Jenazah Simpanan


Wiro Sableng
PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212
Karya : Bastian Tito

JENAZAH SIMPANAN


Ratusan Makhluk yang tubuhnya dipenuhi kobaran api perlahan-lahan beringsut mundur dari kepungannya terhadap Resi Kali Jagat dan yang lainnya. ada rasa jerih bercampur takut kala mendengar bunyi suara Saluang (alat musik tradisional Minangkabau) yang mendayu perlahan dari arah barat Pohon Jati dimana Resi Kali Jagat beserta kawan-kawannya terkepung. Lain halnya dengan Resi Kali Jagat dan kawan-kawannya, bunyi saluang yang mengalun terasa begitu menyejukkan kalbu dan jiwa sehingga tanpa sadar ucap puji dan syukur atas Rahmat Dewata berkumandang dari bibir ketiganya.
Tak sampai sepeminuman teh kemudian dari arah barat menyeruak kabut tipis beserta hawa dingin yang menggigit, hawa dingin ini tidak begitu terasa bagi Resi Kali Jagat dan yang lain, namun tidaklah demikian bagi Kawanan Makhluk yang dikobari Api! jeritan dan lolongan panjang keluar dari mulut mereka! Tubuh mereka mulai bergelimpangan satu persatu disertai dengan padamnya api di tubuh mereka kala satu sosok yang berjalan diantara kabut tipis melewati tubuh mereka! Seekor Menjangan Bertanduk dan berbulu keemasan terlihat berjalan diantara kabut putih, dipunggungnya duduk seorang kakek berjubah putih berambut panjang. Rambut serta janggut dan kumisnya yang putih terlihat menjela tertiup angin diantara jemari tangannya yang bergerak lincah memainkan sebuah Saluang yang berwarna keemasan. Dipinggangnya tergantung sebuah kantung kulit tersamak dimana terselip enam buah Saluang dengan warna yang beragam!


SATU

Nenek Katai Ning Rakanini delikkan matanya yang besar sebelah, kedua tangannya yang berwarna hitam pekat berkilat bersiap untuk melepaskan pukulan sakti kearah makhluk raksasa bertanduk yang kepalanya menjulur dari dalam lubang atap yang hancur karena pukulan bocah sakti Dirga Purana (baca episode sebelumnya: Jabang Bayi dalam Guci). Sesaat lagi kedua tangannya yang berwarna hitam mengkilat melepaskan sebuah pukulan sakti yang bernama Dalam Sesat Mencari Ketentraman, Resi Kali Jagat berteriak mencegahnya “Tahan, Jangan!!”
Nenek Katai Penguasa Rumah Ketentraman dan Keselamatan memalingkan wajahnya kearah Resi Kali Jagat, Hidungnya yang dicanteli anting-anting emas bergoyang-goyang sementara urat besar terlihat menonjol di pelipisnya pertanda menahan amarah “Ampusena! Apa maksudmu menahan serangan ku? Tidakkah kau dengar apa yang diucapkan makhluk ini? Dia menginginkan orok dalam Guci! Dia pasti sudah menjadi salah satu kawanan Gerombolan Sukma Merah!”
Resi Kali Jagat menghela nafas sesaat. “semoga berkah Hyang Jagatnatha turun atas diri kita semua, Apa kabar Arwah Ketua Penguasa Candi Miring? Lama kita tidak berjumpa”
Makhluk dengan tanduk berkilat keluarkan tawa keras kemudian Wujud kepala Raksasa bertanduk bercahaya merah keluarkan satu letusan kecil dan berubah menjadi gumpalan asap kelabu. Asap kelabu itu kemudian berputar layaknya topan dan memasuki ruangan candi melalui lubang diatas atap. Gumpalan asap kemudian bergulung membentuk satu sosok yang berdiri dihadapan Resi Kali Jagat dan Nenek Ning Rakanini, sekejapan mata kemudian gulungan asap pun akhirnya sirna meninggalkan satu sosok yang tidak lagi berbentuk raksasa seperti sebelumnya, sosok kali ini merupakan sosok seorang kakek bertubuh kekar berjanggut dan berkumis berkeluk berwarna hitam. pakaiannya merupakan jubah biru yang bagian atasnya tidak dikancing sehingga memperlihatkan bulu dadanya yang lebat. Wajah kakek ini terlihat pucat tak berdarah sehingga jalur urat membayang biru dibalik kulit wajahnya. sepasang matanya berwarna putih menjorok keluar dengan lensa berbentuk titik kecil dan di kepalanya yang botak terlihat sebuah tanduk tunggal mencuat dari keningnya. Tanduk tersebut tidak terlalu besar namun memancarkan cahaya merah berpendar. “
"Semoga berkah Para Dewa menyertaimu Sahabatku Ampusena, maafkan kelancanganku wahai Penghuni Rumah Ketentraman dan Keselamatan” ucap sosok Arwah Ketua sembari mengedipng-edipkan matanya yang juling kearah Nenek Ning Rakanini.
Sang Nenek merutuk dalam hati sembari menurunkan kedua tangannya, kedua tangan tersebutpun perlahan kembali kewarna asalnya. sementara Resi Kali jagat menggelengkan kepalanya untuk kemudian berkata “berbilang tahun kita tidak berjumpa, sungguh tidak dinyana dapat bertemu denganmu disini wahai Arwah Ketua, gerangan apakah yang membawamu ketempat ini?”
“wahai Sahabatku Ampusena, tak usahlah lagi kita berpanjang cakap, maksud kedatanganku kali ini adalah meminta kau untuk memberikan saja jabang bayi dalam guci itu kepadaku, toh disini tidak ada orang yang mau menampungnya, bagaimana Ampusena? Kau tidak keberatan bukan?” ucap Arwah ketua sembari melirik kearah guci bening yang berisi bayi merah yang tergeletak diatas meja batu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Arwah Ketua, Nenek Katai Ning Rakanini menjadi meradang, alisnya yang menyambung menjadi satu terlihat terjungkat “Kowe, jangan sembarang omong! siapa bilang aku tidak mau menampungnya? aku Cuma khawatir tidak bisa menjamin keselamatannya!” hardik Sang Nenek.
Arwah Ketua memandang sinis kepada Nenek Ning Rakanini “Ampusena, kau sudah mendengar sendiri bukan? Nenek ini tidak mampu menjaga Guci itu, jadi sebaiknya kau titipkan saja kepadaku.” ucap Kakek Bertanduk ini sambil terkekeh.
“Kurang ajar! Makan Pencarianmu!” jerit Nenek Ning Rakanini, Nenek satu ini tampaknya sudah tidak bisa lagi mengendalikan emosinya sehingga tanpa bisa dicegah lagi tangan kirinya mencabut tusuk konde yang tertancap di batok kepalanya dan dengan secepat kilat ditusukkannya tusuk konde tersebut kearah perut Arwah Ketua!
“Ning Rakanini! Jangan!” Resi Kali Jagat Berseru tertahan. Namun tak kuasa Mencegah, Sementara itu Kakek bertanduk yang diserang oleh Nenek Katai Ning Rakanini hanya senyum-senyum saja dan tampak adem ayem tidak berusaha untuk menghindari serangan tusuk konde terbuat dari batu yang berwarna merah pekat itu.
Sesaat lagi tusuk konde yang berada di tangan Ning Rakanini menembus perut Arwah Ketua, tiba-tiba didahului suara letusan kecil dan mengepulnya asap kelabu tipis dari arah bawah tanah tempat antara Arwah Ketua dan Ning Rakanini berdiri mencuat sebuah tangan berbentuk tulang jerangkong yang dengan secara sigap menahan tangan Ning Rakanini sehingga tusuk konde yang hendak ditusukkannya berhenti hanya sejarak setengah jengkel dari perut Arwah Ketua!
“Ketentraman dan keselamatan berasal dari hati yang suci dan bersih, hawa marah dan kebencian hanya akan membawa setiap insan ke dalam musibah dan penyesalan! Rakanini kendalikan emosimu.” Satu suara keluar dari satu sosok berbentuk jerangkong putih yang keluar dari dalam tanah.
“Lor Pengging Jumena…!” seru Resi Kali Jagat Ampusena kala melihat sosok Jerangkong Putih yang memegang tangan Nenek Katai Ning Rakanini.
“Mbah Buyut…” Desis Sang Nenek Katai Penghuni Rumah Ketentraman dan keselamatan tersebut dengan tubuh bergetar.

***

Jenazah Simpanan 2
Disatu tempat terpaut delapan ratus tahun dari negeri Bhumi Mataram, diselatan Kaki Gunung Gajah tak jauh dari Bukit Menoreh terlihat seorang kakek berambut tipis sedang duduk bertopang dagu dibawah satu pohon Jamblang. Kakek ini memiliki sepasang mata jereng yang selalu berputar kesana-kemari tidak bisa diam sementara sebuah telinganya terlihat terpasang terbalik menghadap kebelakang, bau pesing santer keluar dari tubuh dan pakaiannya. “aduh biyung, tobat aku..! kemana lagi aku harus mencari anak setan itu! Setahun lebih tak tahu rimbanya tak tahu juntrungannya jangan-jangan Bocah Gemblung itu balik lagi ke Latanah Silam! Buseet!” gerutu si kakek sembari menggaruk-garuk kepalanya.
Pluk..pluk.. tiba-tiba dari atas pohon jamblang berjatuhan dua buah jemblang yang langsung jatuh menimpuk kepala dan tubuh si kakek bau pesing yang bukan lain adalah Setan Ngompol tokoh kosen dunia persilatan tanah jawa pada saat itu.
“Naga Kuning anak setan! kamu Jangan kurang ajar sama orang tua!” bentak sang kakek sembari meraupkan kedua tangannya kebalik celananya yang basah kuyup kemudian dipeperkannya tangannya yang basah oleh air kencing itu keatas pohon, serangkum angin beserta titik-titik air berbau pesing menghambur deras kearah Pohon menggetarkan batang pohon dan meluruhkan sebagian daun pohon Jamblang!
Sementara itu dari balik rimbunan pohon satu bayangan hitam melesat sambil terkekeh-kekeh menghindari serangan peperan air kencing Setan Ngompol. (Mengenai riwayat Setan Ngompol dan Naga Kuning silahkan baca Petualangan Wiro Sableng di Lembah Akhirat dan Negeri Latanah Silam)
“kakek Setan Ngompol! Jangan marah begitu, aku kan Cuma becanda! Aku juga tahu kamu itu bukannya mikirin si Wiro yang kamu bilang balik lagi ke Latanah Silam, tapi kamu lagi mikirin si Nenek genit menor siapa tuh namanya? Luh Lemper apa ya?” ucap seorang bocah berambut jabrik yang bukan lain adalah Naga Kuning sambil mengorek-ngorek hidungnya!
“Lemper… Lemper…!! Yang kamu ingat Cuma lemper!! Anak Geblek! Namanya Luh Lampiri!” sembur Setan Ngompol sembari membeliakkan matanya yang jereng, mata diatas yang jereng mata dibawah ikut-ikutan mancur! Naga Kuning terkekeh melihat tingkah kakek sahabatnya itu sementara Setan Ngompol menggerutu panjang-pendek!
Dikisahkan setelah kepergian Wiro ke Mataram Kuno negeri delapan ratus tahun silam banyak terjadi perubahan di tanah jawa, di tanah jawa mulai bermunculan tokoh-tokoh berkepandaian tinggi dan aneh-aneh. berbagai macam peristiwa dan kejadian-kejadian aneh dibarengi bermacam kasus penculikan terjadi di seantero negeri. Korban-korban penculikan itu biasanya adalah para pemuda yang sudah mencapai akil balik. Suasana dunia persilatan tanah jawa pun mulai mencekam, saling tuding dan berbuntut pertumpahan darah pun akhirnya terjadi. Kyai Gede Tapa Pamungkas yang melihat keadaan ini pun merasa prihatin sehingga mengutus Naga Kuning dan Setan Ngompol untuk mencari dan menemukan Wiro Sableng beserta Sinto Gendeng yang diketahui menghilang bersamaan dengan menghilangnya Wiro Sableng. Adapun Gondoruwo Patah Hati atau Ning Intan Lestari yang datang menghadap Kyai Gede Tapa Pamungkas bersama Naga Kuning ditahan oleh sang Kyai dengan alasan untuk mempersiapkan Pernikahannya dengan Naga Kuning. Rupanya Sang Kyai sudah merestui hubungan putri angkatnya tersebut dengan Naga Kuning. Meskipun dengan berat hati akhirnya Ning Intan Lestari atau Gondoruwo Patah Hati melepas kepergian Naga Kuning yang sesungguhnya adalah seorang Kakek Sakti Berjuluk Kyai Paus Samudera Biru! Dalam pencarian terhadap Wiro, kedua orang konyol tersebut akhirnya terpesat di kaki gunung gajah.
“hei Naga Kuning, mana jamblangnya? Masih ada? Bagi kemari aku masih lapar.” Ucap Setan Ngompol sambil menatap Naga Kuning.
“waladalah kek, habis semuanya! Sisanya tuh sudah rontok semua kena air kencing sampeyan.” Tunjuk Naga Kuning ke bawah pohon dimana beberapa buah jamblang terlihat berguguran rontok akibat angin pukulan Setan Ngompol.
Setan Ngompol mengelus perutnya yang kerempeng sembari mendesah “Nasibmu biyung, sedari pagi Cuma diisi Jamblang! Naga Kuning kamu masih ada bekal tidak?”
Naga Kuning menggelengkan kepalanya “aku juga masih lapar kek” ucap polos Naga Kuning “kalo lagi laper gini jadi inget Nasi timbelnya Yu Pinem, janda penjual timbel di simpang lima Godeyan. Hemm, sambel pincuk, ikan asin..” belum habis berucap Naga Kuning tiba-tiba merasa tubuhnya diangkat dan dikepit Setan Ngompol.
“kek! Apa-apan ini?” jerit Naga Kuning.
“Simpang Lima Godeyan tidak jauh dari sini, hanya sepenanakan nasi..” Gumam Setan Ngompol.
“memangnya sampeyan punya duit kek?” tanya Naga Kuning.
“urusan belakangan…” seru Setan Ngompol seraya berlari sambil  menaikkan kempitan Tubuh Naga Kuning, malangnya kepala sang bocah terbenam di ketiak Setan Ngompol. Satu suara Tercekik keluar dari tenggorokan Naga Kuning.

***

Jenazah Simpanan 3
Jurang Langit Pendam merupakan satu Jurang yang Cukup dalam dan terjal, letak jurang ini juga sangat terpencil dan tersembunyi. jika seseorang berdiri di pinggir jurang dan mencoba untuk menengok kebawah, maka orang tersebut tidak akan bisa untuk melihat apa yang ada di dasar jurang karena yang hanya bisa dilihat hanyalah gumpalan awan dan kabut putih tebal. oleh karena itu pula jurang yang terletak di salah satu lereng gunung Salak ini disebut dengan Jurang Langit Pendam. Kawasan Jurang langit pendam sudah dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai suatu tempat keramat yang bahkan dipercayai sebagai tempat bermukimnya banyak makhluk halus, demit dan sejenisnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika tidak ada seorangpun penduduk setempat maupun pendatang yang berani untuk mendatangi tempat itu. Keangkeran tempat ini juga ditambah dengan tumbuhnya sebatang pohon beringin Raksasa yang tumbuh tidak jauh dari bibir jurang. Pohon berusia ratusan bahkan mungkin ribuan tahun ini memang amatlah besar sehingga bisa dilihat dari kejauhan. Sedemikian besarnya pohon beringin itu sehingga Jika dikumpulkan orang untuk memeluk batang pohon ini saja diperkirakan membutuhkan kurang lebih dua puluh satu orang! Keangkeran pohon ini ditambah dengan bertebarannya delapan buah batu besar berwarna merah yang berjejer mengelilingi Pohon beringin Raksasa tersebut. Batu-batu merah tersebut dililiti sejenis kain bermotif catur yang sudah sangat tua hingga warnanya sudah terlihat pudar, kain yang menutupi batu-batu tersebut juga sudah banyak yang robek. bau anyir tercium cukup keras dari bagian batu yang berwarna merah kehitaman.
Saat itu belum lagi senja namun kesunyian amat terasa melingkupi areal Jurang dan sekelilingnya, namun hanya beberapa saat kemudian kesunyian itu terpecah oleh satu suara letusan kecil yang datangnya dari bawah tanah beberapa tombak dari pohon Beringin raksasa berada. Tanah  dimana letusan kecil tadi terjadi terlihat rengkah dan perlahan mulai terkuak memperlihatkan satu lubang hitam yang memancarkan cahaya merah gelap, tiba-tiba dari arah lubang tersebut melompat seorang anak lelaki berpakaian mewah serba hitam, pada salah satu telinganya terpasang sebuah anting-anting emas. Bocah ini tidak sendirian, di bahunya tersampir tubuh seorang perempuan muda. Perempuan ini terlihat memejamkan matanya sementara itu beberapa bagian tubuhnya tersingkap hingga mempertunjukkan auratnya yang putih menantang, sesekali Bocah yang tidak lain adalah Dirga Purana Bocah sakti yang dipanggil dengan sebutan Sang junjungan membelai dan meremas gemas tubuh perempuan yang dibawanya. Udara sore yang berhembus membawa angin dingin rupanya membuat gairah Dirga Purana makin berkobar, setelah memandang kekiri dan kekanan bocah sakti ini perlahan menurunkan sembari terus memeluk tubuh Menur Kembiri pelayan penghuni Rumah Ketentraman dan keselamatan ke tanah bersebelahan dengan salah satu batu merah yang mengelilingi pohon beringin
“he.he.he. manis ayo buka matamu.” ucap sang bocah sembari menepuk nepuk pipi sang gadis.
Menur Kembiri yang ditepuki pipinya perlahan membuka matanya. Saat memandang wajah Dirga Purna untuk sesaat gadis ini tersentak dan hendak memberontak dari rangkulan sang bocah namun saat melihat sepasang mata Dirga Purana yang sesaat memancarkan cahaya kuning kemerahan gadis ini pun mulai diam, bahkan Menur Kembiri terlihat tersenyum dan mendesah lirih kala melihat wajah bocah dihadapannya berubah menjadi wajah seorang pemuda yang sangat tampan. gairah kewanitaan Menur kembiri pun terbangkitkan! tanpa kuasa Menur Kembiri mulai membalas pelukan Dirga Purana dengan liar dan ganas! Menur Kembiri pun mulai memagut dan melumat Bibir Dirga Purana yang mencumbunya dengan rakus. kemudian untuk beberapa saat yang terdengar hanyalah dengus nafas dan desah kenikmatan keduanya. Pohon beringin dan kedelapan batu menjadi saksi bisu Kebejatan yang dilakukan oleh Dirga Purana. Selang beberapa lama kemudian Dirga Purana menghempaskan tubuhnya ke atas dada Menur Kembiri yang montok dan basah oleh keringat, nafasnya yang sebelumnya terdengar memburu perlahan mulai teratur dan tenang.
Sementara itu tanpa disadari oleh sang bocah udara yang tadinya masih terang-terang tanah tiba-tiba mulai mengelam, kabut tipis berhembus membawa udara yang dingin menggigit. mendung kelabu mendadak muncul dan bergelung membentuk lingkaran tepat diatas kepala kedua anak manusia yang baru habis melampiaskan hasrat berahi tersebut. Kala Dirga Purana mulai menyadari keanehan yang terjadi, pada saat itulah didengarnya Menur Kembiri Berucap. anehnya suara yang keluar dari bibir gadis ini bukanlah suara milik sang gadis, suara yang didengarnya kali ini merupakan satu suara yang amat ditakutinya! Suara yang didengarnya adalah suara seorang lelaki yang terdengar berat, serak dan dalam seolah diucapkan dari dasar sebuah jurang!
“Dirga Purana!!! Anak Keparat!! Lain disuruh lain pula kau lakukan! Mana Jabang bayi yang kuminta!! Kenapa aku tidak bisa mencium, dan merasakannya dari tempatku berada?”
Dirga Purana tersentak dan meloncat kebelakang dalam keterkejutannya. sementara itu dilihatnya Menur Kembiri yang dalam keadaan bugil dan rambut acak-acakan tertatih bangkit dari tanah. Saat pandangan sang gadis bentrok dengan tatapan matanya, maka terperangahlah sang Bocah! Sepasang mata gadis yang tadinya bening bagus kini tidak terlihat lagi namun tergantikan oleh sepasang mata yang berwarna hitam tanpa bagian putih disekitarnya. Yang lebih mengerikan lagi dari sudut mata sang gadis meluncur beberapa ekor belatung gemuk yang berwarna hitam berkilat! Belatung-belatung tersebut tidak hanya keluar dari sepasang mata namun juga dari hidung, mulut, kedua telinga, Pusar, dan Kemaluan Menur Kembiri!
Saat sang bocah melirik ke arah belakang sang gadis, tampak menyembul keluar dari dalam tanah sesuatu seperti Akar beringin yang menyembul dan masuk kedalam Dubur gadis itu! Walau keadaannya sedemikian rupa, namun sang gadis seperti tidak merasakan Bagaimana binatang-binatang menjijikan itu keluar dari tubuhnya, maupun akar beringin yang menembus duburnya! Dengan tubuh terbungkuk dan tertatih gadis tersebut melangkah mendekati Dirga Purana yang saat itu merasakan seluruh tubuhnya kaku laksana terpantek ke bumi, keringat dingin memercik di keningnya.
“Junjungan Tertinggi Yang Mulia Jenazah Simpanan…” ucap sang Bocah tercekat.
“Anak keparat!!! Kerjamu hanya bersenang-senang menyalurkan nafsu terkutukmu! Menyesal aku memberikan kepercayaan untuk menyelesaikan tugas ini…” seru sang gadis masih dengan suara yang terdengar bagai dari dalam jurang.
“tu..tunggu yang mulia, dengar dulu penjelasan hamba, hamba tidak mampu mengambil bayi itu karena bayi itu dilindungi oleh satu kekuatan yang luar biasa! Disamping itu banyak tokoh berilmu tinggi yang melindunginya! Hamba mengaku salah, hamba mohon diberi kesempatan sekali lagi…” ucap Dirga Purana tersendat sementara dalam hatinya berkata “Celaka!! Mega Kuning Menyembah Bumi!! Aku tak bisa menggerakkan tubuhku!!” hati sang bocah mulai gelisah, sang bocah berusaha mengalirkan tenaga dalam kearah kedua kakinya yang terpantek namun sia-sia! Nampak asap kuning tipis keluar dari dalam tanah pertanda dengan ilmu yang sama, sang bocah berusaha untuk membebaskan diri namun usahanya gagal!
“he.he.he. kau pikir kau bisa Melarikan diri dengan ilmu itu? Ilmu Mega kuning menyembah bumi milikku seratus kali lebih kuat dari milikmu! Karena akulah yang menciptakannya! Kau sudah tidak ada gunanya lagi! Tapi aku masih membutuhkan mu… tepatnya Jenazahmu…!” ucap sang gadis dengan terkikik lalu dengan gerakan secepat kilat Menur Kembiri mengembangkan kedua tangannya dan ajaib! Kedua tangan Menur Kembiri tiba-tiba berubah panjang dan mencengkram kedua pundak Dirga Purana! Tidak hanya sampai disitu, tiba-tiba saja leher sang gadis pun berubah memanjang sehingga tahu-tahu kepala sang gadis telah tiba sejengkal didepan wajah dirga purana yang pucat pasi!
Mendadak dari kejauhan terdengar bunyi Lonceng berdentang lalu dari angkasa laksana tabir turun sinar berwarna kuning yang mengarah ke tubuh Menur Kembiri!
“Adinda Mimba Purana..” desis Dirga Purana, sementara Menur Kembiri memalingkan wajahnya memandang kearah tabir Sinar Kuning yang hendak melabrak dirinya. puluhan belatung berhamburan dari bibirnya kala mulutnya menyunggingkan senyum yang menggidikkan.
“Bara Moksa Geni!!!” satu teriakan membahana keluar dari mulut Menur Kembiri,
sesaat lagi sinar kuning menghantam Menur Kembiri tiba-tiba Pohon Beringin mendadak dilamun api berwarna hitam! Sungguh aneh! Api berwarna Hitam yang mengobari Pohon Beringin tiba-tiba menggebubu keatas dan langsung menyongsong datangnya sinar kuning terang! Tapi yang terjadi tidak hanya sampai disitu! Mendadak ke delapan batu merah yang mengelilingi pohon beringin terlihat berpendar dan nampak delapan sinar putih Redup berkiblat keluar dari kedelapan batu merah memapasi serangan Api Hitam yang dilontarkan Pohon Beringin Raksasa! Satu letusan keras terdengar membahana di seantero Jurang langit pendam, Cahaya kuning, putih dan hitam yang saling bentrok membuat satu ledakan bola api yang sangat besar dan menyilaukan mata! Tampak potongan kain bermotif catur berhamburan di udara yang panas akibat pertemuan tiga hawa sakti yang bentrok di udara!
Hantaman tiga hawa sakti di langit Jurang pendam membawa pengaruh yang hebat di daerah sekitarnya, pohon-pohon dan rerumputan tercabut dari tempatnya dalam keadaan hangus merangas, kedelapan batu yang berdiri mengelilingi pohon beringin tampak bergulingan tumpang tindih! Di beberapa tempat terlihat onggokan daging mengepulkan asap menyebar menggidikkan!
Sebenarnya apa yang terjadi? Pada saat terjadi bentrok antara tiga kekuatan yang berbeda, Dirga Purana yang tak kuasa untuk bergerak hanya bisa mendelikkan matanya pasrah! Sementara Menur Kembiri yang disusupi oleh satu kekuatan tiba-tiba dengan sekuat tenaga menghentakkan tangannya yang memegang bahu Dirga Purana dan melemparkan bocah tersebut kearah Pohon Beringin! Dirga Purana menjerit keras kala tubuhnya menghantam kulit pohon yang membara! punggungnya laksana digarang di atas Pendiangan! Tiba-tiba dalam hitungan detik sebelum ledakan pecah diudara, dari dalam pohon keluar sulur-sulur akar yang langsung membelit tubuh dan menarik Tubuh Dirga Purana masuk Kedalam Pohon beringin! Sementara itu diluar pohon bunyi letusan dan kekuatan ledakan dari bentroknya tiga hawa sakti menghantam ke segala arah termasuk menghantam kearah Tubuh Menur Kembiri yang tegak tergontai
“Akhirnya bebas…” ujarnya sembari tersenyum sepersekian detik sebelum tubuhnya meledak terhempas kekuatan dahsyat hasil bentrokan tiga kekuatan sakti.
Sementara itu sesaat setelah letusan besar terjadi, dari atas langit perlahan turun sebentuk awan kelabu mengitari daerah seputar jurang langit pendam. Sesosok bocah berbaju hitam dengan perawakan sama dengan Dirga Purana tampak terduduk lesu di atas awan sembari menatap kearah pohon beringin raksasa. “Kakang Dirga Purana… aku terlambat…” desisnya penuh duka. Sementara itu Dirga Purana Yang tubuhnya terbelit rangkaian akar pohon beringin tidak kuasa untuk bergerak dan membuka mata, seluruh tubuhnya serasa ditancapi ratusan jarum berapi! Untuk beberapa saat dia merasa tubuhnya seakan diseret di semacam lobang yang pengap dan panas!
setelah merasa tubuhnya tidak terseret lagi, sang bocah berusaha untuk membuka matanya dan ajaibnya kali ini dia mampu untuk membuka matanya! Dan apa yang disaksikannya membuat sang bocah merinding dan tercekat! Sang bocah mendapati dirinya berada dalam satu ruangan atau rongga bawah tanah yang amat luas. ruangan itu terlihat terang benderang namun cahaya terang yang menyinari ruangan itu bukan berasal dari sinar matahari melainkan berasal dari lahar yang menggelegak didasar ruangan! Ya, ruangan yang berada dibawah pohon beringin itu tidak memiliki dasar selain dasar berupa lahar yang mendidih menggelegak!
Saat memandang keadaan dirinya maka terkejutlah sang bocah! Dirinya ternyata hanya tergantung di udara bebas hanya dibelitkan oleh beberapa helai akar beringin! Kembali sang bocah menyapukan pandangannya, dan sang bocah kembali terpaku karena sang bocah mendapati bahwa ternyata dia tidak sendiri! Di sekelilingnya tidak kurang dari ratusan bahkan mungkin ribuan orang tergantung oleh akar beringin yang menjuntai di atas kepulan lahar yang membara! Orang-orang tersebut terdiri dari orang tua, muda, pria dan wanita dari berbagai umur dan kalangan. Sekali memandang saja Sang Bocah tahu kalau semua orang yang tergantung itu semuanya sudah lama menjadi mayat, ratusan bahkan mungkin ribuan tahun. Hal ini bisa disimpulkan dari pakaian yang dikenakan oleh mayat-mayat tersebut. Yang menjadi tanda tanya dihati sang bocah adalah bagaimana mayat-mayat yang sudah meninggal lama tersebut tetap awet dan tidak membusuk.
Selagi sang bocah termangu menatap pemandangan disekelilingnya tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh satu suara yang bergaung seakan dari dasar jurang
“Dirga Purana, apa yang kau lihat merupakan seluruh koleksi ku yang paling berharga. Mereka adalah orang-orang hebat dijamannya yang takluk dan tunduk dibawah kekuasaanku. Dan sebentar lagi kau akan mendapat kehormatan menjadi salah satu bagian dari mereka” ucap suara tersebut.
Dirga purana berusaha memandang ke atas mencari asal suara dan pandangannya pun terbentur pada satu sosok yang menggidikan! Sosok tersebut hanya merupakan jerangkong yang terbenam pada salah satu bonggol akar beringin. kepala tengkoraknya berwarna hitam dan dikeningnya terlihat mencuat sepasang tanduk yang berwarna hitam. sosok tersebut kedua tangan terlihat bersidekap menggenggam suatu benda bercahaya yang tidak bisa dilihat oleh Dirga Purana, tampak akar-akar beringin mengitari seluruh tubuh tengkoraknya sementara bagian pinggul dan kedua paha serta kakinya tidak terlihat karena terbenam dalam Pokok bonggol akar beringin dan dari pokok-pokok akar beringin inilah terangkai satu sambungan pokok-pokok akar halus lainnya yang membelit dan menghubungkan ratusan bahkan mungkin ribuan jenazah dibawahnya!
Tiba-tiba makhluk tengkorak hitam mengeluarkan bentakan keras “Lamanyala! Bangun! Pimpin seratus Laskar Iblis dan Rebut Jabang Bayi Pantangan! Setelah itu bergabung dengan dua kawanmu yang lain dan bumi hanguskan Mataram!”
satu untaian akar yang tergantung hingga kebawah Lahar tiba-tiba bergerak naik dan dari dalamnya terlihat satu sosok yang dilamun kobaran api bergerak bangkit seraya melepaskan diri dari belitan akar dan langsung berdiri diatas Lahar mendidih!
Tidak hanya sampai disitu, perlahan dari dalam lahar mendidih mencuat kepala lalu seluruh badan ratusan makhluk yang tubuhnya dikobari api! Sosok yang dipanggil dengan sebutan Lamanyala adalah satu sosok jerangkong berjubah hitam dan seluruh tubuhnya dilamun api sementara bagian tubuhnya sebelah kiri hanya merupakan sebuah geroakan besar! (Perihal diri Lamanyala, Silahkan mengikuti serial Wiro Sableng di negeri Latanahsilam dalam episode : Hantu Langit Terjungkir)
Lamanyala terlihat membungkukkan diri diikuti oleh seratus makhluk api lainnya. “Titah Yang Mulia Junjungan Tertinggi Jenazah Simpanan adalah hukum, dan hukum Adalah Yang Mulia Jenazah Simpanan, kami siap menjalankan titah”
sosok jerangkong hitam bertanduk yang dipanggil Yang Mulia Tertinggi Jenazah Simpanan ganda tertawa kemudian kembali menyahut. “cepat laksanakan tugasmu wahai Lamanyala! Ingat waktu kita hanya sampai Bulan Biru di Mataram Berakhir! Setelah itu kita akan kembali tertidur dan hanya bisa bangkit delapan ratus tahun mendatang! Ingat itu! Oleh karena itu kau harus bisa membunuh Jabang Bayi Pantangan dan membumi hanguskan Mataram dalam waktu semalam ini!” ucap Jenazah simpanan menggetarkan pelosok ruang goa.
Lamanyala terlihat menganggukan kepala “Ucapan Yang Mulia akan kami laksanakan, Kami pergi sekarang, mohon bantuan yang mulia untuk mengirim kami ke atas.
Makhluk jerangkong ganda tertawa lalu dari sepasang matanya yang bolong memancar sinar merah yang langsung menyambar tubuh Lamanyala dan seratus Laskar Iblis. Sinar tersebut langsung membungkus tubuh mereka dan mengubah tubuh mereka menjadi cahaya merah yang sangat kecil. Dengan sekali sentak cahaya-cahaya merah terlihat melesat menembus keatas melalui cabang-cabang akar beringin yang ada di bawah tanah. Kepala jerangkong hitam kembali berpaling kearah Dirga Purana.
“Sekarang adalah Giliranmu…” kekeh sang Jerangkong yang dipanggil dengan sebutan Yang Mulia Tertinggi Jenazah Simpanan sembari menatap Dirga Purana. Bocah yang dipandang menjadi ketakutan setengah mati sebelum akhirnya terhenyak kala tiba-tiba satu sinar berkiblat melalui akar–akar pohon yang melilit tubuhnya!
Diga purana berusaha memberontak untuk membebaskan diri, namun sia-sia semata! Perlahan dirasakannya seluruh tenaga baik dalam maupun luar yang dimilikinya terhisap oleh akar-akar pohon beringin.
“benar-benar tenaga dalam yang maha dahsyat! Benar-benar anak pilihan! Jika saja aku bisa menyerap seluruh tenaga Adikmu Mimba Purana, Pastilah tak ada yang akan mampu mengalahkan aku bahkan Dewa sekalipun! Ha.ha.ha.” ucap Sang Jerangkong Hitam sembari tertawa terbahak-bahak.
sementara itu perlahan demi perlahan dalam rasa sakit yang amat sangat akhirnya meninggallah Dirga Purana, bocah yang selama hidupnya bergelimang dosa dan menjadi budak nafsu dirinya sendiri. Mati dalam keadaan habis terhisap seluruh tenaganya luar dalam!

***


Jenazah Simpanan4
Sementara itu ditempat lain, setelah menerapkan ilmu Menembus Pandang pemberian Ratu Duyung ke seantero pelosok Keraton dan sekitarnya Wiro pun menghembuskan nafas lega.
"Yang Mulia, saya rasa keadaan sekarang sudah aman. Yang Mulia dan keluarga bisa segera masuk ke dalam istana. Saya dan para sahabat akan tetap berada di sini sampai sang surya terbit. Selain itu, sudah saatnya saya harus menyerahkan Keris Kanjeng Sepuh Pelangi Kepada Yang Mulia” Ucap Sang Pendekar sembari mengangsurkan bungkusan kain putih berisi Keris Kanjeng Sepuh Pelangi kepada Raja mataram yang berdiri didepannya.
Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala Raja Mataram tersenyum dan menerima Keris yang diangsurkan Wiro. Keris Kanjeng Sepuh Pelangi ditaruhnya dikening kemudian sesudah merangkapkan tangan diatas kepala keris sakti tersebut kemudian dicium. Raja Kemudian memerintahkan keluarganya dan anggota kerajaan lainnya untuk segera masuk ke dalam keraton.
“Ksatria Panggilan, aku selaku raja Mataram sungguh berterima kasih atas semua yang kau lakukan, Aku memberimu izin untuk menggunakan Keris Kanjeng Sepuh Pelangi untuk Mengobati penyakit sahabatmu Sakuntaladewi” ucap sang raja sembari mengangsurkan Keris Kanjeng Sepuh Pelangi kepada wiro. Wiro pun menerima kembali keris yang diangsurkan kepadanya, saat tangannya menyentuh bungkusan keris dirasakannya perbedaan dari sebelum dia memberikan keris sakti tersebut kepada raja mataram. Ada hawa hangat menjalari kedua tangannya yang memegang keris tersebut.
”Tampaknya daya Linuwih dan Kuasa Keris ini bertambah setelah mendapat restu dari Paduka Raja” gumam sang pendekar dalam hati.
“dan jangan lupa wahai Ksatria Panggilan, kesembuhan sahabatmu Dewi Kaki Tunggal akan terlaksana sepenuhnya setelah kau melaksanakan Kaul yang telah diucapkannya dan disetujui oleh Dewata” Sambung sang raja.
“Buset, apa benar aku harus kawin dengan Dewi Kaki Tunggal? Kalau dihitung-hitung Sudah dua Kali aku kawin, dengan ini bakalan jadi yang ketiga! Maknya!” ucap sang pendekar sambil menggaruk-garuk rambutnya yang gondrong. (mengenai perkawinan wiro yang pertama silahkan baca serial Wiro ditanah silam dalam episode: Rahasia Perkawinan Wiro. Sedangkan perihal perkawinan Wiro yang kedua dengan Mendiang Puti Andini silahkan baca serial Wiro episode: Kitab Seribu Pengobatan)
Wiro beranjak mendekati tempat dimana Sakuntaladewi atau Dewi Kaki Tunggal berdiri.
“Dewi, maafkan kelancanganku aku akan mencoba mengobati penyakitmu, kuharap kau mau menaikkan sedikit kainmu” ucap sang pendekar sembari menatap Sakuntaladewi.
Orang yang ditatap menjadi merah wajahnya dan tak kuasa untuk membalas tatapan Wiro. Sakuntaladewi kemudian beranjak ke sebuah batu berbentuk datar yang ada di tepian sebuah kolam atau sendang kecil yang berada di depan Keraton diikuti oleh semua orang disitu termasuk Raja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala. Setelah Sakuntaladewi duduk bersimpuh diatas batu tersebut, Sakuntaladewi kemudian menaikkan kain penutup kakinya hingga sebatas paha sehingga memperlihatkan auratnya yang meski hanya berupa sebuah kaki namun berwarna putih menantang. wajah sang gadis terlihat merah jengah. Wiro menenggak ludah melihat apa yang dilihatnya didepan, sementara itu Raja Rakai kayuwangi dan Kakek Kumara Gandamayana hanya memandang sejurus kemudian berganti memperhatikan Wiro. Senyum-senyum kedua orang penting di Bhumi Mataram ini memperhatikan Sang Pendekar yang tubuhnya gemetaran panas dingin!
Sementara itu Ratu Randang dan Kunti Ambiri tampak meneteskan airmata. Dalam hati keduanya sesungguhnya amat mencintai Wiro. Walaupun terpaut jauh usianya dengan Wiro, Ratu Randang maupun Kunti ambiri yang dulunya dikenal sebagai Dewi Ular telah mengalami banyak peristiwa yang membuat hati mereka amat dekat dengan sang pendekar. Kini saat melihat sang pendekar hendak melaksanakan Kaulan untuk mengobati dan menikahi Sakuntaladewi, walaupun dalam hati ada rasa senang akan kesembuhan seorang sahabat, namun dalam hati keduanya cukup banyak juga tidak relanya!
Perlahan Wiro mulai membuka kain Putih pembungkus keris Kanjeng Sepuh Pelangi, Cahaya biru di iringi seiris warna pelangi tampak menerangi udara. Wiro kemudian meletakkan Keris Kanjeng Sepuh Pelangi ke atas keningnya lalu dalam hati sang pendekar berdoa “Ya Gusti Allah, Jika Kesembuhan memang kehendakmu, Biarlah Dengan Restumu kau berikan kesembuhan melalui keris di tangan Hambamu ini..” Sang Pendekar kemudian menyapukan perlahan Keris Kanjeng Sepuh Pelangi diatas permukaan kaki Sakuntaladewi.
Sakuntaladewi terpekik kecil kala dari sekujur kakinya terlihat letupan-letupan api lelatu berwarna biru! Asap tipis berbau setanggi menggebubu menyelimuti kaki Sakuntaladewi
“Wiro Lihat! Kakiku…” Tiba-tiba Sakuntaladewi memekik sembari memeluk leher sang pendekar kala asap tipis berbau setanggi yang menutup kakinya sirna, kini dihadapan semua orang tertampak sepasang kaki putih bagus menjela di atas Batu datar. Sakuntaladewi mengusap kedua kakinya silih berganti kemudian kembali sang Gadis menatap Wiro, sementara yang ditatap hanya cengar-cengir sembari mengaruk rambutnya yang gondrong, kemudian tanpa disangka-sangka sang gadis menghamburkan diri memeluk sang pendekar air matanya menitik kala ucapannya lirih terdengar ditelinga Wiro “Terima kasih.. Suamiku..”
Murid Sinto Gendeng yang mendengar ucapan sang gadis tiba-tiba langsung meriang! Mendadak udara malam yang sebelumnya dingin sejuk tiba-tiba berubah panas dan pengap! Kala itulah tiba-tiba keris Kanjeng Sepuh Pelangi yang masih berada digenggaman Wiro bergetar dan tiba-tiba melesat keangkasa lalu menukik kearah Sang baginda Raja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala!
Sementara itu berbarengan dengan melesatnya Keris Kanjeng Sepuh Pelangi Ke angkasa tiba-tiba berhamburanlah hampir ratusan Cahaya merah bergeredepan kearah Wiro dan Kawan-kawan!
“Awas Serangan…! Wiro Lindungi Raja..!” Ratu Randang yang pertama menyadari adanya serangan berteriak memperingati sembari melepaskan pukulan sakti kearah cahaya merah yang ternyata adalah puluhan bahkan ratusan batu merah menyala yang berhamburan kearah mereka!
Sementara itu Kunti Ambiri yang berada disebelahnya juga tidak tinggal diam, dengan cepat disebatkannya kedua tangannya kedepan, satu rangkum angin berbau amis menderu memapaki datangnya batu-batu merah menyala tersebut. Sementara itu saat batu-batu merah membara melesat menghantam Wiro dan temannya-temannya, tak jauh dari situ Eyang Kumara Gandamayana bergerak cepat kedepan untuk melindungi Raja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala, Sorbannya hendak dikebutkan kedepan kala dari arah yang sama dimana Batu-batu merah melesat, melesat pula sepuluh larik sinar hitam yang saling bersilang!
Wiro yang sempat sesaat melihat kearah Raja akibat teriakan Ratu Randang, terkejut besar dan tanpa sadar berteriak kencang  kala melihat cahaya pukulan yang sedang menghantam Eyang Kumara Gandamayana dan Raja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala.
“Lima Kutuk Dari Langit! Astaga Bagaimana bisa..?” sang pendekar tidak sempat berpikir lebih lama, cepat diangkat tangannya yang sebelumnya dipakai untuk memeluk Sakuntaladewi, Namun sebelum Wiro sempat melepaskan Pukulan Matahari, dari angkasa secara tiba-tiba Menukik Keris Kanjeng Sepuh Pelangi ke arah Raja Rakai Kayu wangi Dyah Lokapala! Saat jarak keris mencapai kurang dari sepuluh depa dari Raja Mataram, keris itu bergerak berputar membentuk kipas dengan cahaya pelangi melindungi Raja Mataram! Kesepuluh larik cahaya hitam yang hendak menghantam Raja dan Eyang Kumara Gandamayana langsung terpental dan berhamburan sirna di angkasa!
“Sang Hyang Jagatnatha! Terimakasih Keris Kanjeng Sepuh Pelangi, Kau sudah melindungiku…” ucap syukur Raja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala kala Keris Kanjeng Sepuh Pelangi yang sebelumnya berputar di hadapannya dan telah menangkis serangan kesepuluh Larik cahaya hitam perlahan turun dan berhenti tegak dihadapannya. Sang raja pun langsung mengambil keris yang tergantung di udara itu meletakkan dikening dan kemudian menciumnya.
Sementara itu dari atas sebuah Pohon Randu sejauh lima puluh lemparan tombak dari tempat wiro dan kawan-kawan berada meloncat turun dua sosok tinggi besar, sosok pertama berjalan mendekati kearah kawanan Wiro, saat sosok tersebut mulai tampak jelas, berdirilah bulu kuduk sang pendekar! Sosok didepannya berwujud seorang pria dengan keadaan tubuh yang mengerikan, sepasang matanya memiliki masing-masing dua bola mata berwarna biru! Pakaian yang dikenakan adalah sehelai celana gombrang dari kulit kayu yeng diberi jelaga hitam. Namun yang paling mengerikan adalah dikepala pria ini mulai pertengahan kening melekat ratusan batu-batu berwarna merah membara mengepulkan asap tipis! Batu-batu yang sama juga terlihat melekat sepanjang perut dan dada makhluk satu ini!
“Hantu Bara Kaliatus! Tidak mungkin! Bagaimana makhluk kapiran satu ini bisa ada di tanah Mataram? Kalau begitu seorang lagi jangan-jangan…” Wiro hendak berdiri untuk memastikan namun terpaksa ditunda saat satu tangan halus mencekal pundaknya. satu erangan keluar dari mulut gadis yang masih berada dalam pelukannya. “Wiro…” kejut sang pendekar bukan kepalang kala didapati Sakuntaladewi yang masih berada dalam pelukannya terkulai bersimbah darah, dibagian dadanya terlihat satu geroakan lobang sebesar hampir sekepalan anak kecil mengeluarkan asap dan hawa panas!
“Ya Tuhan! Dewi… apa.. apa yang…??” tergagap Wiro kala melihat wajah Dewi Kaki Tunggal yang pucat dengan luka parah dibagian dadanya, rupanya saat serangan batu-batu merah menyala yang dilontarkan oleh makhluk yang bukan lain adalah Hantu Bara Kaliatus salah satu Musuh Wiro di Negeri Latanahsilam ini, Sang gadis adalah orang yang pertama kali melihat datangnya serangan, namun sang dara tidak sempat memperingati maupun menangkis serangan karena kedua tangannya memeluk leher Wiro, yang bisa dilakukan adalah menggerakan tubuhnya sehingga menggeser tubuh Wiro kesamping! Akibatnya bisa dilihat sendiri! ada sebuah batu yang tidak sempat ditembus oleh pukulan sakti Ratu Randang dan Kunti Ambiri, Dengan telak menghantam dadanya!
Selekasnya Wiro mengeluarkan kedelapan bunga Matahari kecil yang ada dibalik pinggangnya dan disapukan ke dada Sakuntaladewi.
“Dewi bertahanlah! Kau pasti sembuh” ucap sang pendekar sembari terus membelai kedelapan Bunga Matahari Kedada sang gadis. Saat itulah terdengar suara kecil yang tidak tampak. “Ksatria Panggilan, kami tidak bisa membantumu menyembuhkan gadis ini walaupun kami sangat ingin… gadis itu telah meninggal… rohnya telah pergi…”
Wiro terkejut besar kala mendengar suara yang diketahuinya berasal dari Kedelapan Bunga Matahari ditangannya. “tidak mungkin! Kemampuan kalian begitu hebat! Masakan kalian tidak mampu menolong Gadis ini?” teriak sang pendekar sembari memeluk erat tubuh Sakuntaladewi.
Sementara itu Kunti Ambiri dan Ratu Randang terlihat berpelukan sembari menangis sesenggukan “kuasa kami sangat terbatas wahai ksatria panggilan, hidup dan mati merupakan kuasa Sang Hyang Jagatnatha, kami tidak punya kemampuan membangkitkan nyawa orang yang sudah meninggal!” suara kecil kembali terdengar lalu tiba-tiba bunga matahari di tangan wiro menghilang dan kembali ke balik pinggangnya.
Sang pendekar terlihat terpaku menatap wajah dingin yang tersenyum padanya itu. perlahan dikecupnya kening jenazah Sakuntala Dewi lalu dibaringkannya ke tanah. mata sang pendekar terlihat memancarkan cahaya aneh saat memandang kearah Hantu Bara Kaliatus yang berdiri dihadapannya.
Didahului raungan keras sang pendekar melesat terbang laksana kilat ke arah Hantu Bara Kaliatus! “Hantu Keparat…!!!Kembalikan Nyawa istriku!” teriak sang pendekar penuh kemarahan. Kedua tangannya yang bersinar keperakan langsung menghantam kearah Hantu Bara Kaliatus!
Sesaat lagi dua sinar pukulan matahari meluluh lantakkan tubuh Hantu Bara Kaliatus, tiba-tiba Wiro merasakan Sambaran Angin tendangan dahsyat dari atas Kepalanya!
“Kaki Batu Penghantar Roh!” teriak Wiro Kala mengenali jurus tendangan yang mengancam kepalanya! Secepat kilat Wiro melompat menyelamatkan diri. Pukulan Matahari yang di hantamkan ke arah Hantu Bara Kaliatus menjadi melenceng jauh dan menghantam gapura keraton yang langsung hancur hangus berantakan!
Untuk sesaat Wiro memegang pundaknya yang terasa perih terkena serempetan angin tendangan. Kala matanya menumbuk satu sosok yang tadi berusaha menggagalkan serangannya pada Hantu Bara Kaliatus tubuh Sang Pendekar tiba-tiba Bergetar keras! Satu teriakan terdengar keluar dari mulut sang pendekar! “Lakasipo….! Ya Tuhan…!”

***


Jenazah Simpanan 5
Sementara itu Didalam Candi yang disebut dengan sebutan Rumah Ketentraman dan Keselamatan, satu sosok jerangkong terlihat keluar dari dalam tanah sembari mencekal tangan Ning Rakanini yang berusaha menusukkan tusuk konde dikepalanya ke perut Arwah Ketua Penguasa Candi Miring.
“Tanggalkanlah Amarah Dan Kebencianmu Ajeng Puteri, janganlah masalah Pribadi membutakan hati dan akal sehatmu…” ucap Sang jerangkong atau yang lebih dikenal dengan sebutan Lor Pengging Jumena seraya melepaskan pegangannya pada tangan Nenek Katai Ning Rakanini.
Sang nenek perlahan menurunkan tangannya lalu menancapkan kembali tusuk konde di tangannya yang sedianya tadi hendak ditusukkan ke perut Arwah Ketua kembali ke batok Kepalanya. Kepalanya tertunduk tak berani menatap mata jerangkong makhluk yang berdiri dihadapannya.
Sementara itu Arwah Ketua terlihat merangkapkan tangannya kearah lor Pengging Jumena “Salam hormatku Wahai Lor Pengging Jumena maafkan ketidak sopananku ini…” ucap sang kakek penjaga Candi miring ini.
Kepala jerangkong Embah Buyut Kumara Gandamayana ini berputar memandang kearah makhluk yang dipanggil dengan sebutan Arwah Ketua ini. “aku menerima salam Hormatmu wahai Arwah Ketua, semoga berkat sang Hyang Jagatnatha turun keatasmu..” setelah membalas hormat Arwah Ketua, Lor Pengging Jumena kemudian memalingkan wajahnya kearah Resi Kali Jagat, sebelum makhluk jerangkong ini membuka suara, Resi Kali Jagat Ampusena telah terlebih dahulu membuka suara tangannya bersidekap didepan dada sementara tubuhnya dirundukkan sejajar dengan pinggang “Saya mohon maaf sebesar-besarnya Kepada Mbah Buyut Kumara Gandamayana eyang sepuh pelindung kerajaan Mataram, hamba tidak mengetahui sebelumnya kalo hamba berhadapan bahkan sudah ditolong oleh sang Pelindung Bhumi Mataram sendiri. Hamba benar-benar lancang dan pantas dihukum” ucap sang Resi bergetar.
Lor Pengging Jumena kemudian berjalan kearah Sang Resi lalu memegang kedua bahunya dan membangunkan Sang Resi. “Berdirilah Ampusena, kau tidak lancang dan tidak ada yang harus dihukum karena kau tidak bersalah! Justru kau sudah melakukan tugas mulia yang dibebankan kepadamu dengan baik dan tanpa pamrih, tanpa adanya kau niscaya bayi suci dan malang ini tak akan bisa diselamatkan. Perlu kau dan semua orang yang ada disini ketahui, di tangan jabang bayi ini nanti seluruh keselamatan dan ketentraman Bhumi Mataram bahkan seluruh Tanah Jawa Dwipa digantungkan…” Lor Pengging Jumena sesaat memandang kearah Ning Rakanini dan Arwah Ketua lalu kembali memandang kepada Resi Kali Jagat Ampusena. ”Aku Meminta maaf sebelumnya kalo tadi aku bersikap seolah tidak mengetahui mengenai dirimu dan perihal jabang bayi dalam Guci tersebut. Pada sesungguhnya aku pun pada dasarnya sama sepertimu, ditugaskan untuk menjaga dan melindungi Bayi Dalam Guci bening tersebut karna sesungguhnya ada satu makhluk jahat yang tidak mengingini kehadiran bayi suci ini ke muka bumi”
suasana hening sejenak terasa kala lor Pengging Jumena mengakhiri ucapannya, setelah beberapa saat Arwah Ketua mulai membuka suara “Aku juga sesungguhnya datang kesini atas petunjuk yang kuterima saat bersemadi di candi miring, Petunjuk tersebut tidak begitu jelas, yang pastinya petunjuk tersebut hanya berupa kisikan yang meminta aku untuk secepatnya datang ke daerah hutan jati ini. Saat aku melihat bayi dalam Guci di tangan Sahabatku Ampusena, aku jadi teringat pada Mimba Purana saat masih orok dulu di sumur api. Aku jadi rindu dan jadi ingin memelihara bayi itu, apalagi tadi kudengar Ning Rakanini menolak saat Ampusena memohon untuk menitipkan bayi padanya jadi kupikir-pikir tidak salah kalo sebaiknya aku saja yang menjaga bayi tersebut bagaimana Lor Pengging Jumena? Apa salah ucapanku?” ucap sang kakek bertanduk yang langsung dibalas pelototan mata jereng Nenek Katai Ning Rakanini. (Mengenai Riwayat Mimba Purana, Silahkan baca Serial Mimba Purana, Satria Lonceng Dewa. Karya Bastian Tito)
Resi Kali Jagat Ampusena menghembuskan nafas berat.
“itulah yang menjadi pikiranku saat ini Mbah buyut, aku tidak tahu lagi harus kubawa kemana bayi ini, aku tidak tahu lagi tempat yang aman selain disini. Sampai sekarang Roh Putih yang menjadi penuntun dan pemberi petunjuk juga belum memberitahukan kemana dan apalagi yang harus kulakukan dengan bayi ini.. sungguh aku sangat khawatir dengan keselamatan bayi ini..” ujar sang Resi sembari menatap sayu kearah Jabang Bayi dalam Guci yang terletak diatas meja batu.
Ning Rakanini yang masih mendelikkan matanya ke Arwah Ketua juga mulai membuka suara. “aku sesungguhnya tidak keberatan dan tidak menolak dengan permintaan Resi Kali Jagat untuk menyimpan bayi itu disini, tapi seperti yang Embah buyut lihat, aku tidak menyangka karena keteledoranku tempatku ini masih bisa dibobol orang.. Rumahku yang disebut orang Rumah Ketentraman dan keselamatan akhirnya tidak membawa ketentraman dan keselamatan lagi buat penghuni didalamnya.” ucap sang nenek masih sambil melotot memandang kearah Arwah Ketua!
Makhluk yang dipelototin hanya senyum-senyum saja, namun tiba-tiba Arwah ketua memandang kearah Resi Kali Jagat dengan pandangan gembira. “tunggu dulu, bukankah masih ada satu tempat yang bisa dijadikan tempat untuk menyimpan jabang bayi ini, satu tempat yang tidak bisa ditembus dan dimasuki oleh sembarang orang, tempat dulu bersemayamnya Keris Kanjeng Sepuh Pelangi!” lonjak Arwah Ketua kegirangan.
“Maksudmu Ruangan Segitiga Nyawa? Tempat itu sudah pernah dibobol sebelumnya oleh Sinuhun Merah Penghisap Arwah melalui Empu Semirang Biru, Disamping Itu ruangan tersebut juga kini sudah tidak ada lagi alias sudah Hancur” Sambung Lor Pengging Jumena membuat Arwah Ketua duduk menjeplok ditanah saking dongkolnya. Kakek berjubah biru ini mengetuk-ngetukan kepalannya ke kepalanya yang bertanduk seakan sedang berpikir namun tiba-tiba tubuhnya terlonjak keatas seakan pantatnya disengat kalajengking!
Sementara itu mata bolong jerangkong Lor Pengging Jumena terlihat bergerak menatap kearah luar bangunan Candi. “Musuh kembali datang…” ujarnya.
“yah, dan jumlahnya tidak kepalang tangung!” keluh Arwah Ketua sembari mengebas pantat jubahnya yang kotor karena debu.
Baru saja Arwah Ketua berucap, Candi batu hitam terasa bergetar keras! Hawa panas luar biasa terasa melingkupi ruangan candi. Sesaat kemudian satu sisi dinding bergerak terbuka dan masuklah tiga orang gadis bermuka bopeng yang sedang membopong seorang gadis yang terluka ditengah-tengah mereka, Mereka langsung berlutut dihadapan Nenek Ning Rakanini
“Mohon ampunan Ajeng Puteri, Ada ratusan Makhluk jahat yang menyerang Rumah Ketentraman dan Keselamatan kita, kami tidak kuasa menahan mereka karena mereka terlalu banyak! Sudilah kiranya Ajeng Puteri menurunkan perintah ” ucap salah seorang gadis masih sembari memeluk gadis yang terluka.
Ning Rakanini cepat menghambur kearah gadis yang terluka diperhatikan dengan seksama wajah gadis yang pucat tersebut, terlihat satu luka hangus berbau sangit didadanya. Sang nenek maklum bahwa nyawa sang gadis tidak akan bisa tertolong lagi “Kunir Arum…” desah sang nenek menyebut nama sang gadis pelayan, sementara itu gadis yang dipanggil namanya hanya tersenyum sesaat kemudian kepalanya pun terkulai kesamping.
Sang nenek menyeka air matanya kemudian bersuara kereng ”kalian kembali ke Rumah Dasar! Bawa dan urus jenazah Kunir Arum baik-baik dan jangan sekali-kali bergerak tanpa menunggu perintahku!”
kedua gadis yang membopong jenazah temannya tersebut kemudian duduk bersujud, seorang dari mereka kemudian menggeserkan sisi kiri kakinya ke lantai, tampak perlahan tubuh para pelayan Ning Rakanini ini seolah amblas kedalam tanah dan kemudian menghilang dari lantai ruangan candi.
Resi Kali Jagat menghela nafas berat “tampaknya kedatanganku dan bayi ini hanya membawa musibah dan petaka bagimu dan tempatmu ini Ning Rakanini…” keluh sang Resi sembari menatap sayu kearah Nenek Katai tersebut
“sudahlah Ampusena, apa yang terjadi bukanlah salahmu, ini semua pasti kehendak Para Dewa. Yang terlebih penting saat ini adalah bagaimana cara kita menghadapi para Makhluk Keparat yang menginginkan Bayi yang kau bawa Ampusena!” ujar sang nenek.
Baru habis berucap dinding candi kembali bergetar keras, kali ini lebih keras dari getaran sebelumnya! Hawa panas terlihat turun dari atap candi yang berlubang.
“tidak ada pilihan lagi! Kita harus keluar dan menghadapi mereka atau tewas ditempat ini!” ucap Arwah Ketua.
Nenek ning Rakanini memandang kearah Lor Pengging Jumena seakan meminta persetujuan, kepala jerangkong Embah Buyut mengangguk menanggapi pandangan sang Nenek, sang Nenek menggerakkan tangannya kearah dinding dihadapannya hingga dinding tersebut bergeser membentuk sebuah pintu. Sedetik kemudian tubuh sang nenek sudah melesat keluar diiringi kelebatan Arwah Ketua, Embah Buyut, dan terakhir Resi Kali Jagat Ampusena yang terlebih dahulu mengambil bungkusan kain hitam berisi Jabang Bayi Dalam guci yang terletak di atas meja batu.
Sesampainya mereka di luar candi terkejutlah keempat orang ini! Pohon Jati besar yang menaungi Candi Batu Hitam yang disebut dengan Rumah Ketentraman dan Keselamatan terlihat dikobari api mulai dari pucuk batang hingga ke seluruh akarnya! Tidak heran Candi Batu terasa panas laksana dipanggang! Tidak hanya sampai disitu, kala Ning Rakanini dan kawan-kawannya menyapukan pandangan ke segala arah tampak bahwa seluruh pohon jati dalam jarak sepuluh tombak dari candi batu semuanya mengalami nasib yang sama dengan pohon jati raksasa, semuanya dilamun kobaran api! Namun bukan hal ini saja yang membuat Resi Kali Jagat dan yang lainnya terkejut, yang membuat mereka terhenyak adalah keberadaan ratusan sosok yang tubuhnya dikobari oleh api menyala yang kini telah mengepung mereka! Sosok-sosok ini tidak dapat diketahui jenis kelaminnya karena sekujur tubuh yang hangus terpanggang dan dilamun kobaran api, makhluk-makhluk api ini berdiri menyebar mengelilingi kawasan Candi batu mengepung Resi Kali Jagat dan yang lainnya. Beberapa dari mereka terlihat bergelayutan diantara pohon jati yang terbakar.
“Gila! Makhluk apa mereka ini? Bagaimana bisa sebanyak ini?” desis Ning Rakanini sembari menyiapkan satu pukulan sakti di tangan kanannya sementara tangan kirinya menggenggam tusuk konde dari batu yang dicabut dari kepalanya.
“kita tidak mungkin bisa mengalahkan mereka sekaligus, apabila mereka menyerang berbarengan kita bisa…” ucap Arwah Ketua Khawatir sembari celingukan kesana-sini, belum habis kakek satu ini berucap, tiba-tiba hampir selusin makhluk yang berdiri mengepung menggerakkan tanggannya kearah Resi Kali Jagat dan kawan-kawan! Dua belas jalur kobaran api sebesar pohon kelapa terlihat mengahantam secepat kilat kearah candi batu!
Nenek Katai Ning Rakanini menggerakkan kedua tangannya, tusuk kundai dan satu sinar hitam terlihat berkiblat, sosok jerangkong Lor Pengging Jumena tidak tinggal diam, kedua tangannya juga mengibas kedepan satu rangkum cahaya biru keluar dari kedua tangan nya yang berbentuk tulang belulang, sementara itu Resi Kali Jagat semakin erat memeluk guci dalam pelukkannya. “Sang Hayang Jagathnata, Tolong Lindungi bayi ini!”
Arwah Ketua yang berdiri paling dekat dengan Resi Kali Jagat langsung berdiri membelakangi sang Resi. “Jangan Khawatir Resi! Masih ada aku disini!” ujarnya tubuh sang Kakek Arwah Ketua tiba-tiba berubah membesar menjadi satu sosok raksasa! Tingginya bahkan mencapai pucuk pohon jati yang terbakar! Tangannya yang besar bergerak turut memapaki dua belas jalur bara api yang datang menghadang!
Satu suara dentuman terdengar keras memekakkan telinga terdengar kala dua belas jalur pukulan makhluk berapi menghantam pukulan-pukulan sakti yang dihantamkan oleh Lor Pengging Jumena dan Ning Rakanini. Sang nenek terlihat terduduk menjeplok ditanah sembari menekan dadanya yang sakit, tampak lelehan darah menetes di sudut bibirnya, sementara itu sosok jerangkong Lor Pengging Jumena terlihat tergontai-gontai mengepulkan asap! Kepala jerangkongnya tertunduk sementara tubuhnya sebatas pinggang terlihat melesak kedalam tanah! Namun yang paling parah dari semuanya adalah Arwah Ketua! Sosoknya sudah kembali mengecil dan tersandar di satu lamping candi yang turut hancur sebagian akibat kekuatan pukulan, jubah birunya hancur berantakan kedua bola matanya yang kecil tak tampak dikedua matanya yang membeliak! Darah mengucur dari mulut, hidung, telinga dan sudut matanya. Hal ini terjadi karena kakek satu ini nekat memapaki datangnya serangan dengan tangan kosong! Sementara itu hanya Resi Kali Jagat yang tidak kurang suatu apapun karena dilindungi oleh Arwah Ketua.
Sementara itu diseberang sana kedua belas makhluk berapi yang tadi melancarkan serangan dan kemudian terpental akibat serangan balik yang dilakukan oleh Lor Pengging Jumena dan Ning Rakanini kini tampak bangkit dan kini hampir semua makhluk berapi yang berjumlahnya ratusan itu terlihat bergerak mendekati Resi Kali Jagat dan lainnya sembari bersiap menlancarkan serangan susulan!
“Celaka… matilah kita kali ini…” keluh Nenek Katai Ning Rakanini sembari menyeka darah dibibirnya. Sang nenek yang terluka parah dibagian dalam akibat bentrok hawa pukulan sakti ini tampak pasrah kala melihat ratusan makhluk api bergerak kearah mereka. sementara itu tubuh Jerangkong Mbah buyut juga bergerak perlahan berusaha membebaskan diri dari dalam tanah, namun saat melihat ratusan makhluk api yang mendekat, kakek jerangkong ini juga hanya bisa keluarkan desahan. Ratusan makhluk api mulai mengangkat kedua tangannya hendak melancarkan satu pukulan secara serentak, Resi Kali Jagat yang melihat hal itu hanya bisa memeluk guci berisi bayi dengan sepenuh tenaga, matanya terpejam pasrah.
Disaat genting itulah tiba-tiba dari hutan jati sebelah barat terdengar satu alunan suara alat musik Saluang yang mendayu membawakan satu gending lagu yang tidak dikenali oleh semua yang ada disitu. Resi Kali Jagat membuka kedua matanya untuk melihat apa yang terjadi. dirinya heran kala mendapati ratusan makhluk yang sedianya hendak menyerang mereka secara bersamaan terlihat terdiam di tempat. Resi Kali Jagat dan yang lainnya tampak saling pandang seakan-akan saling bertanya dalam hati mengenai apa yang terjadi.
Sementara itu Ratusan Makhluk yang tubuhnya dipenuhi kobaran api tampak perlahan-lahan beringsut mundur dari kepungannya terhadap Resi Kali Jagat dan yang lainnya. ada rasa jerih bercampur takut kala mendengar bunyi suara Saluang (alat musik tradisional Minangkabau) yang mendayu perlahan dari arah barat Pohon Jati dimana Resi Kali Jagat beserta kawan-kawannya terkepung. Lain halnya dengan Resi Kali Jagat dan kawan-kawannya, bunyi saluang yang mengalun terasa begitu menyejukkan kalbu dan jiwa sehingga tanpa sadar ucap puji dan syukur atas Rahmat Dewata berkumandang dari bibir ketiganya.
Tak sampai sepeminuman teh kemudian dari arah barat menyeruak kabut tipis beserta hawa dingin yang menggigit, hawa dingin ini tidak begitu terasa bagi Resi Kali Jagat dan yang lain, namun tidaklah demikian bagi Kawanan Makhluk yang dikobari Api! jeritan dan lolongan panjang keluar dari mulut mereka! Tubuh mereka mulai bergelimpangan satu persatu disertai dengan padamnya api di tubuh mereka kala satu sosok yang berjalan diantara kabut tipis melewati tubuh mereka! Seekor Menjangan Bertanduk dan berbulu keemasan terlihat berjalan diantara kabut putih, dipunggungnya duduk seorang kakek berjubah putih berambut panjang. Rambut serta janggut dan kumisnya yang putih terlihat menjela tertiup angin di antara jemari tangannya yang bergerak lincah memainkan sebuah Saluang yang berwarna keemasan. Dipinggangnya tergantung sebuah kantung kulit tersamak dimana terselip enam buah Saluang dengan warna yang beragam!
kala kakek yang duduk di atas menjangan ini tiba dihadapan Resi Kali Jagat dan yang lainnya, tampak tak satu pun makhluk api ada yang masih berdiri tegak. semua makhluk api bahkan yang bergelayutan di atas pohon tampak terkapar! Tak ada lagi nyala api, yang ada hanya tumpukan tubuh-tubuh gosong yang menghamburkan asap sangit!
Sang kakek menghentikan tiupan saluangnya dan memandang kearah Resi Kali Jagat dan tersenyum “kau telah menyelesaikan tugasmu dengan baik Ampusena, sekarang biarlah aku yang menjaga dan membawa bayi yang dititipkan kepadamu” ucap sang kakek lembut. Sembari berucap sang kakek kemudian menggambbil sebuah saluang berwarna putih dari kantung kulit dipinggangnya lalu kemudian ditiupnya perlahan.
Sungguh ajaib! Setelah mendengar irama yang keluar dari saluang putih yang ditiup oleh sang kakek di atas menjangan, Ning Rakanini merasakan sekujur tubuhnya terasa segar! Dadanya yang sakit tiba-tiba merasa lega dan longgar, darah yang tadi merembes dibibirnya juga perlahan berhenti mengucur nenek ini merasakan seluruh tenaganya pulih dengan cepat!
Hal yang sama juga dirasakan oleh Lor Pengging Jumena dan Arwah Ketua, Arwah Ketua yang keadaanya benar-benar mengenaskan tadinya kina sudah bisa tersadar dan bangkit, tubuhnya yang terluka luar dalam dan mengucurkan darah sudah sembuh seperti sedia kala. Disampingnya Lor Pengging Jumena juga tampak telah keluar dari himpitan tanah yang menghimpitnya yang menjadi suatu keanehan adalah tubuh nya yang tadi berbentuk tengkorak telah berubah menjadi seorang kakek berjubah dan bersorban kelabu.
“Tembang Mulih Smaradhana…” desis sang kakek sembari berlutut dihadapan Kakek Peniup Saluang diikuti oleh Resi Kali Jagat, Ning Rakanini dan Arwah Ketua.
“Bangkitlah kalian, tidak sepatutnya kalian bersujud menyembah kepadaku…” ucap sang kakek perlahan setelah menghentikan tiupan saluangnya. “waktuku tidak banyak lagi, hawa kejahatan sudah mulai bergerak sudah saatnya aku harus membawa bayi itu ke tempat tetirahannya, Ampusena majulah kemari.” lanjut sang kakek sembari menunjuk kepada Resi Kali Jagat Ampusena.
Sang resi perlahan maju sembari mendekap Guci berisi jabang bayi.
“maafkan kelancangan hamba yang hina ini, tapi bolehkah hamba tahu apakah hamba saat ini berhadapan dengan Roh Putih pemberi petunjuk? Hamba tidak bermaksud mencurigai, namun hamba hanya ingin sekedar memastikan. Harap kelancangan hamba dimaafkan” ucap Resi Kali Jagat.
Kakek peniup saluang tersenyum lalu setelah mengelus tengkuk Menjangan tunggangannya, sang kakek pun turun dari tunggangannya tersebut namun yang aneh adalah sepasang kaki kekek yang tidak berkasut ini berdiri hanya beberapa jengkal dari bumi alias mengambang!
Sementara itu Resi Kali Jagat mendadak sontak terkejut kala tubuhnya perlahan melayang keatas sementara kasut putih yang dikenakannya tiba-tiba berpendar lalu lepas dari kakinya dan akhirnya melayang dan memasuki sepasang telapak kaki kakek peniup saluang didepannya.
“Bagaimana Ampusena, sudah terjawabkah pertanyaanmu?” tegur sang kakek lembut.
Resi Kali jagat merundukkan kepalanya lalu menghaturkan Guci yang terbungkus kain hitam ditangannya ke arah Kakek Peniup Saluang. “hamba meminta maaf atas kekurang ajaran hamba terhadap Roh Putih, sekarang juga hamba menyerahkan Bayi ini ke tangan Roh Putih.” Ucap Resi Kali Jagat seraya mengangsurkan guci berisi bayi yang langsung disambut oleh kakek peniup Saluang.
“kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik Resi Kali Jagat Ampusena, aku akan memberikan sesuatu kepadamu dan juga yang lain, namun aku harap untuk seterusnya kalian jangan memanggil aku dengan sebutan Roh Putih, Panggil aku dengan namaku, Datuk Rao Basaluang Pitu!” ucap sang kakek seraya menggendong Jabang Bayi dalam Guci.

TA M A T
Episode Berikut:
Si Pengumpul Bangkai

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar