Dendam Orang-Orang Sakti


BASTIAN TITO
PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212
WIRO SABLENG


DENDAM ORANG-ORANG SAKTI 1
LUKA besar di bekas kutungan tangan kanannya itu membuat tenaganya semakin lama semakin mengendur. Kalau tadi dengan segala tenaga yang ada macam manusia dikejar setan dia melarikan diri dari pekuburan Jatiwalu itu, maka kini jangankan lari, berjalan melangkahpun dia sudah tidak sanggup. Tubuhnya terhuyung-huyung. Nafasnya megap-megap seperti mau sekarat!
Saat itu dia berada di tepi sebuah jurang. Dalam larinya tadi dia tak memperhatikan lagi ke mana tujuannya sehingga di mana dia berada saat itu adalah satu tempat yang jarang didatangi manusia.
Sunyi senyap mencekam menegakkan bulu roma. Matanya yang berkunang-kunang, pemandangannya yang semakin mengelam dan daya tenaga yang sudah habis sampai ke batasnya membuat tubuhnya tak ampun lagi jatuh terperosok ke dalam jurang ketika salah satu kakinya terserandung di bebatuan yang menonjol di tepi jurang.
Masih untung jurang itu bukanlah jurang batu, tapi jurang yang penuh ditumbuhi semak belukar. Tubuhnya menggelinding ke bawah membentur semak belukar mengait ranting-ranting pepohonan rendah. Sakit tubuhnya bukan main, apalagi bekas luka kutungan di tangan kanannya. Ketika dia terhampar di dasar jurang, dia tiada sadarkan diri lagi!
Bila dia sadarkan diri maka saat itu matahari sudah hampir tenggelam. Keadaan di dasar jurang sunyi itu gelap dan dingin karena pantulan sinar matahari yang terakhir tidak sampai menyaputi dasar jurang di mana dia berada. Dia berpikir-pikir di mana dia terbujur saat itu. Kemudian denyutan rasa sakit yang amat sangat pada bahu kanannya yang buntung dan masih melelehkan darah itu, membuat dia ingat segala sesuatunya apa yang telah terjadi.
Dia, Kalingundil, beberapa jam yang lalu telah bertempur melawan seorang pemuda sakti bernama Wiro Sableng. Dalam pertempuran itu bukan saja dia terpaksa melarikan diri tapi juga terpaksa kehilangan tangan kanannya karena telah dibetot puntung oleh lawannya!
Dan mengingat ini, di antara rasa sakit yang tiada terkirakan, memerih pula rasa dendam kesumat yang amat sangat. Walau bagaimanapun dia musti dapat meneruskan hidupnya, meski cuma bertangan sebelah. Meski bagaimanapun dia harus dapat membalaskan dendam kesumat akibat perbuatan pemuda Wiro
Sableng yang telah membuat dia cacat seumur hidup itu.
Ketika kedua matanya melihat bintang-bintang yang bermunculan di langit di atasnya barulah disadarinya bahwa hari sudah menjadi malam. Kalingundil tahu bahwa semalam-malaman itu dia tak akan bisa terus terbujur di situ. Dipalingkannya kepalanya ke kanan.
Hanya semak belukar dan pohon-pohon berdaun lebar yang dilihatnya dalam kegelapan. Kemudian dipalingkannya pula kepalanya ke samping kiri. Mula-mula juga hanya kegelapan yang dilihat lelaki itu. Namun samar-samar kemudian di antara semak belukar dalam kegelapan itu matanya masih dapat melihat satu cegukan batu di dasar jurang. Jaraknya dengan tempat dia terbujur saat itu kira-kira sepuluh tombak. Dari pada terbujur di tempat terbuka begitu, Kalingundil berpikir lebih baik pindah tempat ke cegukan batu itu.
Tapi dengan keadaan dan kekuatan badan seperti itu tidak mudah bagi Kalingundil untuk berpindah tempat. Jangankan untuk berdiri, merangkak pun tidak bisa. Jangankan untuk beringsut, bergerak sedikitpun sekujur tubuhnya terasa sakit bukan main, tulang-tulang anggotanya serasa bertanggalan! Namun dengan keyakinan penuh untuk bisa menyelamatkan diri, dengan mengumpulkan segala sisa tenaga yang masih ada, seingsut demi seingsut akhirnya berhasil juga Kalingundil mencapai cegukan batu itu. Ternyata cegukan ini adalah mulut sebuah goa. Dan pada saat itu dia berhasil mencapai mulut goa itu, untuk kedua kalinya Kalingundil jatuh pingsan kembali.
Kalingundil sadarkan diri pada keesokan paginya, beberapa jam sesudah matahari terbit. Anehnya tubuhnya terasa lebih mendingan dibandingkan dengan keadaan hari kemarin. Kalingundil tak habis pikir, kenapa hal ini bisa terjadi. Bahkan ketika dia coba menggerakkan badan dirasakannya kekuatannya yang malam tadi sudah habis sampai ke batas terakhir, kini mulai berangsur kembali.
Dia duduk bersandar ke dinding goa. Pada saat itulah dirasakannya bahwa dari dalam goa keluar semacam hawa yang lembab ngilu-ngilu kuku. Hawa inilah agaknya yang telah mempengaruhi keadaan diri Kalingundil yang telah memberikan kepulihan kekuatan kepadanya.
Kemudian sewaktu dia memandang meneliti ke dinding goa di sekelilingnya, samar-samar, tertutup oleh debu yang menebal, tergugus oleh ketuaan jaman, Kalingundil melihat banyak sekali tulisan-tulisan. Tulisan-tulisan ini kacau balau tak teratur, tapi bila dibaca dan disambung satu persatu, akan merupakan rentetan kalimat yang memberi pengertian pelajaran ilmu silat! Semakin lebar Kalingundil membuka kedua matanya. Apa yang dibaca olehnya itu memang sulit dimengerti mula-mula, ini lain tidak karena tulisan itu menerangkan tentang pelajaran silat yang memang mempunyai dasar-dasar aneh serta tak diketahui dari cabang aliran mana.
Semakin naik matahari, semakin baikan terasa oleh Kalingundil keadaan badannya.
Dengan membungkuk-bungkuk dan tertatih-tatih, setelah habis dibacanya sekalian apa yang tertulis di bagian goa sebelah luar itu maka Kalingundil memasuki goa lebih jauh. Semakin ke dalam semakin terasa hawa lembab yang hangat-hangat ngilu-ngilu kuku tadi. Menghirup udara itu Kalingundil merasakan tubuhnya segar, dadanya lega. Dan semakin ke dalam semakin banyak dilihat Kalingundil tulisan-tulisan. Apa yang tertulis kini adalah mengenai pelajaran ilmu pedang yang aneh dan tak pernah didengar oleh Kalingundil sebelumnya. Tapi sayang sebagian besar tulisan-tulisan yang bersifat pelajaran itu sudah tidak kelihatan atau kabur tak dapat dibaca lagi.
Hawa hangat ngilu-ngilu kuku semakin santar terasa. Kalingundil terus juga masuk ke dalam goa itu sampai akhirnya langkahnya terhenti pada satu pemandangan yang hampir tak dapat dipercayainya.
Goa itu berakhir pada sebuah telaga kecil. Telaga ini lebih tepat disebut kolam karena tepinya dikelilingi oleh batu-batu. Air telaga berwarna biru gelap dan mengepulkan asap kebiruan. Asap inilah yang berhawa hangat ngilu-ngilu kuku dam mempunyai kekuatan ajaib yang menyegarkan tubuh Kalingundil! Di tengah kolam itu terdapat sebuah batu licin yang juga berwarna biru dan di atas batu ini terletak sebuah pedang yang telah buntung, yang panjangnya cuma dua jengkal. Seperti air kolam dan batu licin, senjata ini juga berwarna dan memancarkan sinar biru. Mengapa pedang itu tinggal buntung sedemikian rupa, ke mana bagian yang lancip lainnya? Dan mengapa sampai benda itu berada di situ?
Berdiri beberapa lama di tepi kolam itu Kalingundil merasakan badannya semakin segar. Sedang ketika diteliti luka di bahu kanannya yang buntung itu, luka itupun kelihatannya lebih sembuhan dari saat-saat sebelumnya.
“Air kolam ini mengandung khasiat yang hebat..,” pikir Kalingundil. Dia membungkuk untuk menyiduknya dan sekaligus untuk melihat lebih dekat pedang buntung yang di atas batu. Namun setengah membungkuk, gerakannya terhenti. Di dinding goa di sebelah belakang kolam, di balik kepulan asap samar-samar terlihat barisan huruf-huruf yang sudah agak sukar untuk dibaca tapi masih dapat dikira-kirakan oleh Kalingundil. Di situ tertulis:

Goa Ini “Goa Siluman Biru”
Kolam Ini “Kolam Siluman Biru”
Pedang di Atas Batu “Pedang Siluman Biru”
Cuma Sayang,
Kini Hanya Tinggal Hulu dan Buntung
Siapa Bisa Mendapatkan Ujung Pedang
yang Hilang dan Menyambungnya,
Siapa yang Mempelajari Ilmu Pedang
dalam Goa Ini, Akan Menjadi “Raja Pedang”
Seumur Hidupnya.

Membaca rangkaian kalimat itu, Kalingundil kemudian memandang berkeliling. Apa-apa yang telah dibacanya tadi sejak dari mulut goa sampai ke tepi kolam yaitu tulisan-tulisan di dinding goa semuanya memang merupakan suatu ilmu silat dan ilmu pedang yang aneh. Segala sesuatu yang ditemuinya di dalam goa itu memberikan kenyataan kepada Kalingundil bahwa dulunya goa itu adalah tempat kediaman seorang sakti yang bersenjatakan pedang bernama Pedang Siluman Biru itu. Tapi kenapa pedang itu kini hanya tinggal begitu rupa, dan ke mana buntungannya yang lain?
Untuk kedua kalinya Kalingundil membungkuk. Dengan tangan kirinya dijangkaunya pedang Siluman Biru. Pada detik jari-jari tangannya memegang hulu senjata itu maka aneh sekali mengalirlah suatu aliran yang membuat kekuatan Kalingundil dan keadaan tubuhnya benar-benar pulih seperti sediakala! Bahkan bukan itu saja, kini tubuhnya juga terasa lebih enteng. Dan ketika dicobanya menyiduk air kolam, lebih banyak kekuatan-kekuatan dan keanehan-keanehan baru yang dialaminya!
Kalingundil gembira sekali.
Tanpa menunggu lebih lama dia berlutut di tepi kolam dan berkata, “Pemilik Goa Siluman Biru, di manapun kau berada, siapapun kau adanya, aku Kalingundil mengucapkan terima kasih karena apa yang ada dalam goamu ini telah menyembuhkan aku dari sakit dan luka yang aku alami. Hari ini aku, Kalingundil, mengharapkan segala kerelaanmu untuk sudi mengangkat kau sebagai guru. Apa-apa yang tertulis di goamu ini akan kupelajari dengan tekun...”
Demikianlah mulai hari itu dengan seorang diri dia menekuni setiap apa yang tertulis di dinding goa. Ilmu silat dan ilmu pedang yang coba dipelajarinya seorang diri itu yang hilang dan tak terbaca sehingga dari keseluruhan Ilmu Pedang Siluman yang dipelajari Kalingundil, hanya sepertiganya saja yang berhasil didapat dan difahami oleh Kalingundil. Namun demikian itupun sudah luar biasa sekali. Sehingga empat bulan kemudian ketika dia keluar dari Goa Siluman itu, maka Kalingundil kini sudah berobah seratus delapan puluh derajat dalam ilmu persilatan! Dan ini menambah keyakinan Kalingundil bahwa dia akan berhasil menuntutkan sakit hatinya terhadap pendekar 212 Wiro Sableng!
***

DENDAM ORANG-ORANG SAKTI 2
MENCARI seorang musuh di daratan pulau Jawa yang luas bukan suatu pekerjaan mudah. Ratusan kilometer harus dijalani, puluhan bukit harus didaki dan dituruni, belasan sungai musti diarungi, diseberangi belasan rimba belantara harus dimasuki dan di antara semua itu puluhan halangan harus dihadapi. Halangan atau bahaya yang ditimbulkan alam sendiri serta yang ditimbulkan oleh manusia-manusia yang hidup dalam itu, terutama sekali dalam rimba dunia persilatan! Mungkin berbulan-bulan, mungkin pula bertahun-tahun baru musuh besar itu berhasil dicari. Tapi sebaliknya mungkin pula itu tak pernah berhasil, mungkin si pencari musuh besar itu akan tertimpa bahaya lebih dahulu dalam perjalanan dan meregang nyawa sebelum dendam kesumat terbalaskan.
Kalingundil tahu semua itu. Tapi dia tidak khawatir. Dengan ilmu baru yang kini dimilikinya, meski tidak sempurna, dia yakin akan sanggup untuk menghadapi segala sesuatu dalam perjalanannya mencari Wiro Sableng Pendekar 212, musuh besar yang telah membuat tangannya buntung, yang telah membuat dia cacat seumur hidup! Di samping itu Kalingundil memang sudah punya rencana tersendiri untuk menjelaskan persoalan dendamnya dengan pendekar 212. Dia yakin akan dapat menemui pemuda sakti itu dan dia yakin pula bahwa rencana besarnya untuk menuntut balas akan berhasil!
Pertama sekali ditemuinya Mahesa Birawa atau Suranyali di Pajajaran karena terakhir sekali diketahuinya bekas pemimpin dan guru silatnya itu tengah berada di kerajaan itu. Namun sampai di sana Kalingundil kecewa besar. Bahkan dendam yang ada di dalam hatinya jadi tiada terkirakan bahwa Mahesa Birawa telah menemui ajalnya, mati di tangan Wiro Sableng, sewaktu terjadi pemberontakan besar-besaran tempo hari.
Dengan segala dendam kesumat yang semakin dalam berurat berakarnya itu Kalingundil meninggalkan Pajajaran. Diseberanginya sungai Kendang, diteruskannya perjalanan ke bukit Siharuharu yang terletak tak berapa jauh dari kaki gunung.
Pada masa itu di puncak bukit Siharuharu terdapat sebuah perguruan silat yang bernama Perguruan Teratai Putih. Perguruan ini baru tiga tahun berdiri tapi sudah mendapat nama tenar di sepanjang daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bukan saja karena Perguruan Teratai Putih ini didirikan untuk menolong kaum yang lemah dan menghancurkan golongan hitam penimbul segala kebejatan dan malapetaka serta kemaksiatan, tapi juga adalah karena perguruan silat ini dipimpin oleh seorang tokoh yang sejak sepuluh tahun belakangan ini mendapat nama tenar dalam dunia persilatan. Tokoh ini ialah Wirasokananta, seorang tokoh silat yang berumur lebih dari setengah abad.
Pada saat itu Wirasokananta berada di puncak Gunung Galunggung tengah bertapa memperdalam ilmu batin dan mempersuci diri dari segala kekhilafan-kekhilafan dan dosa-dosa yang pernah dibuatnya selama hidupnya. Pimpinan perguruan diserahkannya pada murid tertua, terpandai dan yang paling dipercayainya yaitu Gagak Kumara.
Perguruan Teratai Putih saat itu kelihatan diselimuti suasana ketenangan. Di dalam rumah besar murid-murid perguruan yang berjumlah delapan orang, enam laki-laki dan dua perempuan duduk bersila dengan khidmat mendengarkan apa yang tengah dibacakan oleh Gagak Kumara yaitu sebuah kitab yang ditulis oleh guru mereka, mengenai sastra hidup, kerohanian, kebatinan dan keduniaan.
Suara Gagak Kumara terang dan jelas, sedap didengarnya sehingga setiap nasihat dan pelajaran yang dibacakannya dapat segera dimengerti oleh saudara-saudara seperguruannya yang tujuh orang itu.
“Dalam hidup ini...,” membaca Gagak Kumara, “setiap manusia akan dan musti melalui tiga tahap kehidupan. Pertama saat atau di mana dia dilahirkan dari rahim ibunya ke atas dunia ini. Kedua tahap selama umur kehidupannya di dunia dan ketiga tahap dia meninggalkan dunia ini, kembali pada asalnya atau mati...”
Sampai di situ pembacaan Gagak Kumara maka di luar rumah besar terdengar suara tertawa bergelak yang disusul dengan ucapan, “Tepat... tepat sekali! Lahir, hidup dan mati! Dibrojotkan ke dunia malang melintang di dunia ini, dan akhirnya mampus! Ha... ha... ha...”
Tentu saja suara yang lantang mengumandang berisi tenaga dalam yang tinggi dan yang bernada menghina ini mengejutkan semua anak murid Perguruan Teratai Putih, termasuk Gagak Kumara sendiri! Semuanya sama memalingkan kepala ke pintu pada saat mana seorang laki-laki berpakaian lusuh, kotor, bermuka angker dan tangan kanannya buntung berdiri di ambang pintu.
“Saudara, kau siapa...?” Tanya Gagak Kumara sesudah meneliti sebentar diri tamu tak dikenal itu. Dia tetap duduk tenang di tempatnya dengan kitab masih terus di atas pangkuannya.
“Tak perlu tanya dulu!” menyahuti laki-laki di ambang pintu seraya menyeringai buruk. “Bicaraku belum habis...!”
Beberapa orang di antara murid-murid Perguruan Teratai Putih kelihatan menjadi penasaran dan menggeser duduk mereka. Namun dengan memberi isyarat diam-diam Gagak Kumara memberi kisikan agar jangan bertindak dulu.
Dan orang yang di ambang pintu meneruskan ucapannya.
Terlebih dahulu dengan jari telunjuk tangan kirinya ditunjukkannya kitab yang ada di pangkuan Gagak Kumara. “Apa yang tertulis di sana, apa yang kau baca tadi betul sekali! Lahir, hidup, mati! Tapi apa kalian di sini tahu bahwa segala apa yang tertulis dan apa yang dibaca tadi itu hari ini akan kalian alami sendiri...?”
“Apa maksudmu, Saudara?” tanya Gagak Kumara. Masih tetap dengan tenang dan tidak beringasan.
Si tangan buntung tertawa mengekeh. “Percuma saja kalau kalian memiliki kitab itu, percuma saja kalian memilikinya kalau kalian tidak tahu apa maksud kata-kataku! Kalian sudah dilahirkan, kalian sudah pernah hidup malang melintang di dunia ini, tapi kalian masih belum pernah merasakan kematian, belum pernah mencoba mampus! Nah... hari ini, untuk membuktikan kebenaran isi kitab butut itu, aku, Kalingundil, akan bersedia menolong kalian untuk mengetahui bagaimana rasanya mampus itu! Ha... ha... ha...!”
Maka kini berdirilah Gagak Kumara dari duduknya. Kitab yang di pangkuannya dilipat dan diserahkan pada salah seorang saudara seperguruannya.
“Saudara,” kata Gagak Kumara pula. “Di dunia ini memang banyak orang-orang yang berotak miring. Aku khawatir kau adalah salah seorang dari mereka dan kesasar datang ke sini!”
Kekehan Kalingundil terhenti. Mukanya membesi. Rahang-rahangnya bergemeletuk. Tangan kirinya bergerak ke pinggang dan sekejapan mata kemudian tangan itu telah memegang sebilah pedang buntung yang memancarkan sinar biru, Pedang Siluman Biru!
Sekali lihat saja, meski senjata itu buntung, namun murid-murid Perguruan Teratai Putih sama memaklumi bahwa pedang yang di tangan manusia tak dikenal dan mengaku bernama Kalingundil itu adalah sejenis senjata sakti, sekalipun puntung tapi tetap berbahaya!
Tiba-tiba Kalingundil berteriak nyaring. Tubuhnya melompat ke muka, pedang buntung bergerak, sinar biru membabat ke samping dan kini tidak sungkan-sungkan lagi melepaskan pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam yang tinggi. Namun betapa terkejutnya Gagak Kumara ketika sambaran pedang buntung di tangan lawannya membuat angin pukulan tenaga dalamnya terpental ke samping!
“Saudara-saudara!” seru salah seorang anak murid Perguruan Teratai Putih. “Manusia kesasar macam begini tak perlu dihadapi satu demi satu. Mari kita tumpas beramai-ramai!”
“Semuanya tetap di tempat!” teriak Gagak Kumara. “Walau bagaimanapun kita harus jaga nama Perguruan dan jangan mencemarkan nama guru! Pegang teguh sifat ksatria dunia per...”
Kata-kata Gagak Kumara tak dapat diteruskan karena saat itu Kalingundil kembali datang menyerang dalam satu jurus yang aneh. Bagaimanapun Gagak Kumara yang sudah berilmu tinggi ini mengelak namun tetap saja ujung yang buntung dari pedang biru di tangan lawan berhasil membabat pakaiannya dan menggores kulit dadanya! Pada detik goresan itu maka Gagak Kumara merasakan badannya menjadi panas.
Kalingundil terkekeh.
“Pedang buntung ini Pedang Siluman Biru, mengandung racun yang jahat. Dalam tiga jam nyawamu akan melayang! Ha... ha... ha...!”
Terkejutlah Gagak Kumara. Demikian juga saudara-saudara seperguruannya yang lain. Gagak Kumara cabut sebilah keris dari pinggangnya. Saudara-saudara seperguruannya yang lain pun segera cabut keris pula dan kali ini Gagak Kumara tidak berkata apa-apa lagi. Maka delapan anak murid Perguruan Teratai Putih dengan sebilah keris di tangan masing-masing mengurung Kalingundil yang bersenjatakan sebilah pedang buntung sakti itu!
Kalingundil hanya tertawa buruk melihat hal ini. “Sebaiknya kalian bunuh diri saja daripada mampus di ujung patahan Pedang Siluman-ku ini!”
“Pedang Siluman...,” desis anak-anak murid Perguruan Teratai Putih dalam hati. Mereka pernah mendengar tentang kehebatan pedang ini dari guru mereka. Tapi dikabarkan sejak beberapa tahun yang silam pedang itu lenyap dan kini muncul dalam keadaan buntung, tapi benar-benar tidak mempengaruhi kehebatannya!
Namun apapun senjata yang di tangan lawan saat itu anak-anak murid Wirasokananta tidak mempunyai rasa gentar atau kecut sedikitpun!
Kedelapannya menyerbu ke muka. Delapan keris berkiblat ke arah delapan bagian dari tubuh Kalingundil! Yang diserang menyeringai lalu membentak keras. Tubuhnya berkelebat, sinar biru dari pedangnya menderu seputar badan! Tiga jeritan terdengar hampir bersamaan dan tiga saudara seperguruan Gagak Kumara roboh mandi darah, nyawanya putus di situ juga!
Gagak Kumara kertakkan geraham. Darahnya mendidih oleh amarah. Namun goresan luka telah membuat tubuhnya menjadi kehilangan tenaga. Dikerahkannya seluruh tenaga dalam yang ada di tubuhnya. Dan mengamuklah Gagak Kumara dengan segala kehebatannya. Namun permainan pedang lawan benar-benar hebat, sulit dan sukar diduga jurus-jurusnya. Satu jurus di muka, dua orang saudara seperguruannya roboh lagi tanpa nyawa. Melihat ini Gagak Kumara segera berseru pada dua orang saudara seperguruannya yang perempuan.
“Wurnimulan, Nyiratih... kalian segeralah tinggalkan tempat ini! Cepat lari selamatkan diri...!”
Tapi kedua gadis itu meski betina adalah betina yang berhati jantan! Wurnimulan menyahuti, “Hidup mati kita bersama kakak Gagak Kumara!” Gadis ini itu berkelebat cepat dan kirimkan satu tusukan cepat ke leher lawan.
Kalingundil tertawa. Dielakkannya tusukan keris itu dengan miringkan badan dan di saat itu pula kaki kirinya bergerak.
Bluk!
Saudara seperguruan Gagak Kumara laki-laki yang terakhir terpelanting ke dinding. Tulang dadanya melesak ke dalam dihantam tendangan Kalingundil. Jantung dan paru-parunya pecah! Nyawanya lepas!
Gagak Kumara sendiri saat itu sudah kehabisan tenaga. Luka di dadanya dan racun pedang siluman sangat mempengaruhi keadaan tubuhnya ke segenap pembuluh darah! Dia tahu sebentar lagi dia pasti akan menyusul saudara-saudara seperguruannya yang lain.
Karena itu sekali lagi dia berseru memberi ingat, “Wurnimulan! Nyiratih! Larilah sebelum terlambat!”
“Gadis-gadis cantik ini tak akan bisa pergi jauh! Nasib kematian kalian sudah ada di ujung Pedang Siluman-ku! Tapi sebelum mati keduanya akan kuhadiahkan dunia terlebih dahulu!”
Kalingundil tertawa mengekeh! Gagak Kumara yang tahu maksud dan arti kata-kata lawannya itu untuk kesekian kalinya berteriak memberi ingat namun kedua gadis itu tak mau ambil perduli malahan menyerang dengan hebat! Kalingundil mengelak gesit beberapa kali. Kemudian dengan kecepatan yang luar biasa, dengan mempergunakan hulu belakang senjata di tangan kirinya, laki-laki itu menotok Wurnimulan dan Nyiratih! Keduanya kini kaku tak bergerak.
Tahu malapetaka apa yang bakal menimpa kedua saudara seperguruannya itu, dengan sisa tenaga yang ada, dengan segala kehebatan yang masih dimilikinya Gagak Kumara menyerbu Kalingundil dari samping.
Yang diserang sambil putar badan berkata, “Ajalmu sudah di depan mata, maut sudah di depan hidung! Baiknya bunuh diri saja...!”
“Terima kerisku lebih dulu, manusia durjana! Kami tidak ada permusuhan dengan kau. Kenapa kekejamanmu lewat takaran macam begini...?!”
“Akh... sudahlah! Biar mulutmu kututup saja saat ini!” kata Kalingundil pula.
Pedang Siluman Biru membabat ke perut Gagak Kumara, dielakkan dengan melompat oleh murid Wirasokananta itu namun begitu melompat, senjata lawan kembali memburu lebih cepat, kini menderu ke muka Gagak Kumara, tak sanggup lagi dikelit oleh laki-laki ini!

***



DENDAM ORANG-ORANG SAKTI 3
USAHA terakhir yang dilakukan Gagak Kumara untuk menyelamatkan dirinya ialah melintangkan keris di mukanya. Pedang Siluman Biru buntung terus membabat, senjata masing-masing beradu keras, bunga api memercik dan keris Gagak Kumara patah dua sedang senjata lawan terus membabat mukanya!
Murid tertua dari Perguruan Teratai Putih itu terhuyung ke belakang. Mukanya banjir oleh darah dan mengerikan sekali.
Perlahan-lahan lututnya tertekuk dan pinggangnya meliuk. Gagak Kumara terduduk di lantai, sebelum tergelimpang dan menghembuskan nafas penghabisan, buntungan keris yang masih tergenggam di tangannya dengan segala tenaga yang ada dilemparkannya ke arah Kalingundil. Tapi serangan yang hampir tiada artinya ini dengan mudah dielakkan oleh Kalingundil.
Kalingundil tertawa mengekeh. Noda darah yang membasahi Pedang Siluman Biru yang buntung itu disekakannya kembali ke balik pinggang. Kemudian laki-laki ini memutar tubuh. Sepasang matanya kini berkilat-kilat memandangi tubuh dan paras Wurnimulan serta Nyiratih yang saat itu berdiri kaku tak berdaya karena ditotok tadi.
“He... he... he... kalian berdua tak perlu mati buru-buru...” kata Kalingundil. Ujung lidahnya dijulurkannya untuk membasahi bibirnya. Dia melangkah mendekati Wurnimulan. Tangan kirinya bergerak dan, bret! Robeklah baju perguruan yang dipakai oleh gadis itu. Dadanya terbuka lebar, putih dan mulus padat. Kalingundil menjadi terbakar tubuhnya oleh nafsu yang menggelegak. Tangan kirinya bergerak lagi... bergerak lagi... bergerak lagi...
***
Sementara itu di puncak Gunung Galunggung, dalam tapanya yang sudah berjalan sembilan belas hari itu tiba-tiba saja Wirasokananta tak dapat meneruskan memusatkan segenap jalan pikirannya. Satu demi satu panca inderanya mulai terganggu. Walau bagaimanapun usahanya untuk memusatkan pikiran dan tenaga batin serta menutup segenap panca-inderanya namun sia-sia saja.
Semuanya membuyar kembali. Semakin dipaksanya semakin sulit.
Mau tak mau akhirnya tokoh silat yang sudah setengah abad ini umurnya terpaksa buka kedua matanya yang sejak sembilan belas hari telah dipejamkannya.
Kedua matanya itu memandang jauh ke muka, memandang ke luar pintu goa di mana dia bertapa. Segala apa yang dilihatnya saat itu, rimba belantara, bukit, sungai, matahari, langit dan awan, semuanya masih seperti sebelumnya dia datang ke situ, tak ada perubahan. Namun hatinya tidak enak, nalurinya membawanya ke satu hasrat yang mendebarkan dada dan menggelisahkan dirinya.
Dan meski ujud kenyataan dari benda-benda di hadapannya yang dapat dilihatnya dari puncak Gunung Galunggung itu tiada perubahan, namun orang tua yang sudah banyak pengalaman dan mengecap ragam kehidupan itu tahu, bahwa di balik semua itu pasti telah terjadi apa-apa di dunia luar sana. Diusapnya wajahnya dengan kedua tangannya. Dia merenung, sejurus kemudian perlahan-lahan turun dari batu hitam di mana dia sebelumnya duduk bertapa. Batu hitam yang diduduki orang tua ini kelihatan berbekas leguk. Ini cukup memberi pertanda bagaimana kehebatan tenaga dalam dan luar Wirasokananta.
Diusapnya lagi mukanya. “Mungkin ada apa-apa terjadi di Perguruan.” kata Wirasokananta dalam hatinya. Dengan mempergunakan ilmu lari Seribu Angin maka sekali berkelebat lenyaplah sosok tubuh orang tua itu dari mulut goa dan kemudian kelihatanlah dia berlari menuruni puncak Gunung Galunggung cepat sekali laksana angin!
Karena sangat terkejutnya, di ambang pintu rumah besar itu sampai-sampai Wirasokananta berdiri mematung untuk beberapa lamanya! Kemudian tubuh yang mematung ini sekujurnya jadi bergetar. “Demi Tuhan... siapakah yang punya pekerjaan ini?”
desisnya. “Dosa besar apakah yang telah kami perbuat sampai menerima malapetaka begini rupa...?”
Murid-muridnya bergeletakan di mana-mana. Semuanya tanpa nyawa dan bergelimang darah. Namun apa yang sangat menusuk mata Ketua Perguruan Teratai Putih itu ialah akan keadaan diri dua orang murid perempuannya, Wurnimulan dan Nyiratih. Keduanya menggeletak di lantai rumah besar tanpa tertutup selembar benang pun. Keris milik masing-masing menancap di tenggorokan dan darah menggelimangi hampir sekujur tubuh kedua gadis itu, dari leher sampai ke dada terus ke selangkangan.
Wirasokananta pejamkan kedua matanya, tak tahan memandangi lebih lama apa yang membentang di hadapannya itu.
Bagaimana juga, dikuatkannya hatinya, namun air mata meleleh juga dari sela-sela kelopak mata yang dipejamkannya itu. Tenggorokannya turun naik menahan keluarnya suara isakan. Beberapa tahun dia telah mendidik kedelapan muridnya itu, beberapa tahun mereka telah berjuang bersama-sama untuk menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan, beberapa tahun mereka bersama-sama telah berjuang untuk menghancurkan kemaksiatan dan memusnahkan kebejatan serta kejahatan, namun hari ini mereka semua menemui nasib semacam itu. Menemui kematian dengan cara yang mengenaskan di luar dugaan Wirasokananta.
Dalam masih pejamkan kedua matanya itu. Ketua Perguruan Teratai Putih ini coba berpikir dan menduga-duga siapakah kiranya manusia yang telah menjatuhkan malapetaka yang begini kejam terhadap anak-anak muridnya, tak bisa diduganya, tak bisa dipikirkannya karena seingatnya dia tak pernah mempunyai seorang musuh pun dalam dunia persilatan.
Wirasokananta membuka kedua matanya kembali. Pada saat inilah, di balik pandangan matanya yang masih digenangi air mata itu pandangannya membentur buku besar buah tulisannya sendiri yang dipantek dengan sebilah keris milik salah seorang muridnya!
Serentetan kalimat, yang ditulis dengan darah, tertera di kulit buku itu.
Kepada:
Ketua Perguruan Teratai Putih
Kalau ingin menuntut balas
kematian murid-muridmu
datanglah ke puncak Gunung Tangkuban Perahu
pada hari 13 bulan 12.
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
WIRO SABLENG

Mata yang digenangi air mata dari Wirasokananta menyipit, membuat air mata yang tadi mengambang menjadi turun meleleh membasahi pipinya.
Ingatannya kembali pada masa puluhan tahun yang silam. Dulu, dunia persilatan memang pernah dibikin geger oleh seorang tokoh utama yang digjaya tiada tandingan. Tokoh yang telah merajai dunia persilatan selama bertahun-tahun ini adalah Eyang Sinto Gendeng, seorang pendekar perempuan yang bersenjatakan sebuah kapak sakti bernama Kapak Maut Naga Geni 212. Namanya harum di kalangan tokoh-tokoh silat golongan putih karena Pendekar 212 adalah pembasmi kejahatan dan penolong kaum lemah. Sedang bagi golongan hitam, tokoh ini sudah barang tentu menjadi momok besar yang sangat ditakuti!.
Pada masa kehidupan Pendekar 212 itu, di mana saat itu Wirasokananta masih belum mendirikan Perguruan Teratai Putih, karena sama-sama dari golongan putih yang sehalauan dalam perjuangan maka dengan sendirinya tiada permusuhan atau silang sengketa antara dia dengan Pendekar 212.
Tapi hari ini terjadi peristiwa berdarah itu, peristiwa maut yang diakhiri dengan meninggalkan sepucuk surat tantangan, dan surat ini justru ditandatangani dengan nama Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Tentu saja ini satu hal yang tidak dimengerti Wirasokananta. Kemudian apa pula arti dan hubungannya nama 'Wiro Sableng' itu?!
Ketua Perguruan Teratai Putih itu coba merenung. Renungannya ini menyangkut pada masa puluhan tahun yang silam itu. Di masa dunia persilatan geger oleh kehebatan Pendekar 212, tiba-tiba entah ke mana perginya, Pendekar 212 lenyap! Tentang kelenyapannya ini banyak tokoh-tokoh persilatan memberikan tanggapan. Mungkin Pendekar 212 sendiri yang sengaja lenyap mengundurkan diri dari dunia persilatan, mungkin juga tokoh itu telah menemui kematiannya dengan cara yang tak bisa diduga, meski tanggapan yang kemudian ini agak diselimuti rasa keragu-raguan.
Tapi kini dengan adanya kejadian maut di Perguruan Teratai Putih itu, Wirasokananta merasa yakin bahwa sesuatu memang telah terjadi dengan diri Eyang Sinto Gendeng atas Pendekar 212. Dia berkesimpulan bahwa Pendekar 212 dalam satu pertempuran hebat dan tak diketahui oleh dunia luar telah dikalahkan oleh seorang pendatang baru bernama Wiro Sableng. Kemungkinan sekali Pendekar 212 menemui ajalnya di tangan Wiro Sableng itu,
merampas Kapak Maut Naga Geni 212 yang kemudiannya malang melintang di dunia persilatan dengan memakai gelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212!
Dan kelanjutan renungan Ketua Perguruan Teratai Putih itu ialah siapa manusia Wiro Sableng ini sebenarnya. Nama itu satu nama baru baginya. Namun meski nama baru satu hal diyakini oleh Wirasokananta bahwa dengan manusia itu, baik dia maupun Perguruan Teratai Putih, tak pernah mempunyai permusuhan dan menanam dendam kesumat! Apa yang menjadi latar belakang pembunuhan besar-besaran atas murid-muridnya benar-benar sangat gelap bagi Wirasokananta. Dan bila matanya membentur lagi tulisan berdarah yang menyatakan tantangan itu, benar-benar Ketua Perguruan Teratai Putih ini merasa dibakar hatinya! Bulan 12 masih sembilan bulan lagi! Apakah dia akan menunggu sampai sekian lama untuk kemudian baru bertemu muka dan membuat perhitungan dengan Wiro Sableng? Ataukah detik itu juga ia meninggalkan perguruan dan mencari musuh durjana itu?
Namun, Wirasokananta tahu, bahwa apa yang musti dilakukannya saat itu ialah menguburkan jenazah-jenazah ke delapan orang muridnya di halaman perguruan.
***



DENDAM ORANG-ORANG SAKTI 4
ANTARA sungai Cidangkelok di sebelah timur dan sungai Cimanuk di sebelah barat, terbentanglah satu daerah yang sangat subur. Ladang-ladang menghijau oleh hasil yang menakjubkan. Sawah-sawah menguning laksana hamparan permadani emas. Lumbung-lumbung padi petani penuh, tak akan habis dimakan selama satu dua tahun. Penduduknya sendiri hidup dalam tingkat kehidupan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk daerah sekitar lainnya. Mereka sehat-sehat, ramah dan rajin bekerja.
Desa Bojongnipah adalah desa yang paling utama pada daerah yang membentang antara sungai Cidangkelok dan sungai Cimanuk itu. Hasil ladang, hasil sawah dan hasil tebat-tebat pemeliharaan ikan penduduk tumpah ruah tiada terkirakan dan desa ini dikepalai oleh seorang lurah yang bijaksana dan cakap bernama Ki Lurah Kundrawana. Begitu bijaksana dan pandainya Ki Lurah Kundrawana mengatur desa dan penduduknya sehingga banyak lurah-lurah dari desa lain yang datang untuk meminta bantuan Kundrawana dalam hal yang ada hubungannya dengan kehidupan penduduk, dan pengaturan hidup agar bisa makmur serta tenteram.
Di satu malam yang mendung gelap dan berangin kencang dingin, Ki Lurah Kundrawana masih kelihatan duduk-duduk di langkan rumahnya yang sederhana, bercakap-cakap dengan isterinya Warih Sinten. Di sela bibir Ki Lurah Kundrawana yang sudah berumur empat puluh lima tahun itu terselip sebuah pipa yang api tembakaunya hampir mati.
“Dingin di luar sini, Kakang...” kata Warih Sinten sambil, merapatkan kainnya yang agak menyingkapkan betisnya yang putih bagus.
“Ya. Tampaknya mau hujan. Kita masuk saja...” sahut Ki Lurah Kundrawana seraya berdiri.
Namun belum lagi kedua suami isteri itu melangkah ke pintu mendadak sekali tiga sosok bayangan hitam berkelebat. Tubuh mereka rata-rata tinggi kekar dan tampang-tampang mereka buruk serta angker!
Melihat ini, Ki Lurah Kundrawana yang tahu gelagat segera ulurkan tangan kanan ke pinggang di mana kerisnya tersisip. Namun dengan kecepatan yang luar biasa salah seorang dari manusia-manusia berpakaian hitam itu tahu-tahu sudah melintangkan sebatang golok di batang leher Ki Lurah Kundrawana! Warih Sinten yang hendak berteriak ditekap mulutnya oleh laki-laki yang lain!
Ki Lurah Kundrawana maklum bahwa ketiga orang itu tentulah dari satu komplotan rampok terkutuk. Tapi ini adalah untuk pertama kalinya desanya didatangi rampok-rampok macam begini, padahal sejak selama dalam pegangannya desa senantiasa aman tenteram.
Namun demikian Ki Lurah Kundrawana dengan mempertenang diri coba bicara. “Kalian siapa, ada maksud apa datang ke sini...?!”
Orang yang melintang golok di leher Lurah Bojongnipah itu menyeringai menggidikan. Giginya yang tersungging kelihatan hitam, sehitam pakaian yang dikenakannya.
“Aha... bagus kau tanya begitu. Tapi sebelum aku berikan jawaban kau musti ingat satu hal. Jika kau banyak tingkah dan membantah segala apa yang kami perintahkan, jangan menyesal bila melihat anak laki-lakimu yang tidur di dalam sana kupantek di tiang rumah!”
Terkejutlah Ki Lurah Kundrawana. Warih Sinten sendiri menggigil.
Laki-laki berpakaian hitam menyeringai lagi.
“Sekarang tentang siapa kami, kau pernah dengar nama Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel?”
Paras Ki Lurah Kundrawana memucat.
“Saat ini kau berhadapan dengan mereka, Kundrawana. Aku Tapak Luwing adalah pemimpin mereka!”
Ki Lurah Kundrawana tahu betul dan sering mendengar tentang Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel itu. Mereka adalah tiga rampok jahat dan ganas yang malang melintang di sepanjang Kali Comel bahkan sampai ke perbatasan. Kali Comel jauh sekali dari desa Bojongnipah, kenapa tiga manusia bejat ini bisa sampai ke sini, demikian pikir Kundrawana.
“Tapak Luwing! Kalau kau mau merampok, lakukanlah! Bawa apa yang kalian bisa ambil dan berlalu dari sini dengan cepat!”
Kepala Komplotan Tiga Hitam itu tertawa. “Kami selama ini memang dikenal sebagai perampok. Tapi dengan Ki Lurah Kundrawana, hari ini kami datang bukan untuk melakukan perampokan!”
Tentu saja ucapan ini mengherankan Ki Lurah Kundrawana. “Jadi apa mau kalian?!” tanyanya.
“Kami datang untuk bikin perjanjian dengan kau!”
“Perjanjian apa...?”
“Mulai hari ini, kau musti tunduk kepada segala apa yang kami atur dan perintahkan, mengerti!”
Ki Lurah Kundrawana menelan ludahnya. “Aturan dan perintah macam mana maksudmu?” tanyanya. Sementara itu diam-diam tangan kanannya kembali bergerak dan menyusup ke pinggangnya.
Kepala desa Bojongnipah ini sudah bertekat bulat untuk melakukan perlawanan meski saat itu golok Tapak Luwing masih menempel di batang lehernya sedang isterinya sendiri masih disekap oleh salah seorang anak buah Tapak Luwing.
Ki Lurah Kundrawana berhasil memegang hulu kerisnya. Secepat kilat senjata itu ditusukkannya ke perut Tapak Luwing. Namun Kepala Komplotan Tiga Hitam ini tidaklah sebodoh dan selengah yang diperkirakan oleh Ki Lurah Kundrawana. Sekali tangan kanannya bergerak turun menyapu ke bawah maka terdengarlah suara beradunya senjata dan percikan bunga api. Disusul oleh jeritan tertahan dari Warih Sinten, yang mulutnya disekap.
Golok Tapak Luwing membuat mental keris di tangan Ki Lurah Kundrawana sedang ibu jari laki-laki ikut terbabat putus ujungnya sampai ke kuku. Ki Lurah Kundrawana merintih kesakitan. Darah mengucur dari ibu jarinya yang putus. Sementara itu golok Tapak Luwing telah menempel kembali pada batang lehernya!
“Agaknya kau minta batang lehermu cepat-cepat ditebas huh?” bentak Tapak Luwing.
“Tebaslah, aku tidak takut! Kalian manusia-manusia lak...”
Tamparan tangan kiri kepala Komplotan Tiga Hitam itu menghajar pipi Kundrawana. Pandangannya berkunang, pipinya merah sekali dan sudut bibirnya pecah berdarah!
“Masih mau buka mulut?!” tanya Tapak Luwing.
Ki Lurah Kundrawana menggeram dalam hatinya. Tapi tak berkata apa-apa.
“Kau mau dengar dan turut perintahku atau pilih mati?!”
“Aku tidak takut mati! Isteriku juga tidak takut mati” jawab Ki Lurah pula.
Tapak Luwing menyeringai. “Kalian memang tak takut mati. Tapi apa kalian sanggup menyaksikan anakmu yang di dalam sana kubikin menggelinding kepalanya di lantai ini?!”
Ki Lurah Kundrawana terdiam.
Tapak Luwing kemudian mendorong laki-laki itu ke dalam dan memerintahkan duduk di kursi. “Demi nyawamu dan nyawa keluargamu, ada bagusnya kita bicara baik-baik Ki Lurah! Dengar, mulai hari ini kau harus tunduk kepadaku. Aku tanya kapan pemungutan pajak penduduk kau lakukan setiap bulan...?”
Ki Lurah Kundrawana tak mengerti maksud pertanyaan ini tapi dia menjawab juga, “Hari Senin minggu pertama.”
“Bila pajak-pajak itu sudah terkumpul, ke mana kau serahkan?”
tanya Tapak Luwing lagi.
“Pada Adipati di Linggajati dan Adipati itu kemudian meneruskannya ke Kotaraja.”
“Hem... begitu... Itu satu aturan yang bagus. Tapi mulai penarikan pajak bulan yang akan datang jumlah pajak yang harus dipungut adalah sepuluh kali lebih besar dari yang sudah-sudah...!”
Ki Lurah Kundrawana terkejut.
Dia tambah terkejut lagi ketika Tapak Luwing menyambung kalimatnya tadi, “Pajak itu harus kau pungut tiga kali dalam satu bulan! Mengerti...?!”
“Aturan macam mana ini?!”
“Tak usah tanya aturan macam mana, yang penting lakukan perintahku!” sahut Tapak Luwing.
“Kau tak bisa berbuat seenaknya, Tapak Luwing! Salah-salah kau bisa berurusan dengan Adipati Linggajati, bisa berurusan dengan kerajaan!”
“Urusan dengan Adipati, itu urusanmu, juga urusan dengan kerajaan. Tapi jika kau berani mengadukan hal ini kepada siapa saja, kulabrak seluruh keluargamu! Mengerti?!”
“Kalian bisa melabrak keluargaku, Tapak Luwing. Tapi kalian tak bisa melabrak Adipati dan kerajaan!”
“Aku sudah bilang urusan dengan Adipati adalah urusanmu, juga dengan kerajaan! Aku hanya tahu bahwa tiga kali dalam satu bulan aku harus terima sejumlah uang yang besarnya sepuluh kali besar pajak yang kau pungut selama ini dari penduduk desa!”
“Keterlaluan! Keterlaluan kau Tapak Luwing! Tak satu penduduk pun yang sanggup membayar pajak sekian besarnya itu!”
“Penduduk di sini kaya-kaya! Punya sawah, punya ladang, punya kerbau, sapi, kambing dan ayam serta itik!”
“Tapi sepuluh kali, mana mereka...”
Tapak Luwing memotong dengan cepat, “Apa aku musti paksa kau memungut lima belas kali lebih banyak, atau dua puluh kali?!”
“Aku tak akan lakukan perintahmu ini Tapak Luwing! Aku tak sanggup memeras rakyat!”
“Perduli amat! Kalau tak sanggup memeras rakyat apa kau sanggup menyaksikan kematian anak laki-lakimu?”
Kalau Kepala Komplotan Tiga Hitam itu sudah mengancam demikian rupa, mau tak mau Ki Lurah Kundrawana terdiam bungkam.
Tapak Luwing menggoyangkan kepalanya pada anak buahnya yang berdiri dekat pintu. Melihat isyarat ini laki-laki itu segera masuk ke dalam kamar tidur Ki Lurah Kundrawana.
Kundrawana berdiri dari kursinya. “Kau mau buat apa...!” bentaknya.
Tapak Luwing mendorong laki-laki itu hingga Kundrawana terduduk kembali ke kursi. Tak lama kemudian anak buah Tapak Luwing yang masuk kamar muncul di ruangan itu kembali dengan mendukung anak laki-laki Ki Lurah Kundrawana. Anak laki-laki ini baru berumur empat tahun. Dalam dukungan itu dia masih tertidur nyenyak, tak tahu apa yang terjadi atas dirinya.
Kecemasan segera terbayang di paras Warih Sinten dan Kundrawana.
“Kalian mau bikin apa dengan anakku?!” tanya Kundrawana.
“Selama kau mengikuti perintahku, anakmu akan selamat tak kurang suatu apa. Dia kubawa untuk sementara sebagai jaminan bahwa kau tidak akan mengadukan persoalan ini pada siapa pun!
Kau dengar Ki Lurah Kundrawana!”
Laki-laki itu tak menjawab.
“Dengar?!” ulang Tapak Luwing membentak. Ki Lurah Kundrawana mau tak mau terpaksa mengangguk perlahan.
“Hasil-hasil pungutan pajak itu selambat-lambatnya harus kau serahkan kepadaku satu hari sesudah terkumpulnya. Antarkan ke satu pondok tua di persimpangan jalan yang menuju ke Linggajati.
Aku sendiri yang akan menunggu kau di sana pada tengah hari tepat!”
“Aku tak akan mengantarkannya!” kata Ki Lurah Kundrawana.
“Silahkan datang sendiri ke sini!”
Tapak Luwing tertawa dingin. “Jangan lupa keselamatan anakmu, Ki Lurah.” katanya. Kemudian Kepala Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel ini berikan isyarat dan bersama kedua anak buahnya segera meninggalkan rumah Ki Lurah Kundrawana.

***

WIRO SABLENG
DENDAM ORANG-ORANG SAKTI 5
SEMALAM-MALAMAN itu Warih Sinten tiada hentinya menangis. Matanya sudah merah dan bengkak. Ki Lurah Kundrawana sendiri yang juga tak bisa tidur, melangkah mundar-mandir tak berketentuan. Hatinya gelisah dan cemas, memikirkan diri anaknya yang telah dibawa oleh komplotan Tapak Luwing. Tapi hatinya juga gemas dan geram tiada terperikan!
Baginya keselamatan diri dan isterinya tidak begitu penting jika dia ingat nasib anak laki-lakinya itu, anak satu-satunya yang mereka miliki. Dan soal pajak itu, benar-benar membuat Ki Lurah Kundrawana seperti mau gila memikirkannya. Dia tak akan bisa mengadukan persoalan ini pada Adipati di Linggajati atau kepada raja demi keselamatan anaknya. Satu-satunya jalan hanyalah mengikuti aturan dan perintah gila Tapak Luwing. Tapi bagaimana nanti sikap rakyat terhadapnya? Bukan saja pajak itu sangat berat bagi mereka, tapi penduduk pasti akan mencapnya sebagai tukang peras dan mungkin akan timbul kemarahan di kalangan penduduk!
Kalau dia musti memungut sepuluh kali jumlah pajak yang harus diserahkan pada Tapak Luwing, maka ditambah dengan yang harus diserahkan pada Adipati di Linggajati akan menjadi sebelas kali dari yang sudah-sudah! Kalau tidak ingat-ingat kepada Tuhan maulah Lurah Bojongnipah itu ambil kerisnya dan menusuk diri dengan senjata itu! Namun dia tahu ini bukanlah penyelesaian yang baik.
Keesokan paginya terpaksa juga dia melalui seorang pembantunya mengirimkan kabar berkeliling penduduk desa bahwa mulai bulan depan pemungutan pajak besarnya sebelas kali dari yang sudah-sudah. Ini adalah sesuai dengan garis kebijaksanaan raja demi untuk pembangunan dan memelihara balatentara yang kuat, demikian alasan yang dibuat-buat oleh Ki Lurah Kundrawana untuk menutupi apa yang sebenarnya.
Bila berita itu sudah sampai ke seluruh pelosok maka dalam sikap penduduk Bojongnipah mulai kelihatan pertentangan-pertentangan. Rata-rata mereka mengatakan bahwa ini adalah satu penindasan, satu pemerasan terang-terangan. Demi pembangunan dan demi balatentara yang kuat apakah rakyat harus dicekik lehernya dengan pajak yang besar tiada terkirakan lipat gandanya itu?!
Beberapa orang tua-tua desa menemui Ki Lurah Kundrawana tapi Ki Lurah tak bersedia berhadapan dengan mereka. Orang tua-tua desa tentu saja heran melihat sikap lurah mereka yang dulunya itu begitu baik bijaksana dan ramah, tapi kini jangankan untuk bicara tentang persoalan kenaikan pajak itu, bahkan untuk bertemu saja pun dia tidak mau! Di samping itu ketika mereka berada di rumah Ki Lurah, telinga mereka mendengar terus-terusan suara tangis Warih Sinten, isteri Lurah. Ada apa pula dengan diri perempuan itu? Betul-betul banyak hal yang tidak dimengerti orang tua-tua desa saat itu!
Dan ketika tiba saat pemungutan pajak yang pertama, banyak di antara penduduk yang tak mau membayar. Dengan menekan pertentangan yang senantiasa melekat di hatinya, Ki Lurah terpaksa mengancam orang-orang itu. Siapa-siapa penduduk yang tak mau membayar pajak dalam jumlah yang telah ditentukan, akan ditangkap dan dibawa ke kotaraja! Akhirnya terpaksa juga penduduk membayar.
Dalam pemungutan pajak yang kedua terjadi kekacauan, namun masih sanggup diatasi oleh Ki Lurah Kundrawana. Menjelang pemungutan pajak yang ketiga Ki Lurah Kundrawana mendengar kabar bahwa penduduk akan mengadakan pemberontakan! Laki-laki ini tak bisa menyalahkan penduduk. Suatu malam dengan diam-diam pergilah Ki Lurah Kundrawana ke Linggajati untuk menemui Adipati Boga Seta. Kepada Adipati ini dilaporkannya segala apa yang terjadi.
Boga Seta kelihatan terkejut sekali. Ketika Ki Lurah Kundrawana minta diri, Boga Seta berjanji akan mengirimkan serombongan pasukan Kadipaten selekas mungkin. Namun menjelang semakin dekatnya hari pemungutan pajak yang ketiga itu tak satu prajurit kadipaten pun yang muncul!
Ki Lurah Kundrawana kehabisan akal, betul-betul bingung.
Sementara itu tanda-tanda bakal terjadinya pemberontakan semakin jelas dan santar. Dalam kebingungannya di waktu yang sempit itu Ki Lurah Kundrawana akhirnya berhasil menemui Tapak Luwing di luar desa.
“Ada keperluan apa, kau menemui aku, Ki Lurah?” bertanya Tapak Luwing sambil menggerogoti daging panggang yang barusan dipanggang oleh anak-anak buahnya. Saat itu Tiga Hitam dari kali Comel berada di pinggiran hutan.
“Ada kesulitan katamu? Hem... Apa kau tahu bahwa besok adalah hari pemungutan uang pajak itu dan lusanya menyerahkan pada kami di persimpangan jalan yang menuju ke Linggajati?”
“Aku tahu Tapak Luwing. Justru kesulitan ini ada sangkut pautnya dengan pemerasanmu!” jawab Ki Lurah Kundrawana pula.
Tapak Luwing tertawa dan melemparkan tulang daging yang dimakannya ke dekat kaki kepala desa Bojongnipah itu. “Tentang kesulitan ini, apakah kau sudah pergi kepada Adipati Boga Seta di Linggajati?” Tanya Tapak Luwing seraya tertawa dan berdiri dari duduknya di batang kayu tumbang.
Ki Lurah Kundrawana terkejut dan berubah parasnya. Dalam hati dia bertanya-tanya apakah kepala perampok ini mengetahui kepergiannya ke Linggajati menemui Adipati Boga Seta itu?
Suara tertawa Tapak Luwing semakin keras. Tampangnya kelihatan tambah angker dan tiba-tiba, tak terduga oleh Ki Lurah Kundrawana, tamparan tangan kanan kepala rampok itu mendarat di pipinya.
“Tapak Luwing kau...”
Plak!
Untuk kedua kalinya tamparan Tapak Luwing menghajar muka Kundrawana. “Berbacot lagi,” bentaknya, “Kurobek mulutmu!”
“Tapi Tapak Luwing...”
“Aku sudah bilang agar jangan mengadukan persoalan ini kepada siapapun! Dan kau telah pergi kepada Adipati Boga Seta! Apa kau lupa hukuman yang bakal diterima anakmu?!”
Maka pucatlah muka Ki Lurah Kundrawana!
“Kau... kau apakan anakku, Tapak Luwing...?”
“Sekarang kau ketakutan sendiri ya? Sialan! Adipati Boga Seta telah mengirimkan lima orang prajuritnya ke Bojongnipah, tapi aku telah mencegatnya di tengah jalan dan kelimanya telah menemui ajal akibat kebodohanmu!”
“Anakku... anakku bagaimana...?” tanya Ki Lurah Kundrawana setengah menangis setengah merengek!
“Aku masih berbaik hati untuk kasih ampun kesalahanmu kali ini! Di lain hari, jangan harap aku bakal mau memaafkan kau...”
Legalah dada Ki Lurah Kundrawana. Tapi jika dia mau berpikir panjang sedikit dan tidak keliwat gelisah maka dia akan melihat adanya keganjilan dengan ucapan Tapak Luwing hari ini dengan tiga minggu yang lalu. Dulu Tapak Luwing mengancam akan membunuh anaknya bila dia mengadu kepada adipati atau raja. Dan dia telah mengadukan hal itu kepada Adipati Boga Seta dan anehnya Tapak Luwing mau memberikan ampun kepadanya, padahal dengan demikian persoalan kejaha–tannya bukan saja telah sampai ke tangan adipati tapi pasti akan diteruskan ke kotaraja, apalagi sesudah pembunuhan atas lima prajurit kadipaten itu!
“Sekarang terangkan mengenai kesulitan yang kau katakan itu, Ki Lurah!” kata Tapak Luwing pula.
“Penduduk desa akan melakukan pemberontakan besok kalau aku masih juga memungut pajak gila itu!” kata Ki Lurah Kundrawana pula.
“Begitu? Dulu kau bilang tidak takut mampus! Kini ada bahaya yang mengancam jiwamu kenapa terbirit mencari aku...?!”
Ki Lurah Kundrawana mengatupkan rahangnya rapat-rapat.
“Kembalilah ke Bojongnipah, Ki Lurah. Besok kami akan datang ke sana...” berkata Tapak Luwing.
“Kuharap jangan sampai terjadi kekerasan.”
“Soal itu urusan kami. Kau tak perlu ikut campur!” kata Tapak Luwing pula.
“Bisa aku ketemu anakku, Tapak Luwing?” tanya Ki Lurah Kundrawana.
“Kali ini tidak dulu,” jawab kepala rampok itu. Kepala desa Bojongnipah itu termenung sejurus. Kemudian dengan langkah gontai dia berjalan ke kudanya dan naik ke atas punggung binatang itu.
Sebelum berlalu Ki Lurah Kundrawana bertanya, “Tapak Luwing, sampai kapan kebejatanmu ini kau timpakan padaku...?”
Tapak Luwing tertawa. “Tak usah banyak tanya! Lebih baik pikirkan nasibmu besok hari. Mungkin penduduk desa sudah mencincang tubuhmu sebelum kami datang...!”
***
Di pelosok-pelosok desa terdengar kokokan-kokokan ayam bersahut-sahutan. Puncak dinginnya malam telah lewat dan kesegaran pagi yang ditandai oleh terangnya langit di ufuk timur menyatakan bahwa malam sudah sampai ke ujungnya untuk digantikan oleh kehadiran pagi.
Ki Lurah Kundrawana menyalakan tembakau pipanya. Mukanya sudah cekung dan matanya kelihatan kuyu sedang parasnya pucat.
Namun di balik keredupan wajahnya itu tersembunyi sesuatu yang seperti menyala. Sesuatu itu ialah amarah dan rasa geram yang tiada terperikan!
Disedotnya pipa itu. Mulutnya terasa tak enak. Dia meludah ke tanah lewat langkan. Sejak dulu apalagi sejak beberapa hari terakhir ini lidahnya memang terasa tidak enak, pahit. Makannya boleh dikatakan dapat dihitung suapnya. Semakin terang hari semakin gelisah dia, semakin kuatir Lurah Bojongnipah ini. Yang dikhawatirkannya ialah kalau-kalau penduduk akan datang lebih dahulu daripada Tiga Hitam dari Kali Comel! Sebentar-sebentar matanya memandang ke luar halaman. Namun segala sesuatunya di pagi itu masih diliputi oleh kesunyian. Dan kesunyian ini pula justru tidak menye–nangkan hati Ki Lurah Kundrawana!
Ditempelkannya lagi ujung pipa ke bibirnya. Disedotnya dalam-dalam kemudian dihembuskannya asap pipa itu. Sekali lagi dia meludah ke tanah lalu mengusap-usap bibirnya.
Dia terkejut dan memutar kepalanya mendengar langkah-langkah kaki di belakangnya. Yang datang ternyata isterinya sendiri. Badan perempuan ini sudah jauh susut, lebih kurus dari dahulu. Seperti suaminya, parasnya juga pucat. Warih Sinten seorang perempuan berwajah ayu, namun keayuan itu kini tiada kelihatan lagi karena tertutup mendung kegelisahan. Gelisah memikirkan nasib anaknya, gelisah memikirkan nasib suaminya jika sebentar lagi penduduk benar-benar datang.
Hari itu adalah hari pemungutan pajak yang ketiga. Semestinya pembantu Lurah Bojongnipah yang biasa berkeliling di seluruh desa memungut pajak itu sudah datang. Tapi kali ini tak kelihatan mata hidungnya. Bagaimana dia akan berani memunculkan diri jika sudah tahu kalau hari ini penduduk akan berontak!.
“Mudah-mudahan saja penduduk tidak datang...” istrinya berkata.
Ki Lurah Kundrawana menggigit bibirnya. Dia tahu bicara isterinya itu hanya sekedar bicara saja. Memang apa yang diharapkan isterinya itu juga menjadi harapannya. Namun dia tahu betul bahwa harapan itu adalah satu hal yang mustahil! Rakyat akan datang.
Penduduk akan datang! Dia tahu, dia pasti!
Warih Sinten memandang lagi ke luar halaman. Lalu berkata lagi,
“Kalaupun mereka datang, kurasa kita tak bisa lagi menyembunyikan kebejatan ketiga manusia terkutuk itu, Kakang! Kita musti katakan terus terang pada penduduk sebelum penduduk membunuh kita beramai-ramai!”
“Nyawaku tak ada harganya, Warih...,” ujar Ki Lurah Kundrawana.
“Demi segala-galanya aku rela mati! Tapi percuma saja arti kematian itu, kalau keselamatan jiwa anak tunggal kita sendiri akan sia-sia pula...”
Kesepian berjalan beberapa lamanya.
Tiba-tiba.
“Kakang...” Warih Sinten memegang lehernya dengan kedua tangan. “Mereka... mereka datang...”
Ki Lurah Kundrawana mengangkat kepalanya dan memandang ke luar halaman. Apa yang dikatakan isterinya memang betul.
Serombongan laki-laki penduduk desa kelihatan muncul di tikungan jalan di balik pohon-pohon bambu. Rombongan yang muncul ini merupakan kepala saja dari barisan penduduk yang jumlahnya tak kurang dari seratus orang. Dari jauh tak kelihatan mereka membawa senjata. Tapi Ki Lurah Kundrawana tahu bahwa di antara mereka pasti ada yang membawa dan menyembunyikan senjata!
Sesaat kemudian halaman luas itupun penuhlah oleh penduduk desa. Suasana menjadi bising kini. Ki Lurah Kundrawana dan isterinya berdiri mematung di atas langkan. Hanya kedua bola mata mereka yang berputar memandangi penduduk Bojongnipah itu.
Seorang di antara penduduk kemudian menyeruak ke muka dan naik ke langkan, berdiri beberapa langkah di hadapan Kundrawana.
Kundrawana kenal baik dengan laki-laki ini. Dia adalah seorang petani yang diam di desa sebelah timur. Namanya Kratomlinggo.
Sewaktu laki-laki ini bertindak naik ke langkan, maka suasana di tempat itu sehening di pekuburan.
“Ki Lurah...” Kratomlinggo buka mulut merobek keheningan itu.
“Kau tentu sudah tahu maksud kedatangan kami bukan...?”
Kundrawana tak menjawab. Pada wajah Kratomlinggo dilihatnya senyum mengejek. “Ketahuilah bahwa aku berdiri di hadapanmu saat ini adalah sebagai wakil dari sekian banyak penduduk Bojongnipah...” Kratomlinggo menuding ke belakang lalu meneruskan, “Penduduk Bojongnipah yang sejak satu bulan belakangan ini telah menjadi korban pemerasan, korban penindasan, korban pengisapan, dicekik oleh pajak sebelas kali lipat! Penduduk Bojongnipah...”
“Saudara Kratomlinggo.” memotong Ki Lurah Kundra–wana. “Ringkaskan saja bicaramu. Katakanlah apa yang kalian mau.”
Dan lagi-lagi Kundrawana melihat senyum mengejek tersungging di mulut Kratomlinggo.
“Apa mau kami...? Itu semua sudah kami katakan pada saat pertama kali kau memungut pajak gila itu!”
“Aku pribadi memang tak ingin berbuat begitu. Tapi ini adalah perintah atasan. Perintah raja untuk pembangunan dan pemeliharaan pasukan...”
“Perintah atasan tinggal perintah atasan! Apakah kalau atasan menyuruh kau cebur ke sumur lantas kau akan berbuat begitu? Nyemplung ke sumur?! Setiap perintah harus berdasarkan pertimbangan otak Ki Lurah!”
Merah muka Kundrawana. Sementara itu Warih Sinten mulai menangis terisak-isak.
“Saudara Krato, mungkin pemungutan pajak itu hanya bersifat sementara saja...”
“Ya sementara! Sementara! Baru dihentikan bila semua penduduk Bojongnipah ini mati dicekik pajak?!”
“Aku tahu pajak sebesar itu memang berat.”
“Kalau berat mengapa dilaksanakan?!” tukas Kratomlinggo.
Ki Lurah Kundrawana lagi-lagi menggigit bibirnya. Ingin saja saat itu dia mengatakan apa sesungguhnya yang menjadi latar belakang dari pemungutan pajak itu. Ingin saja saat itu dia menerangkan siapa sebenarnya yang menjadi dalang pemungutan pajak gila itu! Tapi bila diingatnya anak tunggalnya yang ada di tangan Tiga Hitam dari Kali Comel itu...
“Kami penduduk desa Bojongnipah ingin agar peraturan pajak gila itu dicabut kembali!” berkata Kratomlinggo.
“Aku tak punya wewenang untuk melakukan hal itu, Saudara Krato.”
“Kau bisa menyampaikan kepada Adipati di Linggajati. Adipati meneruskannya ke kotaraja. Dan kalau kau tidak mau melakukan hal itu, kami tidak ragu-ragu untuk bertindak berdasarkan apa yang kami rasa benar...!”
“Apakah ini suatu ancaman?”
“Kau boleh bilang begitu, Ki Lurah!”
“Saudara Krato...,” terdengar suara Warih Sinten. “Kau... kau dan semua penduduk Bojongnipah tidak tahu... tidak tahu...”
“Kami lebih dari tahu!” geretus Kratomlinggo. “Meskipun apa yang kini kami ketahui itu adalah hal yang tak pernah kami duga! Kami tahu bahwa suamimu. Ki Lurah Kundrawana tak lebih dari seorang tukang peras! Yang menjilat ke atas dan menggilas ke bawah! Yang cari nama ke atas dan menjerat leher penduduk di bawah! Kami lebih dari ta...”
“Kuharap bicara sepantasnyalah Kratomlinggo!” memotong Ki Lurah Kundrawana karena panas hati dan telinganya mendengar dicap sebagai penjilat dan pemeras demikian rupa.
Kratomlinggo berpaling ke arah orang banyak. Kemudian dia tertawa bergelak. Sementara itu salah seorang penduduk berteriak, “Buat apa bicara panjang lebar dengan biang lintah darat itu?! Sumpal saja mulutnya dengan golok!”
Kratomlinggo berpaling pada Kundrawana kembali. “Kau dengar teriakan itu Ki Lurah?” tanyanya.
Mulut Kundrawana komat-kamit. “Kalau kalian ingin pajak itu dicabut, silahkan pergi sendiri menghadap raja di kotaraja...”
“Lantas, apa perlunya kau jadi lurah di sini?!” teriak seorang penduduk pula.
“Apa hanya untuk ongkang-ongkang?!” teriak penduduk yang lain.
“Ongkang-ongkang dan memeras?!” teriak yang lain lagi.
Kemudian penduduk lainnya berteriak pula, “Kami tidak percaya ini aturan dari raja! Bukan mustahil pajak itu adalah aturan gila yang kau buat sendiri!”
Masih banyak lagi teriakan-teriakan yang membuat muka Kundrawana menjadi merah dan tebal rasanya. Telinganya berdesing. “Kratomlinggo, kuharap kau bawalah orang-orang itu meninggalkan tempat ini.” kata Kundrawana.
“Begitu...?” ujar Kratomlinggo dengan lontarkan senyum sinis.
“Kami semua baru akan pergi sesudah kau menyatakan blak-blakan bahwa mulai saat ini aturan pajak gila itu dicabut!”
“Tak satupun yang bisa mencabut segala keputusan raja!” jawab Kundrawana. Suaranya saja yang keras namun ucapannya itu sama sekali tiada dengan kesungguhan hati.
“Kalau begitu agaknya kami terpaksa menggunakan kekerasan...”
“Kau menentang kerajaan, Kratomlinggo?!” tanya Ki Lurah Kundrawana. Pertanyaan yang setengah menggertak ini dimaksudkannya untuk dapat keluar dari keadaan yang terdesak saat itu.
Namun jawaban Kratomlinggo adalah lontaran seringai mengejek.
“Jangan takuti penduduk Bojongnipah dengan kata-kata kerajaan, Ki Lurah! Kami semua yakin bahwa pajak gila itu adalah kau punya bisa! Kerajaan selama ini selalu bertindak adil dan bijaksana...!”
Kratomlinggo melangkah ke hadapan Ki Lurah Kundrawana dengan kedua tinju terkepal. Beberapa penduduk Bojongnipah melangkah pula naik ke atas langkan.
Ki Lurah Kundrawana mundur beberapa langkah ke belakang.
Warih Sinten menjerit. “Kratomlinggo, kau... kalian mau bikin apa...?”
“Kami coba minta keadilan dengan cara wajar, tapi kau maukan kekerasan...!” jawab Kratomlinggo. Tangan kanannya bergerak.
Tiba-tiba terdengar ringkikan kuda dan suara hiruk pikuk.
Penduduk di halaman muka berhamburan cerai berai.
“Atas nama Kerajaan, yang tidak mau mati, minggirlah!”
Terdengar jeritan beberapa orang yang terserampang kuda!
Tiga penunggang kuda melompat dari punggung kuda masing-masing.
Gerakan mereka enteng sekali dan sekejapan mata saja ketiganya sudah berada antara Kratomlinggo dan Ki Lurah Kundrawana. Ketiganya berpakaian seragam prajurit dan tampang-tampang mereka angker buruk. Baik Ki Lurah Kundrawana maupun Kratomlinggo dan penduduk Bojongnipah, semuanya sama terkejut.
Dalam keterkejutannya itu Ki Lurah Kundrawana merasa lega juga karena dia segera mengenali ketiga orang itu tak lain adalah Tapak Luwing dan dua orang anak buahnya! Namun apa yang tidak dimengerti oleh Lurah Bojongnipah itu ialah mengapa ketiga orang komplotan rampok itu mengenakan pakaian keprajuritan.
Sementara itu Tapak Luwing yang berdiri tepat di hadapan Kratomlinggo dengan bertolak pinggang dan membentak maju ke muka, “Kami prajurit-prajurit Kadipaten Linggajati! Kamu jadi biang keributan di sini ya?!”
Terkejutlah Kratomlinggo dan penduduk Bojongnipah sedang Ki Lurah Kundrawana dan isterinya merutuk dalam hati melihat betapa lihainya Komplotan Tiga Hitam itu menjalankan peran sebagai prajurit-prajurit kadipaten palsu untuk mengelabuhi mata penduduk dan juga menyembunyikan rahasia besar latar belakang pemerasan mereka! Kratomlinggo menindih rasa terkejutnya. Dia merasa tak perlu takut terhadap ketiga prajurit kadipaten itu bahwa bukankah ini kesempatan di mana dia bisa sekaligus menerangkan pemerasan pajak yang dilakukan oleh Kundrawana itu?
“Saudara,” kata Kratomlinggo, “jika kalian adalah prajurit-prajurit kadipaten, kebetulan sekali kalau begitu...!
“Kebetulan apa maksudmu?!” bentak Tapak Luwing.
Kratomlinggo kemudian menerangkan sejelas-jelasnya mengenai soal pajak itu kepada Tapak Luwing. Namun dia begitu kaget ketika mendengar jawaban Tapak Luwing.
“Jadi kau sengaja pimpin penduduk Bojongnipah untuk mengikuti maumu sendiri?! Untuk menempuh jalan kekerasan! Ini namanya satu pemberontakan! Ini namanya satu penantangan terhadap kerajaan, satu pembang–kangan terhadap peraturan-peraturan raja karena soal pajak itu memang datang dari raja disampaikan melalui adipati di Linggajati!”
“Tapi mengapa hanya penduduk Bojongnipah saja yang dipajaki segila ini!” kata salah seorang penduduk yang berdiri di samping Kratomlinggo.
“Ya, desa-desa lain tidak!” seru yang lain dari luar halaman.
“Kamu semua tahu apa!” semprot Tapak Luwing. “Ini adalah keputusan raja! Bojongnipah yang subur tak bisa disamakan dengan desa-desa lain. Karenanya sudah pantas kalau dibebani pajak yang agak besaran...”
“Agak besaran...,” gerendeng seorang penduduk mengejek.
Kratomlinggo kemudian mengetengahi suasana panas itu. “Kami merasa sama sekali tidak menentang raja, sama sekali tidak membangkang apalagi memberontak. Kami hanya inginkan agar pajak dikembalikan sebesar yang lama...”
Tapak Luwing meludah ke lantai langkan. “Kau memang biang racun pemberontak yang pintar omong! Terhadap lurah kalian, kalian boleh bicara kasar dan seenaknya, tapi terhadap kami prajurit-prajurit kadipaten jangan coba-coba! Pimpin seluruh penduduk untuk angkat kaki dari sini! Cepat!”
Maka berkatalah Kratomlinggo, “Kami penduduk Bojongnipah datang ke sini untuk menegakkan keadilan. Kalau kami harus angkat kaki dari sini maka keadilan itu musti sudah berhasil ditegakkan!”
“Hem... begitu...?” Tapak Luwing menyeringai. Gigi-giginya yang hitam kecoklatan serta besar-besar kelihatan menjijikkan. “Sebelum  kau dan yang lain-lainnya menegakkan keadilan itu, coba terima tangan kananku ini!”
Sesudah berkata demikian Tapak Luwing hantamkan tangan kanannya ke dada Kratomlinggo. Yang dipukul dengan cepat melompat ke samping.
Namun! Buukk!
Tangan kiri Tapak Luwing bersarang di perut Kratomlinggo.
Nyatanya pukulan tangan kanan Tapak Luwing tadi hanyalah satu tipuan belaka! Kratomlinggo melintir dan terjajar ke belakang. Perutnya sakit sekali, mual seperti mau muntah, nafasnya menyesak.
Laki-laki ini rupanya bukanlah hanya sekedar seorang petani saja, namun juga seorang yang pernah mempelajari ilmu silat. Dengan cepat dia atur nafas dan jalan darah. Lalu dengan sebat menyerang ke muka. Enam orang penduduk ikut menyertai serangannya ini.
Maka dengan demikian pertempuran pun pecahlah.
Empat penduduk terjerongkang ke lantai langkan. Dua pingsan, dua lagi patah tulang iganya serta terlepas sambungan sikunya.
Sedang Kratomlinggo terhempas ke tiang langkan. Dadanya kena dipukul oleh Tapak Luwing. Dia berusaha berdiri mengimbangi badan kembali dan siap melancarkan serangan balasan. Tapi apa lacur, belum lagi kakinya menindak pemandangannya sudah gelap dan dari mulutnya bermuntahan darah kental berbuku-buku! Sesaat kemudian tubuh laki-laki ini tergelimpang ke lantai!
Melihat ini sebagian penduduk menjadi kalap. Mereka menyerbu berserabutan ke atas langkan dengan berbagai macam senjata.
“Siapa yang mau mampus, majulah!” teriak Tapak Luwing seraya melintangkan golok.
Mereka yang menyerbu menjadi ragu-ragu kini namun beberapa orang di antaranya yang tetap kalap menyerang dengan membabi buta. Maka terjadilah hal yang mengerikan. Orang-orang ini bergelimpangan bermandikan darah, dibabat dan dipapas oleh senjata Tapak Luwing dan anak-anak buahnya! Yang lain-lainnya kini tak berani lagi bertindak lebih jauh meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak!
Warih Sinten sudah sejak lama lari ke dalam rumah sambil menjerit-jerit ketakutan sedang Kundrawana menggigit bibir dan pejamkan mata melihat kengerian itu. Kalau saja tidak ingat akan keselamatan anaknya, sudah sejak tadi dia mencabut keris dan turut menyerbu!
“Siapa lagi yang mau berkenalan dengan golokku, silahkan maju!” kata Tapak Luwing tolakkan tangan kirinya ke pinggang kiri.
Tapak Luwing tertawa. “Nah, kalau kalian masih belum punya nyali untuk masuk ke liang kubur, gotong kunyuk-kunyuk yang malang melintang di langkan rumah ini kemudian angkat kaki dari sini cepat!”
Kemarahan penduduk meluap-luap. Namun apa yang terjadi di depan mata mereka membuat nyali mereka menjadi ciut dan bulu kuduk meremang. Ki Lurah Kundrawana sendiri berdiri mematung. Rahangnya terkatup rapat-rapat. Kegeramannya tiada terlukiskan. Kebenciannya terhadap Tiga Hitam dari Kali Comel tiada terkirakan lagi! Namun seperti penduduk Bojongnipah, dia juga tak dapat berbuat suatu apa!
Penduduk menggotong Kratomlinggo dan korban-korban lainnya.
Sebelum mereka berlalu berserulah Tapak Luwing.
“Aku tak ingin melihat keonaran macam begini untuk kedua kalinya, kecuali kalau kalian sendiri yang sengaja minta dibereskan macam kawan-kawan kalian itu! Siapa yang mau berontak boleh saja! Golokku memang sudah sejak lama haus darah!”
Tak ada yang menyahuti ucapan Tapak Luwing itu. Dan Tapak Luwing yang menyamar sebagai prajurit Kadipaten itu berseru lagi, “Jangan lupa, paling lambat tengah hari besok, kalian semua sudah harus melunasi pajak itu! Jika ada yang membantah untuk membayarnya, kalian cukup tahu apa akibatnya!” ketika seluruh penduduk Bojongnipah sudah meninggalkan tempat itu maka Tapak Luwing menyarungkan goloknya kembali dan berpaling pada Ki Lurah Kundrawana.
“Kau harus berterima kasih padaku yang telah selamatkan kau punya batang leher, Ki Lurah...!” Ki Lurah Kundrawana berkemik.
Rahang-rahangnya bertonjolan. Tapak Luwing tertawa mengekeh.
“Selambat-lambatnya senja besok uang pungutan pajak harus sudah kau antarkan ke pondok tua di persimpangan jalan yang menuju ke Linggajati!”
Kundrawana masih diam.
“Eh, apa kau sudah tuli!” tanya Tapak Luwing.
Dan Lurah Bojongnipah itu masih juga diam. Maka membentaklah Tapak Luwing. “Kamu tuli hah?!”
“Aku tidak tuli, Tapak Luwing...”
“Lalu mengapa ditanya diam saja? Mungkin gagu?!”
Dua orang anak buah Tapak Luwing cengar-cengir.
“Sesenja-senjanya hari uang itu sudah harus kuterima. Kau dengar...?!”
“Bagaimana kalau penduduk tak mau membayarnya?”
“Aku tak perlu pertanyaan itu! Bayar atau tidak bayar, pokoknya besok aku cuma tahu terima uang!”
Tapak Luwing memberi isyarat pada kedua anak buahnya.
Ketiganya menuruni langkan rumah dan melangkah menuju ke kuda masing-masing.
Malam itu, dengan segala daya dan sedikit ilmu pengetahuan yang dimilikinya, Kratomlinggo berhasil menyembuhkan luka di dalam yang dideritanya akibat pukulan Tapak Luwing. Pada dasarnya bukan daya dan pengetahuan silat Kratomlinggolah yang menolong, melainkan adalah karena pukulan Tapak Luwing pagi tadi tidak mempergunakan keseluruhan tenaga dalamnya.
Dendam terhadap Tapak Luwing dan kawan-kawannya, kebencian yang tak terkendalikan terhadap Ki Lurah Kundrawana serta pajak yang tetap harus dibayar esok hari, semuanya itu bertumpuk menjadi satu sehingga malam itu, meskipun baru saja sembuh dari luka namun tekad Kratomlinggo sudah bulat untuk berangkat ke kotaraja! Niatnya ini diberitahukannya pada beberapa kawannya. Dan malam itu bersama empat orang lainnya, dengan menunggangi kuda maka berangkatlah Kratomlinggo ke kotaraja.
Malam gelap. Sinar bintang dan cahaya bulan sabit tak dapat mengalahkan kegelapan itu. Kratomlinggo dan empat orang kawannya memacu kuda masing-masing, melewati sebuah tikungan dan sampai di sebuah jembatan yang menghubungkan kedua tepi sebuah anak sungai.
Pada saat itu pulalah Kratomlinggo dan kawan-kawannya melihat serombongan penunggang kuda di seberang jembatan. Mereka berjumlah tiga orang dan ketiganya menghentikan kuda di seberang jembatan itu. Melihat gelagat yang tidak baik ini. Kratomlinggo segera hentikan kudanya di tengah-tengah jembatan dan memberi isyarat pada keempat kawannya. Malam memang gelap namun mata Kratomlinggo masih sanggup mengenali penunggang kuda yang paling depan di hadapannya. Manusia itu ternyata adalah prajurit kadipaten yang siang tadi menanganinya!
“Celaka!” bisik Kratomlinggo. “Bagaimana bangsat-bangsat kadipaten ini bisa tahu keberangkatanku ke Kotaraja?!” Sampai saat itu baik dia maupun kawan-kawannya sama sekali masih tidak mengetahui siapa ketiga manusia yang menghadang di ujung jembatan itu!
Penunggang kuda sebelah muka yang tiada lain dari Tapak Luwing adanya tertawa mengekeh. “Rupanya pelajaran dan peringatanku siang tadi masih belum cukup huh!” sentak Tapak Luwing. Kratomlinggo tak menjawab. Namun dia diam, tangan kanannya menyelinap ke balik pinggang meraba hulu golok. Hal yang sama dilakukan juga oleh keempat kawannya. Dan di seberang jembatan kembali terdengar kekehan Tapak Luwing.
Begitu kekehannya berhenti maka terdengar bentakannya.
“Kalian kunyuk-kunyuk mau ke mana?!”
“Kami tak ada permusuhan dengan kalian. Karena itu minggirlah, beri jalan...” kata Kratomlinggo pula.
“Minta jalan? Boleh... lewatlah!” kata Tapak Luwing pula sambil pinggirkan kudanya. Dipersilahkan begitu rupa malah membuat Kratomlinggo dan kawan-kawannya menjadi terpatung, tak bergerak di punggung kuda masing-masing. “Ayo, kenapa tidak mau lewat?!” tanya Tapak Luwing.
Kratomlinggo bimbang.
Dan Tapak Luwing buka suara lagi, “Kalau begitu roh busuk kalian yang akan lewat jembatan ini!”
Sret!
Tapak Luwing cabut goloknya. Terdengar lagi dua kali suara sret yaitu dari golok-golok yang dicabut oleh anak buah Tapak Luwing.
Melihat ini Kratomlinggo dan kawan-kawannya segera pula menghunus golok masing-masing!
“Aku tahu kalian hendak ke kotaraja...,” berkata Tapak Luwing seraya tarik tali kudanya, “Tapi ketahuilah hanya roh-roh busuk kalian yang akan menghadap raja di istana!”
Dalam jarak dua tombak, dengan satu sentakan keras maka kuda Tapak Luwing melompat ke muka. Dua anak buahnya menyusul. Tiga golok berkelebat di bawah cahaya redup bulan sabit.
Lima golok menyambutinya!
Trang... trang... trang...!
Bunga api memercik. Suara beradunya golok-golok itu disusul oleh seruan kesakitan. Dua kawan Kratomlinggo rebah dari atas punggung kuda. Yang satu terbabat perutnya, yang lain puntung lengan kanannya!
Dalam gebrakan kedua, Tiga Hitam dari Kali Comel yang saat itu masih mengenai pakaian prajurit-prajurit kadipaten, kembali mengirimkan serangan hebat tanpa memberikan kesempatan pada lawan! Dua orang lagi menjerit dan roboh, tubuh salah satu daripadanya kemudian kecebur ke dalam sungai. Kratomlinggo sendiri dibikin terjerongkang dari atas punggung kuda, goloknya lepas. Masih untung sampai saat itu dia belum cidera apa-apa. Dan memaklumi bahwa untuk melawan terus adalah satu kesia-siaan maka laki-laki ini segera putar tubuh ambil langkah seribu!
Tapak Luwing tertawa bergelak. “Dasar manusia kintel! Kamu mau lari ke mana?!” Dari balik sabuknya kepala Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel ini keluarkan sebilah pisau belati. Senjata ini melesat dengan mengeluarkan suara berdesing! Kratomlinggo yang tak tahu dirinya tengah dikejar maut, terus juga lari.
Hanya satu jengkal lagi belati yang mengandung racun itu akan menancap di punggungnya maka pada saat itu pulalah dari jurusan semak belukar gelap di tepi sungai melesat sebuah benda berbentuk bintang berwarna putih perak!
Tring! Bunga api memercik.
Bukan saja benda berbentuk bintang ini berhasil membuat pisau beracun Tapak Luwing mental, tapi juga membuat pisau itu patah dua!
Terkejutlah Tapak Luwing. Lupa dia pada niatnya hendak membunuh Kratomlinggo. Dengan serta merta diputarnya tubuhnya.
Matanya yang tajam telah melihat dari arah mana datangnya sambaran benda putih perak berbentuk bintang itu. Dan memakilah kepala Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel itu.
“Setan alas yang ikut campur urusan orang keluar dari persembunyianmu dan terima pisau-pisauku ini!”
Habis bilang demikian Tapak Luwing lemparkan sekaligus tiga bilah pisau beracunnya ke arah semak belukar di kegelapan.
Terdengar suara siulan yang disusul oleh suara tertawa bergelak.
“Aku di sini bung! Kenapa serang tempat kosong?!” kata manusia yang munculkan diri itu dengan nada mengejek.
“Bangsat betul!” maki Tapak Luwing. Dilemparkannya lagi dengan tangan kiri sepasang pisau belati ke arah laki-laki yang berdiri sekira enam tombak di tepi sungai.
***
WIRO SABLENG
DENDAM ORANG-ORANG SAKTI 6
RANG yang berdiri di tepi sungai sambuti serangan itu dengan melambaikan tangan kirinya. Sekali lambai saja maka kedua pisau beracun itupun mentallah.
Kaget Tapak Luwing membuat-laki-laki ini keluarkan seruan tertahan.
“Manusia yang sengaja cari penyakit, siapa kau!” tanyanya membentak dan diam-diam memberikan isyarat pada kedua anak buahnya untuk bersiap-siap dan mengambil posisi mengurung.
“Ada ribut-ribut apa di sini?!”
“Ee kunyuk gondrong!” maki salah seorang anak buah Tapak Luwing. “Kau berani bicara edan sama prajurit-prajurit kadipaten?!”
“Oh... jadi kalian prajurit-prajurit kadipaten...” Laki-laki di tepi sungai keluarkan suara mendengus. “Setahuku prajurit-prajurit kadipaten tidak suka urusan kekerasan, apalagi membunuh manusia begini rupa...!”
Sementara itu Kratomlinggo yang tadi hendak larikan diri, mendengar ada keributan baru di belakangnya, perlahan-lahan palingkan kepala lalu putar tubuh dan berhenti di belakang sebuah pohon. Apa yang disaksikannya kemudian sungguh tidak diduganya.
“Kita tak perlu sembunyikan siapa kita terhadap monyet bermuka manusia ini!” kata Tapak Luwing.
“Nah, terus terang lebih bagus!” menimpali laki-laki di tepi sungai.
“Katakan saja siapa kalian!”
“Sebelum tahu siapa kami sebaiknya lekas-lekaslah berlutut minta ampun!” kata Tapak Luwing pongah.
“Eh, kenapa begitu?”
Karena menyangka bahwa Kratomlinggo sudah larikan diri dan tak ada lagi di tempat itu, maka berkatalah Tapak Luwing “Ketahuilah. Tiga Hitam dari Kali Comel tidak pernah membiarkan terus bernafasnya seorang biang runyam yang ikut campur urusan!”
“Ooo... jadi kalian Tiga Hitam dari Kali Comel, rampok-rampok ganas tiada kemanusiaan itu? Pantas... pantas tampang-tampang kalian hitam macam arang...”
“Haram jadah! Terima golokku!” teriak anak buah Tapak Luwing yang di samping kanan. Dengan gerakan enteng dia melompat dari punggung kuda, dengan sebat goloknya berkelebat ke arah batok kepala laki-laki muda yang berdiri tetap tenang malahan dengan tertawa-tawa!
Tiba-tiba dengan kecepatan yang luar biasa laki-laki muda itu melompat ke belakang. Serangan anak buah Tapak Luwing mengenai tempat kosong. Karena begitu kesusu dan sebatnya maka laki-laki itu jadi terhuyung-huyung sendiri. Sebelum dia sempat mengimbangi badan, satu tendangan menghantam pantatnya!
“Manusia tidak tahu peradatan! Orang bicara dipotong seenaknya! Rasakan sendiri olehmu!”
Melihat kawan dan anak buahnya dipermainkan begitu rupa sampai tersungkur di tanah, Tapak Luwing dan anak buahnya yang satu lagi segera loncat dari kuda.
“Beri tahu namamu lebih dulu, kunyuk!” bentak Tapak Luwing.
“Kalau tidak rohmu akan minggat percuma!”
“Bicaramu terlalu tinggi! Kalau mau tahu namaku majulah...!”
Dengan tertawa bergelak Tapak Luwing menyerbu ke muka.
Sambaran goloknya deras sedang tangan kirinya laksana palu godam membabat ke arah ulu hati lawan. Inilah jurus Angin Mengamuk Pohon Tumbang yang memang bukan olah-olah dahsyatnya.
“Ah, rupanya kau punya ilmu yang diandalkan juga, heh?” ejek lawan yang diserang. Dia merunduk untuk elakkan sambaran golok lalu lompat ke samping guna hindarkan sodokan tinju lawan dan dengan secepat kilat kemudian tangan kanannya yang terbuka menyeruak di antara kedua serangan lawan tadi, menderas ke arah kening Tapak Luwing.
Kepala Tiga Hitam dari Kali Comel itu bukan orang yang berilmu rendah. Kalau tidak percuma saja dia menjadi kepala komplotan yang ditakuti selama bertahun-tahun di sepanjang Kali Comel dan perbatasan.
Dengan sebat, dengan keluarkan bentakan dahsyat Tapak Luwing membuat satu gerakan yang luar biasa. Tubuhnya mencelat satu tombak ke atas dan dalam lompatan itu kaki kanannya menderu muka lawan dan di saat yang sama pula dari sebelah belakang menderu golok anak buah Tapak Luwing ke arah punggung laki-laki muda itu.
Yang diserang bersiul. “Akh... kalian rupanya betul-betul maui jiwaku! Tapi kurasa saat ini belum waktunya!” Pemuda ini berkelebat. Lututnya menekuk kedua tangannya berputar seperti kitir dan, bluk... buk!.
Anak buah Tapak Luwing terjerongkang ke belakang, muntah darah dan menggeletak di tanah. Tapak Luwing sendiri merintih kesakitan sewaktu lengan lawan menghantam tepat tulang keringnya!
Di saat itu anak buah Tapak Luwing yang tadi ditendang pantatnya sudah bangun kembali dan dengan ganas lancarkan serangan dahsyat. Namun nasibnya juga sial. Sekali lawannya berkelebat maka goloknya kena dihantam sikut lawan! Yang satu inipun roboh pula menyusul kawannya.
Merasakan sakit pada kakinya, melihat kedua anak buahnya dibuat begitu rupa, benar-benar Tapak Luwing hampir-hampir merasa seperti orang mimpi. Apakah agaknya kali ini komplotan yang dipimpinnya menemui batunya? Selama bertahun-tahun bertualang dan menjadi pemimpin Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel baru hari itu dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua anak buahnya dibikin menggeletak hanya dalam satu gebrakan saja!
Bahkan dia sendiri merasakan pula bekas tangan lawannya. Lawan yang masih muda belia dan sama sekali tidak dikenalnya.
Dengan penuh geram, Tapak Luwing salurkan tenaga dalamnya lewat lengan kanan terus ke golok sedang tangan kirinya saat itu sudah memegang tiga pisau beracun. Kedua kakinya terpentang, pinggangnya sedikit membungkuk ke muka. Tangan yang memegang pisau dinaikkan ke atas agak ke belakang sedang tangan kanan memegang golok lurus-lurus ke muka.
“Kenalkah kau jurus ini, pemuda keparat?!”
“Ah... hanya jurus Menyebar Bunga Menusuk Buah nenek-nenek keriput pun bisa mengenalnya!” sahut si pemuda.
Bukan saja Tapak Luwing menjadi geram diejek demikian rupa namun dia juga kaget melihat bahwa lawannya bisa menerka jurus yang bakal dikeluarkannya itu!
Untuk menutupi keterkejutannya Tapak Luwing berkata, “Kau sudah tahu nama jurus ini, baik sekali! Tapi juga ketahuilah ini adalah jurus kematianmu! Bagusnya kasih tahu namamu sekarang juga agar kau mampus tidak dengan penasaran!”
“Sudahlah... jangan banyak bacot! Buktikanlah kehebatan jurus yang kau andalkan itu!”
Tapak Luwing tertawa dingin. Tubuhnya semakin membungkuk.
Hampir tak kelihatan dia menggerakkan tangan kirinya maka tiga pisau yang dipegangnya tahu-tahu sudah meluncur sebat sekali ke arah si pemuda. Yang pertama menjurus batang leher, yang kedua mencuit ke dada dan yang terakhir menggebubu ke bawah perut!
Bukan saja daya lesat pisau itu hebat sekali mengingat hanya di lemparkan dengan tangan kiri, namun juga tempat-tempat yang diserangnya juga adalah tempat-tempat yang berbahaya mematikan.
Pada detik pisau-pisau beracun itu melesat ke muka, pada saat itu pula Tapak Luwing menerjang dan putar goloknya dengan sebat.
Dorongan angin golok yang menderu menambah kencangnya daya lesat tiga pisau itu. Maka itulah jurus Menyebar Bunga Menusuk Buah. Pisau dan golok datang susul menyusul!
“Akh jurusmu ini boleh juga!” kata si pemuda. “Tapi coba terima dulu telapak tanganku!”
Si pemuda pukulkan tangan kirinya ke muka. Angin dahsyat melanda dan mementalkan ketiga pisau. Tapak Luwing berseru kaget karena dua dari pisau itu akibat dorongan angin pukulan lawan berbalik menyerang ke arahnya. Mau tak mau Tapak Luwing terpaksa pergunakan goloknya untuk meruntuhkan dua pisau itu.
Tring... tring!
Dua pisau beracun patah-patah dan terlempar jauh. Gerakan untuk menangkis dua pisau ini membuat Tapak Luwing melupakan pertahanan dirinya seketika. Ketika dia memasang kuda-kuda baru maka telapak tangan kanan lawan sudah berada dekat sekali ke kepalanya. Kepala Tiga Hitam dari Kali Comel ini pergunakan goloknya untuk membabat lengan lawan namun kurang cepat karena lengan kiri si pemuda lebih cepat menyusup membentur sambungan sikunya.
Krak!
Plak!
Tapak Luwing mengeluh dan huyung ke belakang. Lengannya patah. Keningnya yang kena dihantam telapak tangan lawan sakit dan panas bukan main. Pada kulit kening itu kini kelihatan tertera angka 212! Tapak Luwing coba alirkan tenaga dalam dan atur jalan darahnya. Namun kekuatannya seperti punah. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Keningnya panas, sakit, dan pemandangannya berkunang, lututnya gontai!
“Keparat...,” desis Tapak Luwing.
“Ee... masih bisa memaki?”
“Kalau hari ini aku kena kau celakai jangan anggap kau sudah mempecundangi aku, orang muda. Suatu hari kelak aku akan mencarimu dan mematahkan batang lehermu!”
Tapak Luwing ambil tiga pisau terbang dengan tangan kirinya.
Cepat sekali senjata itu dilemparkannya ke arah si pemuda lalu secepat itu pula dia putar tubuh untuk larikan diri. Si pemuda melompat ke samping. Dua pisau lewat di kiri kanannya. Pisau ketiga diluruhkannya dengan lambaian tangan kiri! Kemudian sambil totokkan dua jari tangan kanannya mengirimkan totokan jarak jauh berserulah si pemuda, “Kenapa pergi buru-buru?! Bicaraku tadi padamu belum habis!”
Kontan saat itu juga tubuh Tapak Luwing menjadi kaku tegang tak bisa bergerak lagi! Si pemuda tertawa dan berpaling pada pohon besar di tepi sungai.
“Saudara yang sembunyi di belakang pohon, keluarlah. Aku mau bicara juga dengan kau!”
Kratomlinggo, yang berdiri di belakang pohon itu terkejut. Namun karena tahu bahwa itu pemuda bukanlah dari golongan jahat maka tanpa ragu-ragu dia segera keluar. Lagi pula penuturan Tapak Luwing tadi yang mengaku bahwa dia dan kawan-kawannya adalah Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel membuat dia merasa perlu melakukan penyelidikan lebih jauh.
“Saudara, apakah yang telah terjadi di sini sebelumnya dengan kau dan kawan-kawan...?”
“Panjang ceritanya, Saudara. Tapi sebelumnya kalau aku boleh tahu siapa namamu...?”
“Aku Wiro...,” jawab si pemuda.
“Aku Kratomlinggo. Aku dan kawan-kawanku yang malang itu sama-sama dari desa Bojongnipah. Kami bermaksud pergi ke kotaraja...”
Maka Kratomlinggopun menuturkan segala sesuatunya, mulai dari soal pajak gila yang ditarik oleh Ki Lurah Kundrawana sampai dengan kematian keempat kawannya itu.
Wiro atau Wiro Sableng alias Pendekar 212 geleng-gelengkan kepalanya. “Aku memang sudah lama dengar nama komplotan bejat mereka. Yang satu ini kalau tak salah bernama Tapak Luwing. Pantas saja selama beberapa waktu terakhir ini tak kelihatan mereka malang melintang di sepanjang Kali Comel. Rupanya tengah bikin kejahatan di sini...”
“Dan pastilah penjahat-penjahat ini bekerja sama atau jadi kaki tangan Ki Lurah Kundrawana...”
“Boleh jadi,” sahut pendekar 212. “Tapi mungkin juga merekalah biang runyam yang melakukan pemerasan terhadap Ki Lurah!”
Kratomlinggo mengangguk. “Supaya jelas biar bangsat yang satu ini kita tanyai.” kata Wiro Sableng pula. Dia melangkah mendekati Tapak Luwing untuk melepaskan totokan di tubuh kepala Komplotan Tiga Hitam itu. Namun baru saja satu tindak dia melangkah tiba-tiba sekali berkelebatlah satu sosok tubuh dari kegelapan. Makhluk ini langsung meraih pinggang Tapak Luwing dan membopong melarikannya!
Kratomlinggo terkejut.
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 berteriak, “Maling tengik! Berhenti!”
Sebagai jawaban, terdengar suara tertawa bekakakan dari orang yang melarikan Tapak Luwing itu.
“Wiro Sableng, pemuda gendeng! Jangan sangka cuma kau sendiri yang jago dan sakti di jagat ini! Aku tunggu kau besok siang di Rawasumpang! Kuharap kau punya nyali untuk menerima undangan kematianmu ini! Ha... ha... ha...!”
“Sompret betul! Siapa kau! Berhenti!”
“Besok siang. Wiro!”
Dengan, geram pendekar 212 lepaskan pukulan Kunyuk Melempar Buah ke arah manusia tak dikenal itu! Deru angin yang tiada terkirakan dahsyatnya menyerang si orang asing. Pada saat itu pula terlihat selarik sinar biru. Dan angin pukulan Wiro Sableng terbendung laksana membentur dinding baja! Terkejutlah pendekar 212. Pukulan yang dilancarkannya tadi disertai hampir sepertiga dari tenaga dalamnya. Namun manusia yang tak dikenal itu berhasil meruntuhkan pukulan tersebut!
Besarlah dugaan Wiro Sableng bahwa orang yang memboyong Tapak Luwing itu adalah guru Tapak Luwing, setidak-tidaknya kakak seperguruannya. Atau mungkin juga seorang sakti dari golongan hitam yang berkawan dengan Tapak Luwing.
***

WIRO SABLENG
DENDAM ORANG-ORANG SAKTI 7
HALAMAN rumah lurah Bojongnipah penuh oleh penduduk. Suasana malam terang benderang oleh puluhan obor. Agaknya penduduk Bojongnipah sudah tak dapat menahan kesabarannya lagi untuk mencincang dengan segala senjata yang mereka bawa, kedua manusia yang saat itu terikat ke tiang langkan rumah. Mereka tiada lain daripada anak-anak buah Tapak Luwing yang telah dirobohkan oleh Pendekar 212. Keduanya telah siuman.
Di samping terikat ke tiang, keduanya juga berada dalam pengaruh totokan Wiro Sableng.
Kratomlinggo berdiri di samping Ki Lurah Kundrawana. Beberapa tombak dari mereka berdiri tenang-tenang Wiro Sableng.
Kratomlinggo baru saja menerangkan apa yang diketahuinya tentang kedua orang itu kepada Ki Lurah dan juga apa yang telah terjadi di tepi sungai dekat jembatan.
Bola mata Ki Lurah Kundrawana pulang balik memandangi Wiro Sableng dan kedua anak buah Tapak Luwing. Saat itu Lurah Bojongnipah ini tak dapat lagi menahan hati dan mengendalikan amarahnya. Untuk sesaat lupa dia bahwa anaknya masih berada di dalam tawanan Tapak Luwing dan Tapak Luwing sendiri saat itu tidak berhasil ditangkap!
“Saudara-saudaraku se-Bojongnipah...,” kata Kundrawana seraya maju beberapa langkah ke hadapan penduduk yang berdesak-desakan.
“Sekarang kurasa sudah waktunya untuk menerangkan kepada kalian apa sesungguhnya latar belakang timbulnya pajak gila itu! Aku dengan hati hancur dan seribu satu kepahitan telah terpaksa menerima segala kata-kata dan cap yang kalian lemparkan padaku!
Kalian mencap aku sebagai tukang peras, aku telah terima. Kalian cap aku sebagai lintah darat, sebagai tukang tindas... sebagai ini, sebagai itu, semuanya aku terima! Namun hari ini, malam ini kalian terimalah juga satu penuturan dariku, satu kenyataan yang menyebabkan terjadinya pemungutan pajak berat itu. Dulu aku pernah berkata bahwa pajak itu dipungut atas perintah raja, untuk pembangunan dan pemeliharaan balatentara kerajaan. Kini kuakui itu semua hanya alasan belaka, hanya dusta besar yang aku karang-karang demi untuk menyelamatkan keluargaku dan juga menyelamatkan kalian semua dari keganasan dan kejahatan yang kalian tidak ketahui...”
Penduduk Bojongnipah saling pandang memandang satu sama lain penuh ketidakmengertian. Ki Lurah Kundrawana menyapu wajah mereka seketika lalu meneruskan bicaranya. “Tadi kalian sudah dengar semua keterangan Kratomlinggo. Ini satu kenyataan bagus yang dengan sendirinya telah mencuci diriku. Tapi biar aku beri penjelasan lebih lengkap. Dua manusia yang terikat itu adalah anak buah Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel, komplotan rampok-rampok bejat yang dikepalai oleh Tapak Luwing yang berhasil melarikan diri ditolong oleh seorang tak dikenal. Jadi ketiganya sama sekali bukanlah prajurit-prajurit kadipaten seperti yang mereka sengaja menyamar pagi tadi! Tiga minggu yang lewat, di satu malam mereka telah datang ke rumahku dan memaksaku untuk menarik pajak sepuluh kali lebih besar dari yang sudah-sudah. Jadi berarti aku harus menarik pajak sebanyak sebelas kali terhadap kalian.
Yang sepuluh bagian harus kuserahkan pada mereka sedang yang satu bagian sebagaimana biasa diserahkan ke Linggajati di mana Adipati Linggajati kemudian meneruskan ke kotaraja. Aku coba untuk melawan. Tapi di samping mereka bertiga berilmu tinggi aku tak bisa berbuat apa-apa karena anakku satu-satunya mereka bawa! Anakku akan mereka bunuh kalau pajak itu tidak aku pungut dari penduduk di sini! Kalian bisa merasakan dan mengetahui sendiri kini. Tak ada jalan lain bagiku untuk membantah, kecuali kalau ingin putera tunggalku menemui kematiannya...!”
Suasana malam sesepi di pekuburan kini! Penduduk sama menganga dan terlongong-longong. Tentu saja hal ini tiada diduga sama sekali oleh mereka. Dan serentak pula dengan itu maka menggelegaklah kemarahan penduduk. Ketika seseorang di antara mereka berseru, “Cincang dua bangsat ini!” maka menyerbulah penduduk Bojongnipah dengan senjata masing-masing. Namun di saat itu Pendekar 212 maju ke muka dan berseru nyaring. Sengaja seruannya itu disertai tenaga dalam untuk mempengaruhi penduduk yang tengah marah itu.
“Saudara-saudara, jangan ceroboh! Kunyuk-kunyuk ini akan dapat bagiannya juga! Tapi kalian harus ingat pada nasib anak lurah kalian! Karena itu biarkan aku bicara sebentar dengan salah satu dari mereka...!”
Kalau saja penduduk tidak mendapat keterangan dari Kratomlinggo siapa adanya pemuda berambut gondrong itu, pastilah penduduk tak akan mau ambil perduli akan ucapan Wiro Sableng, lagi pula tenaga dalam si pemuda diam-diam sudah meresap mempengaruhi mereka!
Wiro mendekati anak buah Tapak Luwing yang terikat di tiang langkan sebelah kanan.
“Namamu siapa, sobat?” tanyanya.
Laki-laki itu diam saja. Hanya kedua bola matanya berputar menyorot melontarkan pandangan sangat membenci dan mendendam.
“Eeeh rupanya bekas tanganku membuat kau jadi tuli, huh!”
“Keparat! Tak usah banyak bicara... Kelak hari pembalasan dari pemimpinku Tapak Luwing akan tiba! Kalian semua di sini akan dikirim ke neraka!”
Wiro Sableng menyeringai.
“Mungkin kau dan kawanmu yang akan lebih dahulu dicincang penduduk sampai lumat!” kata Wiro Sableng pula. “Tak usah banggakan pemimpinmu! Dia sudah kabur bersama seorang kawannya!”
Keterangan ini mengejutkan kedua anak buah Tapak Luwing. Memang sejak mereka siuman tadi mereka tidak melihat pemimpin mereka dan tak tahu berada di mana.
Dan Wiro berkata lagi, “Aku mempunyai dugaan bahwa kau ada sangkut pautnya dengan adipati di Linggajati. Katakan saja terus terang...” Anak buah Tapak Luwing diam.
“Katakan!” bentak Wiro.
Sebaliknya laki-laki itu meludah ke lantai.
“Beset saja mulutnya!” teriak Kratomlinggo yang sudah tak sabaran.
“Kau tak mau kasih keterangan?” tanya pendekar 212.
Anak buah Tapak Luwing itu meludah sekali lagi ke lantai langkan!
Wiro tertawa.
Dijangkaunya sebuah obor yang dipegang oleh seorang penduduk.
“Pernah rasa panasnya api?” tanya pendekar ini dengan tertawa-tawa.
“Tampang-tampang macammu ini akan lebih keren bila disundut begini rupa!”
Wiro Sableng lantas menyorongkan api obor ke muka laki-laki itu.
Anak buah Tapak Luwing tak sanggup gerakkan kepalanya karena tertotok. Keluhan kesakitan terdengar tiada henti. Udara malam kini berbau hangusnya bulu mata, alis dan sebagian rambut laki-laki itu.
Kulit mukanya kelihatan merah terbakar.
“Mau sekali lagi?!” tanya Wiro dengan tertawa-tawa.
“Aku bersumpah kalau lepas akan membunuhmu dan tujuh keturunanmu!” kata anak buah Tapak Luwing penuh penasaran.
“Jangan ngaco! Kau tak akan lepas dari sini. Kalaupun lepas mungkin cuma rohmu saja! Dan aku belum punya keturunan...!”
Pendekar muda itu tertawa mengekeh. Mau tak mau orang banyak yang menyaksikan itu jadi ikut-ikutan geli.
“Ayo, katakan apa hubunganmu dengan Adipati Linggajati!” bentak Wiro seraya mendekatkan api obor ke muka laki-laki itu.
“Tak ada hubungan apa-apa...!” jawab anak buah Tapak Luwing.
“Ah... ini satu kebohongan atau kedustaan?!”
“Aku tidak dusta. Tidak bohong!”
“Lantas apa perlumu pagi tadi menyamar bertiga-tiga menjadi prajurit-prajurit kadipaten...?”
“Itu bukan urusanmu!”
“Oh begitu? Memang bukan urusanku. Tapi urusan api obor ini!”
Dan sekali lagi api obor menjilati muka laki-laki itu. Dia menjerit-jerit.
Wiro menunggu sampai beberapa detik di muka. “Mau kasih keterangan apa tidak?” tanyanya.
“Aku akan terangkan...!” berkata juga laki-laki itu pada akhirnya.
Wiro tersenyum. Ditariknya obor kembali. “Nah bicaralah. Yang keras agar semua orang dengar!”
Maka anak buah Tapak Luwing itupun memberikan penuturan, “Adipati Seta Boga dari Linggajati mengirimkan seorang utusan pada kami. Dia telah membuat rencana untuk melakukan pemerasan di sini. Kami ditawarkannya pekerjaan untuk menarik pajak itu dengan perjanjian hasilnya dibagi dua. Pemimpin kami menerimanya dan... dan...”
“Sudah. Itu sudah cukup terang!” kata Wiro Sableng pula.
Ki Lurah Kundrawana maju ke muka. “Jadi ini semua dibiangi oleh Adipati Seta Boga...?”
“Ya...”
“Kita harus tangkap adipati itu!” teriak penduduk.
“Gantung saja bersama kunyuk-kunyuk yang dua ini!” teriak yang lain.
Pendekar 212 angkat tangan kirinya. “Soal adipati itu serahkan padaku.” katanya. “Yang penting kini ialah menyelamatkan anak laki-laki Ki Lurah...”
Tersiraplah darah Ki Lurah Kundrawana bila dia ingat kembali akan anaknya. Dijambaknya rambut anak buah Tapak Luwing.
“Anakku di mana kalian sekap?!” tanyanya.
Laki-laki itu tertawa buruk. Sangat buruk, apalagi melihat mukanya yang hangus dan merah mengelupas. “Jangan harap anakmu akan selamat Kundrawana!”
Kundrawana menyentakkan kepala laki-laki itu. “Di mana?!”
“Mungkin sudah mampus di tangan pemimpinku!”
Kundrawana mengambil obor dari tangan Wiro Sableng. Anak buah Tapak Luwing menjerit keras ketika obor itu disodokkan ke mata kanannya. Mata itu pecah dan darah meleleh di kulit mukanya yang mengelupas hangus!
“Kedua matamu akan kubikin buta keparat! Kecuali, kalau kau segera menerangkan di mana anakku kalian sekap!”
Laki-laki itu sebenarnya menyadari bahwa kalau sudah tertangkap demikian rupa dirinya tak akan mungkin lagi bisa selamat. Adalah percuma saja baginya untuk memberikan keterangan. Namun dalam diri manusia yang berkeadaan seperti anak buah Tapak Luwing saat itu, walau bagaimanapun senantiasa selalu terdapat sekelumit harapan untuk bisa menyelamatkan diri sehingga ancaman matanya akan dibutakan kedua-duanya itu mau tak mau mengerikannya juga!
Maka diapun memberikan keterangan, “Anak itu disekap di satu kuil tua di Parit Kulon...”
Lega sedikit hati Kundrawana. “Tapi,” katanya, “bila aku datang ke sana anakku tidak ada atau kutemui dia dalam keadaan sudah mati jangan harap kau bisa melihat dunia ini sampai esok lusa!”
Kini pendekar 212 yang buka suara, “Saudara-saudara apapun yang kalian lakukan terhadap dua kunyuk ini, itu bukan urusanku lagi. Tapi sedapat-dapatnya jangan diapa-apakan dulu dia sebelum anak Ki Lurah ketemu dalam keadaan selamat. Soal Adipati Seta Boga di Linggajati, serahkan padaku. Besok kalian bisa mengambil sosok tubuhnya di Kadipaten Linggajati. Cuma aku tak dapat memastikan apakah dalam keadaan masih bernafas atau tidak. Itu tergantung pada sikapnya sendiri! Sekiranya dia masih hidup, ada baiknya kalian giring saja ke kotaraja... Nah, selamat tinggal!”
“Saudara, tunggu dulu!” seru Kratomlinggo dan Kundrawana hampir berbarengan. Namun Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 sudah berkelebat lewat langkan, lewat kepala-kepala penduduk Bojongnipah lalu lenyap ditelan kegelapan malam.
***
Hanya sebentar suasana sepi menyeling. Bila bayangan sosok tubuh pendekar 212 sudah lenyap ditelan kegelapan malam maka lupalah penduduk Bojongnipah akan pesan pendekar itu. Beramairamai mereka menyerbu kedua anak buah Tapak Luwing yang berada dalam keadaan tak berdaya, terikat ke tiang langkan dan tertotok. Puluhan senjata laksana hujan bertubi-tubi mampir ke kepala dan tubuh kedua orang itu. Tiada terdengar suara jeritan kedua orang ini, rintihan pun tidak! Mereka telah menemui nasib pembalasan atas kejahatan mereka. Keduanya menghembuskan nafas dengan tubuh mandi darah dan muka hancur tak bisa dikenali lagi.
Ki Lurah Kundrawana tidak menyaksikan lagi apa yang diperbuat penduduk Bojongnipah itu. Bersama Kratomlinggo dan tiga orang lainnya, dengan menunggangi kuda, dia meninggalkan Bojongnipah menuju Parit Kulon, sebuah pesawangan yang jarang didatangi manusia, terletak kira-kira empat kilometer dari desa. Satu-satunya bangunan di Parit Kulon adalah kuil tua yang diterangkan anak buah Tapak Luwing. Karenanya meskipun malam tak sukar untuk mencarinya.
Ki Lurah Kundrawana menyalakan obor yang dibawa. Diiringi oleh keempat orang lainnya dia masuk ke dalam kuil tua itu. Meski dia menemui anaknya dalam keadaan menyedihkan namun Kundrawana merasa lega dan gembira karena anak satu-satunya itu ternyata masih bernafas. Anaknya tidur di ubin kotor dengan pakaian yang juga kotor. Tubuhnya kurus dan parasnya pucat karena tak terurus. Tangan dan kakinya diikat. Kundrawana berlutut lalu memeluk anaknya itu. Kratomlinggo membuka tali yang mengikat tangan serta kaki si anak yang saat itu sudah bangun. Tetesan air mata mengalir di pipi Ki Lurah Kundrawana. Tapi air mata kali ini adalah air mata gembira.
***
Sementara itu di tempat lain... Tapak Luwing merasa tubuhnya yang kaku karena ditotok itu dibawa lari dalam kegelapan malam oleh seseorang. Sinar bulan yang tidak begitu terang menyeruaki pohon-pohon sepanjang jalan yang mereka lalui dan menyinari paras laki-laki itu samar-samar.
Tapak Luwing terheran dan berpikir-pikir. Laki-laki yang membawanya berlari itu tidak dikenalnya sama sekali. Siapa dia dan ke mana manusia ini mau membawanya! Kemudian apakah dia seorang yang akan menolongnya atau bukan? Tapi melihat gelagat dan ucapannya terhadap pemuda berambut gondrong tadi Tapak Luwing bisa sedikit memastikan bahwa laki-laki ini tidak bermaksud jahat terhadapnya. Diam-diam hatinya merasa lega. Maka bertanyalah dia, “Sobat, kau siapakah?”
“Jangan banyak tanya dulu!” menjawab orang yang memanggulnya. Suaranya besar dan parau, larinya laksana angin.
“Kita ini ke manakah?” tanya Tapak Luwing lagi.
“Aku bilang jangan bertanya apa-apa dulu. Apa tidak mengerti?!”
Tapak Luwing penasaran sekali. Namun dia menurut dan menutup mulutnya. Sepanjang perjalanan itu, satu hal saja yang diketahui oleh Tapak Luwing tentang orang yang memanggul dan membawa larinya yaitu laki-laki itu puntung tangan kanannya sampai sebatas bahu!
Ketika sampai di sebuah telaga kecil akhirnya laki-laki bertangan buntung itu menghentikan larinya. Tapak Luwing diturunkan dan disandarkan ke sebatang pohon di tepi telaga. Kemudian dilepaskannya totokan di tubuh Tapak Luwing.
“Atur nafas dan jalan darahmu. Kerahkan tenaga dalam!” berkata si tangan buntung.
Tapak Luwing segera melakukan hal itu. Tidak disuruh pun memang semustinya dia sudah bermaksud demikian, sesuai dengan setiap ajaran ilmu silat dari aliran dan golongan manapun.
Kemudian dengan tangannya yang cuma satu laki-laki itu dengan cekatan mengobati lengan Tapak Luwing yang patah dan membalutnya dengan secarik kain.
“Aku berhutang budi dan nyawa padamu sobat.” kata Tapak Luwing.
Laki-laki yang menolongnya tertawa. “Ada hutang ada piutang...,” katanya di antara tertawanya, “ada budi ada balas.”
“Maksudmu, sobat?” tanya Tapak Luwing. “Di satu hari kelak pertolongan yang kuberikan padamu ini akan kutagih...”
Tapak Luwing kerenyitkan kening. “Tidak kau tagih pun, jika ada kesempatan aku pasti akan membalasnya. Bahkan jika aku sudah sembuh dan kau bersedia ikut ke Kali Comel, aku akan hadiahkan kepadamu harta benda, perhiasan dan uang seberapa saja kau suka.”
Si tangan buntung menyeringai. Gigi-giginya hitam kecoklatan.
“Aku tidak butuh semua itu.” desisnya. Dipegangnya balutan di lengan Tapak Luwing. Sesaat kemudian Tapak Luwing merasakan aliran tenaga dalam yang ampuh merembas ke dalam tubuhnya.
Tubuhnya menjadi segar kini dan rasa sakit pada lengannya yang patah itu berkurang.
“Terima kasih.” kata Tapak Luwing. “Apa sudah boleh aku kenal padamu. Aku Tapak Luwing...”
“Aku tahu siapa kau. Aku sudah lama dengar tentang komplotanmu yang malang melintang di sepanjang Kali Comel. Dan ketika tahu bahwa kau berada di sekitar sini, timbul satu maksud untuk menemuimu.”
“Apakah maksud itu?” bertanya Tapak Luwing.
“Tadi aku sudah bilang, ada hutang ada piutang, ada budi ada balas. Satu hari kelak aku membutuhkan tenagamu...!”
“Jangan khawatir, aku pasti bersedia. Tapi untuk keperluan apakah?”
“Kau tak usah tahu untuk keperluan apa. Kau nanti akan tahu juga. Dengar, nanti pada hari tigabelas bulan dua belas kau harus datang ke Gunung Tangkuban Perahu...”
“Gunung Tangkuban Perahu...?”
“Ya. Masih kira-kira delapan bulan dari sekarang. Dan satu hal harus kau ingat. Jangan sekali-kali coba kembali ke desa Bojongnipah untuk buat perhitungan dengan Ki Lurah Kundrawana, salah-salah kau bisa ketemu dengan bangsat yang telah mencelakaimu tadi! Walau bagaimanapun untuk saat ini kau tak akan mampu menghadapinya! Ada saat untuk menyelesaikan urusan dengan dia. Karena itu kau musti datang ke Tangkuban Perahu pada hari tiga belas bulan dua belas nanti. Dengar?”
Tapak Luwing mengangguk. “Kau tahu siapa bangsat itu agaknya?” dia bertanya.
“Angka pengenalnya telah dituliskannya di keningmu.”
Terkejutlah Tapak Luwing. Dirabanya keningnya. Tak ada rasa sakit tapi memang kulit kening itu agak kesat dari sebelumnya.
“Berkacalah ke telaga itu.”
Tapak Luwing merangkak ke tepi telaga. Dia membungkuk dekat-dekat ke air telaga yang jernih itu dan di bawah penerangan sinar bintang-bintang serta bulan sabit samar-samar dilihatnya tertera tiga buah angka. Angka 212! Tapak Luwing memandang keheran-heranan pada si tangan buntung lalu memperhatikan lagi mukanya di air telaga. Diusapnya keningnya. Diusapnya lagi sampai beberapa kali tapi angka 212 itu tidak mau hilang. Dibasahinya keningnya dengan air telaga lalu diusapnya lagi berulang kali. Tetap saja angka 212 itu tidak mau hilang!
“Dengan apapun dan cara bagaimanapun angka itu tak akan bisa pupus dari keningmu Tapak Luwing! Angka itu ditera dengan telapak tangan yang mengandung tenaga dalam dan kesaktian yang luar biasa. Sekalipun kulit keningmu dikelupas sampai ke batok kepalamu maka pada tulang batok kepalamu pun angka itu sudah meresap!”
“Siapa sesungguhnya manusia muda berambut gondrong dengan angka pengenal 212 itu...” tanya Tapak Luwing pula.
“Namanya Wiro Sableng. Dia sakti sekali...” jawab si tangan buntung. “Tapi,” katanya kemudian menambahkan, “di hari tiga belas bulan dua belas nanti, kelak ajalnya akan sampai!”
Diam-diam, meskipun si tangan buntung tidak menerangkan tapi Tapak Luwing tahu, kini bahwa antara si tangan buntung dan pemuda rambut gondrong yang telah mencelakainya itu terdapat sangkut paut dendam kesumat.
“Selama waktu delapan bulan mendatang,” berkata lagi si tangan buntung, “kuanjurkan kepadamu untuk berlatih ilmu silat yang telah kau miliki agar lebih hebat.”
Tapak Luwing mengangguk.
Si tangan buntung berkata, “Sekarang kita berpisah. Jangan lupa hari tiga belas bulan dua belas itu. Dan jangan coba-coba untuk tidak memenuhi perintahku ini...”
“Kau mau ke mana sobat?”
“Urusanku masih banyak...”
“Tapi kau masih belum menerangkan namamu.”
“Namaku Kalingundil!”

***

DENDAM ORANG-ORANG SAKTI 8
LINGGAJATI sudah agak sepi ketika dia sampai ke sana karena hari sudah menjelang larut malam dan udara dingin mencucuki kulit tubuh sampai ke tulang-tulang. Di sebuah kedai dia berhenti untuk membasahi tenggorokan dan menghangatkan tubuhnya dengan segelas bandrek. Di kedai ini juga dia telah menanyakan di mana letak tempat kediaman Adipati Seta Boga.
Tak sukar mencari tempat kediaman Adipati Seta Boga. Rumahnya adalah sebuah gedung yang paling bagus dan paling besar di Linggajati. Saat itu gedung tersebut berada dalam suasana tenang tenteram. Dua orang pengawal berdiri di pintu masuk dan di ruang tamu kelihatan beberapa orang laki-laki. Rupanya Adipati Seta Boga tengah menerima beberapa orang tamu.
Laki-laki itu melangkah seenaknya di depan kedua pengawal kadipaten. “Di sini rumahnya Adipati Seta Boga?” tanyanya pada salah seorang pengawal.
“Betul. Ada apa...?” balik menanya si pengawal.
“Ah tidak apa-apa. Aku cuma tanya...” jawab si pemuda.
Digaruknya rambutnya yang gondrong. “Adipatinya ada...?”
“Ada, sedang menerima tamu. Kau siapa? Perlu apa tanyatanya...?”
“Cuma tanya.” jawab si pemuda. Digaruknya lagi rambutnya lalu tanpa bilang apa-apa dia melanjutkan langkahnya.
“Sialan...” maki pengawal itu.
Yang dimaki jalan terus.
Pengawal yang satu berkata “Orang gendeng...” Keduanya memandang sampai pemuda tadi lenyap di tikungan jalan yang gelap.
Setengah jam kemudian, ketika pemuda itu kembali maka tamu-tamu di Kadipaten sudah tak kelihatan lagi. Lampu besar di ruang depan sudah diganti dengan lampu kecil. Melihat kedatangan si pemuda dan yang seperti tadi berhenti di depan mereka maka membentaklah salah seorang dari pengawal.
“Orang sinting! Ada apa kau datang lagi ke sini?!”
“Pergi sebelum kepalamu kupentung dengan gagang tombak ini!” menghardik yang seorang lagi.
Si pemuda menyeringai. “Dengar sobat-sobatku.” katanya. Kedua tangannya diacungkan ke muka. Jari-jari telunjuk dan jari-jari tengah diluruskan. “Kalian lihat jari-jari tanganku ini...?” tanyanya.
“Kunyuk gendeng! Berlalulah atau kuremukkan kepalamu!” bentak pengawal sambil acungkan tombaknya.
“Ah... jangan buru-buru marah tak karuan. Bicaraku masih belum habis!” menyahuti si pemuda tanpa acuhkan ancaman pengawal.
Jari-jari tangannya masih diluruskan. “Coba kalian hitung jari-jari tangan yang kuacungkan ini.” katanya.
Tentu saja kedua pengawal jadi tambah mengkal melihat tingkah dan mendengar ucapan si pemuda. Maka dua gagang tombak pun meluncur deras ke kepala pemuda itu. Namun lebih cepat lagi dari luncuran kedua tombak itu, maka kedua tangan si pemuda tahu-tahu sudah menotok urat di pangkal leher pengawal-pengawal. Kontan keduanya menjadi gagu dan kaku menegang.
Si pemuda tertawa. Kedua pengawal itu sekaligus dipanggulnya di bahu kiri kanan kemudian dimasukinya halaman kadipaten.
Pengawal-pengawal yang dipanggul kemudian dilemparkannya ke kandang kuda di belakang rumah. Lewat pintu belakang dia masuk ke dalam gedung kadipaten yang saat itu belum dikunci. Seorang perempuan separuh umur, yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan yang saat itu tengah mencuci piring terkejut melihat munculnya seorang pemuda berambut gondrong yang tak dikenalnya. Dan pemuda itu tersenyum kepadanya.
“Kau... kau siapa...?” tanyanya.
Si pemuda masih senyum. Tangan kirinya dilambaikan. Selarik angin tajam menyambar ke leher si perempuan. Perempuan ini hendak berteriak. Namun saat itu mulutnya sudah gagu, lidahnya sudah kelu sedang tubuhnya tak bisa lagi digerakkan akibat totokan jarak jauh yang lihai sekali. Si pemuda kemudian memasukkan perempuan itu ke dalam sebuah bilik kosong di bagian belakang gedung.
Saat itu Adipati Seta Boga tengah membuang hajat kecil di kamar mandi. Ketika dia masuk kembali ke dalam gedung maka terkejutlah Adipati Linggajati ini. Betapa tidak! Di atas kursi goyang, di mana dia sering duduk bila melepaskan lelah, kini dilihatnya duduk enak-enakan sambil memejam-mejamkan mata seorang pemuda berbadan kekar dan berambut gondrong yang sama sekali tidak dikenalnya!
“Setan atau manusia dari mana yang kesasar ke gedungku ini...?” ujar Adipati Seta Boga di dalam hati. Dan pemuda di atas kursi terus juga menggoyang-goyangkan badannya dan kedua matanya masih dipejamkan.
“Siapa kau?!” bentak Adipati itu dengan suara menggeledek dan menggema di empat dinding ruangan.
Kursi goyang itu bergoyang-goyang juga. Pemuda yang duduk di atasnya masih terus duduk enak-enakan dan memejamkan mata.
Geram sekali Adipati Seta Boga jadinya. Dengan langkah besar-besar dia maju mendekat kursi goyang dan orang yang mendudukinya.
Telapak tangan kanan terkembang dan detik itu juga maka melayanglah tamparannya!
Beberapa saat lagi tangan kanan itu akan mendarat di pipi si pemuda tiba-tiba si pemuda bukakan kedua matanya. Dan seperti alas kursi itu mempunyai per yang melesatkan si pemuda ke atas demikianlah tubuh pemuda itu melayang enteng sampai dua tombak dari kursi yang didudukinya! Dan sebagai akibatnya maka tangan kanan Adipati Seta Boga kini menghantam sandaran kursi goyang.
Sandaran kursi itu pecah. Kayunya berkeping-keping berantakan. Dapat dibayangkan bagaimana jika seandainya tamparan itu mendarat di pipi si pemuda karena tamparan itu tidak boleh tidak tentu mengandung tenaga dalam yang luar biasa!
“Ah... kau rupanya Seta Boga...,” kata si pemuda sambil mengusap matanya. “Aku sedang enak-enakan tidur, kau mengganggu saja...!”
“Anjing kurap kenapa kau bisa kesasar ke mari? Apa minta ditebas batang lehermu?!” radang Adipati Seta Boga. Geram sekali dia. Selama menjadi adipati baru hari ini ada seseorang yang memanggilnya dengan 'Seta Boga' saja.
Si pemuda tertawa dan seperti tak ada hal apa-apa dia duduk kembali seenaknya di atas kursi goyang, kembali bergoyang-goyang dan memejamkan matanya.
“Setan alas betul!” damprat Seta Boga. Sekali kaki kanannya bergerak maka mental dan hancurlah kursi goyang itu. Tapi si pemuda sekejapan sebelum itu sudah melompat dan berdiri di sudut ruangan dekat sebuah meja kecil.
“Kursi bagus ditendang sampai hancur. Kau sudah sinting rupanya Seta Boga?” tanya si pemuda sambil menyengir.
Sementara itu karena suara ribut-ribut di ruang tengah maka istri Seta Boga ke luar dan di samping heran dia juga terkejut melihat apa yang terjadi.
“Kakang ada apakah? Siapa manusia ini?!” tanya perempuan itu.
“Pergi, panggil pengawal!” teriak Seta Boga pada istrinya.
Perempuan itu berteriak memanggil pengawal. Namun tiada pengawal yang datang. Dua pengawal kadipaten sebelumnya sudah dibikin 'mendengkur' oleh si pemuda di kandang kuda!
Kegeraman Seta Boga tak terkirakan lagi ketika dilihatnya pemuda berambut gondrong itu mengambil sebatang cerutu miliknya dan dalam kotak cerutu yang terletak di atas meja kecil di sudut ruangan lalu menyalakannya sekaligus!
Rahang-rahang Seta Boga bertonjolan. Jari-jari tangan kanannya diremas-remaskannya satu sama lain. Sesaat kemudian kelihatanlah jari-jari tangan itu menjadi merah. Warna merah terus menjalar sampai sebatas siku.
“Anjing kurap yang kesasar, hari ini terima nasibmu harus mampus oleh pukulan Wesi Geni-ku!” Tangan kanan yang merah itu dipukulkan ke muka. Selarik angin yang tidak terkirakan panasnya menggebubu ke arah si pemuda.
Tubuh si pemuda berkelebat.
Wuss!
Brak!
Istri Seta Boga menjerit.
Dinding di muka mana pemuda itu tadi berdiri hancur berlubang dan menjadi hitam hangus! Orang yang diserang kelihatan di sudut ruangan sebelah kanan, asyik-asyikan menyedot cerutu!
Dada Seta Boga menjadi sesak oleh amarah yang meluap. “Siapa kau sebenarnya?!” bentak Adipati Linggajati ini.
Si pemuda batuk-batuk lalu cabut cerutunya dari sela bibir.
“Namaku...?” ujarnya. “Masa kau tidak tahu?!”
“Setan alas...!”
Si pemuda tertawa menanggapi makian itu.
“Namaku Tapak Luwing,” katanya. “Aku datang untuk menyerahkan sebagian dari uang pungutan pajak di desa Bojongnipah. Ini terimalah...!”
Si pemuda mengeruk saku bajunya. Sesuatu dalam genggamannya kemudian dilemparkannya ke arah Adipati Seta Boga.
Laki-laki ini cepat menghindar dan lambaikan tangan kanannya. Benda yang dilemparkan ternyata adalah kira-kira selusin kalajengking yang saat itu sudah mati dan bertebaran di lantai. Istri Seta Boga memekik lalu lari ke dalam kamar. Si pemuda tertawa bekakakan!
Adipati Seta Boga tak menunggu lebih lama menyambar sebuah tombak yang dipajang di dinding. Dengan senjata ini dia kemudian menyerang si pemuda! Si pemuda tenang-tenang selipkan cerutunya ke bibir, menghisapnya dengan cepat lalu menghembuskan asapnya ke arah Seta Boga. Adipati ini terpaksa melompat ke samping sekali lagi karena asap cerutu itu mengandung tenaga dalam dan menyambar ke arah kedua matanya!
Dari samping kini Seta Boga melancarkan serangan. Tombak di tangannya membabat kian kemari. Tangan kiri melakukan pukulan-pukulan tangan kosong jarak jauh beberapa kali berturut-turut! Inilah jurus Kitiran dan Alu Sabung Menyabung. Jurus ini biasanya dilaksanakan dengan memakai pedang. Tapi dengan tombakpun kehebatannya tidak olah-olah.
Tapi betapa terkejutnya Seta Boga ketika si pemuda dengan tertawa-tawa berkata, “Ah, cuma jurus Kitiran dan Alu Sabung Menyabung, siapa takut? Sambuti serangan balasan ini, Seta Boga!”
Demikianlah, meskipun diserang tapi si pemuda bukannya mengelak malahan menyambut dengan serangan pula!
“Ini jurus Membuka Jendela Memanah Rembulan Seta Boga!” kata si pemuda. Lengan kirinya dipukulkan melintang dari atas ke bawah sedang tangan kanan meluncur ke atas dalam gerakan yang cepat sekali dan sukar dilihat oleh mata!
Ngek!
Buk!
Tombak di tangan Seta Boga terlepas mental karena lengannya kena dibabat oleh lengan lawan Suara ngek yang ke luar dari tenggorokannya adalah akibat urat besar di bawah dagunya telah kena ditotok oleh si pemuda. Di saat itu pula tubuhnya tak bergerak lagi alias kaku tegang! Karena sebelum ditotok Seta Boga telah menyeringai kesakitan akibat benturan lengan lawan maka di saat tubuhnya menjadi kaku itu, mimik parasnya sungguh tak sedap untuk dipandang!
Si pemuda cabut cerutu dari sela bibirnya dan meniupkan asap cerutu itu ke muka Seta Boga. “Sayang sekali,” katanya. “Jurus Kitiran dan Alu Sabung Menyabung-mu terpaksa bertekuk lutut di bawah jurus Membuka Jendela Memanah Rembulan-ku...”
Ditiupkannya lagi asap cerutu ke muka Seta Boga. Totokan pada urat besar di bawah dagu Seta Boga telah melumpuhkan tubuhnya, membuat mulutnya menjadi gagu dan perasaannya menjadi tumpul.
Cuma telinganya saja saat itu yang masih sanggup mendengar. Maka berkatalah si pemuda. “Dengar Seta Boga... besok Ki Lurah Kundrawana dan penduduk Bojongnipah akan datang ke sini. Kalau nasibmu baik kau akan mereka seret ke hadapan Raja di kotaraja. Tapi kalau nasibmu buruk, mereka akan mengeremusmu beramai-ramai! Dan sebelum aku pergi, terima hadiah kenang-kenangan ini dariku...”
Si pemuda acungkan jari telunjuk tangan kanannya. Dengan mempergunakan ujung jari itu diguratnya tiga buah angka di kening Seta Boga, 212...!
Ketika pada keesokan harinya Ki Lurah Kundrawana dan dua lusin penduduk Bojongnipah bersenjata lengkap datang ke gedung kadipaten di Linggajati, mereka heran menemui gedung itu dalam keadaan kosong. Tak satu manusiapun ada di dalamnya.
“Pasti Adipati keparat itu sudah melarikan diri!” Kata Kundrawana geram.
Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak dari belakang gedung.
Ketika Kundrawana dan yang lain-lainnya pergi ke belakang gedung mereka hampir tak percaya dengan penglihatan mereka. Lima orang kelihatan berdiri tak bergerak-gerak di kandang kuda. Di sebelah muka adalah Adipati Seta Boga dan istrinya. Di kiri kanan mereka pengawal-pengawal Kadipaten dan di sebelah belakang perempuan yang menjadi pembantu rumah tangga! Ketika diperiksa kelimanya masih dalam keadaan bernafas dan ditotok urat darah mereka.
Ki Lurah Kundrawana memandang pada angka 212 yang tertera di kening Adipati Seta Boga. “Dua satu dua...,” desisnya. Dia hanya goleng-goleng kepala lalu memerintah, “Perempuan-perempuan dan pelayan lepaskan totokannya. Seta Boga kita seret ke kotaraja!”
***
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng melangkah perlahan menuju ke tepi sungai. Di tempat yang agak kelindungan dia membuka pakaian dan mandi membersihkan diri. Sambil mandi itu kadang-kadang dia tertawa sendiri bila mengingat kejadian malam tadi di Kadipaten Linggajati. Mungkin pagi itu Kundrawana sudah sampai di Linggajati, mungkin masih dalam perjalanan. Satu manusia jahat, satu kejahatan telah berakhir. Tapi pendekar 212 tahu bahwa selama dunia terbentang, selama itu pula kejahatan tak pernah akan berakhir!
Selesai mandi badannya terasa segar. Matahari sudah mulai tinggi. Suara siulan keluar dari sela bibirnya sedang pikirannya mengingat-ingat pertempurannya dengan Tapak Luwing dan laki-laki yang telah melarikan Tapak Luwing serta menantangnya itu.
Tantangan ini mengingatkannya pada pertempurannya di Goa Sanggreng dengan Bergola Wungu tempo hari. Kali ini untuk kedua kalinya dia ditantang. Siapa pula gerangan kali ini yang menantangnya?
“Hidup ini memang penuh tantangan? Tantangan yang timbul dari diri kita sendiri dan dari diri manusia-manusia lain... Sungguh gila kehidupan ini! Tapi kegilaan inilah yang mendatangkan kenikmatan...” Maka siulan pendekar 212 itu semakin meninggi dan melengking membawakan lagu tak menentu.
Tentang diri manusia yang telah melarikan Tapak Luwing itu hanya dua hal yang diketahui oleh Wiro Sableng. Pertama, dalam kegelapan malam dia melihat bahwa manusia itu buntung tangan kanannya. Kedua, ketika dia melancarkan pukulan Kunyuk Melempar Buah dengan mempergunakan sepertiga bagian dari tenaga dalamnya, manusia bertangan buntung itu telah menyambuti pukulan tersebut dengan selarik sinar biru! Dan pukulan Kunyuk Melempar Buah telah terbendung oleh selarik sinar biru itu! Ini membawa pertanda bahwa si tangan buntung itu siapapun adanya pastilah memiliki ilmu yang tinggi. Pendekar 212 menduga manusia ini mungkin sekali guru atau kakak seperguruan Tapak Luwing.
Dikenakannya pakaiannya kembali dan diteruskannya perjalanannya.
***
Rawasumpang satu daerah tandus penuh rawa-rawa maut yang menghisap setiap benda apa saja yang masuk ke dalamnya. Daerah ini terletak empat kilo di sebelah timur Linggajati. Ke sinilah Wiro Sableng menuju.
Angin dari utara bertiup kencang membuat pakaian dan rambutnya yang gondrong berkibar-kibar. Dia memandang ke bawah.
Pedataran luas penuh rawa-rawa maut itu sunyi sepi. Tak satu manusiapun yang dilihatnya. Wiro memandang ke langit. Matahari tengah bergerak dalam gerakan yang tidak kelihatan menuju ke titik tertingginya.
Tiba-tiba dari arah timur terdengar suara bergelak yang santar sekali! Pendekar kita berpaling ke arah itu. Sesosok tubuh laksana anak panah berlari kencang sekali di pedataran luas di sela-sela tebaran rawa-rawa. Begitu suara gelaknya hilang maka tubuhnya sudah berada di bawah bukit di mana pendekar 212 berada. Bukit itu tidak berapa tinggi dan dalam jarak sejauh itu Wiro Sableng segera dapat mengenali siapa adanya manusia yang bertangan buntung itu.
“Kalau dia yang menjadi penantangku malam tadi, pastilah dia telah memiliki ilmu yang tinggi dan sangat diandalkan...” kata Wiro Sableng dalam hati. “Tapi...,” ujarnya lagi, “bagaimana mungkin dalam tempo beberapa bulan saja kepandaiannya sudah seluar biasa ini...?”
“Manusia yang merasa bernama Wiro Sableng, merasa bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, turunlah! Atau aku yang musti naik ke atas bukit itu?!” Terdengar suara laki-laki di bawah bukit.
Pendekar kita keluarkan suara bersiul.
“Tikus buduk cacingan kalau sudah jadi kucing dapur memang berabe!” katanya. “Ada kabar apa kau mengundang aku ke sini kucing dapur...?”
Paras Kalingundil kelam membesi. Dengan suara keras dia menyahuti, “Tadinya aku kira kau tak punya nyali untuk datang ke sini pendekar edan! Hitungan kita tempo hari masih belum selesai...”
“Oho, jadi untuk maksud itukah kau kehendaki pertemuan ini? Bagus sekali Kalingundil. Memang urusan yang belum selesai harus diselesaikan. Benang kusut harus diurai baik-baik kembali!”
“Tepat sekali,” jawab Kalingundil. “Cuma satu hal pendekar gila. Kalingundil yang dulu tidak sama dengan yang kau lihat hari ini!”
Wiro Sableng tertawa bergelak. “Tentu saja. Tadipun aku sudah bilang bahwa dari tikus buduk cacingan kau sudah berubah menjadi kucing dapur. Tapi kau tak banyak berbeda Kalingundil! Tanganmu yang dulu buntung sekarang masih tetap buntung! Seharusnya kau cari tukang kayu yang pandai untuk membuat tangan palsu...!”
Mendidih darah di kepala Kalingundil. Tangan kirinya bergerak, memukul ke atas. Setiup angin biru deras menyambar ke arah Wiro Sableng. Pendekar itu lompat ke samping dengan sebat dan menyaksikan bagaimana tanah bukit tempatnya berdiri tadi terpupus berhamburan laksana longsor dihantam angin pukulan Kalingundil!
Diam-diam Wiro Sableng menjadi kagum juga terhadap lawannya itu. Kepada siapakah Kalingundil telah menuntut ilmu selama beberapa bulan ini?
“Pendekar gila, jangan petatang-peteteng juga! Turunlah ke pedataran rawa-rawa ini!” teriak Kalingundil. “Turun untuk terima kematianmu!”
“Setiap undangan baik dan buruk pantang kuelakkan, Kalingundil.” sahut Wiro Sableng. Laksana seekor burung garuda dia melompat ke bawah.
Dalam keadaan tubuh melayang di udara itu, Kalingundil kirimkan tiga pukulan tangan kosong sekaligus, beruntun hebat sekali. Pendekar 212 sambut pukulan ini dengan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera.
Maka beradulah pukulan-pukulan dahsyat yang mengandung tenaga dalam yang tinggi itu sehingga menimbulkan suara meletus hebat. Untuk sesaat pendekar 212 merasakan tubuhnya yang melayang di udara laksana tertahan oleh sebuah dinding yang tak kelihatan sedang di bawah sana Kalingundil melesak kedua kakinya sampai dua dim ke dalam tanah!
Sungguh Pendekar 212 tidak menyangka kehebatan tenaga dalam Kalingundil berlipat ganda banyak sekali dari beberapa bulan yang lalu! Di lain pihak Kalingundil sendiri mengeluh dalam hati.
Waktu melancarkan tiga pukulan beruntun tadi dia telah mengerahkan tiga perempat bagian tenaga dalamnya. Meski dia telah memiliki ilmu silat yang aneh dan tinggi mutunya namun nyatanya lawan itu masih lebih tangguh!
Kalingundil kertakkan geraham.
“Pemuda gila, terima pukulan Siluman Biru ini!” bentak Kalingundil. Tangan kanannya dipukulkan ke muka. Sinar biru berkiblat menyambar ke arah pendekar 212 yang saat itu baru saja injakkan kaki kanannya di tanah deat tepian rawa!
Pendekar kita lompat setinggi empat tombak dan dari atas ganti mengirimkan pukulan balasan yang tak kalah hebatnya.
Pukulan angin menimbulkan suara seperti ratusan seruling yang ditiup secara bersamaan. Debu berputar-putar ke udara, lumpur rawa-rawa seperti mendidih. Kalingundil kerahkan tenaga dalamnya ke kaki untuk mempertahankan diri. Tubuhnya bergetar dilanda angin pukulan lawan namun sepasang kakinya laksana baja tetap bertahan di tempatnya. Penasaran sekali, dengan membentak Pendekar 212 lipat gandakan tenaga dalamnya dalam pukulan itu!
Kini Kalingundil tak dapat lagi bertahan dengan segala kehebatan yang dimilikinya itu. Kedua kakinya laksana akar pohon berserabutan dari dalam tanah, terlepas dari pertahanannya. Tubuhnya terhuyung keras ke belakang ke arah rawa-rawa maut. Dihantamkannya tangannya ke muka untuk membendung angin pukulan lawan dan serentak dengan itu dia jungkir balik di udara melompati sebuah rawa kecil dan berdiri di bagian lain dari pedataran! Dengan demikian kedua manusia itu berhadapan satu sama lain, terpisah oleh sebuah rawa-rawa!
Laki-laki bertangan buntung itu tertawa dingin. Tangan kirinya bergerak ke balik pakaian.. Sesaat kemudian di tangan kiri itu tergenggam sebuah pedang buntung yang berwarna biru. Meskipun buntung, melihat kepada kilauan sinar biru dari senjata itu Wiro Sableng maklum bahwa pedang di tangan lawannya adalah sebuah pedang mustika.
“Kau lihat pedang ini, pemuda edan?!” bentak Kalingundil.
“Nyawamu ada di ujung senjata ini!”
Pendekar 212 tertawa mengekeh. “Orang dan senjatanya sama saja! Sama-sama buntung!” mengejek murid Eyang Sinto Gendeng itu.
Merah padam muka Kalingundil.
“Mengejek memang mudah. Tapi ketahuilah, membunuhmu dengan senjata ini jauh lebih mudah lagi!” kata Kalingundil pula.
“Buka matamu lebar-lebar orang gila dan lihat ini!” Kalingundil menyapukan pedang buntungnya ke arah rawa-rawa di hadapannya.
Lumpur rawa itu muncrat ke atas sampai tujuh tombak. Sebagian besar menyibak laksana terbelah sehingga dasar rawa yang hitam legam terlihat jelas beberapa detik lamanya!
“Senjata hebat,” ujar Wiro Sableng dalam hati. “Dalam keadaan buntung demikian luar biasanya, apalagi kalau dalam keadaan sempurna. Bagaimana ini kucing dapur dapatkan senjata itu...?”
“Kau sudah lihat pendekar gila?!” terdengar bentakan Kalingundil.
“Senjatamu boleh juga, Kalingundil. Tapi daripada dipakai buat kejahatan lebih baik ditempa untuk membikin sambungan tangan palsumu!”
Marahlah Kalingundil. Disapukannya senjata itu ke arah pendekar 212. Maka berkiblatlah sinar biru yang menyilaukan!
Pendekar 212 tidak bodoh. Dengan cepat dialirkannya tenaga dalamnya ke kedua telapak tangan. Dia melompat ke udara.
“Ciat!”
Didahului oleh bentakan yang menggeledek itu maka Wiro Sableng lepaskan pukulan Dinding Angin Berhembus Tindih Menindih. Begitu pukulan ini melesat memapasi serangan lawan maka Wiro susul dengan pukulan Kunyuk Melempar Buah yang perbawanya disertai aliran tenaga dalam sampai setengah bagian dari yang dimilikinya!
Pukulan yang pertama membuat serangan Kalingundil tertahan laksana menumbuk dinding karang yang atos. Pukulan yang kedua bukan saja membuat buyar sinar biru dari pukulan Kalingundil, tapi sekaligus melabrak pukulan tersebut sehingga kini Kalingundil yang berada dalam keadaan diserang! Ini memaksa Kalingundil menyingkir dua tombak ke samping. Kemudian tanpa membuang waktu lebih lama laki-laki ini menerjang ke muka. Pedangnya membabat deras, sinar biru yang menghamburkan hawa dingin serta tajam menyambar ke arah pendekar 212!
Wiro Sableng membentak nyaring! Suara bentakannya ini membuat gendang-gendang telinga Kalingundil tergetar. Pedangnya melabrak ke arah perut lawan tapi dalam kejapan itu pula lawannya berkelebat dan lenyap dari pemandangan! Penasaran sekali Kalingundil putar pedang buntungnya demikian rupa. Maka sinar birupun bergulung-gulung mengurung Wiro Sableng!.
Sebagaimana kebiasaan pendekar 212, dalam setiap pertempuran yang mulai menghebat maka di saat itu pula mulai terdengar suara siulannya melengking-lengking membawakan lagu tak menentu! Tubuhnya hanya merupakan bayang-bayang. Karena sukar untuk menentukan mana tubuh yang sebenarnya dan mana yang hanya bayang-bayang, maka hampir keseluruhan serangan-serangan Kalingundil menghantam tempat kosong. Namun demikian memang permainan silat siluman yang didapat Kalingundil di Goa Siluman tempo hari meskipun cuma sepertiganya saja yang dikuasainya, benar-benar patut dikagumi.
Pendekar 212 tahu bahwa lawannya sampai dua puluh jurus di mukapun tak akan dapat mendesaknya, apalagi melukainya. Tapi di samping itu, pihaknya sendiri sukar pula melakukan serangan balasan karena setiap serangan yang dilancarkan Kalingundil merupakan jurus pertahanan! Demikianlah kehebatan ilmu silat siluman yang dimiliki oleh manusia bertangan buntung itu!
Tapi adalah percuma saja Wiro Sableng menjadi murid dan digembleng selama tujuh belas tahun oleh nenek-nenek sakti Eyang Sinto Gendeng kalau dia tak bisa menghadapi lawan begitu rupa satu lawan satu!
Maka Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 segera robah permainan silatnya. Jurus-jurus yang tak terduga dari Kalingundil dihadapinya dengan jurus-jurus tak teratur yang gerabak-gerubuk kian kemari. Kedua tangannya terkembang di kedua sisi laksana sayap burung garuda sedang dari mulutnya senantiasa terdengar suara siulan melengking yang menyamaki liang telinga Kalingundil!
Saat itu kedua orang ini sudah bertempur sampai tiga puluh jurus! Sungguh hebat! Tiga puluh jurus seperti tidak terasa! Dan kini kentara sekali bagaimana Kalingundil terdesak hebat.
Bagaimanapun Kalingundil mempercepat jurus-jurus permainan silatnya, bagaimanapun dia merobah gerakan-gerakannya dan mengamuk laksana banteng terluka, namun tetap saja dia berada di bawah angin, malahan kini terdesak ke arah rawa-rawa maut!
“Ha... ha... rupanya jalan ke nerakamu harus melalui rawa-rawa maut ini, Kalingundil!”
“Budak hina dina jangan ngaco! Sambut bintang silumanku ini!”
Sambil melompat jauh, dengan masih memegang pedang buntung, Kalingundil gunakan tangan kirinya untuk mengirimkan selusin benda berbentuk bintang yang berwarna biru ke arah lawannya.
“Akh... mainan anak-anak ini kenapa musti dipertontonkan?!” ejek pendekar 212. Tangan kanannya diputar ke udara. Serangkum angin puyuh menggebubu dan bintang-bintang siluman itupun berhamburanlah kian ke mari tiada mengenai sasarannya.
Pada detik Wiro Sableng gunakan tangannya untuk menyambuti senjata rahasia lawan maka kesempatan ini dipergunakan oleh Kalingundil untuk melompat ke seberang rawa-rawa kecil.
“Kucing dapur! Kau mau lari ke mana...?!” teriak Wiro Sableng.
Sebagai jawaban Kalingundil lemparkan segulung benda putih ke arah pendekar 212. Mulanya Wiro menyangka benda itu sebuah senjata rahasia, tapi ketika diketahuinya hanya secarik kertas putih yang digulung maka segera ditangkapnya dan di saat itu pula Kalingundil pergunakan kesempatan sekali lagi untuk melompat jauh lalu dengan ilmu larinya yang lihai ditinggalkannya tempat itu.
Wiro tidak punya maksud untuk mengejar laki-laki bertangan buntung itu. Dengan penuh tanda tanya dibukanya gulungan kertas di tangannya. Ternyata selembar surat yang ditujukan oleh Kalingundil kepadanya: Cacat di tubuhku tak akan terlupa seumur hidup. Kematian kawan-kawanku dan kematian Mahesa Birawa tak akan terlupa selama hayat. Semua itu kau yang menjadi biang sebab. Hari pembalasan akan tiba! Berani berbuat berani tanggung jawab! Hari tiga belas bulan dua belas kutunggu kau di puncak Gunung Tangkuban Perahu. Kalau kau tak punya nyali untuk datang lebih baik bunuh diri sekarang juga!
Pendekar 212 penasaran sekali. Diremasnya surat itu. “Sialan betul kucing dapur itu!” gerendeng Wiro Sableng. Dia lari ke bukit. Namun bayangan Kalingundil sudah tak kelihatan lagi.
Tantangan yang dibuat Kalingundil di Rawasumpang itu hanyalah sekedar untuk menjajaki sampai di mana kehebatan ilmu silat silumannya bisa menghadapi musuh besarnya itu. Nyatanya Wiro Sableng masih tetap jauh lebih digjaya dari dia. Namun dia tidak kecewa. Pada hari yang telah direncanakannya itu, kelak dendam kesumatnya akan kesampaian. Dan sekaligus di Rawasumpang itu dia telah menyampaikan surat undangan kematian bagi musuh besarnya itu. Dia yakin pendekar 212 akan datang ke puncak Gunung Tangkuban Perahu!
***
WIRO SABLENG
DENDAM ORANG-ORANG SAKTI 9
PUNCAK Gunung Halimun. Puncak gunung ini kelihatan diselimuti awan putih. Bila angin barat bertiup maka beraraklah awan itu ke jurusan timur dan Puncak Gunung Halimun kembali kelihatan dengan jelas dan megah.
Selewatnya tengah hari, sesosok tubuh berlari laksana angin, menuju ke puncak gunung. Semakin ke puncak udara semakin sejuk serta segar. Laki-laki itu mempercepat larinya seakan-akan tak sabar untuk lekas-lekas sampai ke tempat yang ditujunya. Maka lewat sepeminuman teh sampailah dia ke puncak tertinggi dari gunung itu.
Dia memandang berkeliling. Ke mana mata memandang hanya bebatuan saja yang kelihatan. Mulai dari kerikil-kerikil kecil sampai kepada unggukan-unggukan batu besar sebesar rumah! Di kaki-kaki batu-batu besar yang rata-rata licin berlumut itu tumbuh rumput-rumput liar. Laki-laki itu bertangan buntung. Dia tak lain adalah Kalingundil. Mengapa dia berada di puncak gunung ini ialah dalam meneruskan rencana besarnya yaitu membalaskan dendam kesumat terhadap pendekar 212 Wiro Sableng.
Kalingundil dengan gerakan yang enteng melompat ke salah satu batu besar. Seseorang yang tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang ampuh pasti tak akan sanggup membuat lompatan lihai itu, kalaupun dapat, mungkin begitu menginjak batu, kakinya akan terpeleset karena licinnya lumut! Kalingundil memandang ke seantero puncak gunung yang telah mati itu. Di antara unggukan-unggukan batu-batu maka di tengah-tengah kelihatanlah kawah yang besar yang sudah padam.
Kawah ini berbentuk kerucut dan dalam sekali. Kalingundil melompat lagi ke batu besar yang lebih tinggi. Sekali lagi dilayangkannya pandangannya ke seantero puncak gunung. Bila dia sudah yakin betul bahwa tempat kediaman orang yang hendak ditemuinya itu bukanlah di permukaan puncak gunung maka segeralah dia melompat ke tepi kawah. Dari sini dia terus turun ke dalam kawah.
Selain dalam, kawah Gunung Halimun sukar sekali untuk dituruni.
Tapi Kalingundil dengan cekatannya lompat sana lompat sini sehingga dalam waktu yang singkat dia sudah berada di dasar kawah.
Udara di dalam dasar kawah gunung ini pengap dan menyesakkan pernafasan. Karenanya Kalingundil segera atur jalan nafasnya. Begitu dirinya dapat menguasai kepengapan itu, maka dia segera meneliti keadaan dasar kawah di mana dia berada. Luas dasar kawah yang merupakan pusat kerucut itu hanya beberapa kali lebih besar dari sebuah sumur. Seluruh dasar kawah merupakan pasir campur tanah yang sudah membeku den mengeras selama berabad-abad sesudah gunung itu meletus. Putaran bola mata Kalingundil terhenti pada sebuah lobang yang besarnya selebar bahu manusia.
Laki-laki ini segera mendekati lobang itu. Menelitinya sesaat lalu tanpa ragu-ragu segera memasukinya. Mula-mula dia hanya bisa merangkak. Tapi semakin ke dalam lobang itu semakin besar sehingga dari merangkak kini dia dapat membungkuk-bungkuk dan akhirnya berjalan seperti biasa.
Kalingundil sampai ke sebuah ruang empat persegi berdindingkan batu-batu hitam yang kasar. Dari keempat sudut ruangan ini keluar empat liukan asap tipis yang berwarna hitam.
Begitu, hidungnya mencium bau yang disebar oleh asap ini mendadak sontak kepala Kalingundil menjadi pusing. Cepat-cepat Kalingundil kerahkan tenaga dalam dan tutup jalan nafasnya.
Kalingundil tahu bahwa ruangan batu itu bukanlah ruangan buntu. Tapi matanya tiada melihat adanya pintu atau sebuah celah pun. Laki-laki ini menengadah ke atas. Maka kelihatanlah di langit-langit ruangan sebuah liang tangga batu. Dia memandang berkeliling lalu enjot kedua kaki dan melompat ke tepi liang, terus menaiki tangga batu. Anehnya, bagaimanapun tingginya ilmu mengentengi tubuh yang dimilikinya namun setiap langkah yang dibuatnya di tangga batu itu berbunyi dan bergema keras!
Begitu sampai di anak tangga yang teratas maka sampailah Kalingundil ke satu ruangan putih yang sangat bersih. Demikian bersih dan berkilatan putihnya dinding-dinding serta lantai dan langit-langit ruangan itu, sehingga tak ubahnya seperti berada di satu ruangan kaca.
Tepat di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah batu besar dan di atas batu besar ini sesosok tubuh laksana patung tengah bersemedi jungkir balik, kaki ke atas kepala ke bawah di atas batu.
Sosok tubuh ini mengenakan sehelai kain putih yang dibalutkan sekujur badan mulai dari betis sampai ke dada. Kepala dan paras orang yang bersemedi tiada kelihatan karena tertutup oleh janggut putih yang panjang, hampir menyamai panjangnya rambut yang menjulai di lantai dan juga berwarna putih! Sungguh hebat cara manusia ini bersemedi!
Namun pandangan Kalingundil segera terbagi pada seekor harimau besar belang tiga yang berbaring di samping laki-laki yang tengah bersemedi. Begitu melihat kemunculan Kalingundil, makhluk ini berdiri dan menggereng. Mulutnya membuka lebar. Gigi dan taringnya kelihatan besar-besar serta runcing mengerikan. Didahului dengan auman yang dahsyat dan menggetarkan ruangan putih itu maka melompatlah binatang itu. Kedua kaki terpentang ke muka, kuku-kuku yang tajam dan panjang siap merobek tubuh Kalingundil!
Kalingundil yang maklum bahwa harimau itu bukan binatang biasa tapi peliharaan seorang sakti dengan cepat segera melompat ke samping hindarkan diri. Namun meskipun demikian cepatnya, sang harimau lebih cepat lagi! Laksana seorang jago silat kawakan, masih melayang di udara binatang itu putar tubuh, ekornya berkelebat!
Ekor yang panjang laksana cambuk itu menghantam bahu Kalingundil yang buntung. Pakaiannya robek. Bahunya sakit tiada terkirakan. Kalingundil kerahkan tenaga dalam dan di saat itu terpaksa segera melompat pula ke samping karena si belang sudah menyerangnya kembali!
Hanya dengan berkelebat-kelebat cepat dan sigaplah maka Kalingundil berhasil mengelakkan setiap serangan. Dia menghitung-hitung, sampai saat itu telah dua puluh jurus dia bertempur menghadapi sang harimau. Dan selama itu Kalingundil terus-terusan bersikap mengelak, sama sekali tak mau menyerang! Kalau dia mengelak terus, di satu ketika mungkin sekali harimau itu berhasil juga mengoyak daging tubuhnya! Kalau dia melawan, sedangkan binatang itu adalah peliharaan orang sakti dengan siapa dia ingin bertemu dan bicara! Inilah yang menyulitkan Kalingundil! Dan sementara dia bertempur demikian rupa, orang yang bersemedi masih juga terus bersemedi, seperti tiada terganggu, seperti tak mengetahui adanya pertempuran yang dahsyat itu!
Satu-satunya jalan bagi Kalingundil untuk tidak mendapat celaka dan tidak mencelakai ialah meninggalkan ruangan putih itu, menghindar keluar untuk sementara, menunggu sampai orang yang bersemedi menyelesaikan semedinya.
Maka ketika harimau itu mengaum dan menyerang, Kalingundil jatuhkan diri ke lantai lalu bergulingan ke arah tangga. Pada saat harimau itu hendak menubruknya sekali lagi. Kalingundil sudah lenyap ke bawah tangga...
Telah tiga hari Kalingundil menunggu di dasar kawah itu. Telah tiga kali pula dia masuk ke dalam ruang putih dan mengintai dari balik anak tangga teratas, namun sampai saat itu orang yang bersemedi masih juga belum meninggalkan batu persemediannya.
Menunggu sampai satu minggu pun bagi Kalingundil bukan suatu apa, tapi yang menyusahkannya ialah untuk mendapatkan bahan makanan selama hari-hari penungguan itu.
Empat hari kemudian, pada kali yang ke tujuh Kalingundil mengintai dari balik anak tangga, orang itu dilihatnya masih juga bersemedi. Dengan hati kesal Kalingundil menuruni tangga kembali.
Tapi begitu dia keluar dari liang tangga dan sampai di ruang bawah maka mendadak terdengar suara menggema dari ruang putih.
“Manusia yang berani-beranian menginjakkan kaki kotor di tempatku cepat datang menghadap untuk terima hukuman!”
Terkesiap Kalingundil mendengar ini.
“Ayo cepat! Tunggu apa lagi?!” kata suara dari ruang putih.
Kalingundil memutar langkahnya kembali. Dalam melangkah kembali ke liang tangga, terdengar lagi suara tadi.
“Hemm... seorang bertangan buntung macammu sungguh tak pantas masuk ke tempatku! Hukumanmu lipat ganda hai manusia!”
Tentu saja Kalingundil terkejut mendengar ini. Bagaimana orang di dalam ruangan putih itu bisa mengetahui bahwa tubuhnya cacat?
Meski dia sakti luar biasa tapi mereka belum pernah bertemu muka dan tak mungkin menurut pikiran Kalingundil orang itu mengetahui hal keadaan dirinya! Kalingundil lupa bahwa dinding dan langit-langit ruangan putih di atas sana tak ubahnya seperti kaca sehingga orang yang ada di ruangan putih akan mudah melihat siapa saja yang ada di ruang bawah!
Kalingundil melompat ke atas dengan gerakan enteng lalu menaiki tangga. Ketika dia muncul di ruangan putih anehnya harimau yang berbaring tidak lagi menyerangnya. Sedang manusia berselempang kain putih masih tetap berdiri dengan kepala di atas batu kaki ke atas! Seperti hari-hari sebelumnya parasnya masih  tertutup oleh julaian janggut putihnya yang panjang menjela-jela. Meski harimau belang tiga itu tidak menyerangnya, namun Kalingundil berdiri dengan waspada.
“Kau siapa?!” membentak si kepala ke bawah kaki ke atas.
“Namaku Kalingundil. Apakah saat ini aku berhadapan dengan Begawan Sitaraga?” tanya Kalingundil setelah terangkan dia punya nama.
Yang ditanya tak menjawab melainkan ajukan pertanyaan, “Perlu apa kau datang mengotori tempatku ini, manusia tangan buntung?!”
“Harap dimaafkan kalau kedatanganku mengotori tempatmu.
Tapi sesungguhnya aku tiada maksud demikian,” kata Kalingundil pula. “Aku...”
“Sudah! Jangan berbacot juga! Melangkahlah lebih dekat untuk terima hukumanmu!”
Sebaliknya justru Kalingundil hentikan langkah. Diperhatikannya manusia yang berdiri jungkir balik di atas batu itu.
“Melangkah lebih dekat!” bentak orang itu. Suaranya menggaung di ruangan putih sedang harimau di sampingnya menggeram tak kalah hebat.
“Begawan...”
Kalingundil putuskan kalimatnya. Kaki kiri manusia di hadapannya dilihatnya bergerak. Serangkum angin yang sangat deras melanda ke arah Kalingundil. Ruangan itu bergetar. Dengan jungkir balik secepat yang bisa dilakukannya Kalingundil berhasil elakkan serangan dahsyat itu!
Terdengar suara gelak mengekeh. “Pantas... pantas kau berani petatang-peteteng datang ke sini untuk bikin kotor tempatku. Rupanya kau memiliki ilmu yang diandalkan juga! Aku mau lihat apakah kau juga sanggup mempertahankan diri dengan jurus kaki selaksa baja ini?!”
Kepala yang di atas batu itu berputar. Kedua kaki bergerak. Tahu kalau dirinya hendak diserang lagi dengan tendangan jarak jauh yang lebih dahsyat dari tadi, Kalingundil cepat mendahului berseru. “Begawan! Tahan! Aku datang membawa kabar untukmu!”
Oleh ucapan yang lantang ini maka orang. itu hentikan
maksudnya untuk kirimkan serangan, “Aku tidak kenal padamu! Kabar apa yang kau bawa?! Cepat katakan!” hardiknya. Dia masih juga berdiri, dengan kepala ke bawah kaki ke atas seperti tadi.
“Kabar ini kabar buruk Begawan...”
“Sialan! Buruk atau baik cepat katakan! Jangan habiskan kesabaranku monyet alas!”
Kalingundil pada dasarnya sangat tidak senang mendengar kata-kata makian seperti itu. Namun dia menjawab juga. “Sobat kentalmu Mahesa Birawa menemui kematiannya di tangan seorang manusia keparat...”
Tubuh di atas batu kelihatan bergerak dan tahu-tahu manusia itu kini sudah tegak dengan kedua kakinya di atas batu. Maka kini kelihatan parasnya yang sejak tadi tertutup oleh geraian janggut putih panjang. Kulit mukanya sangat pucat seperti tiada berdarah.
Pipinya cekung dan rongga matanya lebih cekung lagi membuat wajahnya angker sekali untuk dipandang. Rambutnya putih panjang sampai ke bahu sedang janggutnya menjulai sampai ke perut.
Kalingundil menjura memberi hormat. “Jadi betul saat ini aku berhadapan dengan Begawan Sitaraga..?” tanyanya.
Si muka pucat tidak ambil perduli pertanyaan itu.
“Siapa yang bunuh dia dan dari mana kau bisa tahu?!”
Kalingundil segera buka mulut berikan keterangan. “Mahesa Birawa dan beberapa orang Adipati memimpin sejumlah balatentara untuk memerangi Pajajaran. Tapi mereka kalah. Semua Adipati menemui ajalnya. Mahesa Birawa sendiri tewas di tangan seorang pemuda sakti.”
Maka kelihatanlah kerutan-kerutan muncul di paras Begawan Sitaraga yang membuat parasnya menjadi tambah angker. Kedua matanya menyipit, pandangannya setajam mata pedang! Rencana untuk memerangi Pajajaran memang dia sudah tahu lama bahkan sebagaimana perundingannya dengan Mahesa Birawa, dia sendiri telah menjanjikan akan turun tangan membantu pemberontakan Mahesa Birawa karena memang sejak lama dia mempunyai dendam kesumat dengan keluarga istana Pajajaran! Di puncak Gunung Halimun dia hanya menunggu kabar dari Mahesa Birawa kapan penyerangan dilakukan. Tapi hari ini datang seseorang yang membawa kabar bahwa pemberontakan gagal dan Mahesa Birawa sendiri menemui kematian! Tentu saja ini tak bisa dipercayainya.
“Aku tidak percaya pada kau punya bicara, manusia tangan buntung!” bentak Begawan Sitaraga.
“Demi apapun aku berani sumpah bahwa aku tidak dusta, Begawan” jawab Kalingundil dengan suara merendah meskipun hatinya gusar karena dipanggil dengan nama “manusia tangan buntung” itu.
“Namamu siapa...”
“Kalingundil!”
“Punya hubungan apa kau dengan Mahesa Birawa?”
“Dia adalah pemimpin dan sobat kentalku sejak tahunan, Begawan...”
“Baik! Tapi aku tidak tahu apa itu betul atau tidak. Jawab pertanyaanku untuk membuktikan kebenaran keteranganmu! Siapa nama Mahesa Birawa sebenarnya...?”
Kalingundil tertawa. “Kau keliwat tidak percaya pada pihak sendiri, Begawan...”
“Siapa akui kau pihakku...? Tampangmu yang jelek inipun baru kali ini aku lihat!”
Kalingundil menggerutu dalam hati.
“Ayo jawab pertanyaanku! Siapa nama asli Mahesa Birawa?!”
“Suranyali!” jawab Kalingundil.
“Hem...” Sitaraga merenung, “Mahesa Birawa seorang berkepandaian tinggi. Tidak semudah itu untuk merenggut nyawanya...”
“Di luar langit ada langit lagi Begawan! Kesaktian pemuda tandingannya melebihi kesaktiannya...”
Begawan Sitaraga kerutkan kening.
Dan Kalingundil teruskan ucapannya. “Aku sendiri pernah menghadapinya. Masih untung cuma tanganku yang dimintanya, bukan nyawaku!”
“Ho-o... jadi maksudmu datang ke sini untuk mengadu dan merengek macam anak kecil agar aku turun tangan...?”
Merah muka Kalingundil. “Itu adalah terserah padamu Begawan.
Sebagai sobat dan bekas pemimpinku, aku telah cari pemuda yang membunuh Mahesa Birawa. Namun dia lebih tinggi ilmu silatnya dan lebih tinggi...”
“Siapa nama bangsat itu?!” tanya Sitaraga pula.
“Wiro Sableng. Tapi dia lebih dikenal dengan julukan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212...”
Mendengar ini maka terkejutlah Begawan Sitaraga. “Kau bilang dia bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212...?”
“Ya...”
“Kalau begitu dia adalah nenek-nenek keriput si Sinto Gendeng!”
“Tidak... dia adalah seorang pemuda. Masih sangat muda, bahkan tampangnya macam anak-anak, berambut gondrong dan berotak miring sinting!”
Sitaraga merenung lagi. Kemudian desisnya, “Kalau begitu mungkin sekali dia adalah murid nenek-nenek itu yang diam di puncak Gunung Gede. Tapi setahuku Sinto Gendeng tidak punya murid sejak puluhan tahun berselang...” Sitaraga tarik nafas dalam.
“Kalau betul dia murid Sinto Gendeng, tidak salah Mahesa Birawa dipecundangi...” Sitaraga memandang jauh ke muka seperti pandangannya itu mau menembus dinding putih di belakang Kalingundil.
Melihat ini maka Kalingundil mulai masukkan jarum hasutannya.
“Sewaktu aku bertempur dengan dia di Rawasumpang aku beri peringatan bahwa kelak sobat-sobat Mahesa Birawa yang terdiri dari tokoh-tokoh silat utama akan turun tangan untuk menuntut balas.
Dan Wiro Sableng mengumbar bahwa terhadap siapapun dia tidak takut! Bahkan dia menantang untuk bikin perhitungan di puncak Gunung Tangkuban Perahu pada hari tigabelas bulan duabelas nanti!”
Mata Begawan Sitaraga menyipit lagi. “Pongah betul,” desisnya.
“Rupanya sudah kepingin cepat-cepat merasakan gelapnya liang kubur! Sudah cepat-cepat ingin minggat ke neraka!”
“Betul Begawan. Bukan saja kepongahannya itu yang menyakitkan hati, tapi tantangannya itu adalah juga sangat menghina dan tiada memandang sebelah mata pun terhadap tokoh--tokoh silat utama macam Begawan...”
Sitaraga manggut-manggut. “Manusia-manusia macam begitu musti dilenyapkan dengan lekas. Kalau tidak akan menjadi biang runyam golongan dan aliran kita...”
Hati Kalingundil menjadi gembira karena tahu hasutannya sudah menyamaki dan mengobari dendam serta amarah Begawan itu.
“Tantangan itu...,” kata Kalingundil pula meneruskan hasutannya, “sekaligus menghina terhadap guru Mahesa Birawa yang diam di Gunung Lawu... Aku bermaksud untuk menemuinya dan meminta langkah-langkah yang segera akan kita laksanakan.”
“Kalau cuma untuk memecahkan batok kepala pemuda sedeng itu, aku sendiripun menyanggupinya!”
“Betul Begawan. Tapi untuk tidak mengecewakan guru Mahesa Birawa di kemudian hari, ada baiknya kematian muridnya itu diberi tahu...”
“Itu urusanmu,” jawab Sitaraga. Matanya. memandang tepat-tepat ke pinggang Kalingundil. Sesungguhnya sejak tadi matanya itu memperhatikan secara diam-diam ke pinggang Kalingundil. “Coba aku mau lihat apa yang kau simpan di balik pinggangmu,” katanya tiba-tiba.
Kalingundil kaget sekali. Dia melirik ke pinggangnya. Dia telah menyimpan senjatanya baik-baik namun mata Sitaraga yang tajam
masih sanggup mengetahuinya.
“Ah, tidak apa-apa Begawan. Cuma...”
“Cuma apa?!” Sitaraga pelototkan mata.
“Cuma sebilah pedang buruk...” sahut Kalingundil.
“Keluarkan!”
“Begawan...”
“Jangan banyak bicara. Keluarkan!”
Kalau bukan berhadapan dengan Begawan Sitaraga dan kalau tidak mengingat kepada rencana besarnya, maka pastilah saat itu Kalingundil akan beset mulut manusia yang di hadapannya itu. Dia memang mengharapkan bantuan Sitaraga tapi kalau dirinya dianggap remeh terus menerus dan dihina dimaki serta dibentak, siapa yang bisa sabarkan diri?!
“Kau membangkang Kalingundil?!”
Penasaran sekali Kalingundil cabut Pedang Siluman buntungnya. Maka sinar birupun memancarlah di ruangan putih itu. Begawan Sitaraga terkejut.
“Pedang Siluman Biru..,” desisnya. Dia di samping terkejut juga heran melihat pedang sakti itu kini hanya merupakan sebuah puntungan belaka. “Dari mana kau dapat senjata itu? Bagaimana bisa buntung? Apakah kau muridnya Siluman Biru?!”
Kalingundil menyeringai mendengar pertanyaan-pertanyaan menyerocos itu. “Itu semua adalah urusanku Begawan. Yang penting hari ini kita telah berjumpa dan kau telah mengetahui nasib Mahesa Birawa. Sampai bertemu di puncak Gunung Tangkuban Perahu!”
Kalingundil berkelebat ke arah tangga.
“Tunggu!” teriak Sitaraga.
Tapi Kalingundil tak mau ambil perduli.
Maka marahlah Begawan Sitaraga. “Kalau tidak memikir kau bekas anak buah Mahesa Birawa, sudah terlalu pantas aku minta nyawamu, Kalingundil! Tapi saat ini cukup kau tinggalkan saja salah satu dari daun telingamu!”
Sebuah senjata rahasia melesat ke arah telinga kanan Kalingundil. Laki-laki ini segera lambaikan tangan kirinya. Tapi celaka, senjata rahasia itu tak sanggup dibuat mental dengan pukulan tenaga dalam! Terpaksa Kalingundil cabut pedang saktinya kembali. Namun gerakan ini tentu saja sudah terlambat!
Kalingundil mengeluh kesakitan. Darah membasahi pipi dan bahu pakaiannya. Daun telinganya sebelah kanan terbabat buntung oleh senjata rahasia Sitaraga! Kalau tidak mengingat-ingat akan rencana pembalasan dendamnya, maulah Kalingundil menyerang Begawan itu dengan kalap, lebih-lebih ketika didengarnya kehendak Sitaraga yang menusuk liang telinganya!
Dalam waktu yang singkat Kalingundil sudah berada di luar kawah Gunung Halimun. Dibersihkannya darah yang membasahi pipi kemudian dengan sehelai kain dibalutnya kepalanya tepat pada batasan telinga yang buntung. Kemudian diambilnya sebuah pil lalu ditelan untuk menolak racun senjata rahasia Sitaraga itu.
Di dasar kawah Gunung Halimun, tak lama sesudah Kalingundil lenyap, kembali Sitaraga merenung.
Siapa Kalingundil sebenarnya masih agak samar baginya. Tapi itu tidak begitu penting. Yang menjadi tanda tanya besar ialah siapa itu pemuda yang bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212? Apa betul murid Sinto Gendeng? Kalau Kalingundil telah menghadapinya dengan Pedang Siluman dan berhasil dikalahkan oleh si pemuda, maka sudah dapat dijajaki oleh Sitaraga sampai di mana ketinggian ilmu Pendekar 212 itu! Ini membuat dia ingin lekas-lekas berhadapan dengan sang pendekar muda. Namun dia musti menunggu beberapa bulan di muka sampai saat yang ditentukan yaitu hari tigabelas bulan duabelas!

***

Siapa penduduk desa bukit tunggul yang tidak tahu dengan Asih Permani. Tanyakan pada yang tua-tua, mereka akan tahu, tanyakan pada yang muda-muda mereka akan lebih dari tahu. Tanyakan pada anak-anak kecil yang mengangon bebek atau menggembala kerbau, mereka juga akan tahu. Jika ditanyakan bagaimana paras Asih Permani maka semua mulut akan memuji. Semua mulut akan mengatakan: Asih Permani gadis yang tercantik se-Bukit Tunggul. Mukanya bujur telur. Hidungnya kecil mancung bak daun tunggal. Bibirnya seperti delima merekah, merah dan segar. Matanya bening bercahaya laksana bintang di angkasa raya. Dagunya seperti lebah bergantung, leher jenjang dan suaranya halus merdu, serasa digelitik liang telinga jika kita mendengar suara Asih Permani. Dan keseluruhan tubuhnya yang montok padat itu dibungkus oleh kulit yang halus mulus.
Asih Permani memang cantik seperti perbandingan di atas. Kawannya sesama gadis di desa Bukit Tunggul banyak yang merasa iri dengan kecantikan yang dimiliki gadis itu. Pemuda-pemuda banyak yang tergila. Tapi semua mereka bertepuk sebelah tangan.
Karena pada bulan di muka, tepat di waktu bulan rembulan empat belas hari, Asih Permani akan dinikahkan dengan Ranggasastra, anak lurah Bukit Tunggul. Memang di samping kaya raya, banyak harta dan sawah berlimpah kerbau berkandang, maka Ranggasastra cocok dan pantas menjadi suami Asih Permani. Pemuda ini gagah.
Badannya tegap, hatinya polos dan ramah kepada setiap orang. Sehingga kalau bersanding dengan Asih Permani di pelaminan nanti tentulah tak ubahnya seperti pinang dibelah dua! Semakin lama, semakin dekat juga hari pernikahan itu. Tentu saja dapat dibayangkan bagaimana perasaan kedua calon pengantin itu menjelang hari perkawinan mereka. Hari yang bersejarah dan tak dilupakan seumur hidup mereka. Hari di mana mereka akan sama-sama membuka suatu ‘rahasia kebahagiaan hidup’.
Saat itu Ranggasastra tengah duduk-duduk di depan rumahnya memandangi bintang-bintang yang bertaburan. Entah mengapa malam itu hatinya gelisah saja. Dan dia tak tahu apa sebenarnya yang digelisahkannya itu. Larut malam baru dia dapat tertidur. Tapi menjelang fajar dia tersentak. Ranggasastra adalah seorang yang pernah menuntut ilmu silat dan kesaktian pada seorang guru di pantai utara. Nalurinya menyatakan bahwa ada seseorang lain di dalam kamarnya saat itu. Dibukanya kedua kelopak matanya. Dia terkejut melihat sesosok tubuh manusia sangat kate berdiri dekat tempat tidur. Manusia ini berkepala botak sudah licin berkilat ditimpa kelap-kelip sinar lampu pelita dalam kamar.
Manusia kate ini memiliki hidung yang sangat besar. Hidungnya yang besar itu seperti mau menutupi mukanya yang kecil. Ketika dia menyeringai dan mengeluarkan suara mendesau, maka kelihatanlah giginya yang cuma satu di sebelah atas.
Ranggasastra segera melompat dari tempat tidur.
“Manusia kate! Siapa kau?!” bentak si pemuda. Matanya meneliti manusia di hadapannya dengan tajam. Dan meskipun cahaya lampu minyak di dalam kamar tidak begitu terang, namun Ranggasastra dapat melihat bahwa manusia kate itu mempunyai telapak kaki yang lebar dan besar sekali. Tapak kaki itu sampai sebatas mata kaki sama sekali tidak merupakan tapak kaki manusia, tapi seperti kaki seekor gajah!
“He... he... he...” Manusia kate berkaki besar tertawa berkemik.
“Kau manusianya yang bernama Ranggasastra, yang bakal jadi penganten minggu depan...?!”
Tentu saja apa yang ditanyakan manusia itu, mengejutkan Ranggasastra. “Itu bukan urusanmu! Jawab dulu siapa kau!”
“He... he... he...” Tamu tak diundang itu mengekeh lagi.
“Maksudmu untuk menjadi penganten, untuk menjadi suami Asih Permani tidak akan kesampaian Ranggasastra...!”
“Manusia kate, jangan ngaco pagi-pagi buta!” bentak Ranggasastra dengan marah. “Keluar dari kamarku!” Pemuda itu kepalkan tinjunya.
“Kau tak akan pernah menjamah tubuh Asih Permani, anak
muda. Karena mulai detik ini ke atas, dia adalah milikku dan akan kubawa ke mana aku suka, akan kuperbuat apa aku senang!”
Manusia kate ini mengekeh lagi.
“Kalau kau mau mengigau, pergilah mengigau di liang kubur!”
Habis berkata demikian Ranggasastra menerjang ke muka. Tinju kanannya menderu! Tapi dia hanya memukul tempat kosong. Hampir tak terlihat oleh matanya, manusia kate itu telah berkelebat dan lenyap dari pemandangannya!
Tinggal seorang diri di dalam kamar Ranggasastra merasa seperti orang yang tertidur dan tersentak oleh mimpi. Digosok-gosoknya kedua matanya dengan telapak tangan berulang kali. Tidak, dia tidak mimpi! Dia yakin betul bahwa dia tidak mimpi! Dan ketika dia memandang ke lantai kamar yang terbuat dari papan, maka pada lantai itu jelas dilihatnya bekas-bekas telapak kaki manusia kate tadi.
Ketika ingat akan ucapan-ucapan orang kate berkepala sulah tadi maka khawatirlah Ranggasastra. Segera dijangkaunya tongkat besi berujung runcing yang tersisip di dinding. Senjata ini adalah pemberian gurunya. Tanpa menunggu lebih lama, pemuda ini segera tinggalkan rumahnya menuju ke desa sebelah timur di mana terletak rumah orang tua Asih Permani.
Sepuluh tombak akan sampai ke halaman muka rumah gadis calon isterinya, mendadak Ranggasastra melihat sesosok tubuh melompat keluar dari jendela samping rumah! Sosok tubuh ini tak lain dari manusia kate yang telah mendatanginya tadi. Dan pada bahu manusia itu kelihatan sosok tubuh seorang perempuan.
Meskipun halaman samping gelap tapi Ranggasastra tahu betul, perempuan yang dipanggul itu adalah calon isterinya, Asih Permani! “Bangsat rendah! Pencuri busuk! Lepaskan perempuan itu!”
bentak Ranggasastra.
Si kate kepala sulah tertawa dingin. “Sekali aku bilang bahwa gadis ini jadi milikku, tak satu manusia lain pun yang bisa menghalanginya!”
“Kalau begitu terpaksa kukermus kepalamu!” Maka tongkat besi di tangan Ranggasastra menderu ke kepala si kate. Gesit sekali yang diserang melompat ke samping. Ranggasastra susul dengan satu tusukan ke dada kiri. Namun dengan kecepatan yang luar biasa orang kate itu gerakkan kaki kanannya!
Tendangan yang keras menghajar tangan kanan si pemuda. Besi panjangnya lepas. Tangannya hancur dan jeritan kesakitan keluar dari mulut Ranggasastra. Pemuda ini terhuyung sebentar lalu mental sampai beberapa tombak ketika tendangan lawan terus
menyerempet perutnya! Perut si pemuda robek besar. Tubuhnya menggeletak tanpa nyawa. Si kate tertawa buruk.
“Maling hina dina!! Nyawamu di ujung golokku!” teriak seseorang yang melompat dari dalam rumah lewat jendela.
Si kate berkepala botak cepat putar badan pada saat sebuah golok berkiblat memapasi batok kepalanya!
“He... he... Kau juga inginkan mampus Ki Lurah!” ujar si kate.
Manusia yang menyerangnya itu adalah Tanuwira, ayah Asih Permani.
“Kau yang akan mampus lebih dahulu manusia laknat!” Golok Tanuwira berkelebat lagi. Tapi si kate sungguh luar biasa. Serangan itu dihadapinya dengan tertawa-tawa. Sekali dia gerakkan kaki kanannya maka hancurlah dada Ki Lurah Tanuwira.
Si kate tertawa mengekeh.
“Calon mantu dan calon mertua sama-sama bernasib sial! Kasihan...” Dihirupnya udara segar menjelang pagi itu sejurus lenyaplah dia dari tempat itu.
***
Ketika dia sampai ke pertapaannya di puncak Gunung Lawu maka terkejutlah manusia kate berkepala botak itu sewaktu melihat ada seorang bertangan buntung yang tak dikenalnya berdiri dekat pintu. Orang yang bertangan buntung agaknya juga terkejut melihat kedatangan si kepala botak yang membawa seorang gadis cantik di pundak kirinya. Tapi dia cepat-cepat menjura.
“Pastilah saat ini aku berhadapan dengan tokoh silat terkemuka yang bernama Tapak Gajah...”
Laki-laki kate yang memang bernama Tapak Gajah turunkan tubuh Asih Permani dari pundaknya. Matanya meneliti tajam orang di hadapannya lalu bertanya, “Kau sendiri siapa? Apakah datang ke sini membawa maksud baik atau buruk?” Sambil bertanya demikian Tapak Gajah memperhatikan telinga kanan tamunya yang juga buntung tiada berdaun.
“Namaku Kalingundil. Aku datang dengan maksud baik, tapi membawa berita buruk.”
“Aku tidak kenal padamu sebelumnya. Berita buruk apakah yang kau bawa...?” tanya Tapak Gajah.
Maka Kalingundil segera mulai pasang jarum penghasutnya.
“Pembunuhan atas diri seorang murid adalah satu hal yang pahit bagi gurunya! Begitu pahit sehingga menanamkan dendam kesumat...”
“Jangan bicara berbelit!” potong Tapak Gajah. “Katakan langsung berita buruk itu!”
“Muridmu dibunuh orang, Tapak Gajah...”
Berubahlah paras si tubuh kate kepala sulah. Sedang Kalingundil saat itu melirik memperhatikan Asih Permani yang berdiri tak bergerak, “Pastilah tubuhnya ditotok,” pikir Kalingundil dan dalam hatinya dia bertanya-tanya, “Siapa gerangan gadis cantik ini...” Sesak nafas Kalingundil melihat kejelitaan Asih Permani.
“Aku mempunyai beberapa orang murid yang telah turun ke dalam rimba persilatan. Murid yang mana yang kau maksudkan?!” tanya Tapak Gajah.
Kalingundil memalingkan mukanya kepada laki-laki itu kembali.
“Mahesa Birawa...”
“Aku tak punya murid bernama Mahesa Birawa!” berkata Tapak Gajah.
Kalingundil kaget. Dia berpikir-pikir seketika. Kemudian dia ingat.
“Maksudku muridmu Suranyali...”
Sekali lagi berubah paras Tapak Gajah. Di hatinya timbul kesyakwasangkaan. “Apakah kau bicara ngelantur atau bagaimana...?”
“Demi setan dan iblis aku tidak bicara dusta, Tapak Gajah!”
“Suranyali bukan manusia sembarangan. Ilmu kesaktiannya tinggi!”
“Tapi manusia yang membunuhnya lebih sakti lagi!”
“Siapa?!”
“Pendekar 212...”
Tapak Gajah merenung. Kedua tangannya terkepal. “Kau dusta. Pendekar 212 Sinto Gendeng sudah sejak puluhan tahun lenyapkan diri dari dunia persilatan!”
“Tapi...”
“Tutup mulut! Terima hukuman dariku bangsat bermulut bohong!”
Tapak Gajah hantamkan kaki tangannya ke muka.
Wutt!
Angin sedahsyat badai yang keluar dari tendangan itu lebih dahulu menyerang ke arah Kalingundil sebelum tendangannya sendiri sampai!
Kalingundil tak mau ambil resiko. Dia berteriak nyaring dan lompat delapan tombak ke udara.
Byur!
Kalingundil palingkan kepala ke belakang. Tercekat rasanya tenggorokannya sewaktu melihat bagaimana angin tendangan Tapak Gajah menghancurkan batu besar di belakangnya!
Sewaktu manusia kate itu hendak lancarkan serangan kedua Kalingundil cepat berseru, “Tahan! Kita berada di pihak yang sama!”
Tapak Gajah tarik serangannya.
“Apa maksudmu kita di pihak yang sama huh?”
“Aku adalah bekas anak buah Suranyali sewaktu kami masih sama-sama di Jatiwalu!”
“Jangan coba kelabuhi aku!” membentak Tapak Gajah.
“Perlu dan untung apa aku mengelabuhimu!” balas membentak Kalingundil dengan beringas.
“Berikan bukti bahwa muridku yang satu itu benar-benar dibunuh orang!”
Kalingundil tertawa dingin. “Tidak mau percaya pada orang sepihak akan merugikan diri sendiri Tapak Gajah...” Lalu Kalingundil memberikan keterangan selengkapnya.
Kini mulai kelihatan bayangan rasa percaya di paras Tapak Gajah. Namun apa yang meragukannya ialah keterangan Kalingundil mengenai Pendekar 212 Wiro Sableng. Satu-satunya kesimpulan bagi Tapak Gajah ialah bahwa pemuda bernama Wiro Sableng itu adalah murid Sinto Gendeng.
“Golongan hitam memang sejak dulu menaruh dendam pada itu nenek-nenek sialan...,” ujar Tapak Gajah pula. “Tapi sebelum kami bersepakat untuk menghabiskan jiwanya, dia sudah lenyapkan diri! Kini muridnya muncul dan membunuh muridku! Benar-benar laknat!”
“Aku sendiri telah tantang dia di Rawasumpang demi untuk menuntut balas kematian Suranyali atau Mahesa Birawa. Tapi... itu pemuda keparat memang luar biasa tinggi ilmunya. Kalau aku kalah dalam pertempuran di Rawasumpang itu bukan suatu apa tapi ada satu hal yang benar-benar menyakiti hatiku Tapak Gajah...”
Kalingundil menunjukkan paras yang mengandung dendam.
Sepasang matanya memandang lurus-lurus jauh ke muka.
“Katakan apa yang menyakiti hatimu itu!” kepingin tahu Tapak Gajah.
“Sebelum mengundurkan diri dari Rawasumpang aku bilang pada itu pemuda keparat bahwa kelak pembalasan dari guru Suranyali akan tiba! Pemuda itu ketawa bekakakan dan berkata bahwa sekalipun ada seribu guru Suranyali, akan diterabasnya sama rata dengan tanah!”
Rahang-rahang Tapak Gajah mengembung. “Begitu keparat itu bilang...?”
Kalingundil manggut.
“Meski dia murid si Sinto Gendeng, tapi jangan merasa sudah setinggi langit kepandaiannya! Katakan di mana bangsat itu berada! Aku Tapak Gajah akan pecahkan kepalanya!”
“Kau tak perlu susah-susah mencarinya Tapak Gajah,” menjawab Kalingundil. “Bukankah tadi aku sudah katakan bahwa dia sudah umbar mulut menentangmu? Katanya dia tunggu kau pada hari tigabelas bulan duabelas di puncak Gunung Tangkuban Perahu!”
“Anjing kurap betul itu manusia!” Tapak Gajah meludah ke tanah.
Dan Kalingundil berkata lagi, “Beberapa tokoh silat utama yang ditantang pendekar 212 itu juga telah kuberi tahu! Mereka sudah memastikan untuk datang ke Tangkuban Perahu guna mengkeremus si pemuda!”
“Seribu tokoh utama boleh datang ke sana. Namun kematian anjing kurap itu aku yang tentukan!” Kalingundil manggut-manggut. Hatinya gembira. Memang itulah yang diharapkannya. Sudah terbayang bagaimana akan berhasilnya dia punya rencana nanti. Seorang diri dia memang tak sanggup untuk menghadapi Wiro Sableng. Tapi kalau Tapak Gajah, Begawan Sitaraga, Wirasokananta dan Tapak Luwing yang berkumpul jadi satu untuk membuat perhitungan, tiga Pendekar 212-pun tak bakal sanggup!
“Aku gembira mendengar keputusanmu itu, Tapak Gajah. Akupun pasti pula akan datang ke puncak Tangkuban Perahu...”
Tapak Gajah tertawa dingin. “Kalau kau punya nyali tapi punya sedikit ilmu untuk diandalkan sebaiknya tak usah datang ke sana!”
Merah padam paras Kalingundil.
“Sekarang aku tak ada urusan lagi dengan kau! Silakan angkat kaki dari sini!” bentak Tapak Gajah.
Kalingundil melirik pada Asih Permani. Kemudian katanya pada Tapak Gajah, “Jangan terlalu memandang rendah terhadap sesama kawan Tapak Gajah. Aku memang tidak dikenal dalam dunia persilatan tapi untuk menghancurkan batu besar sepertimu tadi, aku masih sanggup!” Kalingundil gerakkan tangan kanannya ke pinggang. Kemudian selarik sinar biru melesat ke arah batu besar yang terletak sekira sembilan tombak dari hadapannya.
Byur! Batu itu hancur berkeping-keping dan bayangan Kalingundil sendiri sesudah itu lenyap dari pemandangan!
Terkejutlah Tapak Gajah! Tiada disangkanya kalau manusia bertangan buntung bertelinga sumplung itu memiliki kehebatan demikian rupa! Tapi manusia kate ini tidak berpikir lebih lama. Begitu matanya membentur paras dan tubuh Asih Permani maka lupalah dia pada Kalingundil. Segera diboyongnya gadis itu ke dalam pertapaan. Apa yang kemudian dilakukannya terhadap gadis suci itu tak seorang manusiapun yang tahu. Namun pada hari itu satu kesucian telah lenyap dirampas oleh kebejatan!
***
WIRO SABLENG
DENDAM ORANG-ORANG SAKTI 10
UNCAK Gunung Tangkuban Perahu. Hari tigabelas bulan duabelas...
Angin dari utara bertiup kencang, mengalahkan tiupan angin barat yang menghembus sepoi-sepoi basah. Puncak Gunung Tangkuban Perahu diselimuti kesunyian abadi. Tapi hari itu agaknya kesunyian abadi itu akan sirna oleh kedatangan manusia-manusia pembuat perhitungan. Akan pupus dilanda dendam kesumat orang sakti! Kawah gunung yang lebar mengepulkan tiada henti asap tipis berbau belerang.
Beberapa puluh kaki dari tepi kawah berderet pohon-pohon cemara berdaun lebat subur, menjulang tinggi dan lurus! Saat itu matahari pagi sudah naik tepat antara titik tertinggi dan titik permulaan terbitnya.
Angin utara bertiup lagi dengan kencang, Daun-daun pohon cemara melambai-lambai. Dan di antara kerisikan-kerisikan geseran daun pohon-pohon cemara itu maka terdengarlah suara siulan yang mengumandangi seluruh puncak Gunung Tangkuban Perahu. Suara siulan itu juga seperti mau menggelegaki kawah belerang dan menampar-nampar kabut belerang yang meliuk-liuk ke permukaan kawah. Suara siulan itu tidak teratur, tidak membawakan sebuah lagu atau tembang, nadanya tak menentu. Namun ketidakteraturan dan ketidakmenentuan itu anehnya bila didengar dengan seksama akan merupakan suatu lagu aneh bernada ajaib! Suara siulan itu membuat pendengarnya akan terkatung-katung ke dalam satu dunia khayal. Tapi di pagi yang menjelang siang itu di puncak Gunung Tangkuban Perahu itu tak satu orang pun yang ada selain manusia yang mengeluarkan suara siulan tadi. Dan siapakah manusia ini adanya?
Suara siulan itu datang dari pohon cemara yang paling tinggi tanda bahwa manusianya pun berada di sana. Dan manusia ini tiada lain daripada Wiro Sableng, si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212!
Mengapa dia sampai berada di puncak gunung itu adalah sehubungan dengan tantangan musuh lamanya Kalingundil. Namun pendekar muda itu sampai saat itu tak pernah menyangka bahwa yang bakal ditemuinya di puncak gunung itu kelak bukan hanya Kalingundil seorang tapi juga beberapa tokoh dunia persilatan yang terkenal serta sakti!
Wiro terus juga bersiul-siul sambil sekali-sekali layangkan pandangannya ke seantero puncak gunung. Sepi dan suasana tenang-tenang saja. Dilayangkannya pandangan ke kaki dan lereng gunung. Juga segala sesuatunya masih diselimuti kesunyian dan ketenangan. Dua kali sepeminuman teh lewat. Telinga pendekar 212 yang tajam dan terlatih baik itu sayup-sayup mendengar suara sesuatu. Segera pemuda ini hentikan siulannya. Kepalanya diputar ke arah timur puncak gunung dari mana datangnya suara itu. Masih belum kelihatan apa-apa tapi suara yang didengarnya tambah nyaring. Beberapa ketika kemudian dari balik gundukan tanah keras tepi kawah sebelah timur kelihatan muncul kepala seseorang, menyusul dada dan badannya. Sosok tubuh manusia ini ternyata bukanlah Kalingundil karena tangannya tidak buntung!
“Lain yang ditunggu, lain yang datang!” desis Wiro Sableng dalam hati. Kedua matanya terus memandang tak berkesip pada manusia yang baru datang ini. Orang ini dilihatnya memandang berkeliling agaknya mencari-cari sesuatu, mungkin mencari seseorang.
Umurnya sudah lanjut. Menurut taksiran Wiro paling rendah lima puluh tahun. Meskipun tua tapi tubuhnya kekar. Pada pinggangnya kelihatan tersisip sebilah keris emas. Dari gerak-geriknya yang enteng dan tenang Wiro tahu bahwa orang tua ini pastilah seorang yang menguasai ilmu silat dari tingkat tinggi.
“Mungkin sekali dia diam di sekitar puncak gunung Tangkuban Perahu atau mungkin pula kedatangannya ke situ hanya satu kebetulan saja dengan hari di mana aku akan membuat perhitungan dengan Kalingundil,” demikianlah Pendekar 212 berpikir-pikir di dalam hatinya. Sementara itu si orang tua tak dikenal dilihatnya berdiri di tepi kawah memandang ke bawah lalu memutar tubuh dan menjelajahi seluruh permukaan gunung dengan sepasang matanya yang kecil tetapi tajam. Kemudian orang tua ini pada akhirnya melangkah ke arah deretan pohon-pohon cemara dan di sini duduk melepaskan lelah. Wiro maklum kini bahwa orang tua ini datang ke situ adalah mencari seseorang dan ketika orang itu tak ditemuinya dia memutuskan untuk menunggu. Karena merasa tak punya urusan dengan si orang tua. Wiro tetap saja berada di tempatnya, di atas pohon cemara tinggi.
Matahari bergerak juga menuju ke puncak tertingginya. Wiro masih terus memperhatikan si orang tua. Mendadak diputarnya kepalanya ke arah selatan. Sesosok tubuh kelihatan berkelebat.
Kedatangan manusia ini boleh dikatakan tidak terdengar atau tak tertangkap oleh telinga Wiro Sableng. Nyata kehebatan ilmu lari dan ilmu mengentengkan tubuhnya. Apa yang menarik pendekar 212 ialah bahwa manusia ini bukanlah Kalingundil yang tengah ditunggunya!
Orang ini berbadan kate. Kepalanya sulah licin dan berkilat-kilat ditimpa sinar matahari. Kedua telapak kakinya bukan saja lebar tapi juga tebal seperti kaki gajah. Tiba-tiba pendekar 212 ingat akan keterangan gurunya Eyang Sinto Gendeng. Menurut gurunya itu di puncak Gunung Lawu berdiam seorang tokoh silat utama bernama Tapak Gajah. Kehebatan Tapak Gajah ialah telapak pada sepasang kakinya yang berbentuk kaki gajah. Jangankan manusia, batu pun kalau ditendang akan hancur lebur. Dan memang pada saat itu Wiro menyaksikan sendiri bagaimana tanah gunung yang diinjak kedua kaki laki-laki itu meninggalkan bekas amblas sampai setengah dim!
“Mungkin sekali manusia ini adalah Tapak Gajah,” membatin Wiro Sableng. “Tapi kenapa pula dia jauh-jauh bisa muncul di sini...?”
Selagi dia membatin begitu rupa Wiro Sableng terkejut pula melihat bagaimana si orang tua yang duduk di bawah pohon cemara tiba-tiba berdiri tegak menyambuti kedatangan si manusia kate!
kedua orang itu saling pandang seketika. Sekali melompat maka si kate sudah berada dua tombak di hadapan si orang tua berkeris emas! Kembali keduanya saling pandang dan meneliti. Kemudian terdengar suara si kate membentak.
“Jadi kau sudah datang duluan pendekar gila Wiro sableng?! Rupanya memang kau betul-betul ingin mati lekas-lekas!”
Kemarahan yang meluap membuat Tapak Gajah lupa akan keterangan Kalingundil bahwa Wiro Sableng adalah seorang muda!
Bukan saja si orang tua nampak terkejut dan heran, tapi Pendekar 212 di atas puncak pohon cemara jadi kernyitkan kulit kening waktu mendengar bentakan si manusia kate itu!
Sebelum si orang tua sempat bicara maka si kate sudah bertanya dengan membentak, “Mampus cara mana yang kau kehendaki Pendekar 212! Aku Tapak Gajah segera melaksanakannya!”
“Kalau betul aku berhadapan dengan Tapak Gajah, tokoh silat terkenal dari Gunung Lawu saat ini...,” menyahuti si orang tua, “maka dugaanmu meleset sekali!”
Tapak Gajah pelototkan mata. “Meleset bagaimana maksudmu?”
Dan Tapak Gajah ingat akan keterangan Kalingundil. Lalu diajukan pertanyaan, “Apakah kau bukan Wiro Sableng si manusia geblek bergelar Pendekar 212 itu...?!”
Si orang tua gelengkan kepala. “Aku adalah Wirasokananta, Ketua Perguruan Teratai Putih di bukit Siharuharu...”
“Ah... tak disangka datang dari jauh kiranya akan berjumpa dengan tokoh silat ternama,” kata Tapak Gajah pula ramah.
Mengingat Wirasokananta adalah tokoh silat dari golongan putih dan dia sendiri dari golongan hitam maka bertanyalah Tapak Gajah, “Gerangan apakah yang membuat Ketua Perguruan Teratai Putih sampai datang ke sini...”
“Panjang ceritanya Tapak Gajah,” menyahuti si orang tua berkeris emas. “Ringkasnya adalah untuk mencari den memenuhi undangan seorang manusia bejat bernama Wiro Sableng bergelar Pendekar 212!”
“Ah... ah... ah...! Kalau begitu kita sama-sama datang untuk maksud yang serupa. Dan pastilah mempunyai tujuan terakhir yang serupa pula yaitu menamatkan riwayat manusia terkutuk itu. Bukankah demikian?”
Meskipun heran bagaimana Tapak Gajah bisa tahu hal itu namun Wirasokananta mengangguk juga.
“Maksud sama, tujuan terakhir sama tapi latar belakang tentu lain. Kalau aku boleh tanya, apakah sebabnya Ketua Perguruan Teratai Putih sampai turun tangan dan bukan menyuruh anak-anak murid Perguruan...?”
“Semua murid-muridku musnah di tangan manusia laknat itu! Dua di antaranya diperkosa!” jawab Wirasokananta. Suaranya bergetar. Kemudian dituturkannyalah apa yang telah menimpa Perguruan dan murid-muridnya.
Di atas pohon cemara Pendekar 212 Wiro Sableng pentang telinga buka mata tak berkesip. Penuturan Wirasokananta tentu saja sangat mengejutkannya.
Semenjak turun gunung bukan saja dia tidak pernah mendengar nama Perguruan Teratai Putih, bahkan bertemu muka dengan Wirasokananta-pun baru hari ini. Dan hari ini pula Ketua Perguruan itu menuturkan bahwa dia telah melakukan pembunuhan besar-besaran atas diri murid-murid Perguruan Teratai Putih! Ini adalah satu hal yang sama sekali tidak benar! Kalau ini bukan satu kekeliruan tentu ini adalah fitnah. Dan bila ini juga bukan fitnah, apakah yang telah menyebabkan Wirasokananta merasa yakin bahwa Pendekar 212-lah yang telah memusnahkan Perguruannya?
“Nasibmu dan nasibku rupanya tidak banyak beda Ketua Teratai Putih,” terdengar suara Tapak Gajah. “Muridku Suranyali juga kunyuk sedeng itu yang membunuh!”
Kini tahulah Wiro Sableng. Tapak Gajah rupanya adalah guru Suranyali alias Mahesa Birawa!
“Tapi muridmu cuma seorang yang mati di tangannya sedang aku keseluruhannya.” menyahuti Wirasokananta.
“Yang penting bukan soal jumlah, Ketua Teratai Putih. Yang penting ialah bahwa kunyuk sedeng itu seorang manusia bejat yang musti kita lenyapkan dari muka bumi ini!”
Wirasokananta mengangguk.
Tapak Gajah hendak buka mulutnya kembali, tapi batal karena saat itu sudut matanya melihat sesosok tubuh berkelebat dan tahu-tahu sudah berada di hadapan mereka.
“Siapa lagi yang datang ini...?” membatin Wiro Sableng.
Sedang sesat kemudian didengarnya suara Tapak Gajah berkata sambil menjura, “Sungguh pertemuan yang tak terduga. Tokoh silat dari Gunung Halimun kenapa bisa muncul di sini...?”
Orang yang baru datang tertawa lebar. Dia berpakaian kain putih. Rambutnya panjang diriap seperti perempuan, janggutnya menjela sampai ke perut. Rambut dan janggut itu berwarna putih dan melambai-lambai tertiup angin.
“Kau sendiri mengapa bisa nongkrong di sini...?” balik menanya si janggut putih, dia melirik pada Wirasokananta.
Tapak Gajah mula-mula perkenalkan si janggut putih pada Wirasokananta. Ternyata si janggut putih itu adalah Begawan Sitaraga, seorang sakti dari Gunung Halimun.
Setelah mendengar penuturan Tapak Gajah yang juga sekalian menuturkan tentang Wirasokananta maka Sitaraga tarik nafas dalam dan berkata “Betul-betul tak bisa diduga kalau kedatangan kita ke sini tiga-tiganya adalah membawa maksud yang sama! Aku kenal baik dengan Mahesa Birawa. Aku telah berjanji untuk membantu perjuangannya menghancurkan Pajajaran karena memang aku sejak lama punya permusuhan dengan itu Kerajaan! Tapi nyatanya Mahesa mendahului aku! Ini kuketahui dari seorang anak buahnya yang datang ke tempatku! Rupanya sebelum pecah perang Mahesa ada mengirim kurir. Kurir itu tertangkap peronda Pajajaran!”
Kesunyian menyeling seketika. Di atas pohon cemara Wiro Sableng masih tak bergerak di tempatnya. Dengan munculnya ketiga orang itu dan dengan penuturan masing-masing mereka, Wiro kini bisa menjajaki bahwa ada sesuatu yang tak beres. Dan ketidakberesan ini ditimpakan kepadanya. Siapa yang menjadi dalang ketidakberesan ini tak susah untuk diterka yaitu Kalingundil!
Tapi Kalingundil sendiri ke mana? Yakin bahwa bukan hanya tiga orang itu saja yang bakal muncul maka Wiro memutuskan untuk menunggu. Dugaannya memang betul. Lewat sepeminum teh maka dari jurusan barat kelihatanlah dua sosok tubuh berlari cepat laksana angin! Yang satu bertangan buntung dan segera dikenali oleh Wiro Sableng sebagai Kalingundil adanya. Yang seorang lagi pendekar 212 lupa-lupa ingat. Tapi melihat angka 212 pada keningnya Wiro baru ingat bahwa manusia ini adalah Tapak Luwing, kepala komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel yang tempo hari bertempur melawannya, tapi kemudian dilarikan oleh Kalingundil!
Begitu sampai di hadapan Tapak Gajah, Wirasokananta dan Begawan Sitaraga keduanya segera menjura. Kalingundil memandang berkeliling.
“Harap maafkan kalau kami datang agak terlambat” Dia memandang lagi berkeliling. Orang-orang yang diundangnya sudah lengkap. “Pendekar gila itu masih belum muncul!”
Tapak Luwing berdehem. “Aku mempunyai firasat bahwa itu manusia tak bernyali untuk datang antarkan nyawa kemari!”
“Kalau dia berani menantang, dia berani datang,” menyahuti Kalingundil.
“Kita tunggu saja,” buka suara Begawan Sitaraga.
“Dan kalaupun nanti ternyata si laknat itu tidak muncul, ke pintu neraka pun aku akan cari dia!” berkata Ketua Perguruan Teratai Putih.
Gembira sekali Kalingundil mendengar kata-kata Wirasokananta itu. Nyatalah bagaimana dendam kesumat si orang tua terhadap Wiro Sableng.
Sementara itu dari atas pohon cemara Pendekar 212 Wiro Sableng memperhatikan ke bawah dengan seksama. Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa segala sesuatunya sampai tiga tokoh silat utama itu berada di sana adalah Kalingundil yang punya rencana.
Lima orang yang akan dihadapinya. Kalingundil dan Tapak Luwing sudah bisa dijajakinya ketinggian ilmu kedua orang itu, tapi bagaimana dengan tiga orang lainnya? Sanggupkah dia menghadapi mereka berlima sekaligus? Pendekar 212 diam-diam tarik nafas dalam. Dia memandang ke langit. Matahari sudah sampai ke puncak tertingginya. Apakah dia segera unjukkan diri atau menunggu sampai saat yang dirasakannya tepat?
Di saat itu di bawah didengarnya suara Tapak Gajah berkata, “Aku masih belum yakin kalau kunyuk ingusan itu benar-benar murid Sinto Gendeng. Itu nenek-nenek keriput sudah sejak lama minggat dari dunia persilatan...!”
Panaslah hati Wiro Sableng mendengar gurunya, disebut demikian rupa. Tiada terasakan lagi, didorong oleh naluri yang telah membuat dia menjadi biasa maka keluarlah suara siulan dari sela bibirnya.
Lima manusia di bawah pohon terkejut dan menengadah ke atas.
“Kurang ajar, rupanya kunyuk sedeng itu sudah lama mendekam di atas!” maki Kalingundil.
“Pendekar gila turunlah untuk terima mampus!” teriak Wirasokananta.
Pendekar 212 tertawa bergelak. “Ketua Perguruan Teratai Putih, aku kasihan pada kau! Tidak tahu bahwa kau telah kena dikelabuhi oleh manusia tangan buntung itu!”
Kalingundil cepat membentak. “Agaknya kau memilih kematian di atas pohon itu, Wiro Sableng?! Memang pohon itu cukup tinggi untuk mempercepat roh busukmu terbang ke neraka!”
Wiro tertawa lagi seperti tadi.
“Biar aku paksakan dia turun!” buka mulut Tapak Luwing. Tangan kanannya bergerak. Maka tiga pisau terbang beracun melesat ke puncak pohon cemara di mana pendekar 212 berada!

***

“Tapak Luwing! Kalau merasa sudah berilmu tinggi, biar kukembalikan pisaumu!” teriak Wiro dari atas pohon. Sesaat sesudah dia berkata begitu maka menderulah angin deras. Tiga pisau terbang kembali ke bawah menyerang pemiliknya sendiri! Dua buah masih sanggup dielakkan oleh Tapak Luwing tapi yang ketiga sangat cepat sekali meleset ke arah batok kepalanya.
“Awas!” seru Begawan Sitaraga. Sekali dia lambaikan tangan maka mentallah pisau itu dan Tapak Luwing yang diam-diam keluarkan keringat dingin terlepaslah dari bahaya kematian!
Wiro Sableng kini tertawa membahak. “Kau terlalu bodoh untuk ikut-ikutan datang ke mari Tapak Luwing! Seharusnya saat ini kau cuci kaki dan pergi tidur!”
Saat itu Wirasokananta tak dapat lagi menahan kesabarannya. Dengan tangan kanan dipukulnya batang pohon cemara.
Kraaak!
Pohon itu tumbang.
Wiro melompat ke samping dan melayang ke bawah dengan gerakan enteng. Sambil melayang itu dia berkata, “Musuh penantang cuma satu, mengapa sekarang bisa jadi lima? Apakah kau bisa beranak, Kalingundil?” Lalu pada tiga tokoh silat utama itu Wiro berseru, “Kalian sudah tua bangka masih saja mau dengan urusan dunia dan nafsu membunuh! Apa tidak malu kena dihasut oleh kunyuk tangan buntung itu?”
“Jangan banyak bacot manusia gelo! Ajalmu hanya tinggal sekejapan mata saja!” bentak Tapak Gajah. Dia maju ke muka dan kirimkan tendangan kaki kanan di saat Pendekar 212 masih juga belum menjejakkan kaki di tanah!
Angin tendangan kerasnya bukan main. Debu beterbangan. Untuk menjajaki sampai di mana kehebatan tenaga dalam lawan, Wiro sengaja tidak mengelak tapi memapasi serangan tersebut dengan lancarkan pukulan Kunyuk Melempar Buah. Ketika dua angin pukulan itu beradu terkejutlah Tapak Gajah! Kedua kakinya melesak sampai tiga centi ke tanah sedang angin tendangannya yang
sanggup menghancurkan batu itu buyar! Ternyata tenaga dalam Pendekar 212 tidak berada di bawahnya!
Dengan membuat dua kali jungkir balik di udara, pada jungkiran yang ketiga Wiro sudah berdiri di atas kedua kakinya. Lima manusia di hadapannya segera mengurung.
“Kalian kunyuk-kunyuk tua bangka apa tidak malu main keroyok begini rupa?!” Pendekar 212 masih sanggup bertanya sambil sunggingkan senyum mengejek.
“Seekor anjing kurap macam kau sudah terlalu pantas untuk dijagal bersama-sama!” menyahuti Wirasokananta.
“Ah, kau orang tua... Rupanya masih belum tahu kalau dikelabuhi orang lain! Demi kebenaran aku sama sekali tak pernah mendatangi perguruanmu. Apa yang terjadi di Perguruanmu aku tidak tahu menahu. Itu semua adalah fitnah. Seseorang lain yang bertanggung jawab. Kurasa manusianya adalah si tangan buntung ini!” Wiro menuding ke arah Kalingundil.
“Ha... ha! Bukan saatnya untuk cuci tangan pendekar gila!” seru Kalingundil seraya main-mainkan pedang buntung di tangan kirinya.
“Tak perlu kambing hitamkan orang lain! Tak perlu lempar batu sembunyi tangan...!”
“Aku memang tak mengambinghitamkan kau orang buntung. Tapi coba berkaca di cermin Begawan Sitaraga, kau akan melihat bagaimana tampangmu memang persis seperti kambing!”
Merah padam muka Kalingundil.
Wiro tertawa mengekeh. Begawan Sitaraga yang merasa dihina segera maju ke muka.
“Sobat-sobat, tak perlu bicara panjang lebar dengan orang sedeng ini! Mari kita kermus dia!” Habis berkata begitu Sitaraga gerakkan tangannya. Sinar putih yang panas dan menyilaukan menyambar ke arah muka Wiro Sableng. Begitu matanya tersambar sinar tersebut gelaplah pemandangan pendekar 212.
“Celaka!” kata Wiro dalam hati. Tenaga dalamnya dialirkan ke kepala dan dia melompat cepat ke salah satu pohon cemara untuk berlindung dari serangan lawan.
Tapak Gajah juga tidak berdiam diri. Tendangannya menggebubu. Pohon cemara patah dan di saat itu Wiro sudah berpindah ke tempat lain. Dengan mata masih terpejam dia putar kedua tangannya di udara. Maka menderulah angin pukulan Benteng Topan Melanda Samudera. Meski pukulan ini hanya mempergunakan sebagian tenaga dalam karena yang sebagian masih tetap dialirkan ke muka tapi kehebatannya cukup membuat lima penyerang hindarkan diri ke samping. Ketika matanya dibuka kembali maka pemandangannya sudah terang seperti semula.
Begawan Sitaraga terkejut ketika melihat kedua mata lawannya tidak menjadi buta oleh kilapan sinar cerminnya. Di lain pihak Wiro menganggap bahwa senjata yang paling berbahaya di antara penyerang-penyerangnya ialah cermin di tangan Sitaraga itu. Maka dia memutuskan untuk menghancurkan senjata itu terlebih dahulu.
Namun dikurung lima orang begitu rupa tidak mudah bagi Wiro Sableng untuk melaksanakan niatnya. Serangan lima lawan bertubi-tubi.
Setiap dia coba untuk menghancurkan senjata di tangan Sitaraga maka pedang Kalingundil atau golok Tapak Luwing atau keris emas ataupun tendangan Tapak Gajah datang pula menyerangnya, kadangkala berbarengan sekaligus! Dengan bergerak gesit, dengan lancarkan serangan-serangan balasan, dengan hanya bertangan kosong itu, pendekar 212 cuma sanggup bertahan sampai duabelas jurus. Jurus-jurus selanjutnya dia didesak hebat Golok besar empat persegi berkali-kali membabat ke arah dada dan perutnya. Sinar biru Pedang Siluman di tangan Kalingundil tiada henti berkiblat ke sekujur tubuhnya sedang keris emas Wirasokananta laksana hujan mengirimkan tusukan-tusukan mematikan. Dan di antara itu tendangan-tendangan Tapak Gajah tiada terkirakan ditambah yang paling berbahaya cermin di tangan Sitaraga berkali-kali menyambar ke mukanya, masih untung sanggup dielakkannya!
Jurus kelima belas murid Eyang Sinto Gendeng itu terdesak ke tepi kawah. Sinar cermin menyambar ke mukanya. Di saat itu pula tendangan Tapak Gajah menyeruak ke arah selangkangan. Dari atas menderu Pedang Siluman Biru, keris emas menikam ke dada dan golok besar Tapak Luwing menggebubu ke perut!
“Tamatlah riwayatmu pemuda gila!” teriak Kalingundil.
“Jangan lupa sampaikan salamku pada setan-setan neraka!” menimpali Wirasokananta.
Bret!
Ujung Pedang Siluman Biru menyambar lewat dada, merobek pakaian Pendekar 212!
“Sialan!” maki Wiro Sableng.
“Memakilah sekenyangmu setan alas! Setan-setan neraka memang paling suka pada manusia-manusia tukang maki macammu!” teriak Kalingundil.
Wiro Sableng kertakkan geraham. Kedua pipinya menggembung.
Sedetik kemudian meledaklah bentakan yang keras, demikian kerasnya sehingga menggema sampai ke dasar kawah Gunung Tangkuban Perahu! Tubuh Pendekar 212 lenyap! Serentak dengan itu terdengarlah suara siulan yang melengking-lengking. Dan di antara lengkingan siulan itu menderu suara laksana ratusan tawon, mendengung menyamaki liang telinga! Sinar putih bergulung-gulung!
Lima penyerang tersurut mundur.
“Kapak Naga Geni!” seru Begawan Sitaraga ketiga melihat senjata di tangan Wiro Sableng. Belum lagi habis gaung seruannya itu sudah menyusul suara jeritan setinggi langit.
Satu tubuh angsrok terpelanting di tanah mandi darah, kepala terbelah dua! Korban Maut Naga Geni 212 yang pertama itu ialah Tapak Luwing!
“Kurung rapat!” teriak Tapak Gajah. Dia melompat tinggi. Kedua kakinya menendang susul menyusul. Dua senjata lainnya menderu pula ke arah Wiro Sableng.
“Ketua Perguruan Teratai Putih!” berseru Pendekar 212. “Antara kau dan aku tak ada permusuhan. Sebaiknya undurkan diri saja!”
“Jangan bicara melangit pemuda sedeng! Delapan arwah muridku minta roh busukmu!” Wirasokananta percepat tusukan kerisnya.
Maka keris emas, Pedang Siluman Biru, dan Kapak Naga Geni 212 beradu dengan mengeluarkan suara nyaring.
Wirasokananta berseru kaget. Tangannya tergetar hebat dan pedas panas. Keris saktinya terlepas mental. Cepat-cepat Ketua Perguruan Teratai Putih ini melompat mundur. Kalingundil sendiri tak kalah kagetnya. Bagian yang tajam dari pedang buntungnya gompal sedang tangannya menjadi seperti kaku. Kalau tidak sinar cermin Sitaraga menyambar ke arah lawan pastilah Kapak Maut Naga Geni 212 membabat perutnya. Kalingundil keluarkan keringat dingin!
Suara siulan Pendekar 212 kini sekali-sekali diselingi oleh suara tawa mengekeh! Tubuhnya hampir tak kelihatan lagi. Kapak Naga Geni mengaung mencari maut. Keempat lawan menjadi sibuk.
Merasa mulai terdesak, Tapak Gajah segera keruk saku pakaiannya.
Tanpa memberi peringatan lagi tokoh silat ini segera lepaskan seratus senjata rahasia yang berupa jarum-jarum hitam ke arah Wiro Sableng. Tapi angin putaran Kapak Naga Geni yang ampuh sekaligus meluruhkan jarum-jarum beracun itu. Malahan Tapak Gajah dan kawan-kawan menjadi sibuk karena harus mengelakkan jarum-jarum hitam yang terdorong berbalik menyerang mereka sendiri!
“He.. he.. he..,” Pendekar 212 tertawa mengekeh.
“Wirasokananta, untuk penghabisan kali aku kasih peringatan padamu. Mundur atau mampus dengan percuma!”
Ketua Perguruan Teratai Putih menjadi bimbang. Dia membatin “Adakah seorang musuh yang sehebat ini sampai memberi dua kali peringatan kepadaku?”
“Wirasokananta jangan bodoh!” teriak Kalingundil. “Manusia yang telah membunuh delapan muridmu, apa hendak kau lepaskan begitu sa... akh...”
Kata-kata Kalingundil tak sampai pada ujungnya. Salah satu dari mata kapak di tangan Wiro Sableng membabat putus lengan kirinya. Tangan dan pedang buntung mental masuk kawah. Darah muncrat.
Laki-laki ini terhuyung ke belakang kesakitan. Akhirnya ketika dia kehabisan darah nafasnya megap-megap dan dia jatuh menelentang di tanah tapi belum mati!
Tapak Gajah dan Begawan Sitaraga tertegun seketika. Namun sesaat kemudian serentak pula keduanya menyerang sebat.
Serangan ini disambut dengan siutan dan tawa mengejek oleh Wiro Sableng. “Kalian berdua adalah tokoh-tokoh silat dari golongan hitam! Manusia-manusia macam kalian pantas menjadi umpan cacing di liang neraka!”
Pendekar 212 putar kapaknya.
Byar!
Cermin di tangan Sitaraga pecah berhamburan. Begawan itu keluarkan seruan tertahan dan memandang senjatanya yang hancur dengan rasa tak percaya.
“Begawan, awas!” teriak Tapak Gajah. Tapi terlambat!
Kapak Maut Naga Geni 212 datangnya tiada sanggup lagi untuk dielakkan.
Crras!
Putuslah leher Begawan Sitaraga. Darah seperti air mancur muncrat ke udara. Kepala yang buntung menggelinding seperti bola terus masuk ke dalam kawah Gunung Tangkuban Perahu!
Melihat kematian sobatnya ini, si kate kepala sulah Tapak Gajah menciut nyalinya! Tanpa buang waktu dia segera putar tubuh.
“Eit orang kate, mau minggat ke mana?!” Wiro Sableng berseru.
“Ayo berhenti!”
Tapi mana Tapak Gajah mau berhenti. Malahan ini manusia tancap gas dan lari lintang pukang. Wiro menyeringai. Tangan kanannya bergerak menekan bagian dekat hulu kapak yang berbentuk kepala naga-nagaan. Maka mengaunglah batang jarum putih beracun ke arah Tapak Gajah. Tapak Gajah coba melompat ke samping namun dia kurang cepat. Hampir keseluruhan jarum-jarum putih itu menembus daging tubuhnya. Tapak Gajah meraung setinggi langit! Begitu racun jarum merembas jantungnya maka tubuhnya kelojotan seketika lalu menggeletak di tanah tanpa bergerak lagi!
Wirasokananta leletkan lidah melihat kehebatan pendekar, tapi diam-diam bulu tengkuknya merinding karena ngeri! Sedang ketika dia berpaling pada pendekar itu, dilihatnya Wiro Sableng berdiri sambil garuk-garuk rambutnya yang gondrong! Wiro tarik nafas dalam lalu putar tubuh dan memandang pada Wirasokananta.
“Ketua Perguruan Teratai Putih,” katanya. “Kenyataan yang kita tidak saksikan dengan mata kepala sendiri adalah terlalu sukar untuk dipercaya. Demikian juga dengan peristiwa di perguruanmu.
Sama sekali tak ada sangkut pautnya denganku! Aku yakin manusia inilah yang jadi biang racun!”
Wiro mendekati Kalingundil yang tengah megap-megap. Dari dalam sakunya dikeluarkannya sebuah pil. Dia senyum-senyum dan menimang-nimang obat itu. “Kau masih inginkan hidup Kalingundil?” tanyanya.
Kalingundil diam saja.
“Obat ini bisa menyembuhkan lukamu dan memunahkan racun Kapak Naga Geni yang mengalir di darahmu. Aku akan berikan kepadamu jika kau menerangkan dan mengaku bahwa kaulah yang telah membunuh delapan anak murid Perguruan Teratai Putih...”
Kalingundil masih diam.
“Kau tak mau hidup...?”
Kalingundil memandang dengan matanya yang berbinar-binar pada pil di tangan Wiro. Dalam diri setiap manusia yang tengah meregang nyawa akan selalu datang harapan untuk dapat terus hidup. Demikian juga dengan Kalingundil.
“Masukkan dulu pil itu ke dalam mulutku,” katanya.
Wiro memasukkan obat itu ke dalam mulut Kalingundil dan Kalingundil cepat-cepat menelannya. “Sekarang terangkan cepat!”
Kalingundil buka mulut mengakui apa-apa yang telah diperbuatnya terhadap Perguruan Teratai Putih. Akan Wirasokananta begitu mendengar penuturan tersebut, tak dapat lagi menahan luapan amarahnya. Tanpa banyak cerita, dengan kaki kanan ditendangnya Kalingundil. Demikian kerasnya sehingga tak ampun lagi tubuh Kalingundil mencelat beberapa tombak ke udara, dan malang baginya tubuhnya terlempar tepat ke kawah. Masih terdengar jeritan laki-laki itu menggaung ketika tubuhnya melayang ke bawah sebelum amblas di dalam kawah belerang!
Sekali lagi pendekar 212 hela nafas dalam dan berpaling pada Wirasokananta. Satu senyum terlukis di bibir pendekar muda itu.
Ketua Teratai Putih balas tersenyum.
“Orang muda, apakah kau betul-betul muridnya Sinto Gendeng?”
“Ah... murid siapapun aku bukan menjadi soal, Ketua Perguruan Teratai Putih” menyahuti Pendekar 212. “Orang-orang mencap aku pemuda edan, sinting, gila, geblek... Kurasa memang suatu ketika kegilaan itu ada perlunya. Hanya manusia-manusia gila semacam kita inilah yang sanggup membunuh manusia-manusia bejat dan menghancurkan kebejatan. Coba saja kau pikir mana ada manusia waras mau membunuh sesama manusia...?”
Wirasokananta tertawa. “Ucapanmu benar juga, Pendekar,” katanya.
Wiro mendongak ke langit. “Ah, matahari sudah tinggi. Banyak urusan baru yang menunggu kita. Ketua Perguruan Teratai Putih, pertemuan kita hanya sampai di sini. Aku senang bisa berkenalan dengan kau. Semoga kita bisa jumpa lagi...”
“Pendekar 212, tunggu dulu...!” seru Wirasokananta. Tapi percuma saja. Sang Pendekar saat itu sudah berkelebat dan lenyap!
Wirasokananta goleng-goleng kepala. “Pemuda hebat sikapnya seperti betul-betul gila tapi hatinya polos, ilmunya... ah, aku yang sudah tua ini mungkin tak pernah bisa mencapai ilmu setinggi yang dimilikinya. Belum lagi sempat mengucapkan terima kasih, dia sudah lenyap...”
Wirasokananta memandang ke dasar kawah lalu mengikuti jejak Wiro Sableng meninggalkan tempat itu.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar