kuasa Tuhan akan merubah jazadnya menjadi
sebilah... berluk tujuh yang diciptakan Tuhan dari raga suci
dan petir sakti. Kelak senjata itu akan dikenal dengan
nama “Ki Ageng Pitu Bledeg”. Kelak senjata itu akan
menjadi salah satu pusaka Keraton. Namun selama negeri
dilanda kekacauan, anak yang mendapat pertolongan
Yang Maha Kuasa itu akan menjadi pemiliknya. Dengan
berkah dan perlindungan Gusti Allah kelak di kemudian
hari anak itu berhak menyandang gelar “Pendekar Keris
Tujuh Petir”. Barang siapa yang melangkah di jalan lurus
maka Allah akan memberkatinya. Barang siapa yang
menerima wasiat hikayat ini dan melakukan sesuatu yang
diridhoi Allah maka kepadanya Gusti Allah menjanjikan
tempat yang sebaik-baiknya di Negeri Akhirat. Tak ada
ganjaran yang paling besar dan nyata selain mengerjakan
perintahNya dan menjauhkan laranganNya.
Selesai membaca kitab daun lontar yang hanya terdiri
dari dua halaman itu ditambah sampul depan dan sampul
belakang, lama Ki Suro Gusti Bendoro merenung. Dia
seolah bicara dengan dirinya sendiri.
“Kitab ini diberikan seorang pengemis aneh padaku di
tengah gurun pasir Tengger. Dia lenyap begitu saja seolah
dirinya adalah seorang malaikat Allah. Jika kuhubungkan
tiga mimpi yang kualami dengan semua kejadian serta
kitab daun lontar ini agaknya aku telah menerima satu
amanat, satu wasiat. Di dalam kitab disebutkan satu
tempat tertinggi di tanah Jawa. Jika aku hubungkan dengan
kekacauan dan peristiwa berdarah yang terjadi di Demak,
apalagi yang dimaksudkan dengan tempat tertinggi itu
kalau bukan puncak Gunung Mahameru?”
Ki Suro merasakan dadanya berdebar ketika dia ingat
pada bacaan yang berbunyi “Di puncak tertinggi itu pulalah
konon sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa seorang
insan akan menemui hari terakhirnya...”
“Suara hatiku membisikkan aku harus pergi ke puncak
Mahameru. Aku mempunyai firasat di tempat itulah
agaknya hari terakhirku di dunia ini... Pendekar Keris Tujuh
Petir... Apakah aku akan menemuinya di sana? Ini bukan
perkara kecil. Aku butuh petunjuk.” Ki Suro memandang ke
langit. Cahaya bulan setengah lingkaran kelihatan begitu
indah dan terasa sejuk. Dada sang Kiai yang tadi berdebar
kini menjadi tenteram kembali. Ki Suro lalu pandangi kitab
daun lontar yang ada di pangkuannya. “Kitab berharga ini
harus kusimpan baik-baik. Mungkin tidak akan kubawa ke
puncak Mahameru. Tetapi kepada siapa kitab sangat
berharga ini akan kuserahkan? Ya Allah, aku benar-benar
perlu petunjukMu.” Ki Suro lalu pejamkan mata dan
tampungkan dua tangannya ke atas, berdoa memohon
petunjuk. Namun sampai lewat tengah malam orang tua ini
masih belum menemukan apa-apa. Ki Suro lalu
menghadap kiblat dan bersujud sambil kembali
memanjatkan doa.
Tiba-tiba Ki Suro merasakan ada getaran-getaran di
keningnya yang menempel di tanah. Lalu sayup-sayup di
kejauhan terdengar suara derap kaki kuda. Derapnya
perlahan saja tapi tak selang berapa lama kemudian
binatang itu telah berada di atas puncak bukit di hadapan
Ki Suro.
Perlahan-lahan Ki Suro bangkit dari sujudnya. Beberapa
langkah di depannya berdiri gagah seekor kuda putih yang
ekornya selalu digerak-gerakkan kian kemari. Di atas
punggung binatang ini duduklah seorang berjubah dan
bersorban putih. Sepasang alis matanya hitam tebal.
Kumis dan janggutnya tampak rapi. Di tempat itu keadaan
cukup gelap tapi anehnya Ki Suro bisa melihat keseluruhan
wajah penunggang kuda ini dengan jelas. Satu wajah tua
yang bersih dan tenang. Dan begitu mengenali wajah ini
terkejutlah Ki Suro. Cepat-cepat dia bangkit berdiri,
membungkuk dalam-dalam. Ketika dia hendak memberi
salam, si penunggang kuda telah mendahului.
“Salam sejahtera bagimu wahai saudaraku seiman.”
“Salam sejahtera juga bagi sampeyan saudaraku
seiman,” balas Ki Suro. “Maafkan saya. Jika saya boleh
bertanya bukankah sampeyan ini Wali Allah yang dipanggil
dengan nama Sunan Ampel? Yang saya ketahui adalah
juga merupakan saudara sepupu mendiang Sultan Demak
Raden Patah?”
Orang di atas kuda tersenyum. “Malam begini gelap.
Aku gembira kau masih bisa mengenali diriku.”
“Allah Maha Besar. Sungguh satu kebahagiaan dan
kehormatan dapat bertemu dengan salah seorang dari
Sembilan Wali terkenal. Maafkan kelancangan saya kalau
saya bertanya bagaimana Wali bisa muncul di tempat ini
dan tanpa pengiring atau pengawal sama sekali?”
Sunan Ampel tersenyum kembali lalu turun dari
kudanya. Ki Suro cepat menghampiri Wali ini, lalu
menyalaminya dengan penuh khidmat
“Allah Maha Besar yang menuntun diriku ke puncak
bukit ini. Allah Maha Besar pula yang menjadi pelindung
diriku dan kita semua. Hingga perlu apa aku membawa
pengiring dan pengawal segala? Saudaraku, melihat begitu
lama sujudmu tadi, aku menduga pastilah ada satu hal
teramat penting yang tengah kau mohonkan padaNya.”
“Terima kasih Wali mau memperhatikan diri saya. Wali
benar adanya,” kata Ki Suro. Lalu meneruskan, “Saat ini
saya tengah menghadapi satu perkara besar. Menyangkut
mimpi saya yang ada hubungannya dengan kitab daun
lontar ini.”
“Kitab apakah itu adanya saudaraku?” tanya Sunan
Ampel.
“Kitab ini tidak berjudul. Tapi jika membaca hikayat
yang ada di dalamnya, ada sangkut pautnya dengan
Keraton Demak serta masa depan tanah Jawa.” Lalu Ki
Suro menceritakan isi kitab yang baru saja dibacanya.
“Berbahagialah engkau saudaraku. Tuhan telah
mempercayakan kitab itu padamu...”
“Tapi Wali, saya rasa... Saya rasa kitab ini sebaiknya
saya serahkan saja pada Wali.”
Sunan Ampel tersenyum.
“Pengemis aneh di gurun Tengger itu sudah
mengatakan. Kitab itu berjodoh padamu. Mengapa harus
kau serahkan padaku? Bawalah kitab itu ke mana kau
pergi. Dengan petunjuk Allah kelak kau akan menemukan
seseorang kepada siapa kitab itu bisa kau serahkan. Tetapi
jika kau ingin kejelasan yang lebih baik, mengapa kau tidak
melakukan sembahyang sunnat dua rakaat. Dilanjutkan
dengan membaca doa petunjuk, doa Istikharah?”
“Terima kasih Wali. Saya akan lakukan apa yang Wali
katakan.” kata Ki Suro pula.
“Aku harus melanjutkan perjalanan. Semoga Tuhan
memberkahi dan melindungi dirimu saudaraku.”
“Terima kasih Wali. Semoga rahmat Tuhan menjadi
bagian Wali. Selamat jalan Wali. Assalam mualaikum.” Ki
Suro lalu membungkuk penuh hormat.
“Wa alaikum salam.” Sunan Ampel lalu naik ke atas
kudanya.
Tak lama setelah Sunan Ampel meninggalkan bukit
kecil itu, Ki Suro Gusti Bendoro segera melakukan
sembahyang sunnat dua rakaat. Selesai sembahyang Kiai
ini lalu duduk bersila. Dengan penuh khidmat dia
memanjatkan doa Istikharah.
“Ya Tuhanku. Sesungguhnya saya minta Engkau
pilihkan yang baik dengan pengetahuanMu, dan saya
minta Engkau memberi saya kekuatan dengan
kekuasaanMu, dan saya minta kemurahanMu yang luas,
karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedang saya tidak
berkuasa, Engkau mengetahui sedang saya tidak
mengetahui, dan Engkau adalah amat mengetahui
perkara-perkara yang ghaib. Ya Tuhanku, kalau memang
Engkau ketahui bahwa perkara ini baik bagi saya, untuk
agama saya, penghidupan saya dan untuk penghabisan
saya, maka berikanlah kepada saya dan mudahkanlah
urusan buat saya dan berkatkanlah dia bagi saya. Dan
kalau memang Engkau sudah mengetahui bahwa perkara
ini tidak baik untuk saya, agama saya, untuk penghidupan
saya dan untuk penghabisan saya, maka jauhkanlah dia
dari saya dan jauhkanlah saya dari dia, dan berikanlah
kepada saya kebaikan dari mana saja datangnya serta
jadikanlah saya orang yang ridho akan dia.”
Keesokan paginya, menjelang subuh ketika sang Kiai
terbangun, secara aneh dia langsung teringat pada
seorang sahabatnya, seorang Empu bernama Bondan
Ciptaning.
“Tuhan Maha Besar. Dia telah memberi petunjuk pada
tua renta buruk ini. Aku harus menemui empu itu. Agaknya
kepadanyalah aku harus menyerahkan kitab ini sebelum
berangkat menuju puncak Mahameru.” Begitu sang Kiai
membatin. Lalu dia ingat pula pada ucapan Sunan Ampel
pada pertemuan di awal malam tadi. “Dengan petunjuk
Allah kelak kau akan menemukan seseorang kepada siapa
kitab itu bisa kau serahkan...”
***
KI SURO Gusti Bendoro menatap wajah Empu Bondan
Ciptaning yang memandang sayu padanya. Ki Suro maklum
perasaan yang ada dalam hati sahabatnya yang sudah
dianggapnya sebagai saudara itu. Karenanya dengan
tersenyum dia berkata, “Saudaraku Empu Bondan
Ciptaning, begitulah tadi kisah yang bisa aku tuturkan pada
sampeyan. Yang Kuasa telah memberi petunjuk. Aku
merasa bahagia dan lega dapat menyerahkan kitab itu
pada sampeyan. Harap sampeyan mau menjaganya baikbaik.
Sekarang, selagi hari masih siang, izinkan diriku
berangkat menuju Gunung Mahameru.” Ki Suro memegang
bahu sahabatnya itu lalu bangkit berdiri.
“Tunggu dulu Ki Suro,” kata Empu Bondan Ciptaning
seraya berdiri pula. “Apakah kau tidak keliru menyerahkan
kitab sangat berharga dan sangat keramat ini padaku?”
“Petunjuk Gusti Allah mengatakan begitu. Mana berani
aku melakukan hal menyimpang dari itu. Saudaraku,
agaknya apakah ada keraguan dalam hatimu?”
“Tidak, sama sekali tidak ada keraguan. Ki Suro, aku
mengetahui apa arti perjalananmu ke puncak Mahameru
itu. Agaknya hari ini adalah hari pertemuan kita yang
terakhir...” Sepasang mata Empu Bondan Ciptaning
kelihatan mulai berkaca-kaca.
Kembali Ki Suro Gusti Bendoro memegang bahu
sahabatnya itu. Walau dia sebenarnya juga tidak dapat
menahan keharuan namun dengan senyum di bibir dia
berkata, “Hari ini begini indah, pertemuan kita penuh
kegembiraan. Apa yang sampeyan sedihkan saudaraku?
Apakah pertemuan, persahabatan dan persaudaraan itu
hanya terbatas di atas dunia yang serba fana ini?
Bukankah agama kita memberi petunjuk bahwa akan ada
satu kehidupan baru di alam akhirat, satu kehidupan yang
kekal selama-lamanya?”
“Kau benar saudaraku. Mungkin aku terlalu hanyut
dalam perasaan...” kata Empu Bondan Ciptaning pula
sambil coba mengulum senyum.
“Sebelum kita berpisah ada sesuatu yang hendak aku
berikan pada sampeyan,” kata Ki Suro lalu memasukkan
tangan kirinya ke dalam saku kanan jubah putihnya. Ketika
tangan itu dikeluarkan kelihatanlah seuntai tasbih besar
berwarna hijau terbuat dari batu giok asli berasal dari
daratan Tiongkok.
Empu Bondan Ciptaning bergerak mundur satu langkah.
“Saudaraku Ki Suro, jangan kau bermain-main.”
“Siapa bermain-main? Tasbih ini sudah aku niatkan
untuk kuberikan pada sampeyan,” kata Ki Suro pula.
“Tidak saudaraku. Aku tahu betul riwayat tasbih batu
giok yang dikenal dengan nama Ki Ageng Bela Bumi ini.
Semasa kau muda, dengan tasbih ini kau mendampingi
Sultan Demak untuk membangun kerajaan...”
“Lalu apa salahnya aku berikan pada saudaraku
sendiri?” ujar Ki Suro lalu sebelum Empu Bondan Ciptaning
sempat membuka mulut tasbih besar itu sudah
dikalungkannya ke leher sang Empu.
“Ki Suro, perjalanan ke puncak Gunung Mahameru jauh
dan banyak rintangan serta bahayanya. Kau pasti
membutuhkan tasbih sakti itu untuk melindungi dirimu...”
“Yang menjadi pelindungku adalah Gusti Allah Yang
Maha Kuasa. Aku cukup membawa tongkat bambu kuning
ini saja,” kata Ki Suro sambil melintangkan tongkat bambu
kuningnya di atas dada. “Saudaraku, aku pergi sekarang.
Jaga dirimu baik-baik. Keadaan akhir-akhir ini semakin
tidak karuan. Kita tidak tahu lagi mana lawan mana
kawan...”
“Terima kasih atas nasihatmu Ki Suro. Aku akan jaga
kitab ini baik-baik. Selamat jalan, semoga Tuhan
melindungimu hingga kau sampai dengan selamat ke
tempat tujuan.”
“Semoga Gusti Allah memberikan berkat dan
perlindungan atas dirimu Empu Bondan,” kata Ki Suro lalu
dua sahabat itu saling berpelukan beberapa lamanya.
Sepasang mata Empu Bondan Ciptaning kembali berkacakaca
melepas kepergian Kiai Suro Gusti Bendoro hingga
akhirnya orang tua berjubah putih itu lenyap di kejauhan.
Empu Bondan menarik nafas panjang. Walau sudah
mendengar langsung cerita serta isi kitab daun lontar dari
Ki Suro Gusti Bendoro, namun sang Empu ingin membaca
sendiri apa yang tertulis di dalam kitab daun lontar yang
diberikan Ki Suro kepadanya itu. Maka diapun melangkah
ke tepi telaga, maksudnya hendak duduk di atas sebuah
batu hitam rata. Namun baru bergerak dua langkah tibatiba
di belakangnya terdengar derap kaki kuda. “Ada orang
datang...” kata Empu Bondan dalam hati. Dia cepat
menyelinapkan kitab daun lontar ke balik pakaiannya.
Ketika dia memutar tubuh dua kuda besar sama-sama
berwarna hitam menghambur di kiri kanannya. Kalau orang
tua ini tidak gesit menghindar, pasti dia akan kena
terjangan kaki atau tubuh kuda-kuda itu. Dari cara muncul
kedua orang itu jelas mereka berniat jahat hendak
mencelakai Empu Bondan Ciptaning. Lalu ketika dia
memperhatikan siapa adanya para dua penunggang kuda,
terkejutlah sang Empu. Namun dia tetap berlaku tenang,
tak mau memperlihatkan rasa keterkejutannya, apalagi
rasa takut.
***
ARIO BLEDEG
PETIR DI MAHAMERU 11
WAROK WESI GLUDUG
PENUNGGANG kuda hitam di sebelah kanan bukan lain
adalah nenek berjuluk Si Lidah Bangkai yang sebelumnya
telah diceritakan oleh Ki Suro Gusti Bendoro. Di
sampingnya juga di atas seekor kuda hitam besar duduk
seorang lelaki bertubuh tinggi kekar, mengenakan celana
hitam gombrong. Dadanya yang telanjang ditumbuhi bulu
lebat. Orang ini memelihara rambut panjang dikuncir ke
atas. Mukanya tertutup oleh kumis tebal, janggut dan
cambang bawuk meranggas. Di lehernya ada sebuah
kalung digantungi lima buah jimat dibungkus dengan kain
hitam. Keangkeran manusia satu ini ditambah lagi dengan
sepasang tangannya yang berbulu dan berwarna hitam
sebatas siku ke bawah.
Seperti diceritakan sebelumnya, setelah tidak mampu
merampas Kitab Hikayat Keraton Kuno dari tangan Ki Suro
Gusti Bendoro, bersama Kala Srenggi nenek itu melarikan
diri. Namun di tengah jalan rasa dendam membuat Si Lidah
Bangkai mengajak Kala Srenggi menyusun rencana untuk
kembali mendatangi Ki Suro. Kala Srenggi menolak dengan
alasan bahwa dia punya satu urusan penting di Demak.
Alasannya itu memang benar, namun di samping itu Kala
Srenggi masih ciut keberaniannya untuk menghadapi Ki
Suro. Masih untung dalam pertempuran senja tadi Ki Suro
tidak memerintahkan seratus ular membunuhnya, padahal
binatang-binatang itu telah menggelung menggayuti
dirinya.
Kecewa atas penolakan Kala Srenggi, Si Lidah Bangkai
tinggalkan sahabatnya itu lalu memasuki kawasan hutan
Roban. Di hutan ini dia menemui seorang gembong rampok
yang bukan saja malang melintang berbuat kejahatan
tetapi juga diketahuinya pernah berserikat dengan
kelompok jahat yang menghancurkan keraton. Ternyata
tidak mudah bagi si nenek mencari tokoh penjahat yang
dikenal dengan nama Warok Wesi Gludug itu. Lebih dari
satu minggu menyusuri rimba belantara lebat barulah dia
berhasil menemui sang Warok. Ini pun setelah dia sempat
dihadang oleh tiga orang anak buah Warok Wesi Gludug
yang kemudian dihajarnya lalu dipaksa membawanya ke
tempat persembunyian pimpinan mereka.
Kepada pimpinan rampok hutan Roban itu Si Lidah
Bangkai menceritakan tentang kitab kuno yang kini berada
di tangan Ki Suro Gusti Bendoro lalu mengajak Warok Wesi
Gludug untuk membantu merampasnya.
“Aku memang pernah mendengar riwayat kitab itu sejak
belasan tahun silam. Tapi sulit dipercaya benar atau tidak
keberadaannya...” kata Warok Wesi Gludug. Sesuai dengan
namanya ternyata lelaki tinggi kekar dada berbulu ini
memiliki suara besar keras. Siapa yang bicara dengannya
akan mengiang dan tergetar gendang-gendang telinganya.
Bahkan orang-orang yang tidak membekal ilmu kepandaian
bisa berdebar dadanya mendengar suara sang Warok.
“Aku sendiri melihat kitab itu ada pada Ki Suro, apa kau
tidak percaya?” kata Si Lidah Bangkai pula.
“Kalaupun memang ada pada Kiai itu, apa artinya
sebuah kitab yang sudah lapuk? Apa untungnya
membuang waktu bercapai-capai mendapatkannya? Di sini
bersama anak buahku dalam satu minggu aku bisa
mendapatkan jarahan besar, tanpa bekerja keras,” kata
sang Warok lagi tetap enggan membantu Si Lidah Bangkai.
Tapi si nenek berlaku cerdik. “Kalau kau tidak suka
membantu tidak jadi apa,” katanya, “Aku bisa
mendapatkan bantuan dari para sahabat lainnya. Hanya
saja harap di kemudian hari kau tidak merasa menyesal.”
“Merasa menyesal? Mengapa aku harus merasa
menyesal?!” ujar Warok Wesi Gludug.
“Kitab buruk itu diperebutkan banyak tokoh. Berarti ada
satu rahasia besar tersimpan di dalamnya. Karena
menyangkut keraton, bukan mustahil ada petunjuk tentang
harta karun berupa perhiasan atau emas dalam jumlah
luar biasa besar. Disembunyikan di satu tempat. Kurasa
kau pernah mendengar bahwa dulu ada sebuah kapal
besar dari Kerajaan Campa mendarat di pantai Demak
membawa barang-barang rahasia berjumlah belasan
gerobak besar!” Si nenek menyeringai sambil
memperhatikan wajah kepala rampok itu. “Selamat tinggal
Warok Wesi Gludug! Perintahkan anak buahmu
menunjukkan jalan keluar.” Setelah berucap begitu si
nenek putar tubuhnya dan cepat-cepat hendak melangkah
seolah-olah dia memang benar-benar hendak tinggalkan
tempat itu.
Sikap Warok Wesi Gludug serta merta berubah. “Lidah
Bangkai! Tunggu dulu! Aku ikut bersamamu!”
Si Lidah Bangkai tertawa seperti kuda meringkik.
“Kalau begitu suruh anak buahmu menyiapkan dua ekor
kuda! Perjalanan kita mencari Kiai itu mungkin cukup jauh
dan lama!”
Si Lidah Bangkai dan Warok Wesi Gludug tinggalkan
hutan Roban menunggang dua ekor kuda hitam besar.
Cukup lama mereka melakukan perjalanan, berbilang hari
berbilang minggu. Ketika akhirnya mereka berhasil
mengetahui di mana beradanya Ki Suro Gusti Bendoro,
ternyata sang Kiai dalam perjalanan ke satu tempat
berdiam seorang sahabatnya yakni Empu Bondan
Ciptaning. Tanpa diketahui Ki Suro kedua orang ini terus
menguntit. Mereka berhasil sampai di tempat pertemuan
hanya beberapa ketika sebelum Ki Suro meninggalkan
tepian telaga, yaitu setelah menyerahkan kitab daun lontar
pada Empu Bondan Ciptaning.
“Kita biarkan dulu Kiai itu pergi, baru kita mengerjai
sang Empu,” bisik Si Lidah Bangkai yang diam-diam
rupanya merasa takut juga terhadap Ki Suro.
Begitu Ki Suro pergi dan lenyap di kejauhan kedua
orang itu menggebrak kuda masing-masing, langsung
menerjang Empu Bondang Ciptaning.
Setelah perhatikan dua orang di atas kuda itu sejenak,
Empu Bondan segera maklum kalau orang berniat jahat
terhadapnya. “Nenek satu ini jelas masih mencari dan
menginginkan kitab yang ada padaku,” kata Empu Bondan
Ciptaning dalam hati. “Kawannya ini kalau aku tidak salah
menduga adalah pentolan kepala rampok hutan Roban
bernama Warok Wesi Gludug, penjahat paling berbahaya
yang dicari-cari kerajaan.”
Walau sudah tahu orang berniat jahat tapi Empu
Bondan Ciptaning dengan tetap tenang dan wajah polos
menegur, “Salam bahagia dan selamat bagi kalian berdua.
Sudah lama aku dari tempat jauh ini mendengar nama
besar kalian berdua. Jika hari ini nenek hebat Si Lidah
Bangkai dan orang terkenal Warok Wesi Gludug datang
menyambangi diriku, sungguh aku mendapatkan satu
kehormatan besar...” Setelah berucap begitu Empu Bondan
Ciptaning lalu bungkukkan badannya memberi
penghormatan.
Si Lidah Bangkai menyeringai lalu kedipkan matanya
pada Warok Wesi Gludug. Sang Warok balas kedipkan
mata lalu tertawa bergelak. Suara tawanya menggetarkan
seantero tempat. Apalagi karena dia mengerahkan tenaga
dalam maka Empu Bondan merasa telinganya mengiangngiang,
dadanya bergejolak dan tanah di bawah kakinya
bergetar! Cepat-cepat sang Empu kerahkan tenaga
dalamnya untuk menolak hawa jahat tenaga dalam orang.
“Sahabatku Lidah Bangkai!” kata Warok Wesi Gludug
pada si nenek di sebelahnya, “Kau dengar sendiri orang
bicara baik dan sopan pada kita. Berarti kita tidak akan
menemui kesulitan berurusan dengan Empu ini! Ha... ha...
ha... ha!” Suara tawa Warok Wesi Gludug membahana. Dua
ekor kuda hitam tersentak kaget, meringkik keras seperti
ketakutan. Si Lidah Bangkai dan Warok Wesi Gludug cepat
usap-usap leher binatang tunggangannya hingga dua ekor
kuda ini menjadi jinak kembali.
“Warok Wesi Gludug, jika kita memang berniat baik
dengan siapapun kita melakukan urusan pasti tidak ada
kesulitan. Gerangan urusan apakah yang kalian berdua
hendak sampaikan padaku. Harap kalian mau
memberitahu. Lalu gerangan apa pula yang bisa kulakukan
untuk membantu kalian,” berkata Empu Bondan Ciptaning.
Warok Wesi Gludug angguk-anggukkan kepala. “Orang
baik... Empu baik...” katanya berulang kali lalu sepasang
lengannya yang hitam digosok-gosokkan satu sama lain.
Luar biasanya dua tangan yang saling digosokkan itu
mengeluarkan suara grek-grek-grek seperti suara dua
potong besi saling digesek. Dari sini saja sudah dapat diketahui bagaimana kehebatan sepasang tangan sang Warok. Ditambah dengan keangkeran wajah dan suaranya maka memang dia pantas dijuluki Warok Wesi Gludug yang berarti “Kepala Rampok Tangan Besi Suara Guntur”.
“Empu Bondan, tentu saja kami datang bukan untuk memesan keris sakti bertuah. Karena kami tahu sudah lama kau tidak pernah duduk di belakang tungku perapian menempa keris. Kami datang membekal satu maksud baik.
Sahabatku nenek berjuluk Si Lidah Bangkai ini inginkan sebuah kitab yang ada padamu. Sedangkan aku, mengingat sikapmu yang sopan aku hanya akan meminta tasbih yang melingkar di lehermu!” Selesai berucap begitu sang Warok lalu tertawa bergelak dan kembali gosok-gosokkan dua tangannya satu sama lain.
Empu Bondan Ciptaning tatap wajah dua orang yang
masih duduk di atas kuda itu sesaat. Sikap dan raut air mukanya tetap tenang. Tak terpengaruh oleh kata-kata Warok Wesi Gludug tadi padahal orang sudah jelas menyatakan maksud buruknya.
“Warok Wesi Gludug, kau menyebut sebuah kitab. Bisa kau menerangkan kitab apa yang kau maksudkan?” bertanya sang Empu.
“Biar aku yang menjawab!” kata Si Lidah Bangkai setelah berdiam diri saja dari tadi, “Kitab yang kami maksudkan adalah sebuah kitab terbuat dari daun lontar.
Berisi hikayat keraton kuno...”
“Ah, kitab itu rupanya,” ujar Empu Bondan sambil mengangguk-angguk.
Sebelum dia meneruskan Si Lidah Bangkai kembali membuka mulut, “Seorang Empu tidak akan berkata dusta!
Kami melihat sendiri sebelum pergi Kiai Suro Gusti Bendoro menyerahkan kitab itu padamu! Jadi jangan berkilah kitab itu tidak ada padamu!”
Empu Bondan tersenyum. “Kitab yang kalian maksudkan itu memang ada padaku. Tapi harap diketahui, kitab itu bukan milikku. Ki Suro hanya menitipkan padaku agar aku menjaganya baik-baik. Jadi harap dimaafkan kalau aku tidak mungkin menyerahkan kitab itu pada kalian...”
“Hemmm... Begitu?” ujar Si Lidah Bangkai. Sisik hitam kebiruan yang menutupi wajahnya langsung kaku berdiri.
Lidahnya yang merah bercabang menjulur menyemburkan percikan cairan merah.
“Kami meminta dengan baik...” Nada suara Si Lidah Bangkai mengandung ancaman.
“Akupun menolak dengan baik,” jawab Empu Bondan.
Amarah Si Lidah Bangkai jadi menggelegak. “Empu tolol! Tua bangka yang sudah bau tanah! Rupanya kau ingin menemui ajal lebih cepat dari takdir!”
“Kita manusia jangan menyalahi ketentuan Yang Maha Kuasa. Soal nyawa dan takdir adalah kuasanya Dia Yang Tunggal,” jawa Empu Bondan pula.
“Bagaimana dengan kalung tasbih batu Giok yang tergantung di lehermu Empu?” bertanya Warok Wesi Gludug, “Apakah kau juga tidak mau menyerahkannya padaku?!”
“Sama saja Warok. Tasbih ini juga titipan orang. Apapun yang terjadi aku harus menjaganya baik-baik.” Jawab Empu Bondan.
Warok Wesi Gludug berpaling pada Si Lidah Bangkai.
Dua orang ini lalu tertawa gelak-gelak. Tiba-tiba tawa mereka lenyap. Warok Wesi Gluduk keluarkan bentakan garang yang membuat kawasan sekitar telaga jadi bergetar. Air telaga beriak keras. Daun-daun pepohonan bergeser bergemerisik. Si Lidah Bangkai tak mau kalah.
Dia keluarkan satu pekik nyaring. Lidahnya bergulung keluar. Lalu sekali membuat gerakan, sosok sang Warok dan si nenek melesat ke atas, begitu turun langsung menyerang ke arah Empu Bondan Ciptaning.
“Tuhan! Saya berpegang pada kekuatanMu dan berlindung di bawah kekuasaanMu. Tolong saya menghadapi manusia-manusia saat ini! Ampuni dosa saya kalau saya sampai menjatuhkan tangan jahat terhadap mereka!” Empu Bondan Ciptaning berkata dalam hati. Lalu dua kakinya digeserkan.
Beettt!
Sosok sang Empu berkelebat lenyap. Yang kelihatan hanya bayang-bayang biru warna pakaiannya.
Warok Wesi Gludug dan Si Lidah Bangkai berseru kaget ketika dapatkan serangan ganas yang mereka lancarkan hanya menghantam tempat kosong. Di tanah kelihatan dua lobang besar. Yang satu berwarna merah akibat hantaman ujung lidah bercabang Si Lidah Bangkai. Satunya lagi lobang berwarna hitam bekas terkena pukulan tangan besi sang Warok!

(BERSAMBUNG KE BAGIAN-3)
BASTIAN TITO
KUNGFU SABLENG
PENDEKAR PISPOT NAGA
(THE DRAGON PISPOT)

KUNGFU SABLENG
PENDEKAR PISPOT NAGA
(The Dragon Pispot) 1
PERGURUAN kungfu Ban Yak Cing Cong yang dipimpin oleh Tong Pes mengalami kekurangan biaya dan terancam gulung tikar alias tutup. Karenanya sang suhu menyuruh salah seorang muridnya yang terpercaya yaitu Tek Lok pergi ke kotaraja untuk menggadaikan seperangkat pispot antik. Pispot-pispot itu sangat mahal harganya karena konon berasal dari zaman dinasti Cong Ngek 600 abad silam. Maka berangkatlah Tek Lok selama beberapa hari.
Ketika ia pulang dari kotaraja alangkah kagetnya pemuda bertubuh gemuk tambun itu karena mendapatkan perguruannya telah diobrak-abrik orang. Di halaman depan bergeletakan sebelas saudara seperguruannya,
kebanyakan sudah tidak bernafas lagi. Dua tiga orang
memang masih terdengar mengerang. Tapi tak mungkin
ditolong karena sebentar lagi mereka pasti akan meregang
nyawa.
Sementara itu di serambi depan Tek Lok menyaksikan
suhunya bersama seorang murid tingkat utama tengah
bertempur mati-matian melawan seorang tinggi besar
berdandan aneh. Orang ini mengenakan jubah kuning
dengan hiasan naga hitam di bagian dada dan punggung.
Di batok kepalanya nangkring satu topi aneh yang bukan
lain adalah sebuah pispot putih dihiasi gambar-gambar
naga.
Ternyata si topi pispot lawan sang suhu memiliki kungfu
luar biasa. Gerakannya cepat sekali, laksana bayangbayang
dikejar setan. Ketua perguruan dan muridnya
terdesak hebat hanya dalam beberapa jurus saja. Selain itu
yang membuat mereka jadi kelabakan ialah karena setiap
gerakan yang dibuat lawan, dari balik jubah kuningnya
menghambur bau tidak sedap, yakni seperti bau kotoran
manusia.
“Jangan-jangan ini olang habis buang ail besal belum
cebok alias ngepet!” pikir Tek Lok yang memang cadel dari
sononya.
Dalam satu gebrakan hebat kepala si tinggi besar yang
disungkup pispot tahu-tahu sudah menghantam dada
murid utama. Lelaki kurus kerempeng ini menjerit keras
dan terpental. Tubuhnya terbanting di tanah. Dadanya
remuk. Tak berkutik lagi. Darah mengucur dari mulutnya.
Mata mendelik jereng. Tit sudah!
Sadar kalau seorang diri dan hanya mengandalkan
tangan kosong dia tidak akan dapat menghadapi lawan
yang begitu lihay maka ketua perguruan Ban Yak Cing Cong
segera hunus sebilah golok panjang yang terselip di
belakang punggungnya.
“Manusia terkutuk!” memaki Tong Pes. “Hari ini biar
pinceng mengadu nyawa denganmu!”
Si topi pispot tertawa bergelak.
“Tong Pes! Dulu aku minta kau menjual pispot-pispot
antik itu padaku. Tapi kau menolak dengan sombong! Kau
malah menyuruh orang menjualnya ke kotaraja! Hari ini
kau bicara segala macam soal adu nyawa! Rupanya kau
punya banyak nyawa serep. Aku tuan besarmu Tong Siam
Pah akan melayani! Walau begadang sampai pagi
sekalipun! Ha... ha... ha!”
Tong Pes kertakkan geraham. Dengan suara
menggembor dia putar goloknya laksana curahan hujan.
Namun sayang, bagaimanapun hebatnya ilmu golok ketua
perguruan kungfu Ban Yak Cing Cong itu dia bukanlah
tandingan si topi pispot yang mengaku bernama Tong Siam
Pah. Setengah mempermainkan lawannya, setiap Tong Pes
membacok, menusuk atau membabatkan goloknya, Tong
Siam Pah sengaja angsurkan kepalanya. Maka
terdengarlah suara tring... treng... trang... kling berulang
kali. Sesekali suara beradunya golok dengan pispot itu
diseling suara ngek! Yakni suara yang keluar dari mulut
Tong Pes akibat jotosan atau tendangan lawan yang
mendarat di ulu hatinya!
Tek Lok yang sembunyi di balik sumur menyadari
bahaya besar yang tengah mengancam suhunya. Karena
tidak ingin dianggap sebagai murid tidak berbakti alias
puthauw tanpa pikir panjang Tek Lok segera menyerbu ke
tengah kalangan pertempuran guna membantu sang suhu.
Namun baru saja dia hendak bergerak mendadak satu
tangan yang kuat mencengkeram tengkuknya hingga
saking kagetnya Tek Lok sampai keluarkan kentut.
Lehernya seperti digencet japitan besar. Kepalanya tidak
bisa digerakkan barang sedikitpun!
“Kulang ajal!” maki Tek Lok. Tek Lok kirimkan satu
tendangan kungfu ke belakang. Inilah jurus yang disebut
“kuda bunting menendang jantan gatal”. Tapi apa lacur,
orang yang hendak ditendang rupanya sudah tahu apa
yang hendak dilakukan Tek Lok. Dengan cepat dia totok
urat besar tepat di atas tulang tunggir murid perguruan Ban
Yak Cing Cong yang bertubuh tambun gendut ini. Tak
ampun Tek Lok langsung menjadi lumpuh kaku. Tapi
mulutnya masih bisa dibuka. Maksudnya mau memaki.
Tapi inipun gagal karena di belakang orang yang
membokongnya dengan satu gerakan cepat menyumpal
mulutnya dengan sebutir buah mengkudu hutan setengah
busuk. Membuat Tek Lok bukan saja megap-megap
mendelik sulit bernafas tapi juga mau muntah karena tidak
tahan bau busuknya buah mengkudu yang menyangsrang
di mulutnya itu!
“Anak tolol!” terdengar suara orang memaki di
belakangnya. “Apa otakmu di selangkangan dan
selangkanganmu menempel di otak mau ikut-ikutan
berkelahi! Apa kau buta dan gila berani menantang gunung
Thaysan? Selusin saudara seperguruanmu sudah dibuat
menghadap Thian alias tit semua! Apalagi kau cuma
sendirian! Dasar toylol!”
Tek Lok hanya bisa memaki panjang pendek dalam
hati. Tapi diam-diam dia menyadari. Suhunya yang begitu
tinggi kepandaian kungfu serta ilmu goloknya hanya
dihadapi dengan tangan kosong oleh si jubah kuning
bertopi pispot itu! Sedangkan dia sendiri cuma seorang
murid perguruan tingkat menengah!
Sementara itu di serambi sana Tek Lok melihat orang
bertopi pispot berhasil menyeruduk perut suhunya. Tong
Pes mencelat mental, jatuh terduduk di lantai serambi.
Selagi dia mencoba bangkit, lawan sudah kirimkan
tendangan keras ke kepalanya. Kepala Tong Pes tersentak
ke belakang, tubuhnya terlempar melintir, roboh di tanah
dan saat itu juga dia sampai pada hari apesnya. Mati!
“Suhu!” Teriak Tek Lok. Tapi teriakannya hanya sampai
di tenggorokan karena mulutnya masih tersumbat
mengkudu busuk. Kedua tangannya dikepal geram.
Mukanya merah, tubuhnya bergetar dan air mata
mengucur jatuh ke pipinya yang rada-rada peang.
Dengan mengeluarkan suara tertawa bergelak orang
bertopi pispot hancurkan papan nama perguruan Ban Yak
Cing Cong lalu berkelebat tinggalkan tempat itu. Sesaat
kemudian Tek Lok merasakan pembokongnya melepaskan
totokan di tunggirnya. Dengan cepat Tek Lok mencabut
buah mengkudu yang mendekam di mulutnya lalu
berpaling ke belakang seraya lancarkan satu jotosan keras
dalam jurus bernama “monyet kondor menghajar puncak
Thaysan”. Tapi dia hanya menghantam tempat kosong.
Orang yang tadi membokongnya telah lenyap entah ke
mana!
***
KUNGFU SABLENG
PENDEKAR PISPOT NAGA
(The Dragon Pispot) 2
DI HADAPAN Tek Lok berdiri seorang lelaki bermata jereng.
Rambutnya kaku jabrik, pakaiannya compang-camping,
penuh tambalan dan bau. Pada pinggangnya
bergelantungan berbagai macam dan ukuran kalengkaleng
kosong. Tangan kanannya memegang sebatang
tongkat bambu kecil.
“Tek Lok,” orang tak dikenal menegur. Si pemuda
merasa heran, bagaimana orang itu tahu namanya, “Aku
adalah gembel tua yang dijuluki Pendekar Pensiunan
Pengemis. Adik kandung suhumu yang sudah menghadap
Thian. Jadi terhadapku kau boleh memanggil Pak-de Guru!”
Si gendut Tek Lok yang masih bersedih atas ke matian
suhunya memandang tak acuh pada orang itu. Lalu
berkata seenaknya, “Manusia jabrik dekil! Aku tidak perduli
kau Pak-de, Pak-be, Pak-ce atau Pak-zet sekalipun! Kalau
tidak kau bokong aku dari belakang, pasti aku bisa
menolong suhu dan suhu tidak sampai digusur ke akhirat!”
Habis berkata begitu Tek Lok seperti kalap menyerang si
jabrik bermata jereng yang mengaku berjuluk Pendekar
Pensiunan Pengemis itu.
Yang diserang ganda tertawa lalu gerakkan sedikit
tangannya yang memegang tongkat.
Blukkkk!
Tek Lok jatuh terbanting ke tanah. Ketika dia mencoba
bangkit ujung tongkat si gembel telah menindih jidatnya.
Tek Lok merasa seolah kepalanya ditindih sebuah batu
besar. Bagaimanapun dia berusaha tetap saja tidak
sanggup menggerakkan kepala apalagi mencoba bangkit
berdiri. Muka si gendut ini jadi pucat, keringat dingin
mengucur dari kepala sampai selangkangannya! Kini
sadarlah Tek Lok kalau dia berhadapan dengan orang yang
bukan sembarangan. Si Pak-de ini ternyata memiliki tenaga
dalam tinggi luar biasa!
“Tek Lok, jangankan kau dan suhumu. Aku sendiri
belum tentu mampu menghadapi manusia berjubah kuning
bertopi pispot itu. Dia bernama Tong Siam Pah tapi lebih
dikenal dengan julukan The Dragon Pispot alias Pendekar
Pispot Naga. Selama pispot putih bergambar naga itu
masih nongkrong di kepalanya, tidak satu manusiapun bisa
mengalahkannya. Juga tidak bangsa iblis atau setan
pelayangan. Itulah rahasia kekuatannya!”
“Apapun yang teljadi siapapun bangsat itu adanya, aku
Tek Lok tetap akan menuntut balas atas kematian suhu
dan semua suheng (kakak seperguruan) selta sute (adik
seperguruan),” kata Tek Lok seraya kepalkan dua tinjunya
lalu dipukul-pukulkan ke pipinya sendiri.
“Itu namanya kau murid yang berbakti,” sahut Pendekar
Pensiunan Pengemis.
“Aku mohon petunjukmu. Tapi halap singkilkan
tongkatmu dali jidatku!” kata Tek Lok pula.
Gembel berambut jabrik itu menyeringai. Setelah
mengangkat tongkat bambunya dari kening Tek Lok dia
lalu berkata, “Gendut, kau dengar baik-baik apa yang
pinceng mau ucapkan. The Dragon Pispot tidak mungkin
dikalahkan selama pispot masih melekat di batok
kepalanya. Adalah sangat sukar untuk menyingkirkan
benda itu dari kepalanya. Bahkan pada saat mandi atau
berak sekalipun, atau tidur benda itu tidak pernah lepas
dari kepalanya!”
“Tapi selagi dia belnama manusia pasti dia punya
kelemahan!” kata Tek Lok pula.
Pensiunan Pengemis tersenyum. “Kau cerdik. Memang
betul. Dia memang punya kelemahan!”
“Apa?!” Tek Lok langsung menyerobot dengan
pertanyaan.
“Perempuan! Dia selalu lemah terhadap perempuan.
Tidak perduli gadis atau yang sudah tua bangka. Tidak
perduli si muka licin atau si muka keriputan. Pokoknya
masih selama bernama perempuan pasti dikerjainya!”
“Kalau begitu aku akan cali akal!” Tek Lok berpikir
sejenak. “Pak-de Suhu. Setahuku setiap lelaki pasti punya
selela teltentu telhadap pelempuan. Mungkin Pak-de Suhu
tahu kila-kila pelempuan yang bagaimana selelanya si Tong
Siam Pah itu!”
Pendekar Pengemis Purnawirawan alias Pensiunan
tertawa mengekeh. “Tek Lok, ternyata kau punya otak
cerdik. Selera si Pispot Naga adalah perempuan gemuk
buntak besar. Makin besar dan makin gemuk, makin
banyak lemaknya apalagi putih, huah! Semakin malele
dia!”
“Pak-de Suhu, telima kasih atas petunjukmu! Budi
baikmu tidak akan aku lupakan!” Tek Lok menjura dalamdalam
lalu tinggalkan tempat itu.
***
KUNGFU SABLENG
PENDEKAR PISPOT NAGA
(The Dragon Pispot) 3
SETELAH mendatangi tempat-tempat pelacuran di hampir setengah lusin kota akhirnya di kota Bau Tiut (d/h Bau Ken Tiut), Tek Lok berhasil juga menemui seorang pelacur berbadan luar biasa gemuk serta berkulit putih. Saking gemuknya mukanya yang tembam dan diberi berdandan tebal seronok kelihatan seperti barongsay. Genitnya minta ampun, sebentar-sebentar jari-jarinya mencubit ke sana-sini sambil tertawa cekikikan seperti kuntilanak setengah jadi.
Pada pertemuan pertama begitu Tek Lok masuk ke dalam kamarnya, pelacur gendut ini langsung saja bertuna busana alias menanggalkan seluruh pakaiannya. Lalu dia naik ke atas ranjang, melambaikan tangan sambil kedip-kedipkan mata pada Tek Lok dan tentunya tak lupa sambil pasang kuda-kuda! Ranjang reyot itu sampai bergoyang berderak-derik.
“Namamu siapa?” tanya Tek Lok tanpa bergerak dari kursi yang didudukinya di depan ranjang.
“Ling Ling Dut,” jawab si gemuk, tersenyum kembali, ulurkan lidahnya yang merah basah dan lambaikan tangan memberi isyarat agar si Tek Lok yang juga gendut tambun ini segera naik ke atas ranjang.
“Dengal Dut,” kata Tek Lok. “Aku akan membayalmu mahal. Tapi bukan untuk tidul denganmu...”
Tentu saja Ling Ling Dut menjadi terheran-heran.
Sebagai seorang pelacur baru hari itu ada tamu yang menjanjikan uang tanpa menidurinya.
Tek Lok mendekati ranjang lalu berkata mengarang cerita. “Yang akan tidul denganmu bukan aku, tapi pamanku. Dia sedang kulang enak badan. Ambeien alias wasilnya sedang kambuh! Jadi tidak bisa beljalan jauh.
Selama ini dia sudah panas dingin mendengal celita olang tentang kebagusan tubuhmu dan kecantikan kau punya palas.” Maksud Tek Lok dengan pamannya itu adalah si Pendekar Pispot Naga alias The Dragon Pispot, musuh besar yang telah menghabisi suhu serta saudara-saudaranya seperguruannya.
Ling Ling Dut tertawa cekikikan mendengar cerita sang paman yang sedang wasiran tapi masih berminat untuk bersenang-senang dengan perempuan. Sambil mengusap-usap pusarnya yang terbenam di dalam perutnya yang gembrot berlemak, pelacur kota Bau Tiut ini berkata, “Mendengar cerita pamanmu yang sakit itu, terus terang aku tidak berminat melayaninya. Apalagi sakitnya sakit wasir! Hik... hik! Tapi kau beruntung. Hoki-ku lagi jelek.
Sudah seminggu aku tidak menerima tamu. Tapi aku minta bayaran besar!”
“Jangan khawatil! Aku akan kasih pelsenan besal. Asal kau jangan lupa melakukan sesuatu yang nanti akan aku beli-tahu padamu!” Tek Lok lalu bicara semacam memberi pengarahan pada pelacur gemuk itu. Ling Ling Dut mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Sebelum pergi ke tempat pamanmu, apa kau tidak mau bersenang-senang dulu denganku?” tanya Ling Ling Dut, tetapi Tek Lok goyangkan tangan gelengkan kepala.
“Kita berdua sama-sama gendutnya. Pasti seru!” kata Ling Ling Dut lalu tertawa cekikikan.
“Justlu itu yang bikin aku khawatil. Lanjang boblok itu bisa jebol nanti!” sahut Tek Lok. “Ayo lekas pakai bajumu Dut! Kita belangkat sekalang juga!”
***
PENDEKAR Pispot Naga yang kerennya disebut The Dragon Pispot mengucak kedua matanya berulang kali saking tidak percaya akan pemandangan di hadapannya.
Seorang perempuan gemuk buntak berlemak tahu-tahu muncul di depan pintu tempat kediamannya yang terletak di tepi danau Xeng Gol.
“Hai yaa! Bidadari dari mana yang siang-siang begini turun ke bumi! Kesasar atau memang sengaja mencari diriku?!” menegur Tong Siam Pah sambil kedip-kedipkan matanya.
Ling Ling Dut balas tersenyum dan kedip-kedipkan matanya pula. Dadanya yang gembrot sengaja dibusungkan. “Hamba bukan bidadari pulang kesiangan.
Tapi hanya manusia biasa juga. Sudah lama hamba mendengar nama besar Pendekar Pispot Naga. Hamba ingin sekali belajar kenal. Sebagai kawan sejalan maupun kawan seranjang...!”
Mendengar kata-kata perempuan gemuk itu darah Pendekar Pispot Naga menjadi panas menggelora. Dia tertawa tergelak-gelak. Tiba-tiba dia melompat ke hadapan Ling Ling Dut. Sekali tarik saja pelacur gemuk itu segera dibawanya masuk ke dalam rumah.
Ling Ling Dut tertawa cekikikan. Dekat pintu kamar pakaiannya tersangkut paku hingga robek besar di bagian perut.
“Paku jahil!” Pendekar Pispot Naga memarahi paku yang merobek pakaian Ling Ling Dut. Matanya mendelik melihat keputihan perut gembrot perempuan itu. Lalu sambil memperlihatkan kehebatan tenaga dalamnya lelaki berjubah kuning ini pergunakan jari tangannya untuk menekan amblas paku besar itu hingga masuk lenyap ke dalam sanding pintu kayu! “Kau tak usah khawatir! Aku akan belikan baju baru pengganti bajumu yang robek ini!”
kata Pendekar Pispot Naga kemudian.
“Tidak apa-apa,” jawab Ling Ling Dut. “Bidadari benaran kabarnya memang tidak pakai baju! Hik... hik... hik!”
“Kau pandai melucu! Aku suka padamu!” kata Pendekar Pispot Naga. Lalu membantingkan daun pintu.
***
KUNGFU SABLENG
PENDEKAR PISPOT NAGA
(The Dragon Pispot) 4
SEPERTI yang telah dipesankan oleh Tek Lok, begitu masuk ke dalam kamar Ling Ling Dut langsung melompat ke atas tempat tidur besar terbuat dari besi. Lalu cepat-cepat dia membuka pakaian luarnya. Melihat itu tenggorokan Pendekar Pispot Naga jadi turun naik. Matanya berputar membeliak dan nafasnya kontan memburu. Tak mau kalah, dengan mempergunakan jurus “naga mabok menyambar celana dalam” dia segera pula melompat ke atas ranjang.
Di atas ranjang Ling Ling Dut sudah pentang diri dalam sikap atau jurus “panda gembrot parkir di bawah pohon bambu”. Begitu Pendekar Pispot Naga membaringkan diri di sampingnya langsung dihimpit dengan pahanya yang besar gembrot dan bukan olah-olah beratnya! Pendekar Pispot Naga sampai setengah menggeliat setengah melintir dihimpit begitu rupa. Nafasnya seolah tertahan di tenggorokan. Tiba-tiba Ling Ling Dut membuat gerakan yang disebut “tringgiling atret ke liang naga”. Dia gulingkan badannya ke sudut ranjang hingga ranjang itu bergoncang keras.
“Kekasihku mungil! Mengapa kau menjauhkan diri? Apa mulut atau ketiakku bau tong sampah?!”
“Pendekar gagah tujuh penjuru angin!” sahut Ling Ling Dut. “Terus terang nafsu sudah membakar diriku mulai dari ubun-ubun sampai ujung jempol kaki!”
“Lalu mengapa kau mendekam di sudut ranjang?” tanya Pendekar Pispot Naga heran.
“Soalnya, bagaimana aku bisa bersenang-senang kalau pendekar sendiri masih belum membuka jubah kuning pakaian kebesaran?”
Mendengar kata Ling Ling Dut, Tong Siam Pah alias Pendekar Pispot Naga segera tanggalkan jubah kuningnya dan campakkan ke kolong ranjang.
“Beres! Sekarang ayo kau buka pakaianmu!” Tangan Tong Siam Pah siap menggerayang kian kemari.
“Tentu, untuk kau yang gagah pasti akan kubuka. Tapi engg... Apakah topi kebesaran yang masih bertengger di kepalamu tidak akan mengganggu nantinya? Apalagi aku ini punya kesenangan. Suka menjilati ubun-ubun orang! Hik... hik... hik!”
Pendekar Pispot Naga yang sudah dibakar nafsu dan lupa daratan lupa pantangan segera saja menjawab, “Manisku sayang, untuk bidadari sepertimu apapun katamu akan pinceng ikuti!”
Lalu Pendekar Pispot Naga angkat pispot putih bergambar naga di kepalanya dan letakkan benda itu di satu meja kecil di samping ranjang. Tanpa pispot itu di kepala, maka kesaktiannyapun ikut berpindah, tidak mendekam lagi di dalam tubuhnya!
Setelah meletakkan ‘mahkotanya’ di atas meja kecil, Pendekar Pispot Naga yang sudah tidak sabaran langsung balikkan badan hendak merangkul Ling Ling Dut. Pada saat itulah mendadak pintu kamar didobrak orang dari luar.
Sesosok tubuh berkelebat masuk langsung menyambar pispot putih di atas meja.
“Siapa kau?!” bentak Pendekar Pispot Naga seraya melompat turun dari ranjang. Satu tangan dikepalkan satu lainnya dipakai untuk menutupi auratnya.
Orang yang barusan masuk dan menyambar pispot bukan lain adalah Tek Lok, anak murid perguruan Kungfu Ban Yak Cing Cong yang muncul untuk membalaskan sakit hati dendam kesumat suhu dan saudara-saudara seperguruannya.
“Aku belnama Tek Lok! Anak mulid Pelguluan Ban Yak Cing Cong! Bebelapa bulan lalu kau telah membunuh Tong Pes suhuku selta dua belas saudala sepelguluanku! Hali ini aku datang untuk membalas dendam kematian meleka!
Hari ini saatnya kau kukilim menghadap malaikat-malaikat maut Giam Lo Ong!”
“Manusia kurang ajar! Lekas kau serahkan pispot itu dan segera minggat dari sini!” bentak Pendekar Pispot Naga dengan suara lantang dan mata membeliak besar.
Tek Lok menyeringai buruk dan melintangkan pispot di depan dada. “Kau inginkan pispot bau tahi ini! Silakan ambil!” kata Tek Lok. Lalu dengan jurus “elang juling menyambar kodok buntet” Tek Lok menerjang sambil menghantamkan pispot putih di tangan kanannya.
Pendekar Pispot Naga keluarkan seruan tertahan. Tak pernah dibayangkannya kalau topi kebesarannya akan dipergunakan orang untuk menyerang dan menghajar dirinya sendiri!
“Sobatku gendut! Kembalikan pispot itu! Apa yang kau orang minta pinceng pasti berikan! Kau mau seratus pispot seperti itu pasti pinceng penuhi! Atau kau mau perempuan gendut ini silakan ambil! Tapi lekas kembalikan pispot itu!”
Pendekar Pispot Naga kelihatan ketakutan setengah mati.
Dia meminta sambil membungkuk-bungkuk.
Benar seperti yang dikatakan Pak-de suhunya Pendekar Pensiunan Pengemis, tanpa pispot di kepala Pendekar Pispot Naga tidak punya daya apa-apa lagi. Malah saat itu kelihatan dia mulai beser terkencing-kencing. Ketika Tek Lok tak mau memberikan pispot dia mulai menyerang. Tapi kungfunya morat-marit tak karuan. Jangankan tenaga dalam, tenaga luarnya saja sudah amblas. Nafasnya ngos-ngosan padahal belum dua jurus menggebrak. Akibatnya sekujur tubuhnya mulai dari kepala sampai ke kaki menjadi bulan-bulanan serangan pispot putih miliknya sendiri.
Mukanya remuk tak karuan. Hidung melesek, mulut pecah, gigi bertanggalan. Bahu kiri patah, siku tangan kanan hancur, tulang dada amblas, tulang iga berpatahan. Darah membasahi hampir setiap sudut badannya.
Dalam keadaan seperti itu Tong Siam Pah merangkak mendekati tempat tidur. Dari mulutnya tiada henti keluar suara erangan. Tangannya coba menggapai pinggiran ranjang di mana Ling Ling Dut berada.
“Bidadariku... peluk aku... peluk tubuhku. Antarkan aku ke sorga...”
“Ihhhh!”
Pelacur gemuk Ling Ling Dut memekik antara jijik dan ketakutan. Cepat dia melompat turun dari atas ranjang.
Masih belum merapikan pakaiannya dia sudah ulurkan tangan pada Tek Lok. Murid Perguruan Ban Yak Cing Cong ini tanpa banyak cing-cong segera keluarkan lima tail perak lalu letakkan di atas telapak tangan Ling Ling Dut yang terkembang.
Sebelum meninggalkan kamar Tek Lok memandang sejurus pada sosok Tong Siam Pah yang tidak berkutik lagi.
“Masih untung kau menemui ajal! Kalau masih hidup julukanmu pasti diganti menjadi Pendekal Pispot Bonyok!”
Tek Lok letakkan pispot putih milik Tong Siam Pah di atas kepalanya. Sambil melangkah pergi tinggalkan danau Xeng Gol murid Perguruan Ban Yak Cing Cong ini bersiul-siul menyanyikan lagu kesayangannya yang bernama Di Dadamu Ada Pinceng.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar